
#SangPemilikHati Episode 70.
•
•
Sahira masih terbengong menatap wajah Thoriq yang ada di dekatnya itu, ia terus memegangi bekas kecupan yang diberikan oleh Thoriq pada pipi kanannya itu dengan wajah bingung.
Sahira tak mengerti apa maksud Thoriq menciumnya, namun pria itu seakan tak perduli dan malah asyik memainkan rambut adiknya serta menghirup aroma tubuh Sahira yang harum.
"Bang, lu barusan ngapain cium pipi gue?" tanya Sahira terheran-heran.
"Ohh jadi lu daritadi diem aja karena permasalahin itu? Ya ampun Sahira, emang salah ya kalau seorang abang itu kasih ciuman buat adiknya? Terus kalau gue cium lu nih kayak tadi, itu harus ada alasannya gitu?" ujar Thoriq.
"Eee bukan begitu bang, gue cuma kaget dan belum terbiasa aja. Lagian kita kan baru kenal satu hari kemarin, lu tiba-tiba cium gue makanya gue kaget!" ucap Sahira yang perlahan wajahnya memerah akibat rasa malunya.
"Oh gitu, gausah gue minta maaf ya udah bikin lu kaget sampe jadi merah gitu pipi lu! Anggap aja hal tadi itu gak terjadi!" ucap Thoriq dengan santai.
"Gimana bisa gue lupain gitu aja anjir? Gue tuh orangnya selalu susah buat melupakan sesuatu yang mengesankan dan memalukan, contohnya kayak tadi dicium sama lu!" ujar Sahira.
"Ohh terus yang tadi gue lakuin itu masuknya ke mengesankan apa memalukan buat lu?" tanya Thoriq tersenyum smirk.
"Pake nanya lagi, ya memalukan lah!" ketus Sahira.
"Ah masa? Bukannya mengesankan ya? Gue yakin lu senang dicium sama gue, buktinya tadi lama banget diam aja sambil ngeliatin gue. Itu tandanya lu pengen lagi, tenang aja deh nanti pas di sekolah gue juga kasih ciuman lagi buat lu!" ucap Thoriq.
"Dih si anjir kepedean banget! Ogah gue dicium sama lu lagi, awas aja berani lu!" ancam Sahira.
"Hahaha bercanda kok..." Thoriq tertawa lepas lalu menjauh dari Sahira dan kembali memegang setir mobilnya.
"Yaudah, cepetan ah jalan!" ujar Sahira kesal.
"Iya iya... muka cemberut lu itu hilangin dulu dong, kalo kayak gitu bikin gemes tau! Jangan salahin gue semisal nanti gue gak tahan terus cubit pipi lu, atau bahkan cium lu lagi!" ucap Thoriq.
"Hah? Sebenarnya lu itu kenapa sih? Gue bingung deh sama lu!" ujar Sahira.
"Gue? Gak kenapa-kenapa kok, emang lu pikir gue kenapa?" ucap Thoriq.
"Ah tau lah gelap!" Sahira kesal dan memalingkan wajahnya dari Thoriq dengan bibir cemberut.
"Gelap? Orang terang gini kok dibilang gelap? Oh atau mata lu udah mulai samar-samar ya gak bisa ngeliat dengan jelas? Hati-hati lu, makanya banyak makan wortel biar mata lu sehat dan gak burem kayak gitu!" ujar Thoriq.
"Apaan sih? Lama-lama gue turun juga nih dari mobil, kalo lu terus-terusan bicara kayak gitu! Gue ini udah mau telat, bang Thoriq!" ucap Sahira.
"Eh eh jangan dong! Iya iya sorry, gue cuma bercanda kali! Yaudah nih gue lanjut jalan kok, lagian lu gak mungkin telat sekolah selama ada gue di sebelah lu!" ucap Thoriq tersenyum.
"Cepetan jangan kebanyakan ngomong!"
"Iya iya..."
Thoriq menuruti kemauan adiknya dan kembali melajukan mobilnya menuju sekolah Sahira, walau begitu tetap saja Sahira masih cemberut merasa kesal dengan tingkah Thoriq yang menurutnya agak aneh dan menyebalkan.
