Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Bareng sama El


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 79.




Keira dan El tiba di depan kamar tempat Ibrahim disekap, disana juga terdapat seorang preman yang berjaga tepat di depan pintu bermaksud agar Ibrahim tidak bisa kemana-mana.


"Minggir! Saya mau ketemu Ibrahim, dia masih ada di dalam kan?" ucap Elargano.


"Iya bos, dia aman di dalam!" jawab preman itu.


"Baguslah!" Elargano bergerak maju membuka pintu tersebut dengan kunci yang ia pegang, lalu menoleh sejenak ke arah gadisnya.


"Ayo Kei kita masuk!" ucap Elargano.


"I-i-iya..." Keira gugup dan sedikit gemetar akibat melihat sosok preman tersebut, ia sampai terus menutupi mukanya sembari melangkah mendekati El dan meraih tangan pria itu untuk segera masuk ke dalam.


Elargano hanya tersenyum saja melihat tingkah lucu gadisnya, ia pun membawa Keira masuk ke dalam kamar tempat dimana Ibrahim berada.


Setelah menutup dan mengunci kembali pintu kamar itu, mereka kini berbincang sejenak sebelum menemui Ibrahim di dalam sana, karena Keira nampaknya masih merasa gugup.


"Sayang, kamu ngapain sih pake sewa preman segala kayak gitu?" tanya Keira gugup.


"Apa salahnya sayang? Aku kan tugasin mereka buat jaga si Ibrahim supaya gak kabur, kalau aku biarin dia sendirian disini nanti yang ada tuh anak bisa kabur dari sini. Udah yuk, kita samperin si Ibrahim!" ucap Elargano.


"Iya iya, tapi kan aku jadi takut tau!" ucap Keira.


"Gak perlu takut sayang, ada aku!" ucap El.


Keira mengangguk saja, Elargano kembali memeluk gadisnya dan mengusap-usap puncak kepala Keira sambil melangkah ke dekat Ibrahim.


Terlihat kalau Ibrahim masih berada disana, pria itu tengah tertidur sembari memegangi perutnya dengan tangan yang terikat dan bersandar pada dinding kamar tersebut.


"Itu dia Ibrahim, kamu bisa bicara sama dia sekarang!" ucap El menunjuk ke arah Ibrahim.


"Gimana mau bicara? Dia aja lagi tidur gitu," ujar Keira bingung.


"Oh iya, hehe... sebentar sayang, biar aku bangunin dulu nih si tukang tidur!" ucap El nyengir.


Keira mengangguk cepat, El melepas pelukannya lalu melangkah maju ke depan mendekati Ibrahim yang sedang tertidur, ia menggunakan kakinya untuk menyenggol tubuh Ibrahim dan membangunkan pria tersebut.


"Heh! Bangun lu kebo!" ujar El.


Merasakan tubuhnya bergoyang, Ibrahim pun segera membuka matanya dan tersadar dari tidurnya. Ia bangun lalu melirik ke arah El serta Keira yang ada di dekatnya.


"Kamu? Mau apa lagi sih kamu? Belum puas apa udah siksa saya seperti ini?" tanya Ibrahim kesal.


"Yeh buset malah sewot! Ini gue udah bawa Keira, sekarang cepat lakuin apa yang harus lu lakuin!" tegas Elargano.


Sontak Ibrahim langsung mengarahkan pandangan ke tubuh Keira, matanya terbuka lebar dan raut kesedihan pun terpancar di wajahnya, ada rasa penyesalan yang ia rasakan saat ini ketika mengingat kembali semua kelakuan yang sudah ia lakukan sebelumnya pada Keira.


"Kei? Kamu kesini juga?" ucap Ibrahim pelan.


"Iya, gue cuma mau jenguk lu. Soalnya tadi El bilang kalo dia yang udah culik lu, makanya gue langsung minta buat diantar kesini. Lu baik-baik aja kan?" ucap Keira.


"Aku gak baik, Kei. Kamu lihat sendiri kan gimana kondisi aku sekarang? Aku udah kurus jadi makin kurus, karena gak dikasih makan sama sekali sama pacar kamu ini. Malahan sekedar minum juga gak dikasih, padahal aku haus banget!" ujar Ibrahim.


