Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Pencarian Riki


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 112.




Elargano, Roger dan Alzi terus berupaya menemukan keberadaan Riki di lingkungan sekolah.


Akan tetapi, mereka tak dapat menemukan pria tersebut dan seluruh murid yang mereka tanya pun tidak tahu dimana keberadaan Riki saat ini.


Sudah hampir seluruh wilayah sekolah mereka telusuri, namun tak kunjung juga ada kejelasan terkait dimana Riki berada.


"El, gimana nih? Riki kayaknya gak ada di sekolah deh." tanya Alzi dengan nafas ngos-ngosan.


"Iya El, mungkin aja dia udah kabur karena gak mau dihajar sama kita. Soalnya teman-temannya yang biasa sama dia juga gak ada, ini mencurigakan banget sih!" sahut Roger.


"Benar, gue semakin yakin kalau Riki pelakunya. Kalo gitu kita sudahi pencariannya sekarang, nanti siang kita kumpul lagi di parkiran buat cari tuh cowok ke tempat-tempat yang sering dia datangi!" ucap Elargano.


"Siap El! Tapi, emangnya lu tahu dimana Riki biasanya kumpul sama teman-temannya?" ucap Alzi bertanya pada El.


"Enggak sih, tapi kan kita bisa tanya-tanya lebih lanjut nanti sama ortunya." jawab El.


"Oh iya, yaudah jadi sekarang kita misah dulu nih?" tanya Alzi.


"Terserah kalian sih, mau tetap kumpul juga silahkan aja! Tapi, yang pasti gue pengen temuin Sahira dulu dan bilang kalau ada kemungkinan si Riki udah kabur dari sekolah." jawab El.


"Oh oke!" ucap Alzi mengangguk setuju.


Setelahnya, El pun pergi dari sana meninggalkan kedua sohibnya untuk menemui Sahira.


Roger dan Alzi tampak senyum-senyum sendiri memandangi punggung El dari tempat mereka berdiri saat ini.


El yang sadar akan itu, hanya diam dan terus melanjutkan langkahnya.




Sahira dan Raisa masih kebingungan mencari cara untuk membujuk Grey agar tidak jadi bunuh diri.


"Rai, kira-kira kita harus gimana ya nanti? Gue gak mau Grey sampai bunuh diri, itu bisa bahaya banget buat si Grey! Dan satu lagi, gue juga belum siap kehilangan sohib gue itu!" ucap Sahira panik.


"Aduh Sahira! Kalo lu tanya ke gue, terus gue tanya ke siapa coba? Gue juga bingung tau harus gimana, dan gue gak mau kehilangan Grey sohib gue yang paling setia itu!" ucap Raisa.


"Lah berarti lu gak anggap gue sama Anisa setia gitu? Kok cuma Grey yang lu bilang paling setia?" ujar Sahira kesal.


"Bukan gitu Sahira, lu mah ada-ada aja deh yang dibahas! Kita ini kan lagi cari cara buat bujuk Grey, ngapa lu jadi emosi perkara omongan gue sih?!" ucap Raisa terheran-heran.


"Yaudah, terus kita harus gimana sekarang? Gue bingung nih!" ujar Sahira.


"Eee entahlah.." ucap Raisa ikut bingung.


Tak lama kemudian, Elargano muncul disana dan langsung menghampiri mereka berdua.


"Hai guys!" El menyapa dua gadis itu sambil berdiri tepat di depannya.


"Halo kak!" balas Raisa sembari melambaikan tangan.


Sementara Sahira hanya diam karena masih memikirkan bagaimana caranya untuk mencegah Grey agar tidak melakukan bunuh diri.


El pun mendekatinya, menarik tubuh Sahira agar menghadap ke arahnya dan memegang erat dua pundak gadis itu.


"Heh! Lu ngapa sih diem aja?" ujar El.


Sahira yang terkejut reflek menaikkan kedua bahunya secara bersamaan.


"Ish, jangan ngagetin dong!" geram Sahira.


"Gak ada yang ngagetin, gue cuma nyapa baik-baik tadi. Tapi, lu malah diem dan gak balas sapaan gue. Yaudah gue tegur lu biar sadar," ucap El.


