Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Kamu ketahuan


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 43.




"Lu ngapain sih begitu segala? Biar apa coba lu basuh muka lu pake air mata gue? Ohh, jangan-jangan lu main dukun ya? Lu pikir air mata gue bisa bikin lu kaya gitu?" ujar Keira heran.


Pria yang tak lain ialah Ibrahim itu justru terkekeh mendengar perkataan Keira.


"Ahaha kamu ada-ada aja Keira, mana mungkin aku main dukun segala? Walau kesempatan aku buat dapatin kamu lewat dukun itu lebih mudah, tapi aku masih setia kok sama Tuhan! Aku gak mau melakukan tindakan musyrik, itu dosa besar tau Keira!" ucap Ibrahim.


"Ya terus lu ngapain barusan?" tanya Keira.


"Simpel aja, aku gak mau air mata dari wanita yang aku cintai terbuang sia-sia! Kamu emang kenapa nangis sih Keira? Gara-gara pacar kamu?" ujar Ibrahim.


"Bukan kok, udah lu gausah kepo dan mau tahu urusan gue! Intinya gue sama pacar gue baik-baik aja, jadi lu jangan berharap buat dapetin gue!" ucap Keira ketus.


Gadis itu langsung membalikkan badan, lalu pergi dari sana meninggalkan Ibrahim.


Ibrahim merasa sedikit kecewa karena sikap Keira masih saja sama, padahal ia berharap Keira mau setidaknya bersikap ramah pada dirinya.


"Aaarrgghh!! Apa lagi yang harus gue lakuin? Keira, gue cinta sama lu!" ujar Ibrahim kesal sendiri.


Akhirnya pria itu memutuskan mengikuti kemana Keira pergi, ia seperti seorang mata-mata yang tengah mengintai targetnya. Tak lupa Ibrahim juga menyediakan kameranya agar bisa memfoto Keira secara diam-diam dan menyimpannya.


Cekrek...📸📸📸


Satu foto berhasil ia dapatkan, saat gadis itu tengah mengikat tali sepatunya yang lepas. Entah mengapa Ibrahim cukup senang melihat Keira berjongkok seperti itu, ia pun tersenyum sembari mengecup hasil foto pada kameranya tersebut.


"Oh sungguh cantik kamu Keira!" ujarnya.


Pukkk...


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, Ibrahim panik dan perlahan memutar tubuhnya untuk mengecek siapa yang ada di belakangnya.


"Heh! Ngapain lu foto Keira?" tegur orang itu.


Ya rupanya itu adalah Alma, sahabat dari Keira yang tidak sengaja memergoki Ibrahim saat sedang memfoto Keira dari jauh.


"Eee gu-gue...."


"Siniin kamera lu!" ucap Alma.

__ADS_1


"Hah? Mau ngapain?" tanya Ibrahim panik.


"Pake nanya lagi, ya gue mau hapus foto Keira dari kamera lu lah! Gue yakin dia gak suka difoto diam-diam kayak gini, emang dasar lu ya cowok gak bener!" bentak Alma.


"Tapi, gue gak foto Keira kok!" elak Ibrahim.


"Alah gausah ngeles deh lu! Jelas-jelas gue lihat sendiri waktu lu foto Keira tadi, siniin kamera lu cepet!" ucap Alma.


"Gak mau, gak boleh!" ucap Ibrahim menolak.


"Ohh lu ngelawan? Lu berani sama gue? Mau lu, gue laporin ke guru-guru?" ancam Alma.


"Ja-jangan!" ucap Ibrahim.


"Yaudah, sini cepet serahin!" ucap Alma.


"Ta-tapi...."


"Ah lama lu!"


Alma langsung mengambil paksa kamera itu dari tangan Ibrahim, ia mengeceknya dan ternyata benar disana terdapat foto Keira yang sedang berjongkok membenarkan tali sepatunya.


"Nah kan, ini ada fotonya si Keira! Emang kurang ajar lu ya!" ucap Alma.


"Nih udah! Awas ya kalo lu begitu lagi, gak baik tau fotoin orang diem-diem! Lu bisa kena pasal dan masuk ke penjara!" ucap Alma.


"Hah??"


Alma langsung pergi begitu saja dari sana meninggalkan Ibrahim yang masih menganga tak percaya, wanita itu tampak berusaha mengejar Keira dan mengatakan semuanya pada gadis itu.