"Hah??" Keira kaget dan langsung melirik ke arah kekasihnya dengan wajah heran.


"Woi! Lu kenapa malah jadi drama di depan Keira? Gue kan nyuruh lu buat minta maaf tadi ke Keira, bukannya akting kayak gitu!" tegur El.


"Saya kan gak akting bang, emang benar semua yang saya katakan tadi." ucap Ibrahim.


"Sayang, kamu kenapa tega banget sih? Kamu sekarang kasih Ibrahim makan, ya at least minum lah gitu! Kasihan dia, kalau dia mati karena kelaparan atau kehausan gimana?" ujar Keira.


"Ngapain sih sayang? Kamu kok jadi perduli banget kayak gini sama dia? Bukannya tadi kamu kesini mau tanya sesuatu ya ke dia?" ujar El heran.


"Tanya apa?" Ibrahim terlihat penasaran.


"Iya, sebenarnya gue mau tanya sama lu Ibrahim. Apa alasan lu pelet gue?" ucap Keira.


Ibrahim terdiam bingung, ia berpikir sejenak apa jawaban yang tepat untuk ia sampaikan saat ini.



__ADS_1


Keesokan harinya, Sahira sudah siap berangkat ke sekolah dan tengah pamitan pada abang, ipar, serta ibunya di ruang depan. Ya kebetulan ketiga orang itu sedang berbincang bersama disana, tentu sebuah pemandangan yang indah bagi Sahira.


Gadis itu pun menghampiri ketiganya, ia juga tak menyangka jika pagi ini Jordan sudah mau bicara dengan ibunya, padahal kemarin pria itu kekeuh tak mau melihat sang ibu dan bahkan sampai mengusir ibunya dari rumah itu.


"Ehem ehem... pagi bang, Bu, kak!" ucap Sahira menyapa ketiga orang itu.


"Eh pagi sayang! Kamu udah rapih aja nih, mau berangkat sekarang?" ucap Ratna tersenyum.


"Iya nih Bu, kan sebentar lagi juga udah mau jam setengah tujuh. Aku langsung berangkat sekarang aja biar gak telat nanti, lebih baik datang awal daripada terlambat!" jawab Sahira.


"Benar kamu sayang! Yasudah, kamu berangkat ke sekolah bareng Thoriq ya? Nanti ibu telpon dia buat jemput kamu disini," ucap Ratna.


"Gausah Bu, aku naik ojek aja. Lagian bang Thoriq kan jauh dari sini, takutnya dia juga belum bangun terus nanti aku nunggu lama. Aku mau pesan ojek online aja Bu," ucap Sahira menolak tawaran ibunya.


"Yakin kamu sayang?" tanya Ratna sekali lagi.


"Iya Bu, yaudah ya aku ke depan dulu nunggu ojeknya datang? Bang, kak, aku pamit ya? Assalamualaikum..." ucap Sahira.


"Iya sayang, waalaikumsallam..." ucap mereka serentak.


Sahira pun melangkah pergi keluar rumah setelah mencium tangan mereka bertiga, Ratna selaku ibu tercinta ikut beranjak dari sofa dan menyusul Sahira ke depan.


"Nur, Jordan, ibu ke depan dulu ya susul Sahira?" ucap Ratna.


"Mau ngapain Bu?" tanya Nur bingung.


"Eee ibu pengen nemenin Sahira aja di depan, udah kalian lanjut ngobrolnya!" jawab Ratna.


"Yaudah Bu," ucap Nur singkat.


Ratna menyusul Sahira pergi ke luar rumah, sedangkan Nur dan Jordan tetap disana lanjut mengobrol berdua.


Sesampainya di depan, Ratna melihat Sahira sedang memakai sepatu sekolahnya sambil duduk di kursi depan rumah. Ratna pun tersenyum mendekati Sahira lalu duduk di sampingnya.


"Sayang, ojek kamu belum datang?" tanya Ratna sambil menatap putrinya dari samping.


"Eh belum nih bu, aku mau pake sepatu dulu. Abisnya itu aplikasi ojeknya eror terus, aku jadi bingung deh bu!" jawab Sahira.


