
#SangPemilikHati Episode 54.
•
•
Ciiitttt....
Keira tersentak kaget saat supirnya tiba-tiba menginjak rem tanpa aba-aba terlebih dulu, hampir saja ia terdorong ke depan jika tidak menahan diri dengan berpegangan pada kursi.
Terlihat raut wajah emosi dari Keira yang terpampang jelas, ia pun memaki supirnya dengan alasan telah membahayakan nyawanya, karena memang bisa saja tadi Keira celaka akibat dari perbuatan supirnya yang sembrono itu.
"Pak, bapak ini gimana sih? Bapak mau bikin saya celaka ya?" ujar Keira kesal.
"Ma-maaf non! Bukan begitu maksud saya, tapi itu di depan ada mobil yang tiba-tiba cegat kita! Mau gak mau, saya terpaksa injak rem non!" jelas si supir dengan wajah panik.
Keira pun mengarahkan pandangan ke depan, ia melihat mobil hitam berhenti disana dan seorang pria keluar dari mobil tersebut.
"Itu kan El! Mau ngapain dia?" gumam Keira.
Gadis itu terlihat keheranan ketika Elargano berjalan ke arah mobilnya, ia langsung berpikir untuk turun dan meminta pada supirnya menunggu sebentar disana selagi ia berbicara dengan sang kekasih di luar sana.
Keira membuka pintu, lalu turun menemui Elargano. Namun, dengan sigap pria itu langsung menarik tangannya dan membawa Keira ke dalam mobilnya sehingga Keira terkejut dibuatnya.
Braakkk...
El menutup pintu mobilnya dengan keras setelah memasukkan Keira di dalam sana, ia jalan memutar dan masuk ke kursi kemudi bersiap melajukan mobilnya, ia juga tak perduli dengan supir dari kekasihnya itu yang berteriak coba memanggilnya.
Sementara Keira masih kebingungan dengan sikap aneh dari kekasihnya, ia merasa tak ada salah apapun dengan Elargano dan bahkan ketika di telpon tadi hubungan mereka baik-baik saja, namun tiba-tiba sekarang El bersikap lain padanya.
"El, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku, sampai kamu kasar ke aku tadi?" tanya Keira sambil menatap wajah pria yang tengah fokus menyetir itu.
"Gak ada yang marah sama kamu, aku cuma pengen berduaan aja dengan pacar aku yang cantik jelita ini! Kita nikmati malam ini berdua ya sayang? Hanya aku dan kamu, pokoknya kamu gak boleh nolak kali ini! Karena aku dari kemarin udah relain kamu jalan-jalan sama Sahira, sekarang giliran aku yang pergi sama kamu!" tegas Elargano.
"Tapi El, ini udah malam. Aku juga belum bilang sama papa kalau kita mau pergi, gimana nanti semisal papa atau mama cemas?" ujar Keira.
"Tenang aja! Sebelum ini aku udah kasih kabar ke om Lingga dan tante Zahra kok, kalau aku pengen bawa anak gadisnya yang cantik ini jalan sebentar menikmati waktu berdua!" ucap Elargano.
"Oh gitu, yaudah gapapa deh. Tapi, emangnya kamu mau bawa aku kemana sih El?" tanya Keira.
"Ke hotel! Disana kita bisa mantap-mantap!" jawab Elargano disertai senyum seringai.
"Hah??" ujar Keira terkejut dan menganga lebar. "Kamu udah gila apa gimana sih, El? Aku gak mau ya begitu!" sambungnya merasa kesal.
"Hahaha..." pria itu justru tertawa lepas.
"Ish kenapa ketawa?! Apanya yang lucu coba? Aneh kamu!" geram Keira cemberut.
"Hey, jangan cemberut pacarku! Aku tadi cuma bercanda kok sayang, masa begitu aja kamu marah sama aku sih? Ayolah sayang, gak mungkin juga aku berani rusak gadis yang aku sayangi ini!" ucap Elargano berusaha membujuk Keira.
"Haish, ya abisnya kamu bercandanya kelewatan! Aku gak suka ya kamu bahas itu lagi, aku bakal marah besar sama kamu loh!" ancam Keira.
