
Selamat membaca..
Akhirnya Rendy dan Chantika memilih Restoran La Rasa, salah satu tempat makan favorit Rendy. Restoran yang menyajikannya berbagai makanan seafood untuk mengisi perut mereka yang kian meronta dan menjerit. Ingin segera diisi.
Keduanya memilih tempat di pojokan yang nyaman dari lalu lalang pengunjung lainnya. Makanan yang berbahan dasar seafood itu, diolah oleh chef yang sangat berpengalaman hingga menjadi sajian enak dan nikmat untuk para pelanggan yang selalu berkunjung di Restoran La Rasa itu.
Sebelum pesan menu, kita bisa memilih kepiting dan aneka seafood di aquarium yang semuanya fresh. Untuk jenis kepiting ada super jumbo, jumbo, super 1, super 2, full. Jumbo, full, kw2, tanggung, kaki satu besar dan kaki satu kecil. Kita bisa pilih dan timbang berapa ons kepiting tersebut.
Rendy memesan kepiting super jumbo, total berat 1,250 jadi dua kepiting, dengan harga yang mantap. Tapi, kalau dibanding dengan rasa yang makyuss, jadi puas lah. Lidah tak bisa dibohongi.
Karena dapat 2 kepiting, Rendy minta 2 jenis saus. Yang pertama memilih saus asam manis dan yang kedua dengan saus lada hitam.
Di Restoran La Rasa itu cara memasak kepitingnya sangat lezat. Juga daging kepitingnya bisa lembut, gak nempel di cangkangnya. Jadi ambilnya mudah dan rasa bumbunya kentel merasuk, meresap sempurna ke dalam daging kepitingnya yang tebal dan sampai disendokin sausnya hingga habis.
Sambil menunggu pesanan mereka datang. Rendy membuka sebuah obrolan.
"Mulai sekarang kamu harus panggil aku sayang!"
"Wajib kah?"
"Wajib dan harus! Tidak ada penolakan!"
"Okay.. Okay.. Siap Eyang kangkung!" balas Chantika sambil menahan ketawanya.
"Lha kenapa jadi Eyang kangkung? Emang mau buat tumis, pakai bawa-bawa kangkung segala!"
"Suka-suka aku! Yang penting sudah aku panggil seperti apa yang kau perintah. Di mana salahnya cuba?" Chantika mengelak dengan seribu cara jurus melawan keteguhan perintah sang mantan playboy.
"Nggak bisa begitu! Harus tetap panggilnya SAYANG, tidak pakai embel-embel yang lain! Dikira kang gembel kali!"
"Hahahaha.." akhirnya Chantika lolos juga suara tertawa yang renyah bak gorengan mang Sarip, pojokan gang. Langganan jajanan tiap sore hari.
"Kenapa tertawa? Kena denda kamu! Awas saja pembalasan sejuta pesona sang pewaris tunggal keluarga Suryodinata, segera diluncurkan malam nanti! Terima nasib kamu! Hahahaha.. Nanti malam bakalan terkurung habis di kamar yang gelap sepi sunyi! Hanya suara-suara misteri tikus kejepit yang terdengar!" ledek Rendy, sambil tertawa ke arah Chantika. Membalas tawaannya tadi.
"No.. No.. Harus segera ambil jurus penangkal sejuta pesona sang pewaris Keluarga Suryodinata, sebelum virus micinnya meluber meluap kemana-mana. Amankan posisi dulu! Pasti akan menyeramkan hukuman yang dia berikan! Ambil jalan pintas saja nanti malam. Pura-pura pingsan atau minum obat sakit perut, biar bolak balik ke kamar mandi. Dengan gitu aman posisi, tapi kenapa aku yang jadi tersiksa harus menanggung sakit perut? Tidak.. Tidak.. ambil jalan satunya. Alternatif lain! Apa ya?" batin Chantika ngedumel sendiri mencari jurus-jurus penangkalnya. "Ahaa.. Ide cemerlang, segera melintas. Aku kasih obat tidur saja kedalam minuman dia. Beres dia bisa tidur semalaman, dan aku bebas tidur berbagai gaya!" Chantika tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Sadar atau aku guyur air di toilet, kamu! Lama-lama penyakit batin kamu bertambah parah, sayang! Harus segera di bawa ke psikiater yang hebat kamu!" suara Rendy menyadarkan Chantika dari awang-awangnya.
*
*
*
Sudah lima belas menit menunggu, akhirnya pembicaraan mereka berdua terhenti saat pelayan perempuan datang membawa pesanan makanan mereka.
"Emmm.. Dari bau aromanya saja sudah tercium, kalau makanan ini sangat lezat," kata Chantika sembari menghirup aroma makanan yang disajikan di atas meja oleh pelayan tersebut.
"Ssttt.. Upik jangan malu-maluin! Seperti orang yang tak pernah makan berbulan-bulan!" tegur Rendy.
"Emang iya, aku kan belum makan dari kemarin! Lapar, Dudung!" jawab Chantika santai.
"Hasian! Kok bisa sampai nggak makan dari kemarin? Nggak dikasih uang belanja suami kamu?" pertanyaan yang ingin memojokkan Chantika. Namun, berujung terbalik pada Rendy.
