
#SangPemilikHati Episode 65.
•
•
"Ehem ehem...."
Keira dan Ibrahim yang sedang asyik bertatapan, merasa kaget begitu mendengar suara deheman dari belakang mereka itu. Keduanya pun kompak menoleh menatap sosok wanita yang tengah berdiri memandang ke arah mereka disana.
"Mbak Leani? Lu kok ada disini? Lagi ngapain?" ujar Ibrahim terkejut bukan main.
"Harusnya gue yang tanya sama lu, Baim! Lagi ngapain lu disini sama cewek berduaan doang? Hayo, mau ngelakuin apa lu?" goda Leani.
"Apaan sih, mbak? Gak kok! Gue cuma ngobrol doang sama dia, lu gausah mikir yang aneh-aneh deh! Lagian ngapain sih lu kesini, kalo mau pulang kan ke rumah biasa!" ujar Ibrahim gugup.
"Suka-suka gue lah! Gue tuh lagi pengen nginep disini, jadi semua terserah gue!" ujar Leani.
"Iya deh iya, lu sendirian nih?" tanya Ibrahim.
"Gak kok, ada teman gue juga di bawah. Eh ya, ini cewek teman sekolah lu? Eh bentar deh bentar, gue kayak pernah lihat mukanya deh! Tapi, dimana ya?" ujar Leani coba berpikir keras.
"Halah gausah sok tau deh! Iya ini teman sekolah gue, namanya Keira. Kei, kenalin dia kakak aku namanya mbak Leani!" ucap Ibrahim.
"Oh jadi lu Keira?" tanya Leani.
"Iya mbak, aku Keira teman sekolahnya Ibrahim. Salam kenal ya mbak!" jawab Keira.
"Oke!" kedua gadis itu kini bersalaman.
"Yaudah ah mbak, lu turun sana temuin teman lu! Jangan ganggu gue sama Keira disini, gue tuh mau ngobrol berdua sama dia! Lu harusnya paham dong mbak, lagian kasihan tuh teman lu nunggu lama!" ucap Ibrahim kesal.
"Iya iya, gue ngerti kok! Yaudah, tadi gue tuh cuma penasaran aja soalnya bik Yuli bilang lu juga dateng kesini sama cewek. Kan lu belum pernah bawa cewek kayak gini!" ujar Leani.
"Ah lebay lu!" ujar Ibrahim.
"Hahaha.... yaudah, selamat bersenang-senang!" ucap Leani tertawa lepas, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Ibrahim serta Keira disana.
Setelah Leani pergi, kini Ibrahim kembali menatap Keira sambil tersenyum.
"Sorry ya, ucapan mbak Leani tadi jangan dipikirin! Dia emang kayak gitu orangnya, suka aneh-aneh!" ucap Ibrahim sembari menyentuh rambut Keira dan tersenyum manis.
"Iya, santai aja!" ucap Keira singkat.
"Yaudah, kita duduk disitu yuk!" ujar Ibrahim menunjuk ke arah kursi yang ada disana.
"Oke!"
Keduanya pun berjalan ke arah kursi, lalu duduk berdampingan dengan dua tangan saling menggenggam satu sama lain.
"Tangan kamu lembut banget sih, enak buat dipegang kayak gini!" ucap Ibrahim.
"Ahaha, bisa aja lu!" Keira tertawa kecil. "Eh ya, thanks banget loh karena lu udah bisa bikin gue lupain masalah El pacar gue yang tadi mesra-mesraan sama cewek lain!" sambungnya.
"Sama-sama, itu emang udah tugas aku. Bikin wanita yang aku sayangi dan cintai, melupakan semua kesedihannya! Lagipun, kamu gak perlu lagi mikirin pacar kamu yang selingkuh itu! Lebih baik kamu sama aku!" ucap Ibrahim tersenyum.
Gadis itu merunduk malu saat Ibrahim semakin dekat menatapnya.
"Lu bisa mundur sedikit gak?" ujar Keira.
"Oh ya, sorry sorry!" ucap Ibrahim mengerti lalu sedikit menjauh dari Keira agar tak membuat gadis itu merasa risih.