"Oh begitu? Nah kan ibu bilang juga apa, udah kamu ke sekolahnya bareng Thoriq aja ya sayang! Ibu yakin Thoriq mah udah bangun kok, sebentar ya ibu telpon dia dulu!" ucap Ratna.


"Duh Bu, jangan deh gausah! Aku takut ganggu bang Thoriq juga, gak enak lah ngerepotin dia terus. Lagian ini aku masih ada sisa uang dari bang Thoriq, jadi aku bisa naik taksi atau angkot nanti di depan sana. Biarin aja bang Thoriq istirahat bu," ucap Sahira kembali menolaknya.


"Eee iya Bu, kebetulan waktu itu bang Thoriq kan anterin aku ke sekolah, terus dia sekalian kasih uang jajan buat aku. Tapi, dia ngasihnya banyak banget sampe lima ratus dollar. Makanya ini aku bingung mau ngabisin gimana," jawab Sahira.


"Oalah, ya bagus deh kalo gitu mah. Berarti kamu ke sekolahnya naik taksi aja, ya? Lebih bagus begitu daripada ojek," ucap Ratna.


"Loh, emang kalo ojek kenapa Bu?" tanya Sahira.


"Ya kan kalo naik ojek mah kamu bisa kepanasan, terus kena angin atau kalau misal hujan kan kamu juga kehujanan. Tapi, kalau naik taksi kan gak bakal kepanasan atau kehujanan!" jelas Ratna.


"Iya Bu, yaudah aku berangkat sekarang ya? Mau cari taksi di depan," ucap Sahira.


"Mau ibu temenin gak?" tawar Ratna.


"Gausah deh Bu, aku bisa sendiri kok."


Disaat Sahira hendak pergi mencari taksi, ia terkejut lantaran ada sebuah mobil yang datang ke rumahnya dan berhenti disana.


"Bu, itu mobil siapa ya?" tanya Sahira heran.


"Ibu juga gak tahu sayang, kita lihat aja sampai orangnya turun!" ucap Ratna.


"Iya Bu," Sahira mengangguk cepat.


Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari mobil dan menghadap ke arah Sahira serta ibunya. Pria itu melepas kacamata hitamnya, lalu tersenyum sembari melangkah menghampiri gadis itu.


"Kak El?" Sahira terkejut ketika mengetahui pria yang datang tersebut ialah Elargano.


"Itu kan teman kamu sayang, dia mau apa ya datang kesini?" ujar Ratna bingung.


"Aku gak tahu Bu," jawab Sahira.


"Hai Sahira! Halo tante!" Elargano menyapa kedua wanita itu sambil tersenyum, lalu mencium tangan Ratna sebagai rasa hormatnya.


"Ah iya, halo juga nak El!" ucap Ratna.


"El, lu ngapain ke rumah gue pagi-pagi begini?" tanya Sahira heran.

__ADS_1


"Ya mau ngapain lagi? Gue mau jemput lu lah, biar kita bisa ke sekolah bareng!" ucap El tersenyum.


"Hah? Jemput gue?" ujar Sahira terkejut.


"Iya Sahira, gue pengen ngobrol sama lu. Makanya gue dateng kesini jemput lu, jadi kita bisa ngobrol sambil berangkat sekolah bareng," ucap El.


"Kenapa harus kesini coba? Kan bisa kita ngobrol di sekolah nanti," ujar Sahira.


"Kalau di sekolah itu ramai orang, ini kan masalah penting Sahira! Gue mau bicarain soal teman lu, udah ayo kita berangkat sekarang! Katanya lu pengen bantu temen lu kan?" ucap Elargano.


"Huh yaudah gue ikut sama lu, tapi si Keira gimana? Lu gak anterin dia ke sekolah dulu?" tanya Sahira mengkhawatirkan sahabatnya.


"Tenang aja! Keira tadi bilang mau diantar sama papanya, makanya gue bisa kesini." jelas El.


"Oke deh!" ucap Sahira akhirnya setuju. "Bu, aku pergi ke sekolahnya bareng kak El ya?" sambungnya sambil menatap dan mencium punggung tangan sang ibu.


"Iya sayang, hati-hati ya kamu!" ucap Ratna.