•
•
Singkat cerita, mereka telah sampai di sekolah dan gadis itu langsung hendak turun dari mobil untuk segera memasuki sekolahnya, namun Thoriq mencekal lengan Sahira dengan erat dari samping.
Sahira pun merasa jengkel dan menoleh ke arah Thoriq dengan wajah kesalnya.
"Ish, lu ngapain sih tahan tangan gue? Gue mau turun sebelum bel bunyi, emang lu mau gue telat nanti?" ujar Sahira kesal.
"Ya enggak lah, gue cuma minta waktu lu sebentar doang kok Sahira!" ucap Thoriq.
"Terus apa?" tanya Sahira bingung.
"Lu jangan ujug-ujug keluar gitu aja dong! Gue ini kan abang lu juga tau, minimal lu pamit atau cium tangan kek gitu sama gue! Hargai gue sebagai abang lu gitu, jadi gue kan senang! Lagian lu juga belum gue kasih duit jajan, emang mau nanti di sekolah lu melongok doang?" ucap Thoriq.
"Hehe, iya iya maafin gue ya! Yaudah bang Thoriq yang ganteng, gue pamit dulu ya mau sekolah? Nah sekarang uang jajannya mana?" ucap Sahira.
__ADS_1
Thoriq tersenyum lalu memajukan tubuhnya mendekati Sahira dan mencolek pipi gadis itu.
"Gitu dong! Nih duit jajan buat lu, nanti siang gue jemput lu lagi ya disini? Sekalian gue mau minta sama lu buat ajak gue keliling kota Jakarta, karena gue kan orang baru disini!" ucap Thoriq.
Sahira menerima lima lembar uang seratus dolar dari tangan Thoriq, matanya terbelalak ketika melihat mata uang asing tersebut.
"Bang, iya gue tau lu orang kaya. Tapi, gak gini juga kali! Masa gue dikasih uang dollar? Nanti yang ada warung di kantin gak mau terima, gue mau uang rupiah aja bang! Kemarin lu punya kan?" ucap Sahira.
"Uang rupiah gue udah habis, jadi lu pake ini aja biar orang-orang di sekolah lu pada kagum sama lu! Udah ambil aja, kalau orang kantin gak mau terima ya gausah bayar! Simpel kan?" ucap Thoriq tersenyum tipis.
"Ish, yaudah lah daripada gue gak bawa uang sama sekali!" ujar Sahira.
"Oke! Sana turun!" ucap Thoriq.
Sahira mengangguk disertai senyum yang melingkar pada bibirnya, ia mencium tangan Thoriq lalu melambai sebentar dan turun dari mobil tersebut meninggalkan abangnya.
"Gue jadi bingung, masa iya secepat ini gue bisa jatuh cinta sama Sahira?" gumam Thoriq.
Setelah Sahira tak terlihat lagi di pandangannya, Thoriq pun melajukan mobilnya pergi dari sekolah itu masih sambil membayangkan wajah Sahira.
Sementara gadis itu sendiri menghentikan langkahnya begitu tiba di lobi, ia menyempatkan diri melihat melalui kaca disana ketika mobil milik Thoriq melaju keluar dari sekolahnya.
"Bang Thoriq baru sehari aja udah berubah gitu, gue kenapa jadi takut gini ya sama dia?" batinnya.
Pukkk...
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan membuat Sahira terkejut lalu reflek menoleh mencari tahu siapa yang muncul itu.
"Raisa? Ya ampun, lu ngagetin gue aja sih!" geram Sahira memarahi Raisa.
"Hehe, sorry Sahira! Gue bingung aja, lu ngapain ngintip dari jendela gitu? Ngeliatin siapa sih?" ujar Raisa sambil nyengir dan penasaran.
"Bukan siapa-siapa kok, yaudah yuk kita ke kelas sekarang mumpung belum bel!" ucap Sahira.
