Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Berhenti selidiki pak Panca!


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 91.




Keira pun keluar dari mobil sesuai permintaan El, ia menatap penasaran ke arah Adelia karena belum pernah melihatnya sebelumnya.


"El, dia siapa sih?" tanya Keira pada kekasihnya.


"Kamu kenalan aja sama dia!" jawab El tersenyum.


"Halo!" Adelia menyapa Keira dengan senyum manis di bibirnya.


"Iya halo! Kamu siapa ya?" ucap Keira bingung.


"Kenalin aku Adelia, atau bisa dipanggil Adel. Aku ini anak teman kerjanya om Erlangga, aku sama El juga udah lumayan kenal dekat kok. Kalau kamu ini pacarnya El kan?" ucap Adelia mengenalkan diri.


"Iya benar, aku Keira pacarnya El." Keira tersenyum lalu mulai berjabat tangan dengan Adelia.


"Senang deh bisa kenal sama kamu! Ternyata selera El tinggi juga ya, pacarnya aja secantik ini." ucap Adelia memuji kecantikan Keira.


"Ah bisa aja kamu, aku—" ucapan Keira dipotong oleh El yang mendekat dan merangkulnya.


"Iya dong. Susah tau dapetin hati gadis secantik Keira, makanya aku gak akan pernah lepasin dia sampai kapanpun! Keira itu spesial dan istimewa, aku cinta sama dia!" potong Elargano sambil tersenyum.


"Iya deh iya, aku tahu kok kalian saling mencintai. Aku doain semoga hubungan kalian langgeng terus ya!" ucap Adelia tersenyum.


"Aamiin!" El dan Keira kompak mengaminkan ucapan Adelia itu.


"Wih kompak banget! Emang kalian berdua itu pasangan yang serasi deh, aku kagum banget ngeliat kalian!" ucap Adelia.


"Biasa aja," ucap El singkat.


"Eh ya, kamu mau ketemu mama kan? Langsung masuk aja gih ke dalam! Sorry ya, aku gak bisa temenin kamu buat temuin mama! Soalnya aku mau jalan sama pacarku ini," sambung El.


"Santai aja, aku paham kok! Yaudah, kalo gitu aku masuk ke dalam dulu ya?" ucap Adelia.


"Iya iya..."


"Keira, nanti kita kontakan ya? Kayaknya seru deh temenan sama kamu," ucap Adelia.


"Oke Del!" ucap Keira tersenyum.


Setelahnya, Adelia pun masuk ke dalam rumah El meninggalkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu.


"El, kamu kok kelihatan akrab banget sih sama Adelia itu? Bukannya dia anak teman kerja papa kamu, tapi kok kalian bisa sampai seakrab itu?" tanya Keira pada kekasihnya.


"Kamu bicara apa sih sayangku? Udah ya, kita mending langsung pergi aja!" ucap El.


"Ish, jawab dulu pertanyaan aku tadi! Kenapa kamu bisa akrab banget sama Adelia?" ujar Keira.


Cupp!


Elargano mencuri satu kecupan di wajah gadisnya, Keira terbelalak sekaligus emosi pada El karena pria itu malah mengecupnya.


"El, kamu itu kenapa sih? Bukannya jawab pertanyaan aku, malah cium-cium!" geram Keira.


"Emang gak boleh aku cium pacar aku sendiri? Lagian pertanyaan kamu itu ngaco, jadi gak perlu lah aku jawab. Udah yuk, aku pengen bawa kamu pergi dari sini secepatnya!" ucap Elargano.


"Ih dasar nyebelin!" cibir Keira.


El hanya tersenyum manis melihat Keira sedang ngambek, pria itu pun membawa Keira masuk ke dalam mobil untuk segera pergi dari sana.




Sahira sangat terkejut ketika melihat kedatangan Farhan di rumahnya, tambah lagi sebelumnya ia juga tidak pernah membuat janji dengan Farhan untuk pergi berdua hari ini.


"Hai Sahira! Kamu ternyata kalo hari libur makin cantik aja ya!" ucap Farhan tersenyum.


