
#SangPemilikHati Episode 101.
•
•
Keira tersadar dari pingsannya, ia membuka mata dan melihat ke sekeliling.
Dilihatnya Elargano tengah tertidur dengan posisi tangan sebagai bantalan sembari menggenggam lengannya.
Gadis itu pun tersenyum, senang karena tahu El sangat perduli padanya.
"El, kamu ternyata sayang banget ya sama aku. Sampai-sampai kamu rela temenin aku di rumah sakit kayak gini, padahal harusnya kan kamu bisa pulang." kata Keira.
"Uhuk uhuk.." Keira batuk dan tidak sengaja membuat El terbangun.
Sontak pria itu langsung terkejut, ia reflek melihat ke arah Keira dengan kondisi masih mengantuk.
"Kei, kamu gapapa kan Keira?" ujar El panik.
"Udah udah, kamu gausah cemas gitu! Aku baik-baik aja kok sayang," ucap Keira tersenyum.
"Hah? Aku gak salah lihat nih?" El terkejut dan spontan mengucek matanya saat melihat Keira sudah membuka matanya bahkan bisa tersenyum.
"Apanya salah?" tanya Keira heran.
"Kamu udah sadar sayang? Kok gak bangunin aku sih?" ujar El tampak sangat gembira.
"Iya sayang, aku baru sadar nih. Aku senang banget yang pertama kali aku lihat itu kamu," ucap Keira.
"Syukurlah...!!" ucap El tersenyum.
"Eh tapi, emangnya tadi aku kenapa sih sayang? Terus ngapain juga kamu sampe bawa aku ke rumah sakit dan dirawat kayak gini?" tanya Keira penasaran.
"Kamu itu pingsan tadi di sekolah, untung aja aku belum pulang dan masih disana lihatin kamu. Jadi, aku bisa bantu kamu deh." jawab El menjelaskan.
"Oh gitu, makasih ya sayang! Kamu emang perhatian banget sama aku, aku jadi makin sayang deh sama kamu!" ucap Keira tersenyum renyah.
"Sama-sama sayang, aku gak pengen aja kamu kenapa-napa. Sekarang kondisi kamu gimana sayang? Udah membaik atau belum? Kalau masih ada yang dirasa sakit, bilang aja!" ujar Elargano.
"Aku udah baik kok, kita pulang aja yuk! Aku gak mau lama-lama disini." pinta Keira.
"Hah? Masa pulang sih? Kata dokter, kamu belum pulih benar. Orang kamu aja baru sadar kok, paling juga gak dibolehin pulang sama dokter." ujar El.
"Tapi El, aku gak mau disini!" rengek Keira.
"Gapapa, demi kebaikan kamu!" paksa El.
"Iya deh, tapi mama papa aku gimana? Mereka tahu gak kalau aku ada disini?" tanya Keira.
"Umm... sebenarnya aku belum kasih tahu mereka, aku pikir gak enak aja rasanya kalau aku bikin mama papa kamu khawatir setelah tahu kamu pingsan di sekolah." jawab Elargano.
"Kalau mereka cemas sama aku gimana?" tanya Keira pada El.
"Tenang aja! Mama papa kamu kan tahunya kamu sekolah, dan sekarang ini masih sore. Jadi, mereka mungkin akan ngira kamu lagi sama aku." jawab El menenangkan gadisnya.
"Iya juga ya.." ujar Keira.
"Yaudah, kamu tenang ya sekarang! Istirahat dulu yang cukup! Biar aku panggil dokter buat periksa kamu, siapa tahu kamu sudah boleh pulang." ucap Elargano.
Keira mengangguk pelan disertai senyum manis di bibirnya, Elargano mulai bergerak menekan tombol untuk memanggil dokter datang kesana.
•
•
Jordan bersama istrinya masih berada di apartemen Thoriq untuk menemui Ratna dan meminta maaf kepada sang ibu atas perlakuan buruk Jordan belakangan ini padanya.