"Iya iya, eh tapi soal Grey gimana? Kak El udah bilang sama Riki belum buat kasih hukuman ke pak Panca? Gue kasihan banget tau ngeliat Grey kayak gitu, dia pasti terpukul dan sakit banget!" ucap Raisa mencemaskan Grey.
"Duh gue juga belum tanya lagi sama kak El, soalnya gue abis ngurusin abang gue yang baru kecelakaan itu. Nanti deh gue coba tanyain ke kak El soal itu, eh terus sekarang Grey dimana? Dari kemarin kayaknya gue gak dapat kabar lagi tentang dia!" ucap Sahira.
Sahira tampak celingak-celinguk melihat ke sekelilingnya, cukup ramai orang berlalu lalang disana dan membuatnya cemas jika orang-orang itu mendengar apa yang sedang dibicarakan olehnya dan juga Raisa.
"Rai, kayaknya tempat ini bukan tempat yang aman deh buat bahas soal Grey. Kita bicaranya di belakang aja yuk!" ucap Sahira.
"Yah jangan dong! Kantin aja biar bisa makan sama minum!" ujar Raisa nyengir.
"Hadeh, yaudah yuk ke kantin!" ujar Sahira.
"Nah gitu dong!"
Akhirnya Sahira dan Raisa pergi ke kantin bersamaan, mereka akan membahas mengenai Grey dan bagaimana cara mereka untuk membantu gadis tersebut.
•
•
Disisi lain, Elargano dan Keira masih berada dalam perjalanan menuju sekolah gadis itu. Sepanjang jalan Keira hanya diam menunduk, ia masih cemas jika Ibrahim tahu mengenai hilangnya gelang yang diberikan padanya itu dan nantinya lelaki tersebut akan kembali mendekatinya.
Melihat kecemasan di wajah Keira, El pun memilih untuk menegur gadisnya itu dengan cara mencolek pipi Keira menggunakan telunjuknya, membuat gadis itu terkejut lalu mengangkat kepalanya menatap El dari samping.
"Iya El, kenapa?" tanya Keira kaget.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu! Kenapa kamu diem aja daritadi, ha?" tegas El.
"Eee a-aku...." Keira tampak gugup.
"Kamu gausah cemas gitu! Aku tahu, pasti kamu lagi mikirin soal gelang kamu itu kan? Terus kamu takut kalau Ibrahim, orang yang udah kasih kamu gelang itu tau!" ucap Elargano.
"Hah? Ka-kamu kok tau soal ini...??" ujar Keira terkejut ketika mendengar apa yang diucapkan El barusan, ia tak menyangka jika El tahu tentang itu.
"Ya iya dong, aku udah tahu semuanya sayang! Udah kamu gak perlu cemas, cowok itu udah gak bisa deketin kamu lagi! Jadi, kamu tenang aja ya sayangku!" ucap Elargano tersenyum sembari mengusap puncak kepala gadisnya.
__ADS_1
"Ma-maksud kamu?" tanya Keira gugup.
"Iya, aku udah beresin tuh cowok brengs*k! Kamu gak perlu takut lagi kalau dia deketin kamu, karena ada aku yang selalu jagain kamu sayang!" jawab El menjelaskan maksudnya.
"Beresin itu maksudnya kayak gimana sih? Kamu apain Ibrahim?" tanya Keira tak mengerti.
El tersenyum smirk, kemudian menempelkan jarinya pada bibir mungil Keira seraya berkata, "Kamu gak perlu tahu sayang."
Keira pun terdiam, pikirannya coba mencerna maksud dari El mengatakan itu, namun tetap saja ia tak berhasil menemukannya. Akhirnya, Keira memilih melupakan apa yang dikatakan El itu daripada kepalanya semakin pusing.
Sementara El melepaskan jarinya dari bibir sang kekasih, ia senyum-senyum saja sambil sesekali memandang ke arah Keira hingga membuat gadis itu semakin penasaran.
"El, kamu jangan bikin aku penasaran gitu dong! Kalau emang kamu gak mau kasih tahu, yaudah jangan senyum-senyum gitu! Kamu mah bikin aku penasaran aja, aku sebel sama kamu!" ujar Keira cemberut ke arah sang kekasih.
