Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Seragam baru


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 96.




Thoriq keluar dari kamarnya setelah selesai berganti pakaian, ia menghampiri Sahira yang tengah bersantai di sofa sembari bermain ponsel dan menonton tv.


"Heh! Ayo buruan!" ucap Thoriq.


Sahira pun terkejut dan menyingkirkan sejenak ponselnya ke meja, menatap wajah Thoriq dengan ekspresi kebingungan.


"Mau kemana?" tanya Sahira bingung.


"Ke Australia beli kangguru yang anakan. Ya ke toko baju lah Jubaedah! Kan lu katanya mau dibeliin seragam sekolah baru, gimana sih masa baru beberapa menit yang lalu aja udah lupa! Dasar pikun lu!" ujar Thoriq sewot sendiri.


"Ih aneh banget sih lu, bang! Tadi panggil gue Maimun, terus sekarang Jubaedah. Nanti apa lagi? Tukiyem? Markonah? Apa Siti Jenar?" ujar Sahira beranjak dari kursinya.


"Yah udah ketebak dah panggilan gue selanjutnya," kata Thoriq.


"Au ah gelap! Lu ngapain sih bang, ke toko baju aja pake ajak-ajak gue? Emangnya lu gak bisa apa beli baju seragam buat gue sendiri?" ujar Sahira.


"Ya ampun Sahira! Gue kan gak tahu ukuran baju lu berapa, nanti gue salah beli gimana! Udah sih lu ikut aja sebentar, males banget sih jadi anak! Lu itu cewek, cewek gak boleh males!" ucap Thoriq.


"Ohh berarti cowok boleh males gitu ya, bang?" tanya Sahira.


"Ya iyalah. Udah ayo cepetan ah!" bentak Thoriq.


"Sabar ih bang! Gue mau ganti baju dulu. Masa gue keluar masih pake seragam kayak gini? Malu lah gue, bang!" ucap Sahira.


"Lah gue baru tau lu masih punya rasa malu. Lagian emangnya lu punya baju ganti? Lu aja kesini cuma bawa badan sama kentut doang, kagak bawa baju." kata Thoriq.


"Oh iya, tapi gue mau ganti baju bang. Gue pinjam kaos lu dulu ya?" ucap Sahira.


"Hah? Gak ada gak ada, nanti kaos gue melar kalo dipake sama lu. Secara badan lu kan gede banget kayak raksasa, mending lu pinjem baju ibu aja dulu!" ucap Thoriq.


"Ah bang, ayolah please pinjemin gue kaos ya!" ucap Sahira memohon pada abangnya.


"Haish, yaudah deh iya. Lu ambil aja kaos gue di lemari sana! Tapi awas, jangan pake yang ada tulisan coblos nomor dua nya!" ucap Thoriq.


"Iya bang, makasih!" ucap Sahira tersenyum manis.


Gadis itu bergegas masuk ke kamar Thoriq, mengambil kaos milik Thoriq lalu mengganti pakaiannya disana. Sedangkan untuk celana, kebetulan Sahira selalu membawa celana panjang setiap kali ia pergi ke sekolahnya, jadi kali ini ia tidak perlu repot mencari pinjaman celana.


Tak lama kemudian, Sahira muncul kembali dengan baju milik Thoriq yang ia kenakan dan celana panjang hitam miliknya.


Thoriq dibuat terpesona melihat adiknya sendiri, bahkan matanya sampai tak bisa berkedip karena Sahira sangat cantik walau tanpa make up atau pakaian mewah.


"Woi! Lu ngapa bengong gitu?" tegur Sahira seraya menepuk jidat abangnya.


"Yeh main tepuk-tepuk aja lu! Emang lu pikir jidat gue ini sarang nyamuk?" protes Thoriq.


"Suruh siapa lu malah bengong! Udah yuk buruan cari seragam buat gue sekolah besok!" ujar Sahira.


"Iya iya..." Thoriq mengangguk setuju.


Lalu, mereka pun berjalan keluar dari apartemen itu untuk membeli baju seragam Sahira.




Keesokan harinya, Sahira bersama tim kelompoknya baru menyelesaikan presentasi mereka di hadapan seluruh murid serta guru di kelas mereka.


Saka murid kelas Sahira yang juga kebetulan ketua kelompok pun berniat menutup presentasi mereka kali ini dengan sebuah kalimat.


