
#SangPemilikHati Episode 64.
•
•
Sekian lama Sahira dan Elargano menunggu di depan sekolah Keira, namun Keira tak kunjung muncul hingga membuat keduanya mengantuk dan bosan terus menunggu disana.
"Hoammhh... udah hampir setengah jam kita tunggu disini, tapi Keira gak muncul juga! Mau sampai kapan kita terus kayak gini, El? Gue bosen tau, kan gue juga punya kehidupan gak cuma ngurusin urusan lu ini!" ujar Sahira kesal.
"Iya iya gue tau, gue juga bingung kenapa Keira belum muncul juga sampai sekarang!" ucap El.
"Yaudah, gue mau pulang ah capek tau nunggu terus disini tanpa kepastian! Mungkin Keira udah pulang atau dia ada ekskul dulu!" ucap Sahira.
"Ah gak mungkin! Kita kan daritadi disini, tapi gak kelihatan tuh Keira. Terus gue ini tahu jadwal dia kapan waktunya ekskul, nah sekarang tuh gak ada dia ikut ekskul! Kita tunggu sebentar lagi ya, sabar dulu dong Sahira! Kalau dalam beberapa menit ke depan Keira gak muncul juga, baru deh gue anterin lu pulang ke rumah!" ucap Elargano.
"Haish, kelamaan tau gue bosen! Mending kita coba turun dan tanya ke dalam buat pastiin, apa Keira udah pulang atau belum! Kalo gini kan kita cuma capek doang!" ujar Sahira.
"Sabar dulu! Gimana nanti semisal kita turun, terus Keira malah keluar? Yang ada rencana kita bisa gagal Sahira!" ucap Elargano.
"Huft, serah lu deh!" ujar Sahira kesal.
Gadis itu cemberut dan melipat kedua tangannya di depan karena kesal, suasana hening karena mereka hanya diam tanpa ada satupun yang berbicara di dalam sana.
Tak lama, ponsel milik Sahira berdering membuat ia terkejut dan mengambil ponselnya dari dalam tas untuk mengecek siapa yang menelponnya, rupanya itu telpon dari Nur sang kakak ipar yang ingin mengabari tentang kondisi abangnya.
Drrttt..
Drrttt...
"Kak Nur nelpon? Ada apanya?" gumam Sahira.
Elargano menoleh ke arah Sahira, melihat gadis itu mengangkat telpon dan mendengarkannya karena penasaran.
📞"Halo kak! Kenapa? Apa ada kabar tentang bang Jordan?" tanya Sahira.
📞"Iya Sahira, ini baru aja abang kamu sadar dari masa kritisnya. Dia sebut nama kamu, sepertinya dia mau ketemu sama kamu Sahira! Kamu lagi dimana sekarang? Udah pulang sekolah kan? Kalau udah, langsung kesini ya!"
📞"Apa kak? Bang Jordan udah sadar? Ya ampun Alhamdulillah, aku senang banget! Iya iya kak, aku langsung kesana deh sekarang! Aku pengen ketemu sama bang Jordan lagi!" ucap Sahira.
📞"Iya Sahira, yaudah kakak tunggu kamu disini ya! Jangan lama-lama oke!"
📞"Siap kak! Ini aku langsung meluncur ke rumah sakit kok, aku juga udah gak sabar mau lihat bang Jordan sekarang! Bilang ke bang Jordan kak, kalau aku udah di jalan dan mau kesana! Paling sekitar lima belas menit lagi, gapapa kan kak?" ucap Sahira sangat senang.
📞"Iya gapapa, yang penting kamu bisa cepat sampai disini. Soalnya abang kamu kayaknya udah gak sabar buat ketemu kamu!"
📞"Oke kak! Aku tutup dulu ya telponnya? Makasih loh kak udah kabarin aku!" ucap Sahira.
📞"Sama-sama Sahira, hati-hati di jalan!"
📞"Iya kak," ucap Sahira tersenyum senang.
Tuuutttt....
Sahira menutup telpon, lalu tersenyum menatap ke arah Elargano karena ia sedang senang. Tentu saja El merasa bingung mengapa Sahira mendadak jadi senyum-senyum bahagia seperti itu.
