Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Permintaan maaf Sahira (end)


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 138.




Sahira dan Farhan tiba di depan pintu gerbang rumah Keira sesuai keinginan gadis itu.


Sahira masih tampak ragu untuk turun dari mobil Farhan dan menemui sahabatnya itu.


"Ini benar rumahnya?" tanya Farhan pada Sahira.


"Iya kak, bener kok. Waktu itu Keira pernah ajak aku main ke rumahnya, dan aku ingat banget kalau ini emang rumah dia." jawab Sahira yakin.


"Yaudah, kita turun sekarang aja yuk! Biar aku temenin kamu masuk ke dalam buat ketemu Keira," ucap Farhan sambil tersenyum.


"Boleh deh, makasih ya kak!" ucap Sahira.


"Sama-sama," ucap Farhan.


Mereka pun turun dari mobil, Farhan langsung melangkah maju ke dekat pagar rumah itu.


Namun, Farhan menghentikan langkahnya saat sadar bahwa Sahira tidak mengikutinya.


"Loh Sahira, kamu kenapa diem aja?" tanya Farhan.


"Eee entahlah kak, aku masih ragu deh buat ketemu sama Keira sekarang. Aku takut aja kalau misal Keira masih marah sama aku dan gak mau ketemu sama aku," jawab Sahira.


"Buat apa sih kamu takut? Itu kan masih dugaan kamu aja, belum tentu Keira begitu. Mending kita masuk aja dulu yuk ke dalam!" ucap Farhan.


"Tapi kak, kalau beneran terjadi gimana?" tanya Sahira dengan wajah cemasnya.


"Tenang aja ya! Aku yakin Keira gak mungkin begitu sama kamu, dia itu kan sahabat kamu. Kalau kita gak coba buat masuk, kita gak akan tahu apakah si Keira ini masih marah sama kamu atau enggak." kata Farhan coba meyakinkan Sahira.


"Huh iya sih kak, yaudah deh ayo kita masuk! Semoga aja Keira ada di dalam dan aku bisa ketemu sama dia!" ucap Sahira sembari mengambil nafas dalam-dalam.


"Nah gitu dong!" ucap Farhan tersenyum lebar.


Farhan pun menggandeng satu tangan Sahira, melangkah maju mendekati pintu pagar secara bersama-sama.


"Permisi!" teriak Farhan cukup keras.


Tak lama kemudian, seorang pria yang memakai seragam satpam muncul disana.


"Iya, ada apa ya?" tanya satpam itu.


"Ah begini pak, kami ini temannya Keira. Kami mau ketemu sama dia sekarang, bisa kan pak?" jelas Farhan.


"Iya pak, aku Sahira yang waktu itu pernah datang kesini juga. Kalau bapak masih ingat, waktu itu aku sama Keira kesini bareng." sahut Sahira.


"Ohh, iya iya saya ingat neng. Tapi maaf nih, non Keira nya belum pulang sekolah! Di dalam cuma ada nyonya besar," ucap satpam itu.


"Belum pulang sekolah pak? Loh, ini kan udah jam dua lewat, masa dia belum pulang juga sih?" tanya Sahira keheranan.


"Benar begitu neng, daritadi sampai sekarang non Keira belum pulang juga. Ya mungkin aja non Keira lagi pergi kemana dulu sehabis pulang sekolah, makanya non Keira belum balik kesini." jawab si satpam.


"Oalah, ya bisa jadi sih. Terus, kamu mau gimana Sahira?" ucap Farhan bertanya pada Sahira.


"Yaudah lah kak, mending kita pulang aja dulu! Nanti agak sorean baru deh aku balik lagi kesini buat temuin Keira," jawab Sahira.


"Kamu yakin? Gak mau nunggu aja disini sampai Keira pulang? Siapa tahu sebentar lagi dia pulang loh," tanya Farhan memastikan.


"Iya neng, biar gampang mah mending neng nunggu disini aja bareng akangnya ini." usul satpam itu.


"Gausah deh pak, kita berdua pulang aja. Ayo kak kita pergi!" ucap Sahira tanpa sadar menggandeng tangan Farhan dan mengajaknya pergi dari sana.


"Okay, aku antar kamu ya!" ucap Farhan.


Sahira mengangguk pelan, kemudian berbalik dan kembali melangkah menuju mobil Farhan.


Namun, mereka berdua berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa gak mau nunggu aja sih? Kan jadinya gampang, kamu gak perlu bolak-balik lagi nanti." tanya Farhan.


"Gapapa kak, kalau nunggu takutnya nanti tante Zahra tau diantara aku sama Keira ada masalah." jawab Sahira.


"Oh gitu, yaudah deh ayo!" ucap Farhan.


Akhirnya Sahira dan Farhan sama-sama masuk ke dalam mobil, tak lupa juga Farhan memasangkan seat belt di tubuh Sahira walaupun gadis itu sempat menolaknya.


"Kamu mau langsung pulang atau mampir dulu?" tanya Farhan sambil menatap Sahira.


"Langsung pulang aja kak," jawab Sahira.


"Okay!" ucap Farhan menurut dan langsung menyalakan mesin mobilnya.




Keira bersama El masih dalam perjalanan menuju rumah gadis itu, Keira tampak belum melupakan kejadian tadi saat Ibrahim memaksanya dan membuat ia cukup ketakutan.


El selaku kekasihnya pun ikut cemas melihat gadisnya terus-terusan bengong seperti itu, ia sesekali melirik ke arah Keira dan berusaha menenangkan gadis itu.


"Sayang, kamu masih mikirin si Ibrahim itu ya? Udah lah sayang, kamu gausah takut terus kayak gitu kan udah ada aku disini!" ucap El.

