Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Hatinya bukan untukku lagi


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 63.




Sahira terpaksa ikut bersama Elargano menemui Keira di sekolahnya sesuai syarat yang diberikan pria itu terhadap Sahira karena ia akan membantu Grey menyelesaikan masalahnya.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dan tengah menuju sekolah Keira, ya Elargano memang ingin menyelidiki siapakah yang sudah menaruh pelet pada gelang milik kekasihnya itu.


"Kak, sebenarnya kenapa sih lu yakin banget kalau Keira itu diguna-guna sama orang?" tanya Sahira.


"Kan gue udah bilang sama lu tadi pagi, gue tuh heran banget sama sikap Keira yang berubah jadi lebih emosian gitu ke gue! Padahal dia biasanya gak pernah gitu loh, terus sekarang dia juga lebih sering perhatiin gelangnya daripada gue! Itu apa coba kalo gak kena guna-guna?" jelas Elargano.


"Ya kan belum tentu juga, kak. Bisa aja Keira begitu karena ulah lu sendiri yang terlalu cemburuan, ya kan?!" ucap Sahira.


"Ah gak tahu deh! Pokoknya sekarang gue mau buktiin dulu, Keira beneran diguna-guna apa enggak! Makanya gue minta temenin sama lu, kita ikutin kemana Keira pergi nanti!" ucap Elargano.


"Eee kalau misal Keira tahu gimana?" tanya Sahira.


"Ya jangan sampai dia tahu lah, peak!" ujar El.


"Yeh biasa aja kali, gausah pake ngatain begitu! Kan gue bilang misalnya, kita harus hati-hati barangkali nanti Keira tau kalo kita ngikutin dia! Lagian lu mah ada-ada aja, orang kaya kok pemikiran masih begitu!" ujar Sahira.


"Heh! Justru karena gue orang kaya, jadi gue tahu kalau pemikiran gue tuh bener! Lu mending diem aja deh kalo gak tahu apa-apa!" ujar Elargano.


"Haish iya iya, gue diem nih sesuai kemauan lu!" ucap Sahira kesal.


El dan Sahira sama-sama membuang muka, keduanya juga tampak cemberut seperti pasangan yang sedang bertengkar.


❤️


Singkat cerita, mereka telah sampai di sekolah Keira. Namun, El meminta Sahira tetap berada di mobilnya memantau pergerakan Keira yang sebentar lagi akan keluar dari sekolahnya karena ini sudah masuk waktu pulang sekolah.


"Kak, kenapa kita cuma disini sih? Harusnya tuh kita masuk ke dalam, supaya lebih jelas!" ujar Sahira.


"Sssttt! Udah diem aja, gausah banyak omong! Gue lebih tau daripada lu Sahira!" ucap Elargano.


"Yah elah! Kalo gitu tadi lu jangan ngajak gue, mending lu sendiri aja kesini nya!" ucap Sahira.


"Dih gitu doang ngambek, dasar bocil!" cibir El.


"Hah? Lu bilang gue apa tadi? Bocil? Hello, siapa yang bocil disini sebenarnya? Gue atau lu? Jelas-jelas pemikiran lu aja masih kuno kayak gitu, itu artinya lu belum dewasa, kak El!" ujar Sahira.


"Maksud lu apa sih? Hubungannya pemikiran gue sama kedewasaan gue apa? Emang kalo udah dewasa gak boleh mikir begitu?" tanya El.


"Ya ampun dasar payah! Percuma harta lu banyak, tapi otak lu gak bisa digunain buat mikir! Jaman sekarang lu masih aja percaya yang begituan, ini udah 2032 men! Kalo jaman dulu baru deh iya gak masalah, tapi ini kan udah modern! Bisa-bisanya lu percaya kalo Keira diguna-guna, dasar kocak!" ucap Sahira mengeluarkan semua uneg-unegnya.


Elargano terdiam merunduk, entah kenapa ucapan Sahira tadi juga membuatnya bingung apakah Keira memang telah dipelet atau tidak. Ia yang sebelumnya yakin akan hal itu, kini mendadak berubah setelah Sahira mengatakan itu.