"Iya iya, maaf! Tadi tuh gue lagi fokus mikir, jadinya gue gak bisa dengar omongan lu!" ucap Sahira.


"Gapapa deh, untuk kali ini lu gue maafin. Tapi, lain kali kalo dipanggil tuh nyaut ya jangan diem aja kayak tadi!" ucap El.


"Bawel lu ah!" cibir Sahira.


"Buset gue dibilang bawel! Ini sebenarnya lu lagi mikirin apaan sih? Kasih tahu gue dong, gue penasaran banget pengen tau!" ucap El.


Sahira terdiam menatap Raisa, seakan meminta bantuan pada Raisa apakah ia harus menjawab pertanyaan El atau tidak.


"Udah Ra, kasih tahu aja!" ucap Raisa.


"Nah, ayo buruan kasih tahu lah!" ujar El.


"Ish iya iya, bawel banget sih lu! Gue sama Raisa ini lagi mikirin gimana caranya buat bujuk Grey supaya gak bunuh diri, soalnya tadi mamanya Grey bilang ke Raisa kalau Grey tuh ngomong begitu. Malah dia aja gak datang sekolah hari ini," jelas Sahira.

__ADS_1


"Hah? Bunuh diri? Seriusan lu Ra? Yang bener aja Grey mau bunuh diri!" ujar El cukup terkejut.


"Serius lah, ngapain juga gue bohong soal ginian?! Kalo lu gak percaya, tanya aja tuh sama Raisa!" ucap Sahira.


"Emang bener Rai?" tanya El pada Raisa.


"Iya kak, tadi mamanya Grey sendiri yang bilang sama gue. Grey itu katanya udah mau nyerah dan pengen mengakhiri hidupnya, makanya mamanya minta bantuan sama gue." jawab Raisa.


"Waduh! Parah juga berarti ya masalahnya! Emang sih yang namanya sakit mental itu susah buat disembuhin, apalagi Grey abis kena pelecehan pasti susah buat hilangin ingatannya tentang itu. Kurang ajar tuh emang pak Panca, apalagi si Riki yang malah tambah-tambah masalah!" ucap El.


"Oh iya, terus kabar soal Riki gimana? Lu udah berhasil temuin dia?" tanya Sahira.


"Itu dia Sahira, gue kesini niatnya tuh mau bilang ke lu kalau barusan gue sama temen-temen gue udah keliling satu sekolah buat cari Riki, tapi gak ketemu juga. Menurut gue sih, Riki udah kabur dari sini bareng teman-temannya." jawab El.


"Sialan tuh orang! Bisa-bisanya dia kabur dan gak mau tanggung jawab, lihat aja gue pasti bakal cari dia sampe ketemu!" geram Sahira.


El dan Raisa kompak mengangguk setuju dengan perkataan Sahira, mereka akan mencari Riki kemanapun hingga ditemukan karena Riki sudah membuat Grey semakin histeris.


❤️


Tanpa disadari oleh ketiganya, ada seorang pria yang mengamati mereka dari jauh dan mendengar semua percakapan mereka.


"Ohh, jadi Grey sampai mau bunuh diri gara-gara ulah si Riki? Gue harus kasih tahu soal ini ke dia, pasti Riki bakalan senang banget karena rencananya buat hancurin mental Grey berhasil!" gumam orang itu.


Ia pun pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu dan bersiap menghubungi Riki.




"WOI RIKI, KELUAR LU...!!" El dan teman-temannya berteriak keras sembari menggedor-gedor pintu rumah yang diduga sebagai tempat persembunyian Riki.


Mereka bertiga datang kesana setelah pulang sekolah, karena El sudah sangat emosi terhadap kelakuan Riki pada Grey.


"El, kayaknya tempat ini kosong deh. Lu tahu darimana sih kalo Riki ada disini? Perasaan tadi pas kita ke rumahnya, tuh bokap sama nyokap nya gak ada bilang kalau Riki tinggal disini." tanya Roger keheranan.


"Gue tahu dari teman gue yang ahli melacak, dia bilang kalo Riki ada disini." jawab El.