"Eee gue masih heran deh, tadi kok kakak lu bilang kayak pernah lihat gue? Perasaan baru kali ini deh gue ketemu sama dia, emang kira-kira dia udah lihat gue dimana ya?" ucap Keira bingung.
"Udah lah lupain aja! Dia itu gak jelas orangnya, jadi gausah dipikirin!" ucap Ibrahim.
"Oh gitu, tapi dia kelihatannya kayak emang pernah lihat aku tau. Kan aku jadi bingung, siapa tahu kita emang udah pernah ketemu sebelumnya tapi aku lupa. Coba deh nanti aku bicara lagi sama kakak kamu, boleh kan?" ucap Keira.
Ibrahim terdiam bingung.
"Aduh, gawat nih! Kalo mbak Leani bahas tentang foto-foto Keira di kamar gue, bisa mampus nih gue!" gumam Ibrahim dalam hati.
•
•
__ADS_1
Sementara itu, Leani yang tengah menuruni tangga terus berpikir tentang sosok gadis teman adiknya yang tadi ia temui di atas. Leani merasa kalau ia pernah melihat gadis itu sebelumnya, namun ia lupa dimana persisnya ia melihat gadis itu.
"Duh, gue kok jadi pikun gini sih ya? Mukanya Keira itu kayak gak asing di kepala gue, rasanya gue pernah lihat dia sebelumnya! Tapi, gue bingung banget gue ngeliatnya dimana!" gumam Leani.
Leani justru bertemu dengan bik Yuli yang hendak memberikan minuman pada Ibrahim dan Keira.
"Eh bik, itu minuman buat Baim sama temannya ya?" tanya Leani pada bibik nya.
"Benar non!" jawab bik Yuli.
"Oh bagus deh! Kalo gitu biar saya aja yang anterin ke atas dan kasih minuman itu ke Baim, bibik tolong bikinin minum lagi buat saya sama teman saya yang udah nunggu di bawah!" ucap Leani.
"Eee baik non! Tapi, apa tidak merepotkan non Leani?" ucap bik Yuli.
"Enggak kok, kebetulan saya juga mau ngobrol lagi sama Ibrahim dan temannya itu. Udah sini bik, biar saya aja yang bawain ya!" ujar Leani.
"Iya non," ucap bik Yuli menyerahkan nampan itu.
Lalu, Leani pun kembali ke atas membawakan minuman untuk Ibrahim dan Keira, sedangkan bik Yuli turun ke bawah membuatkan minum sesuai permintaan Leani.
Ya Leani memang masih penasaran dengan Keira, ia ingin tahu dimanakah sebelumnya ia pernah melihat gadis itu, karena menurutnya perasaan itu tak mungkin salah.
"Gue yakin banget sih, gue emang pernah lihat Keira! Siapa tahu kalo gue balik lagi, gue bisa ingat dimana gue lihat dia sebelumnya!" batin Leani.
Sesampainya di atap, Leani melihat adiknya tengah duduk bersama Keira sambil bergandengan tangan. Leani pun tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Ibrahim itu, wajar saja karena Leani belum pernah melihat Ibrahim dekat dengan seorang wanita seperti itu.
"Baim!" Leani memanggil sang adik sembari terus berjalan mendekatinya.
Sontak Ibrahim serta Keira menoleh ke asal suara, pria itu menghela nafas kasar begitu melihat Leani kembali disana.
"Haish, lu mau apa lagi sih mbak?" tanya Ibrahim.
"Hahaha santai dong Baim! Gue kesini cuma mau anterin minuman kok buat kalian, supaya ngobrol kalian bisa lebih enak! Gausah ngerasa keganggu, gue bakal pergi lagi kok!" ucap Leani tersenyum.
"Kenapa jadi lu yang nganter? Emang bik Yuli kemana?" tanya Ibrahim heran.
"Ada di bawah lagi buatin minuman juga buat teman gue, emang kenapa sih kalo gue yang antar? Kayaknya gak suka banget lu, gue ada disini. Kan maksud gue tuh baik, supaya kerjaan bik Yuli bisa lebih cepat beres!" ucap Leani.