"Dah lah, gue mau keluar aja! Udah males gue ada disini!" ujar Sahira kesal.


"Hey, jangan gitu lah! Lu tetap disini, gue butuh bantuan lu Sahira!" ujar Elargano mencegah Sahira yang ingin keluar.


"Ogah! Gue males!" ucap Sahira.


Gadis itu membuka pintu dan turun dari mobil El dengan segera, lalu ia pun melangkah pergi menjauhi Elargano serta mobilnya karena merasa kesal atas hinaan El padanya tadi.


Sementara Elargano kesal sendiri dan memukul setir mobilnya dengan kuat, ia memilih turun keluar dan mengejar Sahira agar tidak pergi karena ia memang membutuhkan bantuan gadis itu untuk menyelidiki Keira.


"Aaarrgghh sial! Songong banget sih tuh cewek, disuruh nunggu malah turun!" umpat El geram.


"Woi Sahira! Jangan pergi lu!" teriak El begitu turun dari mobil memanggil nama Sahira.


Namun, Sahira seakan tak memperdulikan itu. Ia terus berjalan dengan tergesa-gesa hingga tak melihat ada batu besar di depannya.


Bughh...


Ya benar saja gadis itu tersandung, namun alangkah beruntungnya ia karena El dengan sigap menolongnya dan menahan tubuhnya yang ingin tersungkur ke jalan.


"Kak El?" Sahira terkejut mendapati El sudah ada di dekatnya dan menangkap tubuhnya dari belakang.

__ADS_1


"Hati-hati kalo jalan, jangan meleng! Rasain tuh kesandung kan!" ujar Elargano.


Sahira hanya diam mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedangkan El masih tak merubah posisinya dan terus menatap wajah Sahira yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


"Cantik!" puji El dalam hati.




Keira baru saja keluar dari lobi, ia menanti mobil jemputan yang biasa datang menjemputnya ketika pulang sekolah.


"Duh, mana sih pak supir? Kebiasaan deh kalo jemput suka telat!" ujar Keira cemberut kesal.


Disaat Keira tengah menoleh ke kanan dan kiri menunggu supirnya, ia justru tak sengaja melihat momen yang membuat dirinya makin geram karena mendapati pacarnya sedang memeluk Sahira cukup mesra di depan sana.


Tentu saja Keira yang tak tahu kejadian aslinya itu, langsung berspekulasi bahwa Elargano sedang bermesraan dengan sahabatnya sendiri, sontak air mata mengucur di wajahnya ketika melihat itu dan membuatnya merasa gundah gulana.


"Itu kan El, dia ngapain meluk-meluk Sahira begitu? Apa ini yang dimaksud sama Ibrahim tadi pagi, kalau hati El sekarang ini udah bukan buat gue?" ucap Keira diselimuti emosi.


Keira yang emosi itu hendak maju menghampiri El serta Sahira dan meminta kejelasan, namun langkahnya terhenti lantaran tiba-tiba ada yang memanggilnya dari arah belakang.


"Keira!" suara itu membuat Keira berhenti dan menoleh.


Ya itulah Ibrahim, si pria yang mengagumi Keira dan rela melakukan apapun itu demi bisa bersama Keira, gadis tercintanya.


"Ibrahim? Lu ngapain?" tanya Keira heran.


"Aku cuma gak mau kamu maju kesana, nanti yang ada kamu makin sakit hati begitu tau perasaan El udah gak untuk kamu lagi! Mending sekarang kamu ikut aku, kita pergi dari sini supaya kamu bisa lebih tenang!" ucap Ibrahim menggandeng tangan Keira sambil tersenyum manis.


Keira terdiam sejenak, ia bingung apakah harus tetap disana atau ikut bersama Ibrahim. Jujur sebenarnya ia ingin menemui El, tapi entah kenapa dirinya justru menolak dan lebih menginginkan pergi bersama Ibrahim dari sana.


"Oke deh, gue mau ikut sama lu! Tapi, kemana?" ucap Keira bertanya penasaran.