"Eheem! Tau tuh, suamiku emang pelit. Katanya orang kaya, penghasilannya tak kan habis hingga 7 turunan, 7 tanjakan, 7 kelokan. Dan berakhir nyungsep di ******, karena rem yang blong jadi losdoll." balas Chantika dengan membuang muka untuk mengalihkan perhatian Rendy.
"OMG! Kamu belum mengenal suamiku yang kaya raya itu! Dia pewaris tunggal dari Keluarga Suryodinata, yang super tampan sejagat kecamatan atau kelurahan gitu. Tapi sayang, seribu kali sayang." Chantika menekuk wajahnya, seakan-akan sedih.
"Tapi sayang, kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Rendy kevo.
"Tapi sayang, seribu kali sayang! Aku tak tau suamiku yang mana? Aku kan lagi terkena penyakit amnesia. Rugi dunk, punya suami tampan dan kaya raya. Pewaris tunggal Keluarga Suryodinata."
"Rugi dari mananya, Upik?" potong Rendy sewot.
"Ya pasti rugi lah, Dudung! Katanya suamiku tampan, tapi sayang. Aku tidak bisa memandangi nya, apalagi memeluknya saat ini! Di tambah lagi dengan kekayaannya yang tidak pernah berkurang nominalnya setiap hari. Karena pundi-pundi tambang emas itu, akan bertambah banyak masuk ke dalam rekening setiap hari dan tak terhitung angka nol yang berjajar dibelakangnya! Intinya suamiku seorang sultan dari Keluarga Suryodinata, bukab sultan di dunia halu, Dudung!" ujar Chantika bermain drama piring terbang. ðŸ¤
"Iihh.. Nih anak minta dijedotin ke tembok lagi aja kali, ya. Biar segera kembali ingatannya! Sudah nggak sabar aku ingin segera menelannya tanpa pisang!" Rendy ngedumel sendiri, namun terdengar juga oleh Chantika dan pelayan perempuan yang berada dekat dengan Rendy. Karena memang disengaja Rendy berbicara dengan suara yang keras.
"Eh, bagaimana caranya kau telan aku. Dudung!"
"Lihat saja nanti, pembalasanku. Lebih kejam dari ibu tiri!"
__ADS_1
"Astaghfirullahalazdim 😢! Bisa gitu ya, Dung? Ya sudah, nanti habis makan ini. Kita pulang sendiri-sendiri saja! Aku takut mendengar pembalasan kamu, lebih kejam dari ibu tiri! Lebih parah dong, kisahku daripada cerita Cinderella!" ucap Chantika sambil mengusap wajahnya.
"Ya nasib, kenapa takdir hidupku jadi semakin rumit begini, Ya Allah! Setelah kedua orang tuaku meninggal dunia. Berlanjut musibah yang menerpaku, hingga membuat aku jadi amnesia. Tak bisa mengingat suami yang tampan dan baik hati itu! Di mana suami itu ya, sekarang? Ya Allah, kembalikan suamiku itu, dalam pelukanku! Aku sangat merindukannya!" cerocos Chantika sendiri.
"Astaga, Upik! Sadar.. Sadar dari amnesia mu! Ini suamimu! Yang duduk di hadapanmu sekarang ini, adalah suami yang tampan dan baik hati itu!"
"Masa?"
"Iya, Upik!"
"Kalau kamu beneran suamiku yang tampan dan baik hati itu, kenapa kau tega menelantarkan aku, hingga berhari-hari aku tidak makan. Dan sekarang aku jadi kelaparan, begini. Dudung!"
"Astaga, Ya Tuhan! Jangan malu-maluin aku di sini, Upik!"
"Aku berbicara fakta, Dudung! Kalau aku di beri uang belanja sama suamiku, tak mungkin aku kelaparan seperti ini!"
"Sudah berhenti! Jangan berisik! Memalukan harga diri seorang Rendy Suryodinata!" sewot Rendy.
Chantika menahan ketawanya, yang melihat kilatan kemarahan di wajah Rendy dengan kelakuannya, yang terus saja menggoda kesabaran Rendy
Sedangkan pelayan perempuan itu hanya bisa menahan ketawanya, karena kekonyolan dan adu mulut dari pasangan yang benar-benar somplak. Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya. Setelah menyajikan makanan di atas meja dengan rapi, pelayan perempuan itu, mempersilahkan customer Restoran La Rasa itu untuk menikmati hidangannya.
"Silahkan menikmati, tuan dan nona" kata pelayan perempuan itu, sambil berpamitan.
"Terimakasih, mbak" balas Chantika ramah.
Sedangkan Rendy hanya terdiam dengan hati yang kesal.
"Sudah sekarang cepat habiskan makanannya! Nanti di rumah gantian kamu yang aku makan!" ucap Rendy sembari memulai makannya.
"Haah?"
💞💞💞💞
Nikmati dulu saja kepiting saus asam manis yang menggugah nafsu makan, itu Chantika. Nanti di rumah, kamu yang di makan Rendy karena kamu telah menjadi Chandu bagi Rendy, dengan rasa manis yang sampai tumpah-tumpah. 🙈ðŸ¤
__ADS_1
Terimakasih readers Kesayangan yang selalu mendukung karya receh saya ini.. Secangkir kopi hangat yang selalu menemani otor oleng ini 🙃