"Iya iya sayang, aku minta maaf ya! Udah dong, jangan cemberut terus! Coba kamu senyum gitu, aku kangen nih pengen lihat senyum kamu yang manisnya kebangetan itu!" ujar Elargano.
"Yaudah iya..." ucap Keira sambil tersenyum.
"Nah gitu dong, kan tambah cantik!" puji Elargano.
"Halah bisa aja! Dasar tukang gombal!" cibir Keira seraya memukul punggung El.
Keduanya saling pandang sejenak, sampai tiba-tiba Keira mendekati Elargano dan mencium pipi pria tersebut secara kilat.
Cupp!
"Eh apa nih? Mulai berani ya kamu cium-cium aku, awas aja begitu kita sampai nanti aku bakal balas perbuatan kamu berkali-kali lipat!" ucap Elargano sembari memegangi pipinya.
"Ahaha biarin wle!" cibir Keira.
•
•
Singkat cerita, mereka telah sampai di tempat yang ingin mereka datangi. Ya sebuah danau indah nan cantik menjadi tempat tujuan bagi sepasang kekasih itu, Elargano memang sengaja membawa Keira kesana karena ingin menunjukkan keindahan danau di malam hari padanya.
Mereka menyewa kapal, kemudian naik untuk bisa sampai ke tengah-tengah danau yang tenang itu, ya disana lah nantinya mereka akan bisa melihat keindahan langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang kecil itu.
__ADS_1
Keira pun dibuat terpesona dengan fenomena tersebut, hembusan angin juga membuat ia merasa nyaman walau harus terus berasa dalam pelukan Elargano karena memang suasananya cukup dingin di area itu.
"Gimana sayang? Kamu suka gak sama pemandangan disini?" tanya Elargano seraya mendekap tubuh gadisnya.
"Suka, suka banget malah! Semuanya indah, langit sama danaunya juga!" jawab Keira tersenyum.
"Iya dong, aku kan udah mikirin tempat ini jauh-jauh hari dan aku yakin banget kalau kamu pasti bakalan suka! Ternyata bener kan, kamu suka sama tempat ini!" ucap Elargano.
"Iya, kamu pinter banget sih cari tempat! Tapi, kenapa tadi kamu ajak aku kesini pake cara paksaan kayak gitu? Malah kamu hampir aja bikin aku jantungan, gara-gara mobil kamu yang tiba-tiba nyalip mobil aku!" ucap Keira cemberut.
"Ahaha, ya itu tadi aku emang kebawa emosi sedikit sih! Karena kamu gak ngabarin aku selama jalan-jalan sama Sahira tadi, makanya aku kesal sama kamu sayang!" ucap Elargano.
"Ohh terus sekarang masih kesal sama aku?" tanya Keira menghadap ke arah kekasihnya.
"Ya enggak dong, kan sekarang mah kamu udah ada di sisi aku! Jujur aja sayang, aku tuh kangen banget sama kamu! Sejak kamu ketemu sama Sahira, aku jadi jarang banget ketemu sama kamu!" ucap Elargano manja.
"Eee iya maaf sayang, mulai besok aku bakal lebih sering deh jalan berdua sama kamu lagi! Udah ya, jangan ngambek gitu!" bujuk Keira.
Elargano tersenyum manis, lalu mendekat ke arah Keira dan meraih dua tangan gadis itu. Ia membelai rambut Keira lembut seraya menciumi aroma leher sang kekasih, membuat Keira bergidik saat deru nafas El menyentuh lehernya, ia tahu betul saat ini Elargano tengah berusaha melepas rindunya.
Mereka pun berpelukan disana, di bawah sinar rembulan yang terang serta kelap-kelip bintang menambah kesan romantis keduanya. El terus mengeratkan pelukan, membuat Keira mulai merasa sesak karena sulit bernafas.
"Eee El, lepas dulu ya! Aku susah nafas nih, kamu terlalu erat meluk nya!" ucap Keira.
"Oh iya iya ini aku longgarin kok..." ucap Elargano.
El melonggarkan pelukannya, ia masih tak mau melepaskan Keira darinya karena ia sangat-sangat rindu pada gadisnya itu, pria itu terus saja menghirup aroma tubuh Keira yang ia rindukan.