"Bu, atas nama pribadi aku minta maaf ya sama ibu! Aku sadar kalau aku udah terlalu banyak bikin ibu sakit hati, entah aku ini anak macam apa yang tidak bisa membahagiakan ibu kandungnya. Oleh karena itu, aku sangat menyesal dan berharap ibu dapat memaafkan aku!" ucap Jordan terisak.
Ratna hanya diam memandang ke arah Jordan yang tampak menundukkan kepala.
Sementara Nur juga merasa gugup, ia khawatir kalau permintaan maaf Jordan tidak diterima oleh Ratna dan hubungan mereka akan semakin renggang.
"Ini minta maafnya tulus apa cuma pura-pura doang? Gue gak yakin kalau lu beneran menyesali perbuatan lu ke ibu," ujar Thoriq.
"Thoriq, jangan begitu!" tegur Ratna.
"Kenapa Bu? Aku cuma nanya kok, kalau emang dia beneran tulus mau minta maaf sama ibu ya bagus. Tapi, kalau dia cuma pura-pura gimana? Siapa tahu aja kan Jordan ini ngelakuin semuanya karena Sahira sekarang lebih memilih tinggal disini sama kita, bukan dia." kata Thoriq.
"Iya ibu tau, tapi kamu gak boleh gitu! Jangan suudzon dulu!" ucap Ratna mengingatkan Thoriq.
"Iya Bu, maaf!" ucap Thoriq menurut.
__ADS_1
Lalu, Ratna pun beralih menatap Thoriq dan Nur secara bergantian.
"Jordan, ibu senang sekali kalau kamu sudah bisa terima ibu dan mau maafin ibu! Asal kamu tahu, kamu itu gak salah sayang. Justru ibu yang menyesal karena sudah meninggalkan kamu dulu sewaktu kecil, dan seharusnya ibu lah yang minta maaf lagi sama kamu!" ucap Ratna tersenyum.
"Enggak Bu, ibu juga gak salah kok. Aku udah paham semuanya sekarang, itu bukan kesalahan ibu. Maafin aku ya Bu, aku udah jadi anak durhaka dengan membenci ibu kandung aku sendiri." ucap Jordan bersedih.
"Kamu gak begitu kok, ibu tahu kamu anak yang baik. Sekarang kamu jangan nangis ya, ibu sudah maafin kamu kok!" ucap Ratna.
"Yang benar Bu? Jadi, ibu gak marah lagi kan sama aku?" tanya Jordan memastikan.
"Dari awal ibu datang kesini temui kamu dan Sahira, gak pernah sama sekali ibu marah sama kamu sayang! Ibu justru senang banget sekarang karena kamu sudah mau terima ibu!" ujar Ratna.
"Makasih ya Bu! Apa aku boleh peluk ibu?" tanya Jordan terisak.
"Sure." jawab Ratna disertai anggukan pelan.
Ratna merentangkan tangannya, Jordan pun langsung beranjak dari sofa dan memeluk ibunya sambil menangis tersedu-sedu.
Nur serta Thoriq yang menyaksikan itu memiliki reaksi yang berbeda, dimana Nur merasa terharu sedangkan Thoriq justru semakin jengkel.
•
•
Malam harinya, El mengantar Keira pulang ke rumah setelah gadis itu dinyatakan sembuh oleh dokter dan diperbolehkan pulang.
Pria itu membantu Keira turun dari mobilnya, menuntun sang kekasih berjalan menuju depan rumah sambil tersenyum satu sama lain.
"Sayang, kamu bakal jelasin apa nanti ke papa sama mama kalau mereka tanya kita habis darimana? Kamu gak akan bohongin mereka kan? Bohong itu dosa tau!" tanya Keira.
"Eee niatnya sih mau bohong, tapi karena kamu bilang begitu yaudah deh gak jadi." jawab El.
"Loh, terus kamu jawab jujur dong?" tanya Keira.
"Mau gimana lagi sayang? Kan kamu tadi yang bilang kalau bohong itu dosa, jadi ya aku harus jujur walaupun aku gak mau bikin orang tua kamu panik." jawab Elargano tersenyum.
"Iya sih, aku juga gak mau papa mama panik. Tapi, sekarang kan aku udah baik-baik aja, jadi gak ada alasan dong buat mereka panik." kata Keira.