"Lu ngomong apa sih? Ngapain lu dateng ke rumah gue? Kenapa gak ngabarin dulu?" tanya Sahira ketus.


"Santai dong Sahira! Aku kan sengaja mau kasih kejutan buat kamu di hari libur ini," ucap Farhan.


"Kejutan apa?" tanya Sahira terheran-heran.


"Ya aku mau ajak kamu jalan, mumpung libur jadi waktunya pas buat kita jalan-jalan berdua. Kamu mau kan jalan sama aku?" ucap Farhan.


"Duh, gue tuh gak bisa bepergian begitu. Apalagi sekarang teman gue lagi bermasalah, yakali gue malah enak-enakan begitu. Gue pengennya itu bebasin teman gue dulu," ucap Sahira.


"Ohh jadi kamu masih pengen urus masalah teman kamu dulu? Emangnya sampai sekarang belum selesai juga apa?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Ya belum lah. Gue bingung gimana caranya buat hadapin pak Panca yang aneh itu, gue juga cemas sama Grey yang sekarang ada di tangan pak Panca. Lu bisa gak bantu gue mikirin ide buat bebasin Grey?" jawab Sahira.


Farhan terdiam sejenak, menggelengkan kepala tanda bahwa ia juga tak tahu bagaimana caranya.


Tak lama kemudian, Ratna muncul dan heran ketika melihat Sahira bicara bersama seorang pria di depan halaman rumah.


"Kamu bicara sama siapa Sahira?" tanya Ratna.


"Eh ibu. Ini teman sekolah aku, tepatnya sih senior aku di sekolah," jawab Sahira.


"Oalah ada tamu, kenapa gak diajak masuk sayang?" ucap Ratna tersenyum.


"Gapapa tante, saya disini aja. Oh ya, salam kenal tante saya Farhan, seniornya Sahira di sekolah!" ucap Farhan mengenalkan diri sembari mencium punggung tangan Ratna.


"Iya, kamu masuk aja gih ngobrolnya sambil duduk sana di dalam! Gak enak lah ada tamu kok malah di luar aja, yuk Sahira ajak nak Farhan masuk!" ucap Ratna.


"Eee iya Bu... ayo kak Farhan!" ucap Sahira.


"Beneran nih gapapa?" tanya Farhan.


"Ya gapapa lah nak Farhan, udah yuk masuk aja!" jawab Ratna.


"Iya tante," Farhan mengangguk singkat lalu masuk ke dalam bersama Sahira serta Ratna.


Saat di dalam, Farhan dan Sahira pun duduk berdua di sofa ditemani dua cangkir minuman yang sudah dibuatkan oleh pelayan disana.


"Rumah kamu ternyata dilihat dari dalam lumayan besar juga ya?" ucap Farhan.


"Ini bukan rumah aku, tapi rumah abang aku. Aku mah mana punya rumah, boro-boro rumah uang aja gak ada." kata Sahira.


"Hahaha iya maksud aku itu," Farhan tertawa.




Sore harinya, Sahira pergi bersama Thoriq dalam upaya untuk mencari keberadaan Grey yang saat ini disekap oleh pak Panca. Sahira sengaja meminta bantuan Thoriq karena tidak ada pilihan lain, ia sudah tak sabar ingin segera menyelamatkan Grey.


"Sahira, kita mau cari kemana dulu ini? Masa muter-muter gak jelas sih?" tanya Thoriq bingung.


"Umm... udah jalan aja dulu, bang!" jawab Sahira.


"Ya iya, tapi jalannya kemana sayang? Kamu minimal kasih tahu tempat tujuannya yang jelas dong, jadi aku gak bingung ini!" ucap Thoriq.


"Yaudah, eh tapi kamu udah coba telpon ke nomor teman kamu itu belum? Siapa tahu bisa mempermudah kita cari dia," ucap Thoriq.


"Tapi bang, hp nya teman gue itu kemarin dipegang sama penculiknya. Gak mungkin lah dia mau kasih tahu dia ada dimana sekarang, namanya juga penculik." kata Sahira.


"Gapapa, coba aja dulu! Barangkali penculiknya mau kasih tahu ke kamu kan," ucap Thoriq.


