Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Semuanya selesai


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 94.




Braakkk...


El menggebrak meja dengan keras, membuat pak Panca terkejut dan reflek menoleh. Guru itu sangat kaget melihat keberadaan El disana.


"Elargano?" ucapnya panik.


"Halo pak Panca! Senang sekali saya bisa bertemu dengan anda disini. Sudah berhari-hari saya dan Sahira cari anda, tapi tidak ketemu juga. Dan ternyata Tuhan punya rencana lain, dengan mempertemukan kita berdua disini. Sekarang ayo pak, ikut saya ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anda!" ucap Elargano.


"Kamu ini bicara apa sih El? Saya tidak melakukan apapun ke Grey, jadi saya tidak harus bertanggung jawab. Kamu itu salah sudah menuduh saya, karena saya tidak bersalah!" elak pak Panca.


"Anda masih bisa bicara seperti itu setelah bukti video yang saya dapatkan dari hp anda? Dengar ya pak, kali ini saya tidak akan lepaskan anda lagi. Karena saya pastikan anda harus ditahan di kantor polisi!" ucap Elargano.


Pak Panca terdiam seperti memikirkan rencana untuk bisa lolos dari El saat ini.


"Sial! Anak ini memang sangat mengancam! Saya tidak mau di penjara, saya harus bisa cari cara untuk kabur dari tempat ini!" batin pak Panca.


"Kenapa diam pak? Anda sekarang sudah ingat bukan kejahatan yang anda lakukan sama Grey? Kalau begitu, mari ikut saya dan kita pergi ke kantor polisi sama-sama!" ucap Elargano.


"Itu tidak akan terjadi El!" ujar pak Panca.


"Saya pastikan itu bisa terjadi! Anda tidak bisa lepas lagi dari saya! Anda harus bertanggung jawab atas semua yang sudah anda lakukan, pak! Ayo ikut saya!" geram Elargano sembari mencengkram tangan pak Panca.


Namun, pak Panca tidak tinggal diam begitu saja. Dia memberi perlawanan dengan cara menghentakkan tangan El dan mendorongnya hingga terhuyung ke belakang.


"Hey tunggu!" teriak El langsung bangkit mengejar pak Panca yang lari keluar.


Sementara Keira dan Grey merasa cemas dengan kejar-kejaran yang terjadi itu, mereka berdua masih saling memeluk satu sama lain untuk menenangkan diri.


"Tenang ya Grey! Kamu sekarang udah baik-baik aja disini! Kita tinggal berdoa supaya El bisa tangkap pak Panca!" ucap Keira.


"Iya Keira, terimakasih ya!" ucap Grey.


"Oh ya, kayaknya aku harus telpon Sahira sama pihak kepolisian deh. Supaya mereka bisa bantu El buat tangkap pak Panca itu," ucap Keira.


"Kamu benar Keira! Yaudah, kamu telpon aja polisi sekarang!" ujar Grey.


"Oke!" Keira mengangguk melepas pelukannya sejenak, lalu mengambil ponsel dari atas meja dan mulai menelpon pihak kepolisian.


📞"Halo pak! Ini saya Keira Violetta, saya mau membuat laporan kalau disini sekarang sedang ada buronan yang dicari."


📞"Iya benar pak! Sekarang saya ada di warung makan bakso sukacita, di jalan anggrek raya nomor 13. Bapak tolong cepat kesini ya! Saya butuh bantuan untuk menangkap buronan itu pak!"


Tuuutttt...


"Aku udah telpon polisi, sekarang tinggal aku hubungi Sahira buat ikut datang kesini." kata Keira pada Grey.


"Iya Kei," Grey mengangguk saja dan masih terus tampak cemas walau dirinya sudah aman.


Sementara Keira kembali menggunakan ponselnya untuk menghubungi Sahira dan memberitahu padanya bahwa saat ini Grey serta pak Panca ada di warung bakso itu.


📞"Halo Sahira! Kamu lagi dimana sekarang?" tanya Keira pada Sahira.


📞"Eee aku lagi di jalan mau nyari Grey teman aku, emangnya kenapa ya Kei?" ucap Sahira heran.


