
#SangPemilikHati Episode 71.
•
•
"Heh cewek beasiswa!" Sahira yang tengah melangkah bersama Raisa pun terkejut, mereka menghentikan langkahnya begitu terdengar suara panggilan dari arah belakang.
Kedua gadis itu menoleh, menatap sosok wanita dengan tatapan sinisnya yang mengarah ke arah Sahira.
Itu cukup membuat Sahira bingung, pasalnya ia tak ingat pernah berbuat salah dengan wanita di hadapannya itu, namun sekarang dirinya malah dipandangi layaknya seorang pencuri oleh wanita yang tak lain ialah seniornya itu.
"Ada apa ya kak?" tanya Sahira mencoba santai dan tidak gugup.
"Lu dapet uang dollar darimana?"
"Hah??" Sahira sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu, ia tak mengerti mengapa wanita itu membahas tentang dollar.
"Maksudnya gimana ya kak? Dollar apa?" tanya Sahira dengan wajah kebingungan.
"Dih malah pura-pura bego! Gue lihat sendiri kok tadi lu bayar makanan di kantin pakai uang dollar, nah pertanyaannya darimana lu dapetin duit itu karena lu kan cewek miskin! Lu aja sekolah disini bermodalkan beasiswa, mana mungkin lu bisa punya uang dollar! Apalagi nominalnya gede, makanya gue kesini buat mastiin! Jangan-jangan lu nyuri lagi ya!" ucap si wanita tanpa merasa berdosa.
"Ya ampun kak! Mana mungkin gue nyuri sih? Itu semua uang dari abang gue, dia tinggal di luar negeri dan dollar disana itu hal yang lumrah. Lagian kenapa lu harus marah-marah kayak gini sih? Lu iri sama gue, iya?" ujar Sahira tampak heran.
"What? Iri? Sama Lo? Yakali...."
"Terus kalau gak iri apa dong? Buktinya kak Listy kelihatan gak suka gitu pas tau gue bayar makan pakai dollar! Nih dengar ya, kalo lu juga pengen punya uang dollar, kerja di luar negeri! Bukannya malah nuduh orang yang enggak-enggak, awas loh nanti rezeki lu seret!" ucap Sahira agak kesal.
Wanita bernama Listy itu nampak geram dengan jawaban Sahira, ia menghentakkan kakinya ke lantai dan mengepalkan kedua tangan seraya berkata, "Ish, sialan lu! Baru punya duit dollar aja udah belagu, dasar sombong!"
Sahira hanya diam menunduk lalu membuang nafas kecil, Raisa yang ada di sampingnya coba menenangkan gadis itu agar tak terbawa emosi. "Lu yang tenang ya Sahira, jangan emosi! Dia cuma iri sama lu, itu tandanya lu lebih baik daripada dia." Raisa menepuk-nepuk punggung Sahira perlahan.
Sahira pun merasa lega setelah ditenangkan oleh sahabatnya, "Makasih ya!" Sahira berkata disertai senyum yang menampakkan dua lesung pipinya.
"Sama-sama. Yaudah, ke kelas yuk! Biarin aja tuh cewek disini," ucap Raisa sembari menatap sinis ke arah Listy tanda bahwa dirinya tak menyukai wanita yang sudah menyakiti hati Sahira itu.
"Iya." Sahira menjawab singkat tanpa ekspresi, kemudian lanjut berjalan bersama Raisa.
"Heh tunggu! Kurang ajar ya lu berdua, gue belum selesai bicara! Woi...!!" Listy terus berteriak sekeras mungkin hingga terbatuk-batuk.
"Uhuk uhuk uhuk..." Namun, Sahira dan Raisa tak perduli dengan itu, mereka terus melangkah menjauh dari Listy.
"Aaarrgghh sialan tuh cewek beasiswa!" geram Listy seraya memegangi tenggorokannya.
•
•
Disisi lain, Keira merasa heran saat memasuki kelasnya. Gadis itu melihat teman sebangkunya, yakni Alma tengah duduk di tempat lain. Keira pun menghampiri Alma untuk bertanya karena ia tak mengerti mengapa Alma duduk disana.