Akhirnya Sahira dan El pun pergi ke sekolah dengan mobil pria tersebut, gadis itu terpaksa ikut dengan El demi sahabatnya yakni Grey.




Disisi lain, Keira dan papanya tiba di sekolah. Gadis itu pun menatap sang papa untuk berpamitan sembari mencium tangannya, ya kebetulan hari ini memang Lingga sedang ingin mengantar putrinya.


"Pah, aku turun dulu ya? Papa hati-hati pulangnya, jangan ngebut loh!" ucap Keira.


"Iya cantik, kamu juga semangat ya belajarnya! Sebentar lagi kan mau ujian tuh, gak boleh terlalu sering pacaran loh!" ucap Lingga.


"Ahaha, iya papaku sayang.."


"Yasudah, kamu turun gih sana! Uang jajan udah papa kasih kan tadi di rumah?" ucap Lingga.


"Iya pah, udah kok. Tapi, kalau papa mau kasih tambahan lagi sih gapapa. Aku ikhlas dan ridho kok pah!" ucap Keira tersenyum manis.


"Yeh itu mah enak di kamu!" ujar Lingga sambil mencubit hidung putrinya.


"Hahaha bercanda kok pah, yaudah aku sekolah dulu. Dadah papa!" ucap Keira pamit sembari melambaikan tangan dan mencium tangan papanya lagi.


"Iya udah sana!" ucap Lingga.


Keira pun turun dari mobil, lalu berdiri sejenak melambaikan tangan ke arah sang papa. Lingga juga melakukan hal yang sama, sebelum ia akan pergi kembali ke rumahnya.


"Dadah papa..."


"Dah sayang..."


Barulah Lingga melajukan mobilnya pergi dari sana, sedangkan Keira menunggu hingga mobil papanya itu tak terlihat lagi.


Disaat Keira hendak masuk ke sekolahnya, tiba-tiba seseorang muncul menepuk pundak Keira dari belakang, gadis itu terkejut ketika ada yang menepuknya lalu reflek menoleh.


Pukkk...


"Keira!" gadis itu tambah terkejut ketika melihat Ibrahim lah yang ada di belakangnya.


"Ibrahim? Lu langsung masuk sekolah?" tanya Keira penasaran.


"Iya dong," jawab Ibrahim sambil tersenyum.


"Terus, mau ngapain lu samperin gue?" tanya Keira.


"Aku cuma mau bilang makasih sama kamu, karena kamu udah bantu aku buat bebas dari Elargano. Makasih banyak ya Kei!" ucap Ibrahim.


"Oh soal itu, iya sama-sama. Tapi, jangan lupa kalo gue juga masih benci sama lu! Ingat loh Ibrahim, lu yang udah pelet gue waktu itu dan gak semudah itu gue bisa lupain semua perbuatan lu!" ucap Keira.


"I-i-iya Kei, aku sadar yang aku lakuin itu salah. Aku sekali lagi minta maaf ya sama kamu! Semoga secepatnya kamu bisa berhenti benci sama aku!" ucap Ibrahim.


"Kita lihat aja nanti, yaudah gue mau ke dalam dulu. Sebentar lagi bel tuh!" ucap Keira.


Ibrahim mengangguk pelan, membiarkan Keira pergi ke dalam lobi. Gadis itu pun mulai melangkah meninggalkan Ibrahim, namun ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang menatap lelaki itu dengan wajah cemasnya.


"Gue masih gak habis pikir sama lu Baim, kok bisa lu sampe main dukun kayak gitu? Tapi untungnya semua cepat ketahuan, jadi gue gak terlalu lama terjebak ke dalam permainan lu! Semoga lu bisa sadar Baim, gue tahu lu itu orang baik dan bukan penjahat!" gumam Keira dalam hati.


Ibrahim yang sadar tengah diperhatikan oleh Keira, hanya tersenyum ke arahnya dan membuat gadis itu langsung berbalik kembali lalu lanjut melangkah masuk ke dalam sekolah.


"Keira kenapa lihatin aku kayak gitu ya? Apa jangan-jangan dia masih terkena pengaruh pelet gelang itu?" batin Ibrahim heran.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2