"Iya sayang, yaudah yuk kita masuk aja ke rumah kamu! Kamu harus makan, ini udah masuk waktu makan malam!" ucap El sembari mencubit hidung Keira dengan lembut.
Gadis itu tersenyum manis dan menganggukkan kepala menuruti perkataan Elargano.
Disaat mereka hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja pintu terbuka dan Lingga alias ayah dari Keira keluar menemui keduanya.
"Pah, papa tenang dulu ya jangan cemas gitu! Aku sama El tuh abis jalan-jalan, makanya kita lama pulangnya. Papa jangan marah ya sama aku atau El, aku minta maaf deh kalau lupa kasih kabar ke papa tadi!" jawab Keira berbohong.
Elargano langsung melirik ke arah Keira, heran karena kekasihnya itu malah berbohong pada papanya.
"Haduh sayang, kamu itu kok ya bukannya kabarin papa atau mama gitu. Seenggaknya kan papa tahu kamu ada dimana, jadi papa gak cemas kayak gini." ujar Lingga.
"Maaf ya pah! Aku emang kalo udah sama El jadi lupa waktu, hehe.." ujar Keira sambil nyengir.
Lingga menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang memeluk El di hadapannya dengan sangat mesra.
"Yasudah, tidak apa-apa. Tapi, lain kali kamu harus kasih kabar walau cuma lewat sms! Papa ini khawatir sama kamu! Kamu juga El, kasih kabar dong sama om kalo mau ajak Keira pergi!" ucap Lingga menegur keduanya.
"Iya om, saya minta maaf ya!" ucap El menunduk.
"Pah, udah dong jangan marahin El begitu!" pinta Keira dengan wajah cemberut.
"Iya iya... yaudah, ayo kita masuk ke dalam dan makan sama-sama! Kalian berdua belum pada makan malam kan?" ucap Lingga.
"Asik! Kebetulan emang kita belum makan pah," ucap Keira.
"Nah bagus! Ayo dah kita ke dalam! Itu mama kamu juga sudah nungguin di meja makan," ucap Lingga mengajak Keira dan El masuk.
"Iya pah, ayo sayang!" ucap Keira.
El hanya mengangguk singkat, ia masih merasa tidak enak karena sudah ikut membohongi Lingga.
•
•
Thoriq tiba di bandara, ia celingak-celinguk mencari seseorang yang sedang ia tunggu.
Pria itu melirik ke arah jam di dinding, waktu pesawat yang ditumpangi Nawal seharusnya sudah lewat.
Namun, Thoriq justru tidak berhasil menemukan keberadaan adiknya itu disana.
"Hadeh, kamu dimana sih Nawal? Katanya sampai bandara jam tujuh malam, tapi ini kok gak kelihatan wujudnya? Padahal udah mau jam setengah delapan, tahu gini tadi aku gak ngebut pas di jalan." gumam Thoriq kebingungan.
Akhirnya Thoriq memilih duduk sejenak di area tunggu karena Nawal belum juga muncul.
__ADS_1
Sesekali Thoriq memegang ponselnya, melihat apakah ada balasan chat dari Nawal atau tidak.
Akan tetapi, Nawal tetap belum memberi kabar apapun padanya baik lewat chat atau telpon.
Thoriq terus melihat ke sekeliling sembari menggaruk rambutnya, kadang ia duduk dan kadang ia juga berdiri seperti orang sedang linglung.
"Nawal, kamu dimana sih? Angkat dong telpon aku!" ujarnya sambil terus mencoba menghubungi nomor Nawal yang tetap saja tidak aktif.
Pukkk...
Thoriq terkejut saat ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
Pria itu reflek menoleh ke belakang, mencari tahu siapa yang menyentuhnya.
"Nawal?" Thoriq menganga lebar melihat gadis cantik di hadapannya yang tak lain ialah Nawal.
"Halo bang!" ucap Nawal menyapanya sambil tersenyum.
Thoriq membalas senyuman Nawal, lalu memeluk gadis itu dengan erat sembari mengusap punggungnya.