"Iya deh aku coba," kata Sahira.


Sahira pun menelpon ke nomor Grey untuk mencari tahu apakah ia bisa mengetahui dimana lokasi keberadaan Grey saat ini.


Akan tetapi, telponnya tidak diangkat oleh Grey dan membuat Sahira cemberut. Thoriq pun menoleh ke arahnya dengan wajah penasaran.


"Kenapa sayang? Kok cemberut gitu? Gak diangkat sama Grey?" tanya Thoriq penasaran.


"Iya nih bang, telponnya gak diangkat sama Grey. Gue jadi bingung deh mau gimana lagi," jawab Sahira.


"Hey, udah jangan sedih gitu! Nanti kamu kan bisa coba lagi buat telpon dia, siapa tahu diangkat ya kan?" ucap Thoriq menghibur adiknya.


"Iya bang," ucap Sahira singkat.


"Yaudah, jangan manyun terus dong! Aku gak mau nih anterin kamu buat cari teman kamu, kalau kamu cemberut begitu." kata Thoriq meminta Sahira tidak cemberut lagi.


"Ih masa ancamannya begitu sih? Iya iya aku gak cemberut lagi kok," ucap Sahira.


"Senyum dong sayang!" pinta Thoriq.


Sahira menurut, lalu tersenyum sesuai perintah abangnya. Thoriq pun ikut tersenyum dan mencolek gemas pipi Sahira dengan telunjuknya.


"Gitu dong, kan kelihatan makin manis jadinya!" ucap Thoriq.


"Udah lah bang, gausah kayak gitu! Gue lagi cemas nih sama teman gue, gue takut banget dia diapa-apain sama tuh penculik! Lu bantu mikir kek gitu bang!" ucap Sahira cemas.


"Heh! Emang daritadi kamu kira aku ini ngapain? Aku mikir loh mau cari teman kamu kemana, gimana sih!" ujar Thoriq.


"Ya maaf bang!" ucap Sahira menunduk.


"Iya gapapa. Udah gini deh, aku coba minta bantuan anak buah aku buat cari teman kamu. Sekarang kamu kirim aja foto teman kamu itu ke nomo aku, supaya aku bisa kasih lihat ke anak buah aku!" ucap Thoriq.


"Iya iya bang.." Sahira mengambil ponselnya, lalu mengirim foto Grey ke nomor Thoriq.

__ADS_1


Tliingg...


"Udah tuh bang, gue kirim sekalian sama foto penculiknya. Siapa tahu anak buah lu bisa temuin Grey dengan cepat," ucap Sahira.


"Oke! Gue bakal minta mereka buat cari teman lu, sekarang lu yang sabar ya!" ucap Thoriq menenangkan Sahira dengan cara mengusap punggung gadis itu lembut.


Sahira hanya manggut-manggut setuju, lalu Thoriq menghentikan mobilnya sejenak dan mulai menghubungi anak buahnya.




Grey masih memandangi layar ponselnya, ingin sekali rasanya ia menelpon balik nomor Sahira yang sebelumnya menghubunginya. Akan tetapi, Grey sangat takut dengan ancaman pak Panca yang akan menyebar video panas mereka.


"Maafin gue ya Sahira! Gue gak bisa telpon lu sekarang, gue terlalu takut sama ancaman pak Panca. Seandainya dari awal gue gak turuti kemauan pak Panca, pasti ini semua gak akan terjadi sama gue. Emang gue tuh bodoh banget!" gumam Grey sambil menangis.


Ceklek...


Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, memperlihatkan sosok pak Panca yang masuk ke dalam membawa sepiring nasi serta air putih di tangannya.


"Halo Grey! Kamu pasti lapar kan? Ini saya sudah bawakan makanan untuk kamu, ayo dimakan dulu supaya tubuh kamu gak sakit dan kamu bisa kuat bertahan di tempat ini!" ucap pak Panca.


"Pak, saya mohon pak tolong lepasin saya! Saya gak mau ada disini!" rengek Grey.