Tiba-tiba saja muncul ikan yang meloncat dari air hingga membuat keduanya kaget dan reflek melepaskan pelukan mereka.
Pluukk...
"Hah? Apa itu sayang?" tanya Keira kaget.
"Itu cuma ikan sayang, kamu gausah takut gitu kali! Lagian kan ada aku disini yang selalu jagain kamu, ikannya juga udah pergi kok! Jangan takut ya manis!" ucap Elargano.
"Apaan sih? Bukan takut, aku cuma kaget sayang!" ucap Keira.
"Hahaha iya deh..." El tertawa lepas.
•
•
Keesokan harinya, Sahira hendak berangkat sekolah bersama abangnya. Seperti biasa ia duduk di bangku luar memakai kaus kaki serta sepatu miliknya, tentunya sambil menghirup udara segar sekaligus menyapa pedagang yang lewat.
Namun, ia dibuat terkejut saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Ya gadis itu penasaran siapa yang datang ke rumahnya pagi-pagi begini, karena tak biasanya ada tamu yang datang saat ia hendak berangkat sekolah.
"Siapa itu ya...??" gumam Sahira bingung.
Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, lalu fokus menatap ke depan dengan memicingkan matanya karena penasaran siapa yang datang kesana.
Dilihatnya sepasang pria dan wanita keluar dari mobil itu, yang lelaki terlihat masih muda mengenakan kacamata hitam dengan penampilan rapih, sedangkan si wanita tampak sudah tua bahkan rambutnya dipenuhi uban.
Mereka berjalan menghampiri Sahira, membuat gadis itu semakin penasaran siapa mereka.
"Permisi!" ucap si pria menyapa Sahira.
"Ya, kalian siapa ya? Ada apa datang ke rumah saya pagi-pagi begini?" tanya Sahira bingung.
"Eee saya Thoriq, dan ini...."
"Fuji?" selak Sahira sambil terkekeh.
"Oh bukan bukan, ini ibu saya. Kami kesini sedang mencari rumah dari Jordan Aditama, apa benar disini alamatnya?" jelas pria bernama Thoriq.
"Iya benar, ini rumah yang kalian cari! Dia abang saya, emangnya kenapa ya?" ucap Sahira.
"Oh ya? Berarti kamu yang namanya Sahira?" tanya Thoriq menelisik.
"Betul, kenapa sih?" tanya Sahira kebingungan.
"Sahira..."
Tiba-tiba saja wanita tua itu bergerak maju mendekati Sahira dengan kedua tangan terangkat seakan hendak memeluknya, namun Sahira hanya diam saja karena bingung tak mengerti apa yang dimaksud mereka.
__ADS_1
"Iya, ibu ini siapa sih sebenarnya? Kenapa begitu lihat dan tahu nama saya, ibu langsung kayak gitu? Aneh banget!" tanya Sahira terheran-heran.
"Eee beliau ini..."
"Sudah! Biarkan saya sendiri yang menjelaskan ke Sahira!" potong ibu itu.
"Iya Bu, silahkan!" ucap Thoriq.
"Ada apa sih?" tanya Sahira tak mengerti.
"Sayang.... ternyata kamu sudah tumbuh sebesar ini nak, ibu benar-benar rindu sekali dengan kamu! Terakhir kali kita bertemu dulu, sewaktu kamu baru berusia dua hari!" ucap ibu itu diiringi isak tangis.
"Ma-maksudnya? Ibu ini siapa sih? Kenal saya darimana?" tanya Sahira sekali lagi.
"Sahira sayang, ini ibu nak! Ibu kandung kamu, ibu selalu rindu dengan kamu dan pengen ketemu sama kamu! Boleh ibu peluk kamu sayang? Ibu kangen sekali sama kamu, sudah bertahun-tahun kita gak ketemu sayang!" jawab ibu itu.
"Hah? I-ibu ini ibu saya? Ibu yang selama ini saya cari-cari dan rindukan? Apa benar begitu?" tanya Sahira memastikan.
"Iya sayang, itu benar nak! Ini ibu kamu, ibu Ratna yang melahirkan kamu sayang!" ucap ibu itu.
"Ibu....!!"
Sahira pun bergerak maju dan langsung mendekap tubuh ibunya sambil menangis, ia tak menyangka sang ibu yang dirindukan selama ini ternyata sekarang ada di hadapannya.