📞"Begini Sahira, jadi tadi aku sama El lagi makan bakso berdua. Terus kita gak sengaja lihat Grey ada disini juga bareng sama pak Panca," jelas Keira.


📞"Apa? Kamu serius Kei?" tanya Sahira kaget.


📞"Iya Sahira, aku serius. Sekarang Grey juga lagi sama aku, sedangkan pak Panca dikejar sama El. Kamu bisa gak kesini sekarang?" jawab Keira.


📞"Bisa kok bisa, kamu shareloc aja sekarang ya!" ucap Sahira.


📞"Oke Sahira!" ucap Keira.


Tuuutttt...


"Gimana Keira?" tanya Grey cemas.


"Ini Sahira mau kesini katanya, kamu sabar ya! Kita duduk aja dulu!" ucap Keira.


"Iya Kei," ucap Grey mengangguk pelan.


Mereka berdua pun duduk disana, Keira juga menawarkan Grey untuk minum agar gadis itu bisa lebih tenang.


__ADS_1



Sahira yang baru selesai mengangkat telpon dari Keira, langsung mengatakan pada abangnya untuk segera pergi menuju lokasi Grey dan Keira berada saat ini.


"Bang, ayo cepat kita pergi ke lokasi ini!" pinta Sahira menunjukkan lokasi yang diberikan Keira kepada abangnya.


"Mau ngapain kesitu Sahira?" tanya Thoriq heran.


"Barusan Keira telpon gue, dia kasih tahu kalau dia udah berhasil temuin Grey. Nah sekarang Grey sama pak Panca ada di lokasi ini bang, ayo buruan kita kesana! Gue pengen ketemu sama Grey, sekalian juga tangkap pak Panca!" jelas Sahira.


"Iya iya... kamu arahin aja jalannya ke aku ya!" pinta Thoriq sambil tersenyum.


"Ish, emang lu gak bisa lihat sendiri apa? Ini kan juga udah gue nyalain tuh navigasinya, lu tinggal lihat sendiri bang! Kayak gak tahu aja kalo cewek tuh susah baca map!" ucap Sahira.


"Hahaha... aku pikir kamu beda sama cewek yang lain, eh ternyata sama aja! Yaudah, biar aku aja yang lihat!" ucap Thoriq.


"Iya yaudah cepat bang!" pinta Sahira.


"Bawel banget ya kamu! Sabar dong!" geram Thoriq.


Akhirnya Thoriq mulai menancap gas dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalanan disana cukup lenggang sehingga Thoriq bisa melaju cepat untuk segera tiba di lokasi Keira berada sekarang.


"Aduh! Semoga aja Grey gak kenapa-napa deh, dan pak Panca bisa segera ditangkap!" batin Sahira.


Tak butuh waktu lama bagi mereka tiba di lokasi keberadaan Keira, akan tetapi Thoriq tidak fokus ke jalan karena sedang melihat layar ponsel untuk mengetahui titik yang dikirimkan Keira.


"Bang awas ada orang di depan..!!" teriak Sahira ketika melihat seseorang yang berlari di depannya.


Ciiitttt...


Braakkk...


Thoriq terlambat menginjak remnya, ia sudah terlanjur menabrak orang tersebut sampai terpental ke jalan aspal.


"Ya ampun! Bang, lu udah nabrak orang tuh. Gimana sih lu, bang?" ujar Sahira cemas.


"Yeh kamu jangan salahin aku dong! Kan aku lagi lihat lokasi di hp ini, kamu sih gak mau lihatin! Jadinya aku nabrak kan!" ujar Thoriq ikut panik.


"Duh, yaudah kita jangan debat! Mending sekarang kita turun dan cek kondisi orang itu! Kayaknya dia luka deh tuh," ucap Sahira.


"Iya iya.." Thoriq mengangguk cepat.


Lalu, mereka pun bergerak turun dari mobil. Namun, tiba-tiba saja Sahira melihat Elargano berlari ke arah mobilnya sambil berteriak seperti tengah mengejar seseorang.


"Iya kayaknya, ini emang udah di sekitar daerah jalan anggrek raya nomor 13, cuma belum sesuai titik aja." kata Thoriq.