"Kamu tenang aja! Saya pasti akan lepaskan kamu, asalkan teman-teman kamu itu mau berjanji untuk tidak meneruskan penyelidikan mereka. Oh ya satu lagi, saya juga minta sama mereka untuk mencabut laporan mereka ke polisi. Karena tadi sewaktu saya pergi keluar, saya bertemu dengan seorang polisi yang sedang mencari saya. Itu pasti ulah teman-teman kamu kan!" ucap pak Panca.


"Saya tidak tahu mengenai itu, pak. Lagipun, mereka begitu bukan karena permintaan saya. Mereka sendiri yang mau melakukan itu!" ujar Grey.


"Tetap aja, kamu yang bertanggung jawab karena mereka begitu kan demi kamu! Yaudah, sekarang kamu hubungi teman kamu itu dan minta sama mereka untuk berhenti selidiki saya!" perintah pak Panca dengan tegas.


"Loh, bukannya bapak yang minta saya buat enggak boleh hubungi mereka? Kenapa sekarang tiba-tiba bapak mau suruh saya telpon teman saya?" tanya Grey kebingungan.


"Ya kan tadi saya udah jelasin, kamu harus bilang sama mereka untuk berhenti selidiki saya! Kalau enggak, kamu gak bakal bisa lepas dari sini!" ucap pak Panca.


"Iya pak, saya akan coba telpon teman saya sekarang." kata Grey.


"Yasudah, cepat kamu hubungi dia!" pinta Panca.


Grey mengangguk, lalu mulai menghubungi nomor Sahira sesuai perintah dari pak Panca.




Drrttt..


Drrttt...


Sahira amat terkejut melihat nama Grey di layar ponselnya saat ini, ia pun sangat senang dengan itu karena sedari tadi ia juga sudah mencoba menghubungi Grey tapi tidak diangkat.


"Bang, ini teman gue telpon balik!" ucap Sahira.


"Oh ya? Yaudah, kamu angkat aja dulu! Terus kamu langsung tanya dia ada dimana sekarang!" ucap Thoriq.


"Iya bang," Sahira mengangguk cepat lalu mengangkat telepon tersebut.


📞"Halo Grey! Akhirnya lu telpon gue juga, daritadi gue coba hubungin lu tapi gak diangkat-angkat sama lu. Sekarang lu lagi dimana Grey? Lu baik-baik aja kan?" ucap Sahira sangat cemas.


📞"Sahira, gue bakal baik-baik aja kok selama lu mau hentikan penyelidikan lu terhadap pak Panca. Gue minta sama lu sekarang, jangan pernah lagi lu lakuin itu ya! Lu juga harus cabut laporan lu ke polisi soal pak Panca!" ucap Grey.


📞"Hah? Kenapa lu jadi bilang begitu sih Grey? Bukannya lu pengen pak Panca kena balasannya? Kok lu malah berubah gini?" tanya Sahira heran.


📞"Iya Sahira, gue mohon banget sama lu buat hentikan semuanya! Lu teman gue kan? Gue minta lu dengerin permintaan teman lu ini, berhenti selidiki tentang pak Panca!" ucap Grey.


📞"Oke Grey oke, gue nurut sama lu! Tapi, lu beneran gak kenapa-napa kan?" ucap Sahira.


📞"Gue kan tadi udah bilang, gue bakal baik-baik aja selama lu mau turutin apa yang gue bilang! Semoga lu bisa ngerti ya Sahira!" ujar Grey.


📞"Yaudah, gue turutin kemauan lu!" ucap Sahira.


📞"Thanks ya Sahira! Kalo gitu gue tutup dulu telponnya, sampai jumpa lagi!" ucap Grey.


📞"Grey, tunggu Grey! Lu belum kasih tahu ke gue, lu ada dimana sekarang!" teriak Sahira.


Tuuutttt...


Namun, Grey sudah lebih dulu mematikan telponnya dan membuat Sahira kebingungan saat ini, mengacak-acak rambutnya sambil kesal sendiri.


"Kamu kenapa sayang? Grey gak mau kasih tahu dia ada dimana sekarang?" tanya Thoriq.


Sahira manggut-manggut saja tanpa bersuara, ia menatap keluar kaca mobil tak habis pikir dengan permintaan Grey barusan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2