"Ada kok, pastinya tempat ini bakalan bikin kamu ngerasa lebih tenang dan bahagia! Pokoknya dimanapun itu, asalkan sama aku pasti kamu bisa bahagia kok Keira!" jawab Ibrahim.


"Yaudah, kita pergi sekarang aja!" ucap Keira.


Sementara dari arah lobi, Alma dan Kartika tak sengaja melihat Keira pergi bersama Ibrahim dengan bergandengan tangan, mereka heran mengapa Keira bisa sedekat itu dengan Ibrahim.


"Eh Ma, lu lihat deh itu si Keira sama Ibrahim jalan berdua sambil gandengan tau!" ujar Kartika.


"Iya benar lu, kira-kira mereka mau kemana ya? Terus kok Keira mau-mau aja gitu diajak pergi sama Ibrahim? Padahal selama ini dia selalu nolak loh dan ketus banget tiap kali ketemu Ibrahim, tapi sekarang dia kelihatan fine fine aja tuh!" ucap Alma.


"Entahlah, emang kayaknya ada yang gak beres deh dari tuh anak! Tingkahnya beda banget, gak kayak biasanya!" ucap Kartika.


"Tau dah, biarin aja kita gausah ikut campur!" ucap Alma.


Mereka berdua memilih diam saja, dan lanjut bermain ponsel menikmati jaringan WiFi yang tersedia di lobi sekolah itu. Kebetulan banyak murid memang melakukan hal yang sama, karena sinyal disana sangat kencang.


"Gue mau download full episode tukang bubur naik haji ah!" ujar Alma.




"Ish lepasin gue!" Sahira mendorong tubuh El agar melepas pelukannya hingga pria itu hampir terhuyung ke belakang.


"Anjir lu! Udah ditolongin bukannya makasih malah kayak gitu!" umpat El kesal.


"Bodoamat! Suruh siapa lu ambil kesempatan dalam kelebaran? Pake segala peluk-peluk gue gitu, mau modus kan lu!" ujar Sahira.


"Dih kelebaran, kesempitan peak! Kelebaran mah badan lu noh kelebaran, berat banget untung gue rajin nge-gym jadi kuat tahan tubuh lu!" ucap El.


"Ya bener lah lu ambil kesempatan dalam kelebaran, kan ini tempatnya lebar gak sempit! Kecuali kalau di ruang sempit, baru dah tuh namanya kesempatan dalam kesempitan!" ucap Sahira kesal.


"Suka-suka lu aja lah! Udah yuk balik ke mobil, kita tungguin Keira sampe keluar!" ucap Elargano.


"Ogah!" Sahira menolak karena masih kesal.


"Iya iya gini deh, gue minta maaf kalo tadi udah ngerendahin lu! Tapi, sekarang lu balik ya gue butuh bantuan lu Sahira!" ucap El memohon.

__ADS_1


"Umm balik gak ya...??" Sahira sengaja memancing emosi Elargano dengan mengetukkan jarinya pada dagu berkali-kali sambil tersenyum.


"Heh, jangan bikin gue kesel deh! Ayo cepetan balik sebelum Keira lihat keberadaan kita disini! Kalo lu gak mau, yaudah gue juga ogah bantu temen lu yang dilecehin itu!" ucap El mengancam.


"Ish mainnya ngancem ya lu! Yaudah iya gue mau balik, puas lu?!" ujar Sahira.


"Gak sih, biasa aja. Udah ah gue gak punya banyak waktu buat ladenin lu!" ucap El kesal dan langsung menarik tangan Sahira begitu saja.


"Gausah tarik tarik juga kali!" ujar Sahira.


"Udah diem aja! Gausah banyak omong!" ucap El.


Elargano terus menarik tangan Sahira secara paksa menuju ke mobilnya, ia sangat khawatir kalau Keira akan melihat keberadaan mereka disana dan pria itu tak ingin hal tersebut terjadi.


Tanpa mereka sadari, Keira melaju melewati belakang tubuh mereka dengan motor yang Ibrahim kendarai. Ya Keira sempat melirik ke arah pacarnya dan bertambah emosi melihat El tengah menggandeng tangan Sahira seperti itu.