"Tapi, dia ngapain ya lari kesini? Terus dia juga nyamperin orang yang kita tabrak, apa jangan-jangan orang itu pak Panca?" ujar Sahira.


"Entahlah, bisa jadi dia cuma mau nolongin orang itu. Tapi, kalau kamu mau tahu lebih lanjut, ya kita turun sekarang!" ucap Thoriq.


"Iya bang, udah yuk!" ucap Sahira.


Mereka pun turun dari mobil untuk menemui Elargano.




"Heh! Bangun! Anda sekarang gak bisa kabur kemanapun lagi, saya akan bawa anda ke kantor polisi dan anda harus ditahan disana!" ucap El menarik paksa tubuh pak Panca yang tergeletak.


"Hey, kamu pelan-pelan dong tariknya! Kaki saya ini sakit tau! Emangnya kamu gak lihat tadi saya ditabrak sama mobil itu?" geram pak Panca.


"Itu belum seberapa sama apa yang udah bapak lakuin ke Grey, jadi bapak jangan ngerasa puas dengan itu! Hukuman yang sesungguhnya ada di penjara pak, anda harus menerimanya dengan lapang dada!" ujar Elargano.


"Haish, iya iya.. tapi, saya harus berobat dulu!" pinta pak Panca.


"Tidak perlu. Saya yakin pihak kepolisian tahu apa yang mereka harus lakukan terhadap anda, sudah ayo ikut saya!" tegas El.


"Kak El!" Elargano terkejut dan menoleh ke asal suara yang memanggil namanya, ia tersenyum lebar saat mengetahui Sahira ada disana.


"Loh Sahira? Kamu disini?" tanya El.


Sahira berhenti tepat di depannya, gadis itu mengangguk sambil tersenyum dan melihat ke arah pak Panca. Kini Sahira sadar yang ditabrak oleh abangnya adalah pak Panca.


"Iya, tadi Keira telpon gue dan kasih tahu semuanya. Syukurlah pak Panca bisa ditangkap!" ucap Sahira.


"Iya Sahira, makasih juga ya udah bantu tabrak pak Panca! Kalau enggak, pasti susah buat tangkap orang ini." kata Elargano.


"Ah iya, itu tadi bang Thoriq yang tabrak. Emang keren lu bang!" ujar Sahira tersenyum.


"Yeh malah bilang keren! Jantung gue hampir copot tau gak gara-gara tabrak orang! Untungnya yang gue tabrak tuh dia, kalo orang lain gimana!" ujar Elargano.

__ADS_1


"Heh! Sembarangan aja kalo ngomong! Nabrak gue dibilang untung, emang lu kata gak sakit apa! Sakit tau kaki gue!" geram pak Panca.


"Suruh siapa anda kabur dari kejaran saya? Jadi, jangan salahkan orang yang menabrak anda!" ucap Elargano membela Thoriq dan Sahira.


"Iya tuh, makanya jangan kabur pak!" sahut Sahira.


"Aaarrgghh sial! Kalau begini saya sudah sulit untuk kabur, memang kurang ajar!" batin pak Panca.


Wiuuu wiuuu wiuuu...


Tak lama kemudian, muncul suara sirine polisi yang membuat pak Panca makin ketakutan. Mereka semua kompak menatap ke arah mobil polisi yang muncul disana.


"Hahaha... lihat itu kan pak Panca? Jemputan anda sudah tiba, ayo ikut dengan saya!" ujar El.


"Iya pak, lebih baik bapak menyerah dan serahkan diri aja ke polisi! Karena sekarang bapak gak bisa kabur kemana-mana lagi," ucap Sahira.


Tiga orang polisi pun turun dari mobil, mengacungkan senjata ke arah pak Panca dan memintanya untuk menyerah.


"Jangan bergerak!" teriak polisi itu.


Akhirnya El menarik paksa pak Panca, membawa pria itu berdiri mendekati polisi yang ada disana untuk diserahkan.


"Hey pelan-pelan!" geram pak Panca.