"Iya iya, udah taruh aja tuh di meja minumannya! Abis itu lu langsung pergi sana, gue tuh mau dengerin curhatan Keira!" ujar Ibrahim.
"Ah siap! Tapi awas loh Baim, jangan berbuat yang enggak-enggak disini! Jangan sampai lu kotorin anak gadis orang, kasihan papa sama mama nanti!" ucap Leani terkekeh kecil.
"Yaudah, gue pergi ya?" ucap Leani.
"Iya sana!" ujar Ibrahim geram.
Leani pun berbalik dan hendak pergi dari sana, namun tiba-tiba ia teringat pada momen saat dirinya melihat foto gadis cantik di kamar adiknya.
"Eh iya, sekarang gue inget dimana gue lihat lu Keira!" ujar Leani dengan cepat kembali menatap Ibrahim dan juga Keira.
"Hah? Maksud lu apa sih, mbak?" tanya Ibrahim.
"Gue inget Baim, cewek ini yang fotonya ada di dinding kamar lu kan?" ujar Leani.
Sontak Ibrahim dan Keira pun menganga lebar mendengar ucapan Leani, keduanya terkejut terutama Keira yang baru mengetahui jika selama ini Ibrahim memasang foto dirinya di kamar.
"Apa? Lu pasang foto gue di kamar lu?" tanya Keira.
Ibrahim terdiam bingung, dirinya khawatir jika Keira akan marah padanya karena sudah memasang foto gadis itu di dinding kamarnya.
•
•
Sementara itu, Sahira telah sampai di rumah sakit bersama Elargano yang mengantarnya. Mereka turun dari mobil dan berbincang sejenak sebelum Sahira masuk ke dalam rumah sakit.
Sebenarnya Elargano memang ingin ikut dengan Sahira ke dalam sana, akan tetapi ia juga tak bisa melupakan Keira begitu saja yang sedang dibawa oleh Ibrahim entah kemana.
"Kak El, makasih ya udah anterin gue sampe sini!" ucap Sahira tersenyum.
"Sama-sama, titip salam ya buat keluarga lu di dalam! Maaf gue gak bisa ikut jenguk sekarang, tapi besok pasti gue usahain buat datang kok! Biar gimanapun, keluarga lu udah gue anggap keluarga gue sendiri!" ucap Elargano.
"Iya kak, santai aja! Sekarang kan lu harus cari Keira, gue doain semoga lu bisa temuin Keira secepatnya ya!" ucap Sahira.
"Aamiin! Yaudah ya, gue mau cari Keira dulu? Sampai ketemu lagi nanti!" ucap Elargano.
__ADS_1
"Oke! Hati-hati di jalan, kak!" ucap Sahira.
Keduanya saling melambaikan tangan sambil tersenyum manis, El pun masuk kembali ke mobil dan bersiap pergi mencari Keira. Sahira tetap berdiri disana menunggu hingga El pergi.
"Kenapa ya sekarang perasaan gue tiap kali dekat dengan Sahira jadi beda? Duh El, lu jangan mikir yang enggak-enggak deh! Ingat lu masih punya Keira, dan lagipun si Sahira itu temannya Keira!" gumam El dalam hati.
Tanpa berlama-lama lagi, pria itu segera menancap gas dan pergi dari sana. Barulah Sahira masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui abangnya.
Gadis itu melangkah tergesa-gesa menuju ruangan tempat abangnya dirawat, ia sudah tidak sabar ingin segera menemui Jordan yang baru saja tersadar dari masa kritisnya.
"Bang, gue kangen banget sama lu! Gue gak sabar mau bicara sama lu lagi!" batin Sahira.
Sahira tak perduli banyak orang di sekitarnya yang merasa risih melihatnya berlari seperti itu, karena kini yang ada dalam pikirannya hanya Jordan.
"Ibu!" Sahira berteriak memanggil ibunya begitu sampai di depan ruangan itu.
"Eh sayang, akhirnya kamu datang juga! Itu abang kamu udah nungguin di dalam, kamu bisa langsung masuk kesana sayang!" ucap Ratna memeluk putrinya.