"Ma, lu kenapa duduk disini? Emang lu udah gak mau duduk sama gue lagi?" tanya Keira terheran-heran.
"Lu gak salah nanya gitu ke gue? Kan kemarin lu sendiri yang minta gue buat pindah tempat duduk, terus kenapa sekarang lu malah nanya begitu?" ucap Alma jutek.
"Hah? Masa iya sih? Gue gak inget deh, yaudah kalo emang iya gue begitu, sekarang gue minta maaf sama lu!" ucap Keira merasa bersalah.
"Kenapa tiba-tiba lu jadi berubah baik begini lagi sama gue? Perasaan kemarin lu masih jutek deh, kok bisa langsung baik kayak gini?" tanya Alma kebingungan.
"Emang ya? Gue beneran gak ingat apa-apa, gue minta maaf ya kalo udah jutek sama lu! Sekarang lu pindah lagi dong duduk sama gue, masa gue duduk sendirian sih?" ucap Keira memohon.
"Eee gimana ya...." Alma tampak bingung.
"Tenang aja Kei! Lu gak sendirian kok, duduknya sama gue ya!" ucap Brandon teman sekelasnya yang tiba-tiba datang.
"Dih, ogah!" tolak Keira.
•
•
__ADS_1
Waktu istirahat tiba, Sahira bersama Raisa keluar kelas berniat pergi ke kantin menikmati makanan sambil membaca buku pelajaran selanjutnya, memang itulah yang biasa dilakukan, Sahira terus belajar tak kenal kata istirahat.
Namun kali ini berbeda, tanpa diduga rupanya El telah berada di depan kelas Sahira dan menunggu kemunculan gadis itu disana. Betul saja, begitu Sahira muncul, El pun langsung tergerak menghampiri Sahira sambil tersenyum senang.
"Hai Sahira!" El menyapa Sahira, membuat gadis di hadapannya itu menatap heran.
"Hai juga! Lu ngapain disini?"
"Eee gue—"
"Ehem ehem..." Raisa menyela obrolan El dan Sahira, setelah dirinya merasa dicuekin karena El hanya menyapa Sahira. "Oh gitu nih kak El, yang disapa cuma Sahira aja nih?"
"Hahaha... lu cemburu gara-gara gue cuma nyapa Sahira? Yaelah Rai, mending lu duluan sana temuin tuh Roger cowok lu!" ucap El meminta Raisa segera turun agar dirinya leluasa bersama Sahira.
Raisa terkejut ketika El menyebut Roger sebagai cowoknya, pasalnya selama ini El belum mengetahui bahwa Raisa dan Roger sudah berpacaran. "Hah? Kok lu bisa tahu sih kalo gue udah pacaran sama Roger? Apa jangan-jangan...."
"Ya bisa lah. Gak ada yang perlu kalian tutup-tutupi lagi, gue udah tahu semuanya kok. Jadi, mending sekarang lu pacaran aja sana!" pinta El.
"Haish, iya iya. Tapi, emang lu gak marah kalau Roger pacaran sama gue? Kan gue adek kelasnya, bukannya kalian udah bikin janji buat gak pacaran sama adek kelas ya?" tanya Raisa bingung.
"Udah lupain aja soal itu. Cepat sana turun, mumpung si Roger sendirian!" ujar El.
"Yeh iya deh iya, gue turun kok. Gak pengen diganggu amat sih. Sahira, gue duluan ya? Hati-hati lu sama kak El, dia suka gigit!" ucap Raisa seraya menepuk pundak Sahira dari samping dan terkekeh kecil ketika berbicara tentang El.
Tentu saja El langsung menatap tajam ke arah Raisa dan memberikan kode melalui kepalanya agar gadis itu bisa segera pergi.
"Yaudah ya, gue pergi dulu. Selamat bersenang-senang buat kalian!" ucap Raisa iseng.
Raisa langsung berlari menuju tangga selepas berbicara, namun ia menyempatkan diri mendorong tubuh Sahira pelan sehingga lebih dekat dengan El.
"Ish nyebelin lu!" cibir Sahira jengkel.