"Pak, ini dia buronannya. Dia yang sudah melakukan pelecehan terhadap anak muridnya sendiri, tangkap saja dia pak!" ucap El menyerahkan pak Panca kepada polisi itu.


"Baiklah mas, kami akan bawa beliau ke kantor. Kami harap anda juga bisa ikut kesana sebagai saksi untuk menjelaskan kasus ini," ucap polisi itu.


"Iya pak," El mengangguk setuju.


Polisi pun menangkap pak Panca, memborgol tangannya dan memaksa guru itu berjalan menuju mobil.


Sementara El, Sahira serta Thoriq juga ikut pergi menghampiri Keira di warung bakso.




Keira dan Grey masih menikmati bakso dan es jeruk pesanan mereka, ya memang Keira sengaja memesan makanan dan minuman agar Grey bisa lebih tenang.


"Grey, gimana? Kamu udah tenang kan?" tanya Keira menatap wajah Grey.


"Iya Kei, aku gak terlalu cemas lagi kok. Tapi, kira-kira pak Panca udah ketangkap belum ya? Aku khawatir dia masih bisa lolos, terus keselamatan aku dalam bahaya. Pak Panca soalnya punya video sewaktu dia anuin aku, aku takut dia nekat dan sebar video itu ke sosial media." jawab Grey.


"Ya ampun! Kamu tenang aja ya! Aku yakin El pasti bisa tangkap pak Panca kok! Kamu lanjut aja makan sampai habis!" ucap Keira tersenyum.


Grey mengangguk setuju, kemudian lanjut memakan baksonya sampai habis.


"Grey!" tiba-tiba saja sebuah suara wanita muncul memanggil nama gadis itu dari belakang, Grey pun terkejut dan menoleh ke asal suara untuk memastikan siapakah yang memanggilnya itu.


"Sahira?" Grey terperangah dan langsung bangkit dari duduknya untuk menghampiri Sahira yang baru tiba itu.


Keira pun melakukan hal yang sama, ia tersenyum karena Sahira sudah datang kesana. Akan tetapi, wajahnya seketika berubah ketika melihat Sahira bergandengan tangan dengan kekasihnya.


"Grey, lu baik-baik aja kan? Ada yang luka gak?" ucap Sahira reflek melepas tangannya dari genggaman El, lalu memegang kedua lengan Grey dengan penuh kecemasan.


"Gue baik-baik aja kok! Lu gak perlu khawatir gitu! Makasih ya Sahira karena udah bantu gue!" ucap Grey tersenyum bahagia.


"Sama-sama. Itu udah tugas gue sebagai teman buat bantu lu, syukurlah kalau lu baik-baik aja! Oh ya, tadi polisi juga udah berhasil tangkap pak Panca. Sekarang pak Panca dibawa ke kantor buat diperiksa, jadi lu gak perlu cemas lagi ya!" ucap Sahira menjelaskan semuanya.


"Syukur deh! Gue benar-benar takut banget pak Panca bakal nekat sebarin video itu, karena gue belum siap dibully sama netizen apalagi murid di sekolah kita!" ucap Grey.


"Tenang aja, itu semua gak akan terjadi!" Sahira tersenyum kemudian memeluk sohibnya itu.


"Makasih Sahira!" ucap Grey di dalam pelukan.


Elargano, Keira dan Thoriq kompak tersenyum menyaksikan momen mengharukan diantara kedua sahabat itu.


"Grey, sekarang lu udah aman dari ancaman guru gak tahu diri itu! Dia gak mungkin bisa ngancem lu lagi seperti kemarin, jadi lu gak perlu takut lagi ya!" ucap Elargano.


Grey melepas pelukannya, lalu tersenyum ke arah Elargano.


"Iya kak El, makasih juga ya kak karena udah bantu Sahira buat tolong gue! Gue bingung gimana caranya buat balas kebaikan kalian!" ujar Grey.


"Gak perlu begitu Grey, kita ikhlas kok. Ya kan El?" ucap Sahira.


"Iya dong," jawab El tersenyum renyah.


Keira hanya diam memperhatikan mereka, entah mengapa pikirannya masih belum tenang mengingat momen saat El menggandeng tangan Sahira tadi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2