"Heh! Lu ngapa tiba-tiba jadi senyum kayak gitu? Udah mulai gak waras ya?" tanya El heran.
"Enak aja, lu tuh yang gila! Gue lagi seneng nih, abang gue udah sadar dari masa kritisnya. Terus dia minta gue datang kesana sekarang, sorry ya El gue kayaknya gak bisa temenin lu lebih lama disini karena gue harus ke rumah sakit!" ucap Sahira.
"Ohh syukurlah kalo gitu! Yaudah gapapa deh, gue bakal anterin lu ke rumah sakit buat jenguk abang lu itu! Biar Keira urusan nanti!" ucap Elargano.
"Lu serius? Udah gapapa gue bisa ke rumah sakit sendiri kok, lu disini aja tungguin Keira sampe keluar! Katanya lu mau ngikutin dia kan, pacar lu lebih penting kak El!" ucap Sahira tersenyum.
"Gapapa, gue anterin lu dulu!" tegas Elargano.
"Huft, ya terserah lu aja deh! Yang penting bukan gue ya yang maksa lu buat anterin gue, awas loh kalo lu nanti nyalahin gue!" ujar Sahira.
"Iya iya, gue ngerti kok!" ucap El tersenyum.
Disaat El hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba ia melihat Alma serta Kartika keluar dari sekolah.
"Eh bentar bentar, itu kayaknya temannya Keira. Gue harus keluar dulu sebentar, siapa tahu mereka bisa bantu gue buat temuin Keira! Lu terserah mau nunggu disini atau ikut!" ucap Elargano.
"Eee gue ikut aja deh! Bosen juga gue disini!" ucap Sahira meminta ikut.
"Yaudah ayo!" ucap El singkat.
Mereka pun turun dari mobil, lalu berjalan menghampiri Alma serta Kartika yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.
•
__ADS_1
•
"Heh kalian berdua!" ucap El langsung menyapa kedua gadis itu.
Sontak Alma dan Kartika menoleh begitu ada yang memanggil nama mereka, sedangkan El serta Sahira berhenti tepat di hadapan dua gadis itu dengan sedikit ngos-ngosan.
"Iya kak, ada apa ya?" tanya Alma bingung.
"Kalian temannya Keira kan? Tahu gak Keira kemana sekarang?" ucap El langsung pada intinya bertanya mengenai Keira pada mereka.
"Keira? Eee tadi sih kita lihat dia udah pulang duluan, emang gak ketemu sama kak El?" ucap Alma menjawab pertanyaan El.
"Loh enggak tuh, emang kapan dia keluarnya? Daritadi gue disini gak ada lihat Keira tuh, gue pikir dia masih di dalam ada kegiatan atau apa gitu! Emang beneran dia udah pulang?" ucap El.
"Iya kak, bener kok! Tadi kita lihat sendiri Keira jalan ke arah parkiran sama Ibrahim, terus mereka boncengan deh keluar sini!" jawab Kartika.
Kartika langsung menutup mulutnya sendiri karena ia baru saja mengatakan yang tak seharusnya ia katakan pada El, kini gadis itu cemas jikalau El nantinya akan marah setelah tau Keira pulang bersama lelaki lain.
"Ibrahim? Siapa itu?" tanya El penasaran.
"Eee Ibrahim itu cowok yang selalu deketin Keira, kak!" jawab Alma pelan.
"Apa??" El terkejut bukan main.
"Kurang ajar tuh cowok! Beraninya dia deketin pacar orang, kayaknya minta dihajar dia!" geram El mengepalkan tangan.
"Sabar kak! Lu gak boleh kebawa emosi kayak gini, lu harus tau dulu kenapa Keira mau pulang diantar sama Ibrahim! Mending coba deh lu telpon dia sekarang, biar jelas!" ucap Sahira.
"Benar kak! Soalnya yang kita tahu, Keira itu gak mungkin mau boncengan bareng Ibrahim kalau gak dipaksa!" sahut Alma.
"Sialan! Lihat aja, gue bakal kasih pelajaran ke si Ibrahim itu karena dia udah berani deketin Keira!" geram Elargano.
"Udah lah, sabar dulu!" ucap Sahira.