Sahira pun nampak canggung ketika mendongak dan melihat sorot mata El, dari jarak sedekat ini bahkan Sahira dapat merasakan deru nafas serta detak jantung El.
Akhirnya Sahira memilih mundur, menjauh dari El untuk menghilangkan rasa gugupnya. Berbeda dengan Sahira, El justru ingin terus berada di dekat Sahira. Terbukti pria tersebut ikut melangkah maju ketika Sahira memundurkan langkahnya.
"Ish, ya makanya lu jangan dekat-dekat gue! Gue gak mau ada gosip miring tentang kita, paham lu!" jawab Sahira ketus.
"Hahaha, siapa juga yang mau digosipin sama lu? Udah lah Sahira, gak perlu canggung gitu sama gue! Lu itu kan sahabat cewek gue, jadi santai aja kali gausah tegang!" pinta El yang kemudian menggenggam dua tangan Sahira lalu menariknya.
"Ahhpp.." Sahira terkejut ketika El menarik tubuhnya secara tiba-tiba, untunglah ia bisa menahan diri sehingga tak memeluk tubuh pria itu, walau itulah yang diinginkan Elargano.
Deg! Jantung Sahira seakan berhenti berdetak ketika mereka berdekatan tak lebih dari 30 sentimeter.
Glekk... Gadis itu menelan saliva nya dengan susah payah dan masih belum dapat membuka mulutnya, pandangannya pun terus menatap wajah El yang memang sangat tampan itu.
"Hey, kenapa?" El sengaja menggoda Sahira, ia tahu gadis itu tengah merasa canggung.
"Ga-gapapa kok..."
Sahira mendorong dada El dan bergerak mundur, ia coba menetralkan rasa gugupnya dengan cara menghela nafas seraya memejamkan mata.
El dapat melihat dengan jelas bahwa wajah Sahira memerah, dirinya pun yakin Sahira juga senang dengan kejadian tadi.
Namun, dengan cepat El menepis pikiran tersebut ketika ia teringat pada Keira.
"Astaga! Lu mikirin apa si El? Inget, lu udah punya cewek dan lu gak boleh sakitin dia! Apalagi kalo lu sampe punya rasa sama Sahira, mau ditaruh dimana muka lu El?!" gumam El berdebat dalam hati.
Sama halnya dengan El, Sahira pun masih kepikiran dengan kejadian tadi. Dirinya tak bisa bohong, ia gugup ketika El menatapnya seperti tadi sembari memeluknya.
"Gue bisa gila nih lama-lama!" batin Sahira.
•
•
Singkat cerita, Sahira dan El telah berada di rooftop sekolah. Mereka berniat membicarakan mengenai masalah Keira yang telah usai, serta tentunya perihal Grey yang mendapat pelecehan dari salah satu guru disana dan hingga kini belum ada kelanjutannya apakah pak Panca berniat untuk bertanggung jawab pada bayi di kandungan Grey atau tidak.
"El, lu tuh mau ngomong apa sih sama gue? Kayaknya serius banget deh, sampai-sampai muka lu tegang gitu!" tanya Sahira penasaran.
__ADS_1
"Yakin gue tegang? Gue ini lagi bahagia tau, dan lu tahu gak penyebabnya apa?" ucap El tersenyum.
"Umm enggak tuh, emang apa?"
"Semalam gue berhasil bebasin Keira dari pengaruh pelet. Gue senang banget ngeliat dia kembali seperti Keira yang dulu, Keira yang periang dan gak gampang marah!" jawab El.
"Waw congrats ya! Gue juga ikut senang dengarnya, gue jadi gak sabar pengen ketemu sama Keira lagi!" ucap Sahira.
"Eee gimana kalau nanti lu ikut gue pulang sekolah buat jemput Keira? Jadi kan lu bisa tuh sekalian ketemu sama Keira, gue juga senang kok lihat lu dan Keira ketemuan gitu. Soalnya Keira kelihatan bahagia banget kalo sama lu!" ucap Elargano.
"Lu serius nih? Emang gapapa gue ketemu sama Keira?" tanya Sahira.