"Baiklah, sekian presentasi dari kami. Bila ada lebihnya itu dari saya, kalau ada kurangnya sudah pasti dari teman-teman saya." ucap Saka disertai senyum seringainya.


Sontak dirinya langsung ditatap sinis oleh Sahira serta anggota kelompok lainnya.


"Hehe... ayu tingting makan kepiting, thank you for everything!" sambungnya sambil tersenyum renyah lalu kembali ke tempat duduknya.


Sahira, Raisa dan dua orang anggota lainnya juga kembali duduk walau dengan perasaan jengkel akibat ucapan Saka tadi.


"Oke semuanya, yuk kasih tepuk tangan buat kelompok lima!" ucap pak Nurdin guru disana.


Prok


Prok


Prok


Murid-murid disana pun memberikan tepuk tangan untuk Sahira dan teman kelompoknya.


"Waw presentasinya bagus sekali! Gak bikin bosan dan cara penyampaian kalian juga keren, bapak salut sama kalian berlima! Yuk sekali lagi tepuk tangan buat mereka!" ucap pak Nurdin.


Prok


Prok

__ADS_1


Prok


"Ahaha, makasih banget loh pak pujiannya! Tapi, jangan terlalu berlebih pak! Kasihan nanti yang lain pada iri tuh!" ujar Saka tertawa meledek.


"Yeh ngapain juga kita iri sama lu? Kelompok kita bisa jauh lebih bagus kali!" balas Nuril.


"Ah masa? Yakin lebih bagus? Coba dong buktiin kalo emang lebih bagus!" tantang Saka.


"Oke fine! Lu lihat nih nanti, presentasi kelompok tiga pasti lebih bagus daripada kelompok lu-lu pada!" ucap Nuril dengan pedenya.


"Syiaappp bosque!" ujar Saka.


"Hey sudah sudah, tidak usah ribut! Ayo kelompok tiga, sekarang giliran kalian!" ucap pak Nurdin.


"Baik pak!" ucap Nuril.


"Ayo ayo guys, kita buktikan ke mereka kalo kita lebih baik dari mereka..!!" ucap Nuril menyemangati teman-teman kelompoknya.


"Tapi pak, tadi kelompok lima belum ada sesi pertanyaan loh. Kok udah langsung ditutup aja?" tanya Intan salah satu anggota kelompok Nuril.


"Ah iya tuh pak, curang dong masa gak ada sesi pertanyaannya!" sahut Nuril.


"Sabar dulu sabar! Mereka gak perlu pake sesi pertanyaan, karena semua yang dijelaskan mereka itu sudah sangat jelas. Jadi, menurut bapak harusnya kalian sudah bisa memahami penyampaian mereka!" jawab pak Nurdin.


"Hahaha... dengar tuh Nuril, Intan! Kelompok kita mah udah bagus banget presentasinya, jadi gak perlu ada sesi pertanyaan!" ujar Saka menyombongkan diri.


Nuril memasang wajah jengkelnya, seakan tidak mau kalah ia pun bergerak cepat menuju ke depan kelas untuk memulai presentasinya.


Sementara Saka hanya terkekeh kecil.




Kriiinggg... Kriiinggg...


Saat istirahat telah tiba, Sahira dan Raisa jalan bersama keluar kelas untuk menuju ke kantin.


Namun, Roger nampaknya sudah menunggu sedari tadi di depan kelas karena pria itu ingin memberi penjelasan pada Raisa terkait kesalahpahaman diantara mereka.


"Hai beb! Akhirnya kamu keluar juga, kita ke kantin bareng yuk!" ucap Roger tersenyum.


Raisa yang masih kesal, membuang muka dan seakan tak perduli dengan kehadiran Roger disana.


"Ra, kita pergi aja yuk!" ajak Raisa.


"Eh Rai, kok lu gitu sih? Emang lu gak mau ke kantin bareng pacar lu? Biasanya lu bucin banget, kemana-mana selalu berdua." ujar Sahira heran.


Roger pun menghalangi jalan mereka.


"Tunggu beb! Kamu jangan begitu dong sama aku! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu!" bujuk Roger.