Elargano menghela nafas, kemudian mengambil ponselnya dari saku celana. Ia berusaha menelpon Keira sang kekasih dan bertanya mengapa Keira harus pulang dengan Ibrahim, lalu juga mencari tahu dimana Keira saat ini.
Namun, nomor Keira tidak dapat dihubungi oleh El dan membuat pria itu semakin geram.
"Aaarrgghh gak bisa-bisa!" ujar Elargano.
"Kenapa sih?" tanya Sahira heran.
"Ini loh, nomornya Keira gak bisa dihubungi. Gue kan jadi bingung dia lagi apa dan dimana sekarang!" jawab El kesal.
"Iya iya," Elargano menurut dan kembali menelpon Keira disana, akan tetapi hasilnya sama saja karena nomor sang kekasih tetap tidak bisa dihubungi.
"Masih sama, gak bisa ditelpon!" ucap Elargano.
"Duh, ya kalo gitu sih gue juga bingung!" ujar Sahira.
"Eee kira-kira kalian tahu gak kemana si Ibrahim bawa Keira pergi?" tanya El pada dua gadis itu.
"Maaf banget kak! Kita gak tahu!" jawab Alma.
"Oh, yaudah gapapa. Biar gue nanti yang cari Keira sendiri, makasih infonya!" ucap El sambil tersenyum ke arah dua gadis itu.
"Sama-sama, kak. Kalo gitu kita berdua pamit dulu ya, kak? Permisi!" ucap Alma.
"Iya iya, silahkan!" ucap El memberi jalan.
Alma dan Kartika pun pergi dari sana meninggalkan Elargano bersama Sahira yang masih kebingungan harus mencari Keira kemana lagi untuk saat ini.
"Kak El, lu mau gimana lagi sekarang? Gue gak bisa lama-lama temenin lu, karena gue harus langsung ke rumah sakit!" ujar Sahira.
"Santai! Gue anterin lu ke rumah sakit, lu gausah mikirin soal Keira! Biar itu jadi urusan gue aja, selaku pacarnya! Udah yuk, abang lu lebih penting karena dia butuh lu!" ucap Elargano.
"Oke! Thanks ya kak, lu udah mau ngertiin gue! Maaf juga karena gue gak bisa temenin lu buat cari Keira! Tapi, gue yakin kok Keira itu gak bakal berpaling dari lu! Dia itu setia!" ucap Sahira.
"Iya, gue juga percaya sama Keira! Cuma masalahnya, tuh cowok ngeselin banget!" ujar El.
"Sabar kak!" ucap Sahira menenangkan.
"Yaudah, gue anterin lu sekarang!" ucap Elargano lalu menggandeng Sahira dan membawanya kembali ke mobil untuk diantar menuju rumah sakit.
•
•
Sementara itu, Ibrahim membawa Keira ke rumahnya dan meminta gadis itu untuk segera masuk ke dalam bersamanya.
"Ayo masuk Kei!" ucap Ibrahim tersenyum.
__ADS_1
"Hah? Ini rumah lu?" tanya Keira.
"Iya, emang kenapa?" ucap Ibrahim santai.
"Mau ngapain lu bawa gue kesini? Gue kira tempat yang lu maksud tuh apaan, eh ternyata rumah! Emangnya kalo gue disini bisa bikin gue tenang apa?" ujar Keira.
"Jangan salah Kei! Ini bukan rumah sembarangan, disini kamu bisa jadi lebih tenang dan nyaman! Kalau gak percaya, coba aja yuk masuk! Pasti kamu langsung bisa rasakan perbedaannya!" ucap Ibrahim tersenyum.
Keira terdiam sejenak, sebelum mengangguk dan mengikuti Ibrahim masuk ke rumahnya.
"Yaudah, gue mau ke rumah lu!" ucap Keira singkat.
"Bagus!" Ibrahim mengulum senyum, lalu menarik tangan Keira dan membawanya masuk ke dalam.
Begitu memasuki ruang tamu, Keira melihat seisi ruangan yang cukup gelang dengan pencahayaan yang minim. Terlihat juga cukup banyak lukisan antik terpajang di dinding sana, membuat Keira merasakan suasana yang dingin dan lumayan menenangkan hatinya.