Sementara Ibrahim merasa kecewa dan kesal sendiri, karena lagi-lagi ia gagal mendapatkan foto yang sesuai dengan keinginannya, padahal ia sudah suka sekali pada hasil fotonya tadi.


"Ah sial! Kenapa gue ceroboh banget sih?!" geram Ibrahim.


...•••...


Disisi lain, Elargano baru sampai di sekolah. Ia melangkah menuju lorong sekolah dengan gaya ala orang kaya pada umumnya, yang sombong dan suka memamerkan kekayaannya di hadapan kaum-kaum miskin seperti teman sekolahnya.


Disaat ia sedang asyik berjalan, tanpa sengaja ia melihat temannya yakni Roger tengah berduaan bersama Raisa yang tak lain adalah sahabat dari Sahira dan juga adik kelasnya itu.


Tentu saja Elargano curiga pada kelakuan sohibnya tersebut, ia memiliki firasat kalau mereka sedang berpacaran karena terlihat sangat mesra. Namun, El tak mau mengambil keputusan hanya berdasar penglihatan, ia pun maju mendekati mereka.


"Ehem ehem..." Elargano berdehem pelan.

__ADS_1


Sontak Roger serta Raisa menoleh secara bersamaan ke arah Elargano, mereka berdua terkejut bukan main saat menyaksikan Elargano berdiri di dekatnya dan menatap ke arah mereka.


"Kenapa? Kok kayak takut gitu sih? Kalian lagi pada ngapain disini? Pacaran?" ujar Elargano.


"Hah? Bro, jangan salah paham dulu bro! Gue sama Raisa gak ada hubungan apa-apa, kita itu cuma sekedar ngobrol disini!" ucap Roger mengelak.


"Iya kak, benar itu!" sahut Raisa.


"Alah kompak banget ya kalian berdua bohongnya! Ingat loh Roger, disini ada aturan yang melarang kita buat pacaran sama junior! Kalau lu melanggar, lu bakal kena akibatnya!" ucap Elargano.


"Iya bro gue masih tau kok aturan itu, lagian gue juga gak pacaran seperti yang lu duga itu! Gue kan udah bilang tadi, kita cuma ngobrol biasa gak lebih!" ucap Roger masih berbohong.


"Hadeh, ya oke deh kali ini gue percaya sama kata-kata lu! Tapi, awas aja kalo lu ketahuan bohong!" ucap Elargano mengancam.


"Santai bro! Gue gak mungkin lupa sama perjanjian yang udah kita buat, jadi gue gak akan mungkin pacaran sama adek kelas bro! Yaudah ah gue mau pergi dulu, eh Raisa inget ya yang tadi gue bilang ke lu!" ucap Roger.


"Iya kak," ucap Raisa.


Roger pergi dari sana setelah menepuk pundak El dan juga Raisa, ia tak ingin Elargano semakin curiga dan posisinya justru terancam, lebih parahnya ia takut jika harus dipisahkan dari Raisa.


Elargano pun menghampiri Raisa, ia penasaran apa yang diobrolkan oleh Raisa dan juga Roger tadi sampai Roger harus mengingatkan Raisa seperti itu sebelum dia pergi.


"Raisa, lu tadi ngobrolin apaan aja sama si Roger?" tanya Elargano.


"Eee gu-gue cuma diminta buat masuk kelas, tadi kak Roger ngingetin gue soalnya ini udah mau bel!" jawab Raisa berbohong.


"Serius?" ujar Elargano tak percaya.


"I-i-iya kak, yaudah ya gue mau ke kelas dulu? Permisi kak!" ucap Raisa.


"Heh main pergi aja, gue belum selesai!" teriak El.


Namun, Raisa tak menggubrisnya dan langsung berlari pergi begitu saja menjauhi Elargano, karena gadis itu tak ingin berurusan terlalu lama dengan El yang menyebalkan itu.


"Ah sialan tuh cewek!" umpat El kesal.


Disaat pria itu berbalik badan, ia justru dikagetkan dengan kemunculan Sahira yang sudah berada di belakangnya begitu saja.


"Ya ampun, lu lagi!" ujar Elargano.


"Hehe hai kak!" ucap Sahira tersenyum santai.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2