"Waw keren! Tapi, buktinya sekarang disini kosong gak ada siapa-siapa. Mungkin aja perkataan temen lu itu salah bro, atau bisa aja alat pelacaknya udah rusak!" ujar Roger.


"Yeh kepala lu tuh yang rusak!" ujar El.


"Udah udah jangan ribut! Kita coba aja dobrak pintunya, terus lihat ke dalam dan pastiin ada orang apa enggak!" usul Alzi.


"Nah, jadi orang tuh kayak si Alzi nih. Ngasih solusi bukan kritik doang!" sindir El.


Braakkk...


Tanpa berlama-lama, El segera mendobrak pintu rumah tersebut dan mereka bertiga pun masuk ke dalam untuk mencari Riki.


Namun, seperti dugaan Roger sebelumnya, tempat itu memang lah kosong dan tidak ada keberadaan Riki ataupun teman-temannya disana.


"Tuh kan bener, tempat ini emang kosong bro. Riki sama teman-temannya gak ada disini," ujar Roger.


"Eh tapi bro, ini ada bekas botol minum sama plastik cemilan. Berarti sebelumnya emang ada orang disini," ujar Alzi.


"Kalo gitu berarti si Riki udah pergi dari sini, tapi kira-kira kemana ya?" ucap El heran.


"Gak tahu deh, coba lu telpon lagi temen lu yang jago ngelacak itu terus tanya si Riki ada dimana sekarang!" usul Roger.


"Ya gak bakal bisa lagi lah, dia kan cuma bisa melacak keberadaan seseorang di satu titik. Jadi, kalo orang itu pindah ke tempat lain, ya gak bakal bisa dilacak lagi sama dia." kata El.


"Ohh berarti temen lu belum jago jago banget ya, masih newbie." kata Roger sambil nyengir.


"Suka suka lu aja dah!" ucap El geleng-geleng kepala.




Sahira masih ada di depan sekolahnya, coba memesan ojek online untuk ia pulang namun tidak berhasil dapat-dapat.


Farhan pun muncul disana, merangkul Sahira secara tiba-tiba dari samping dan membuat Sahira terkejut karenanya.


"Siang cantik!" ucap Farhan sambil tersenyum.


"Ish, lu ngagetin gue aja deh! Ada apa sih?!" ujar Sahira kesal.


"Gue cuma mau tanya sama lu, kok masih belum pulang sih? Lagi ngapain?" ucap Farhan.


"Eee ini gue coba pesen ojek online, tapi gak dapat-dapat." kata Sahira.


"Ohh," ucap Farhan singkat.


"Dih, masa cuma oh doang? Lu gak ngasih solusi atau apa gitu supaya gue bisa pulang sekarang?" ujar Sahira.

__ADS_1


"Gue bisa anterin lu pulang kok, mau gak?" ucap Farhan menawarkan tumpangan.


"Ya boleh deh, lagian gue juga lagi buru-buru nih. Lu bisa kan temenin gue cari Riki abis anterin gue pulang?" ucap Sahira.


"Jelas bisa dong Sahira! Apa sih yang enggak buat lu? Kalo anterin lu, kemanapun gue pasti bakal mau." jawab Farhan terkekeh.


"Siap deh, yaudah yuk!" ucap Sahira.


Farhan mengangguk pelan, kemudian mengajak Sahira masuk ke dalam mobilnya.


Namun, tiba-tiba ponsel milik Sahira berdering dan membuatnya berhenti sejenak disana.


"Kak, sebentar ya gue angkat telpon dulu!" ujar Sahira.


"Oh oke!" ucap Farhan singkat.


Sahira pun mengangkat telpon yang ternyata dari El itu di hadapan Farhan.


📞"Halo kak El! Ada apa?" tanya Sahira.


📞"Halo Sahira! Iya nih, gue udah ada di tempat yang diduga Riki sembunyi disini. Tapi, ternyata Riki gak ada disini dan sepertinya dia udah kabur lebih dulu sebelum gue datang." jawab Elargano.