"Aku kangen sama ibu! Ini beneran kan bukan mimpi? Ibu benar-benar ada di depan aku?" ucap Sahira menangis tersedu-sedu.
"Iya sayang, ini ibu!" ucap Ratna.
Jordan serta Nur yang baru keluar dari rumah, heran begitu melihat Sahira tengah berpelukan dengan seorang wanita tua di depan sana, mereka pun penasaran karena belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.
"Mas, itu siapa ya yang dipeluk Sahira? Kok Sahira sampai nangis begitu?" tanya Nur heran.
"Enggak tau, yuk kita samperin aja!" jawab Jordan.
"Iya mas,"
Akhirnya mereka memilih mendekat dan menghampiri Sahira disana, karena mereka penasaran sekali siapa orang yang dipeluk Sahira.
•
•
"Sahira!" teriak dari Jordan memanggil adiknya.
Sontak gadis itu menoleh terkejut tanpa melepaskan pelukannya dari sang ibu, tampak matanya sudah sembab dipenuhi air mata kesedihan karena baru kali ini ia bertemu langsung dengan ibu kandungnya itu.
"Bang Jordan? Bang, ayo sini bang kita peluk ibu!" ucap Sahira masih sesenggukan.
Jordan pun mengarahkan pandangan ke wajah Ratna, ditatapnya secara menelisik untuk mengenali siapa wanita itu. Barulah Jordan teringat pada sosok ibunya yang telah lama meninggalkan dirinya dan sang adik saat mereka masih berusia sangat kecil.
"Ibu? Sahira, sini lu!" ucap Jordan langsung menarik lengan Sahira menjauh dari Ratna dengan perasaan kesalnya.
"Ish, abang apa-apaan sih? Kenapa tarik tangan aku kayak gitu? Aku masih mau peluk ibu, aku tuh kangen banget sama ibu! Emangnya abang gak kangen juga sama ibu?" ujar Sahira heran.
"Hey, buat apa lu peluk dia? Dia udah tinggalin kita loh, ngapain lagi kamu masih perduli sama dia sayang? Dia ini gak sayang sama kita, harusnya kamu tau itu!" tegas Jordan.
"Jordan, kenapa kamu bilang begitu sama ibu? Mana mungkin ada seorang ibu yang gak sayang sama anak-anaknya? Ibu ini sayang sama kalian berdua, sayang sekali! Ya ibu sadar selama ini ibu udah tinggalin kalian, tapi itu bukan karena ibu gak sayang sama kalian nak!" ucap Ratna.
"Halah udah lah! Apapun alasannya, tetap aja anda sudah tinggalin kita disini! Lalu mau apa lagi ibu kesini, ha? Kita udah gak butuh ibu, kita bisa hidup tanpa seorang ibu! Jadi, sebaiknya ibu pergi dan jangan kembali lagi!" ucap Jordan emosi.
"Bang, abang jangan bicara gitu sama ibu! Aku tuh masih butuh sosok ibu!" ucap Sahira berontak.
"Heh! Lu pikir selama ini yang urus lu siapa, ha? Gue atau ibu lu itu? Gue kan? Terus kenapa lu masih bilang butuh sosok ibu?!" ujar Jordan.
"Bang, biar gimanapun juga ini ibu kita! Abang gak pantes bicara begitu sama ibu!" ucap Sahira.
"Apa perduli gue? Bagi gue ibu kita udah mati, dan yang ada di depan lu ini bukan ibu! Sekarang terserah lu aja, kalo emang lu masih mau sama dia ya silahkan! Tapi, jangan pernah anggap gue sebagai abang lu lagi!" ujar Jordan emosi.
Pria itu dengan emosinya langsung melepas tangan sang adik lalu pergi begitu saja ke dalam mobilnya, meninggalkan Sahira serta semua orang disana.
Sementara Sahira merasa kebingungan harus melakukan apa, di satu sisi ia sangat rindu pada ibunya, tapi di sisi lain ia juga tak mungkin bisa pergi dari abangnya yang selama ini menjaganya.
"Sahira sayang...." Ratna memanggil kembali putrinya yang sedang menangis itu, ia turut merasakan kesedihan seperti putrinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...