"Hahaha, kok sebel sih? Asal kamu tahu sayang, kamu itu makin gemes kalau kayak gitu tau!" ucap El kembali mencolek dagu Keira.
"Au ah kamu mah nyebelin El! Udah mending kamu fokus aja nyetirnya!" ujar Keira.
Bukannya menurut, El justru semakin menjadi-jadi menggoda gadisnya dengan cara terus mencolek dan sesekali mencubit pipi Keira yang membuatnya gemas itu, El nampak senang karena ia bisa melihat Keira yang seperti dulu lagi bukan seperti kemarin ketika gadis itu terkena pengaruh pelet.
"Kei, sampai kapanpun aku bakal selalu jaga dan lindungin kamu dari orang-orang yang berniat menyakiti kamu! Aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu terluka walau sedikitpun!" batin El.
•
•
Kriiinggg... Kriiinggg...
Sahira dan Raisa baru saja selesai berbincang mengenai Grey, kebetulan juga bel masuk berbunyi dan mengharuskan mereka segera pergi dari sana lalu masuk ke kelas memulai jam pelajaran pertama mereka di hari ini.
Saat hendak membayar, Sahira coba bertanya lebih dulu pada salah satu pelayan di kantin itu apakah mereka menerima uang dollar atau tidak, karena Sahira memang tak memiliki uang lain selain dollar pemberian Thoriq tersebut.
"Rai, sebentar ya gue mau bayar dulu sekalian sama punya lu itu!" ucap Sahira.
"Wih asik nih, tumben lu mau traktir gue tanpa diminta!" ujar Raisa merasa senang.
"Iya gapapa, itung-itung sedekah ke yang membutuhkan! Yaudah, tunggu dulu ya sebentar jangan langsung cabut lu!" ucap Sahira.
"Et si anj*ng! Iya iya..." umpat Raisa.
Sahira pun menghampiri pelayan disana untuk membayar makanan serta minuman yang ia pesan.
"Misi mas, saya mau bayar dong. Totalnya semua jadi berapa ya sekalian sama punya teman saya itu!" ucap Sahira.
"Eee semuanya jadi lima puluh lima ribu aja neng, murah meriah kok!" jawab pelayan itu.
"Oh iya mas, kalau saya bayarnya pakai uang dollar bisa gak ya? Soalnya saya gak pegang rupiah, cuma ada dollar."
"Ya bisa dong neng! Ini kan sekolah internasional, kantinnya juga internasional dong! Masa gak bisa terima uang dollar? Jangankan dollar, pakai emas sama berlian juga bisa kok neng!" ucap pelayan itu.
"Ahaha, yaudah mas ini saya bayar ya!" ucap Sahira menyerahkan selembar uang 100 dollar kepada pelayan tersebut.
Sontak saja pelayan itu terkejut melihat besarnya nominal uang yang diberikan oleh Sahira.
"Waduh neng! Dollar sih dollar, tapi ya jangan sebanyak ini juga kali neng! Kalo gini saya bingung mau kasih kembalian gimana, soalnya ini banyak banget!" ucap pelayan itu garuk-garuk kepala.
"Eee hehe maaf mas! Cuma itu yang saya punya, ini ada empat lagi juga sama jumlahnya, yaudah gini aja deh biar itu semuanya mas pegang dulu! Jadi, kalau saya pengen makan atau minum lagi nanti gak perlu bayar lagi!" ucap Sahira memberi usul.
"Ah iya iya, saya setuju sama usulnya itu!" ucap si pelayan merasa senang.
"Makasih ya mas!" ucap Sahira tersenyum.
"Saya yang makasih neng!"
Sahira pun kembali ke tempat Raisa berada, sedangkan pelayan itu juga melayani orang yang hendak membayar.
Kebetulan orang itu melihat jelas ketika Sahira menyerahkan selembar uang 100 dollar kepada pelayan disana, ia merasa bingung bagaimana bisa Sahira memiliki uang sebanyak itu.
"Tuh cewek beasiswa kok bisa punya uang 100 dollar ya? Nyolong dimana dia?" pikirnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...