"Gila akhirnya lu muncul juga!" ucap Thoriq.
"Bang bang, lepasin bang...!! Gue gak bisa nafas!" pinta Nawal memukul-mukul dada Thoriq minta dilepaskan.
Thoriq pun melepaskan pelukannya sambil tersenyum, ia menangkup wajah gadis itu dan menatapnya dari jarak dekat.
"Iya iya nih gue lepasin. Yaudah, kita langsung ke mobil aja yuk!" ucap Thoriq.
"Tunggu bang! Ibu dimana? Kok gak ikut?" tanya Nawal celingak-celinguk.
"Emang gak ikut. Ibu masih di apartemen, nanti aja ya lu ketemunya pas kita udah sampai. Eh ya, lu udah makan apa belum? Kalau belum, mau mampir beli makanan dulu gak?" jawab Thoriq.
"Gausah bang, gue belum lapar." kata Nawal.
"Oke deh! Kalo gitu yuk kita balik!" ujar Thoriq.
Nawal mengangguk pelan, lalu merengkuh pinggang Thoriq dan membenamkan wajahnya pada dada bidang abangnya.
"Bawain koper gue ya bang!" pinta Nawal.
"Yeh manja lu!" ujar Thoriq.
Nawal hanya tersenyum, Thoriq pun mau tidak mau menuruti permintaan adiknya dan membawakan koper sang adik menuju mobilnya.
"Senang banget gue bisa bareng lu lagi! Semoga aja lu bisa terima Sahira!" batin Thoriq.
•
•
Sahira merasa senang melihat Jordan serta ibunya sudah berbaikan dan bahkan Jordan juga mau menerima ibunya kembali.
"Bang, gue senang deh lihatnya kalo lu sama ibu bisa akur begini. Kenapa enggak dari kemarin aja sih lu bisa kayak gini? Padahal kan enak tau, jadinya kita bisa tinggal bareng dan gak perlu ada yang merasa sakit hati." kata Sahira.
"Iya Sahira, sebenarnya abang kamu ini emang udah maafin ibu. Tapi, dia masih gengsi buat bilang langsung ke ibu karena katanya dia ini gak mau bikin ibu kege'eran." kata Nur.
"Ya ampun bang! Ngapain coba harus gengsi segala?" ujar Sahira terkekeh.
"Gapapa, yang penting kan sekarang kita udah bisa baikan. Wajar aja abang kamu gengsi, kan ibu udah tinggalin kalian sewaktu kecil." kata Ratna.
"Maaf ya Bu! Aku emang bodoh banget!" ucap Jordan menyesal.
"Enggak sayang, kamu gak bodoh. Udah ya, kita mending siap-siap buat makan malam sekarang! Sembari nunggu Thoriq kembali dari bandara, yuk kita ke meja makan!" ucap Ratna.
"Boleh Bu, tapi emang ibu udah masak? Atau mau pesan makan di luar?" tanya Sahira.
"Udah dong sayang. Tadi kan ibu udah masak dibantu sama nak Nur, dan masakannya itu enak banget loh. Kamu pasti suka sama masakan ibu dan Nur!" jawab Ratna.
"Iya Sahira, makanannya juga banyak loh. Jadi, kamu gak perlu takut kekurangan atau takut buat nambah!" sahut Nur.
"Ah kak Nur ini bisa aja deh! Aku kan makannya gak banyak tau, gak mungkin lah kekurangan." kata Sahira malu-malu.
"Masa sih? Perasaan waktu di rumah, kamu itu kalau makan selalu nambah sampai tiga piring." ujar Jordan terkekeh.
"Hahaha..." Ratna dan Nur kompak tertawa.
"Ish, ibu sama kak Nur kok malah ketawa sih? Padahal yang dibilang bang Jordan itu gak bener, aku gak pernah nambah sampai tiga piring tau." ucap Sahira menyangkal Jordan.
"Iya iya, udah jangan dibahas lagi! Yuk kita ke meja makan sekarang!" ucap Ratna.
Sahira mengangguk setuju, mereka pun beranjak dari sofa dan melangkah bersamaan menuju meja makan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...