"Gue gak butuh penjelasan lu! Udah sana pergi! Lagian ngapain sih lu masih deketin gue? Kan lu udah punya wanita baru yang suka nemenin lu makan di kantin," ujar Raisa.


"Apa sih Raisa? Itu gak seperti yang kamu pikirkan! Wanita yang kamu lihat itu cuma teman aku, waktu itu dia juga bukan mau makan sama aku kok. Dia cuma mau kasih tau ke aku jadwal rapat, itu doang kok beb!" ucap Roger.


"Halah alasan! Aku gak percaya sama kata-kata kamu! Sekarang mending kamu pergi, aku malas lihat kamu lagi!" bentak Raisa.


"Aku gak akan pergi, dan aku juga gak akan biarin kamu pergi dari sini! Aku mau hubungan kita kembali seperti dulu lagi beb, please lah jangan salah paham!" ujar Roger.


"Iya Rai, lu dengerin dulu aja penjelasan kak Roger! Bukannya lu juga cinta ya sama dia? Harusnya lu percaya dong sama dia!" ucap Sahira.


Raisa terdiam menunduk, ia bingung mana yang harus ia lakukan saat ini.


"Ayolah beb! Kamu ikut sama aku ya! Aku bakal temuin kamu sama wanita itu deh, dia namanya Berliana. Kamu mau kan beb?" Roger terus berusaha membujuk gadisnya.


"Yaudah, kali ini aku mau ikut sama kamu. Tapi, awas ya kalau kamu bohongin aku!" ucap Raisa.


"Tenang aja! Gak mungkin aku bohongin kamu. Yaudah yuk, kita langsung aja ke kantin sekarang! Aku traktir kamu deh," ujar Roger.


Raisa mengangguk sambil tersenyum, lalu bergandengan tangan dengan Roger dan tak lupa juga berpamitan pada Sahira.


"Sahira, gue ke kantin bareng ayang bebeb Roger ya? Lu gapapa kan?" ucap Raisa.


"Santai! Gue mah udah biasa sendiri." kata Sahira.


"Ehem ehem... lu gak sendiri kok!" tiba-tiba saja muncul suara berat dari arah samping, ketiganya pun menoleh secara bersamaan menatap ke asal suara tersebut.


"El?" Sahira menganga tipis melihat Elargano muncul di hadapannya saat ini.


"Cie cie..." Raisa menggoda sohibnya dan membuat Sahira kesal lalu mencubitnya.


"Apaan sih lu!" geram Sahira.


"Ahaha, bercanda doang Sahira. Gausah salting begitu kali!" goda Raisa.


Sahira membuang muka dan mendengus kesal.


__ADS_1



Sahira dan El akhirnya pergi bersama menuju kantin, gadis itu tak memiliki pilihan lain karena El terus memaksanya untuk pergi bersamanya.


"Ish, lu kenapa sih doyan banget maksa gue buat pergi sama lu! Kan udah gue bilang, lu harus jauh-jauh dari gue bukan malah deketin gue terus!" tegas Sahira.


"Gapapa. Orang gue cuma mau traktir lu di kantin kok, anggap aja ini perayaan karena kita berhasil tangkap pak Panca." kata Elargano.


"Oke. Kali ini gue mau ikutin kemauan lu. Tapi, jangan harap besok-besok gue mau kayak gini lagi!" ucap Sahira.


"Terserah lu! Lagian lu itu kenapa sih? Kenapa harus jauh-jauh begitu? Apa salahnya kalau kita temenan? Perasaan belakang ini hubungan kita baik-baik aja deh, tapi kenapa tiba-tiba sekarang kamu jadi kayak gini?" tanya El heran.


"Pake nanya lagi. Padahal udah jelas, gue begini karena gak mau bikin Keira sakit hati!" jawab Sahira.


"Ya ampun! Segitunya sih lu, Keira aja gak kenapa-napa tuh." kata Elargano.


"Lu mana tau perasaan cewek! Kadang cewek itu cemburu dan gak suka lihat cowoknya dekat sama cewek lain, tapi dia gak mau cerita karena takut bikin cowoknya marah." kata Sahira.


"Ah sok tau lu!" cibir El.


"Dih dikasih tau malah begitu! Gue kan juga cewek, jadi gue tau perasaan Keira kayak gimana. Mending lu jaga jarak deh sama gue," ucap Sahira.