"Iya Bu," ucap Sahira tersenyum.
Sesudah mencium tangan sang ibu, kini Sahira memasuki ruangan tempat Jordan dirawat meninggalkan Ratna disana bersama Thoriq.
"Bu, Sahira itu cantik banget ya!" ucap Thoriq dengan mata terus mengarah ke Sahira.
"Maksud kamu bilang gitu apa sayang? Jangan bilang kamu naksir sama Sahira, dia itu adik kamu loh! Jadi, kamu jangan mikir yang enggak-enggak karena kamu dan Sahira gak mungkin bisa bersama!" ucap Ratna mewanti-wanti putranya.
"Eee bukan soal suka, mah. Aku cuma kagum aja sama kecantikan Sahira! Lagian aku juga sadar kok, dia kan adik aku!" ucap Thoriq mengelak.
"Ya baguslah! Sekarang tolong kamu ke kantin, beliin makanan buat Sahira ya!" ucap Ratna.
"Baik mah!" ucap Thoriq mengangguk.
Thoriq pun pergi dari sana menuju ke kantin untuk membelikan makanan bagi Sahira sesuai dengan permintaan ibunya tadi.
•
•
"Kak..." Sahira langsung mendekati Nur begitu sampai di dalam ruangan itu, terlihat juga Jordan masih terbaring lemas disana dengan mata terbuka walau sedikit.
"Sahira? Akhirnya kamu datang juga, sini sayang!" ucap Nur tersenyum.
"Iya kak," Sahira mengangguk pelan lalu melangkah maju mendekati abangnya.
Sahira berhenti tepat di samping tubuh abangnya yang terbaring itu, ia mengarahkan pandangan ke arah Jordan sambil tersenyum.
"Bang, aku udah datang nih!" ucap Sahira.
"Iya mas, sekarang kamu bisa lihat Sahira disini. Kamu harus semangat ya mas, supaya kamu bisa cepat sembuh dan keluar dari sini! Aku sama Sahira pengen kamu bisa pulih seperti semula, mas!" sahut Nur.
Jordan hanya terdiam, ingin sekali sebenarnya ia mengusap wajah kedua wanita itu, namun apa daya dirinya masih lemas dan tak bisa bergerak banyak untuk melakukan itu.
"Bang Jordan, kondisi abang sekarang gimana? Udah membaik kan?" tanya Sahira.
"Iya Sahira, gue udah baikan kok. Lu gak perlu cemas lagi soal gue, karena gue bakal selalu baik-baik aja!" jawab Jordan lemas.
"Syukurlah!" ucap Sahira tersenyum.
Sahira sedikit membungkuk lebih mendekat ke arah wajah abangnya, ia memberi kecupan lembut di kening sang abang kemudian mengusapnya secara perlahan disertai senyum manis yang membuat Jordan makin merasa nyaman.
"Kalau abang udah sembuh nanti, kita bisa deh jalan-jalan lagi bang!" ucap Sahira.
Jordan tersenyum walau harus bersusah payah, ia berusaha menggerakkan tangannya ke atas untuk memegang wajah Sahira, namun ditahan oleh gadis itu karena tak mau terjadi sesuatu pada abangnya jika memaksakan diri untuk menggerakkan tangannya saat ini.
"Bang, jangan banyak gerak dulu! Biar aku aja yang pegang tangan abang ya, jadi abang gak perlu susah-susah gerak! Ya kecuali abang udah sembuh nanti, baru deh terserah abang!" ucap Sahira.
"Iya mas, benar kata Sahira! Tadi kan dokter juga udah bilang ke kamu, jangan maksain diri buat bergerak dulu!" ucap Nur.
"I-i-iya...." ucap Jordan pelan.
"Aku senang banget tau, lihat abang udah sadar begini! Semoga secepatnya abang juga bisa pulang ke rumah dan kita kumpul lagi nanti, bareng ibu juga!" ucap Syahra tersenyum.
Seketika wajah Jordan langsung berubah begitu mendengar Sahira menyebut kata ibu.
"Ibu?" ujar Jordan dengan wajah tak suka.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...