"Kurang ajar kamu Sahira! Sahabat macam apa yang tega nikung pacar temannya sendiri?" batin Keira diiringi tetesan air mata.


Sementara Elargano yang tak menyadarinya, membuka pintu mobil dan menyuruh Sahira masuk ke dalam untuk menunggu Keira disana dan mengikuti kemana gadis itu pergi.


"Masuk!" pinta El dengan nada tegas dan tatapan yang tajam.


Sahira tak menjawab, ia hanya diam dan masuk ke dalam mobil sesuai perintah El. Pria itu menutup pintu, lalu berjalan mengitari mobil masuk melalui pintu lainnya.


"Kita tunggu Keira disini!" ucap Elargano.


"Iya bawel!" cibir Sahira kesal.




Disisi lain, Nur tengah menemani suaminya di dalam ruang ICU tempatnya dirawat. Kondisi Jordan memang sudah membaik saat ini, sehingga Nur merasa lebih lega dan semakin yakin kalau suaminya itu akan sembuh seperti semula.


Nur seorang diri terus membelai lembut rambut serta wajah sang suami sambil tersenyum, ia berharap dapat melihat Jordan pulih dan berbicara padanya saat ini, walau itu sesuatu yang mustahil untuk terjadi sekarang ini karena dokter berkata Jordan masih belum bisa membuka matanya.


"Mas, kamu cepat sadar dong! Aku disini kesepian begitu kamu dirawat dan dalam kondisi kritis, tapi syukurlah sekarang kamu udah membaik mas! Cepat pulih ya mas Jordan!" ucap Nur pelan.


Wanita itu menunduk dan memberikan kecupan hangat pada kening suaminya tanpa menghentikan gerakan tangannya.


Cupp!


"Aku sangat rindu sama kamu! Suara kamu, canda tawa kamu itu selalu bikin aku tenang mas! Ibu dan Sahira juga pasti ngerasain hal yang sama, jadikan itu sebagai pemacu semangat kamu untuk bisa cepat sembuh ya mas!" ucap Nur.


Tanpa diduga, Nur melihat jari tangan suaminya itu bergerak-gerak dan langsung merasa senang.


"Mas? Kamu udah sadar, mas? Ini aku disini mas, coba kamu gerakin lagi tangan kamu supaya aku bisa yakin kalau kamu pulih mas!" ucap Nur tersenyum gembira.


"Mas, ayo bangun mas aku disini!" sambungnya.


Perlahan Jordan membuka mata, melirik ke arah Nur istrinya dan berusaha keras menggerakkan tangannya untuk menyentuh Nur.


"Alhamdulillah! Akhirnya kamu sadar juga mas, aku senang banget! Udah udah, gausah dipaksa lagi buat gerakin tangan kamu ya! Aku takut kamu malah sakit lagi!" ucap Nur.


"Sa..sa...sayang?" Jordan mulai membuka mulutnya dan berbicara terbata-bata.


"Iya mas, ini aku. Kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu ya, aku bakal panggil dokter supaya kamu bisa diperiksa lagi!" ucap Nur tersenyum.


Lalu, Nur pun memencet tombol yang ada disana memanggil dokter untuk segera memeriksa Jordan.


"Aku senang banget mas! Akhirnya kamu bisa sadar, ternyata gak sia-sia selama ini aku dan Sahira doain kamu! Cepat sembuh ya mas, jangan sakit lagi!" ucap Nur mengusap wajah suaminya.


"Sa-sahira dimana...??" tiba-tiba Jordan menanyakan mengenai keberadaan adiknya.


"Sahira? Kamu mau ketemu sama dia?" tanya Nur yang kemudian dibalas anggukan oleh Jordan.


"Yaudah, kamu sabar ya mas! Biar aku telpon Sahira dulu minta dia buat langsung kesini, harusnya sih dia udah pulang sekolah!" ucap Nur.


Nur pun mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Sahira tanpa meninggalkan suaminya, perasaannya saat ini sedang senang dan ia ingin Sahira segera datang kesana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2