"Yaudah iya, tapi beneran kan alasan lu karena Keira bukan karena lu suka sama Farhan dan gak mau bikin Farhan cemburu?" ujar Elargano.


"Hah? Lu ngomong apaan sih?" ujar Sahira.


"Iyalah, hampir semua orang disini udah tau kali kalo Farhan suka sama lu." ucap El.


"Terus hubungannya sama gue apa? Kan dia yang suka sama gue, gue nya mah enggak." kata Sahira.


"Masa sih?" goda El.


"Hooh, lagian emang kalo gue suka juga sama Farhan dan gak mau dia cemburu, apa hubungannya sama lu? Masalahnya sama lu itu apa?" ujar Sahira.


"Ya gak ada sih, gue kan cuma curiga aja. Siapa tahu lu emang tertarik juga sama Farhan," ucap El.


"Hadeh, udah ah gausah bahas itu! Gue mau suka sama kak Farhan atau enggak itu suka-suka gue!" tegas Sahira.


Sahira melangkah lebih dulu meninggalkan El menuju kantin. Pria itu tersenyum lebar, sebelum ikut mengejar Sahira.


"Hey Sahira tunggu!" teriak Elargano.


***


Singkat cerita, Sahira dan El sudah duduk berdua di kantin. Mereka juga telah memesan makanan serta minuman yang tentunya semuanya dibayar oleh Elargano dalam rangka merayakan keberhasilan mereka menangkap pak Panca.


"Ra, itu baju yang lu pake baru ya? Gue lihat-lihat bersih banget tuh baju," tanya El penasaran.


"Kalo iya emang kenapa? Salah gitu?" ujar Sahira.


"Gak salah dong, gue kan cuma nanya. Lu jangan sensian begitu dong! Kalem aja Sahira kalem!" ucap El menenangkan gadis itu.


"Abisnya pertanyaan lu aneh-aneh aja! Ngapain pake bahas baju gue segala? Kayak gak ada pertanyaan lain aja!" ujar Sahira.


"Yeh gue kan bingung tau mau buka obrolan gimana. Makanya lu bantu gue buat cari topik dong, jadi gue gak salah mulu." kata El.


"Gimana kalo kita diem aja? Fokus makan gausah ngobrol dulu!" ucap Sahira.


"Kok gitu sih? Gak enak dong cuma diem aja, minimal ngobrol sedikit lah!" pinta El.


"Ini juga kita lagi ngobrol, gimana sih lu!" ucap Sahira ketus.


"Oh iya ya.."


Tiba-tiba saja Farhan muncul disana dan duduk tepat di samping Sahira berada, tentu saja Sahira terkejut dengan kehadiran Farhan.


"Halo semua! Makan-makan kok gak ngajak gue sih? Jahat banget!" ujar Farhan tersenyum.


"Kak Farhan? Lu mau makan juga? Yaudah pesan aja kak, dibayarin kok sama kak El. Ya kan El?" ucap Sahira.


"Eee iya iya... lu pesan aja yang lu mau!" ucap El.


"Oke deh! Thanks banget ya El!" ucap Farhan.


Farhan pun memanggil pelayan disana, memesan makanan serta minuman yang ia mau. Lalu, Farhan kembali melirik ke arah Sahira dan bahkan berani menggeser posisinya lebih dekat dengan Sahira.


"Sahira, gue baru sadar ternyata baju seragam lu baru. Soalnya ini masih harum banget," ucap Farhan.


"Iya dong, kemarin gue baru beli ini sama abang gue. Emangnya kenapa? Masalah gitu?" jawab Sahira dengan lembut.


"Enggak kok. Justru lu malah kelihatan lebih cantik dari biasanya!" ucap Farhan tersenyum.


"Ah bisa aja!" Sahira tersipu malu dan seketika wajahnya merona setelah dipuji oleh Farhan.


Sedangkan El merasa tidak suka melihat kedekatan antara Sahira dan Farhan, dia juga menggerutu sendiri disana.


"Gak adil banget sih! Tadi gue bahas soal baju baru lu ketus gitu jawabnya, eh giliran Farhan yang ngomong lu malah suka." ujarnya.


Sahira terdiam saja tak menggubris perkataan El, ia memang sengaja membuat El jengkel agar pria itu tidak terus-terusan mendekatinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!! ...


__ADS_2