Elargano terkekeh ketika Sahira menanyakan itu padanya, "Ya gapapa lah, Ra. Buat apa juga gue larang lu ketemuan sama Keira? Kalian kan temenan, gak masalah dong!" ucapnya.
"Iya sih, tapi bukannya lu mau berduaan sama Sahira tanpa diganggu?" tanya Sahira lagi.
"Enggak kok, itu mah kapan-kapan aja. Udah lu gausah banyak komen deh, emang mau kalo gue berubah pikiran?" ujar Elargano.
"Eh eh jangan dong! Iya iya gue gak komen lagi deh!" ucap Sahira cemas.
"Hahaha, nah gitu dong!" ujar El tertawa kecil.
Lalu, diluar dugaan El yang sedang tertawa itu justru menarik kepala Sahira ke atas bahunya, hingga membuat Sahira terbelalak dan melirik wajah El kebingungan.
"Ternyata duduk-duduk disini nyaman ya? Harusnya gue sama Keira disini, pasti kita bisa pacaran dengan leluasa!" ucap Elargano.
"Yaelah pacaran mulu lu!" cibir Sahira.
"Gapapa dong, namanya juga anak muda. Emangnya lu, masih jomblo gara-gara gak ada yang mau!" ujar Elargano.
"Enak aja gue dibilang gak laku! Sebenarnya yang ngejar-ngejar gue tuh banyak, cuman gue belum mau pacaran aja. Gue masih pengen sekolah dengan bener, paham lu?" ucap Sahira.
"Iya iya si paling banyak yang ngejar-ngejar!" sindir El seraya memajukan bibirnya.
Sahira pun mengangkat kepalanya menjauh dari pundak El, membuat pria itu merasa kecewa karena ia sedang asyik mengelus kepala gadis itu.
"Lu kenapa sih?" tanya El geram.
"Lu yang kenapa! Jangan modus deh ya! Mentang-mentang disini sepi, terus lu mau modusin gue gitu! Oh tidak bisa, gue ini bukan cewek murahan tahu!" ujar Sahira kesal.
"Apaan sih? Orang gue cuma pengen elus-elus pala lu doang, emang salah?" ucap Elargano heran.
"Ya jelas salah lah! Kalo ada orang yang lihat terus salah paham gimana? Lagian lu udah punya cewek, El. Dan cewek lu itu sahabat gue, jadi jangan macam-macam ya! Atau gue kasih bogem ke wajah lu nih!" ujar Sahira mengancam.
"Hadeh, galak amat sih lu! Pantes aja masih jomblo!" ujar Elargano.
"Bodo!"
"Eh ya, kondisi abang lu sekarang gimana? Udah membaik kan?" tanya El mengalihkan pembicaraan agar Sahira tidak terus cemberut.
"Alhamdulillah udah kok! Doain aja biar abang gue bisa cepat pulang ke rumah!" jawab Sahira.
"Aamiin!" ucap El mengaminkan.
"Terus, soal masalah Grey temen gue gimana? Lu udah bilang ke Riki belum buat kasih hukuman ke pak Panca? Tadi gue lihat pak Panca masih ada aja tuh di sekolah, pasti lu belum ngomong ya!" ucap Sahira menanyakan mengenai kasus Grey.
"Eee ya kan lu tahu sendiri kemarin tuh gue sibuk banget ngurus Keira, jadi gue lupa deh bilang ke Riki soal pelecehan Grey. Lu tenang aja, abis ini gue bakal bilang kok ke Riki tentang ini! By the way, si Grey nya sekarang kemana? Dia baik-baik aja kan?" ucap Elargano.
"Itu gue juga kurang tahu. Sejak kemarin gue masih belum dapat kabar tentang Grey, ya semoga aja dia gak kenapa-napa!" ucap Sahira.
"Iya, gue yakin Grey gak akan berbuat nekat kok. Sekarang lu tenang dulu, gue pasti bakal bantu sebisa gue! Nanti selain temuin Riki, gue juga mau bicara sama pak Panca!" ucap Elargano.
"Oke deh! Semoga aja pak Panca bisa sadar dan berubah!" ucap Sahira.
Elargano kembali merangkul Sahira, mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut sambil tersenyum.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1