"Lu bener! Baru masuk ke ruang tamu aja gue udah ngerasa tenang dan nyaman, ternyata rumah lu beda dari yang lain ya!" ucap Keira tersenyum.
"Nah kan, aku bilang juga apa. Emang rumah ini tuh selalu bisa menenangkan hati, makanya aku bawa kamu kesini! Asal kamu tahu aja, rumah ini emang cocok banget buat orang yang mau healing!" ucap Ibrahim sembari menatap wajah Keira.
"Oh gitu, tapi kok disini sepi banget sih? Orangnya pada kemana? Lu tinggal sendirian disini apa gimana? Soalnya dari tadi di luar juga cuma ada motor lu, udah kayak rumah kosong aja!" ujar Keira.
"Aku gak tinggal sendiri kok, ada pembantu disini namanya bik Yuli, nanti gue kenalin!" ucap Ibrahim.
"Kalau keluarga lu gimana?" tanya Keira.
"Ada rumah khusus keluarga, sedangkan yang ini tuh rumah emang buat healing aja. Kalau lagi mau libur, baru kita biasa kesini!" jawab Ibrahim.
"Eee yaudah kalo gitu gue duduk disini aja, ya?" ucap Keira menunjuk ke arah sofa.
"Enggak, jangan! Aku mau kasih lihat kamu pemandangan di atas sana, soalnya udaranya seger dan bikin sejuk! Kalau kamu pengen cerita, juga bisa kok!" ucap Ibrahim.
"Boleh deh, gue ngikut aja sama lu!" ujar Keira.
"Oke, yuk!" ucap Ibrahim kembali menggandeng tangan gadis itu.
Disaat mereka hendak melangkah menuju tangga, tanpa sengaja keduanya berpapasan dengan seorang wanita setengah tua disana.
"Eh den Ibra? Aden ternyata yang datang tadi?" ucap wanita yang tak lain ialah bik Yuli.
"Iya bik, eh ya kenalin ini temanku namanya Keira. Kei, ini bik Yuli!" ucap Ibrahim.
"Halo bik!" ucap Keira menyapa dan bersalaman dengan bik Yuli.
"Halo! Duh, kamu cantik banget sih neng! Selamat datang ya di rumah ini, semoga kamu suka!" ucap bik Yuli tersenyum renyah.
"Iya bik, makasih!" ucap Keira.
"Eee bik Yuli, aku minta tolong bikinin minum ya buat kita berdua! Terus anterin ke atas, soalnya kita mau ngobrol-ngobrol disana!" ucap Ibrahim meminta tolong pada bik Yuli.
"Siap den! Nanti biar bibik bikin minumannya dan antarkan ke atas!" ucap bik Yuli.
"Makasih ya bik!" ucap Ibrahim tersenyum.
"Sama-sama, den!" ucap bik Yuli.
Setelahnya, Ibrahim dan Keira pun melangkah ke atas menaiki tangga menuju rooftop. Sedangkan bik Yuli kembali ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.
•
•
Kini Ibrahim sudah tiba di rooftop, ia berdiri bersama Keira di atas sana memandangi pemandangan indah pegunungan serta bukit diiringi angin yang berhembus.
"Waw seger banget! Pemandangannya juga bagus, lu emang jago pilih tempat!" ucap Keira.
"Ya iya dong, makanya banyak orang yang mau sewa tempat ini kalo liburan. Tapi, jelas aja aku gak kasih izin papa buat sewain tempat ini karena aku pengennya nikmati ini semua bareng sama orang kesayangan aku!" ucap Ibrahim.
"Oh ya? Siapa?" tanya Keira.
"Kamu!" Ibrahim menjawab dengan tegas sambil menatap wajah gadis itu.
Deg!
Keira terkejut saat Ibrahim mengatakan itu, ia tak bisa melepaskan pandangan dari lelaki itu dan entah mengapa ia seperti berbunga-bunga.
"Ehem ehem..."
Tiba-tiba terdengar suara deheman dari belakang mereka, membuat Ibrahim serta Keira menoleh secara bersamaan ke asal suara.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...