📞"Hah? Yah kok bisa gitu sih? Gue pikir lu berhasil tangkap dia disana, tapi ternyata enggak." ucap Sahira tampak kesal.


📞"Iya, sorry banget ya Sahira! Tapi, ini gue sama teman-teman gue bakal cari Riki lagi kok. Oh ya, lu sendiri lagi dimana sekarang? Mau gue jemput gak biar kita bisa cari Riki bareng?" ucap El.


📞"Gausah deh, gue udah bareng sama kak Farhan kok. Kita juga mau cari si Riki itu," ucap Sahira.


📞"Oh gitu, tapi yakin kalau Farhan bisa jagain lu? Lu gak bakal kenapa-napa kan sama dia?" tanya El tampak cemas.


📞"Ya insyaallah gue baik-baik aja kok! Udah, lu mending cari lagi Riki dimana sekarang! Gue mau pulang dulu sekarang," ucap Sahira.


📞"Iya iya, oke! Kamu hati-hati ya!" ucap El.


📞"Okay!" ucap Sahira singkat.


Tuuutttt...


Sahira memutus telponnya dengan cepat, lalu kembali mendekat ke arah Farhan.


"Dari siapa?" tanya Farhan pada Sahira.


"Gak penting, udah yuk cabut!" jawab Sahira.


"Oke!" ucap Farhan tersenyum.


Mereka pun masuk ke mobil, lalu melaju pergi dengan kecepatan sedang menuju rumah Sahira.




Disisi lain, Raisa dan Anisa sudah tiba di rumah Grey. Mereka berusaha membantu kedua orang tua Grey untuk menenangkan Grey yang saat ini sedang dilanda gangguan mental.


Mereka pun didatangi oleh Fadia yang turut membawakan minuman untuk mereka, terlihat kecemasan di wajah Fadia akibat putrinya yang ingin bunuh diri.


"Nak Raisa, Anisa, ini minuman buat kalian. Silahkan diminum dulu, kalian pasti haus kan habis panas-panasan di luar!" ucap Fadia tersenyum.


"Iya tante, terimakasih!" ucap Raisa.


Kedua gadis itu minum sejenak sesuai perintah Fadia, walau suasana hati Anisa juga tengah tidak tenang memikirkan sahabat sejatinya yakni Grey.


"Oh ya tante, Grey masih di kamar ya?" tanya Anisa kepada Fadia.


"Itu dia sayang, Grey belum mau keluar kamar dari semalam. Dia selalu aja mengurung diri disana, cuma tadi pagi dia sempat keluar dan bicara sama tante. Terlihat sekali kalau Grey sedang terkena gangguan mental, dia sampai ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga." jawab Fadia.


"Duh, pasti Grey syok banget karena banyak kejadian berat yang menimpanya belakangan ini. Aku sebagai sahabatnya, turut merasa prihatin atas kejadian yang menimpa Grey!" ucap Anisa.


"Makasih ya karena kalian udah mau datang kesini buat bantu bujuk Grey! Kalau bisa, kita langsung aja ke atas sekarang temuin Grey! Tante khawatir, Grey berbuat nekat kalau kelamaan ditinggal sendiri disana!" ucap Fadia.


"Boleh tuh tante, kebetulan aku sama Raisa juga emang pengen ngobrol sama Grey!" ucap Anisa.


"Iya tante," sahut Raisa.


"Yasudah, kalau gitu kita sama-sama ke kamarnya Grey yuk! Semoga aja dengan kedatangan kalian kesini, Grey bisa lebih membaik!" ucap Fadia.


"Aamiin tante!" ucap Raisa dan Anisa.


"Oh ya, itu minumannya sekalian dibawa aja gapapa! Atau biarin disitu, nanti saya minta pelayan bawain ke atas." kata Fadia.


"Eh udah gapapa tante, kita yang bawa aja biar sekalian. Jadi, gak bolak-balik nanti." ujar Raisa mengambil gelas minumannya.


"Betul tuh tante!" sahut Anisa melakukan hal yang sama.


Fadia tersenyum renyah, lalu bangkit dari duduknya bersama kedua gadis itu dan mulai melangkah menuju kamar Grey.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2