__ADS_1


"Iya El, aku masih gak nyangka aja kalo Ibrahim bisa kayak gitu tadi. Aku pikir dia udah taubat dan gak berani deketin aku lagi," ucap Keira.


"Yaudah, lupakan aja ya!" ucap El.


El berusaha menenangkan Keira dengan cara mengusap-usap puncak kepala gadis itu dan mengelus lembut tangannya, Keira pun berhasil merasa tenang.


Akhirnya mereka tiba di depan rumah Keira, El langsung menghentikan mobilnya dan menghadap ke arah Keira sambil tersenyum manis.


"Kita udah sampe nih," ucap El.


"Iya, makasih ya El!" ucap Keira tersenyum.


El mengangguk pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Keira sambil memajukan bibirnya.


Cupp!


Satu kecupan berhasil mendarat di pipi serta bibir ranum gadis itu, Keira hanya tersenyum tak mempermasalahkan itu.


"Yaudah, kita turun yuk!" ucap El.


"Kamu mau ikut?" tanya Keira.


"Ya jelas dong, aku sekalian pengen ketemu sama mama kamu di dalam." jawab El.


"Oke deh, terserah kamu!" ucap Keira singkat.


Disaat mereka berdua hendak turun, tanpa sengaja El melihat mobil milik Farhan yang terparkir tepat di depannya.


Sontak El mengira jika Sahira ada disana juga bersama Farhan, ia pun melirik ke arah Keira yang tengah sibuk melepas sabuk pengamannya.


"Ayo El kita turun! Kamu kenapa bengong aja sih?" ujar Keira keheranan.


"Eee itu anu..." El tampak kebingungan sendiri.


"Ada apa sih?" tanya Keira penasaran.


"Enggak kok, yaudah ayo kita turun!" jawab El berbohong.


"Okay!" ucap Keira singkat.


Mereka pun turun dari mobil secara bersamaan, Keira masih merasa tidak ada yang aneh disana.


El langsung mendekat ke arah Keira dan merangkul gadis itu dari samping.


"Yuk kita masuk!" ucap El.


"Loh loh, ini kan rumah aku. Kenapa malah kamu yang ajak aku buat masuk? Harusnya aku dong yang ngajak kamu," ujar Keira.


"Hahaha, iya iya maaf! Kalo gitu coba dong kamu yang ajak aku buat masuk ke dalam!" ujar El.


"Hehe.." El nyengir lalu mulai melangkah mendekat ke pagar rumah gadisnya itu.


"Semoga aja gak ada Sahira di dalam mobil itu! Kalaupun ada, semoga Keira juga enggak marah lagi sama gue dan dia bisa baikan sama Sahira!" gumam El dalam hati.


Keira masih terus celingak-celinguk menatap sekeliling, ia curiga pada sikap El yang tampak cemas atau menyembunyikan sesuatu.




Sementara dari sisi Farhan serta Sahira, mereka yang baru saja hendak pergi tiba-tiba mengurungkan niatnya saat melihat Keira dan El keluar dari mobil di depan sana.


Tentu saja Sahira langsung meminta Farhan membatalkan keinginan mereka untuk pulang dan mematikan kembali mesin mobilnya, karena ia ingin menemui Keira disana.


"Eh kak kak, stop dulu deh kita gak jadi pergi! Itu Keira udah pulang!" ucap Sahira kaget.


"Iya, kamu benar. Tapi, dia lagi sama El tuh. Apa kamu gak takut bakal terjadi masalah lagi kalau kamu samperin mereka sekarang?" ujar Farhan.


"Aku gak ada pilihan lain kak, ini waktu yang tepat buat aku temuin Keira dan minta maaf ke dia!" ucap Sahira tegas.


"Oh gitu, yaudah deh kita turun yuk!" ucap Farhan.


Sahira mengangguk cepat, melepas sabuk pengaman dari tubuhnya lalu turun dengan cepat meninggalkan Farhan begitu saja.


"Hey, Sahira tunggu!" teriak Farhan yang masih kesulitan melepas sabuk pengamannya.


Namun, akhirnya Farhan berhasil melepas sabuk itu dan langsung bergerak cepat mengejar Sahira turun dari mobil.


Sahira nampak telah mendekat ke arah Keira dan juga El, sedangkan Farhan masih di belakangnya berusaha untuk mengejar gadis itu.


"Keira!" teriak Sahira cukup keras.


Sontak Keira yang tengah menatap ke depan dibuat terkejut dengan suara teriakan tersebut.


Ia pun reflek menoleh ke belakang dan berhasil mendapati sosok Sahira disana.


"Sahira? Kamu ngapain disini?" tanya Keira heran.


"Kei, syukurlah kamu udah pulang! Daritadi aku nungguin kamu loh disini, aku senang banget bisa ketemu lagi sama kamu!" ucap Sahira tersenyum.


"Kamu mau apa temuin aku?" tanya Keira ketus.


"Keira, aku kesini karena pengen jelasin semuanya sama kamu soal kesalahpahaman itu. Aku dan kak El ini gak ada apa-apa Kei, kita cuma sahabat gak lebih." jawab Sahira.


"Iya Sahira, aku juga udah paham kok. Kamu gak perlu lah pake jelasin itu lagi ke aku sekarang, karena aku juga gak minta itu!" ucap Keira.

__ADS_1


"Ta-tapi Kei, kamu gak marah kan sama aku?" tanya Sahira.


"Buat apa juga aku marah? Toh ini semua cuma salah paham, harusnya kamu gak perlu sampai cemas begitu dong." jawab Keira santai.


"Gimana aku gak cemas, Kei? Begitu tau kalau kamu pergi dari rumah aku waktu itu dalam keadaan menangis, aku langsung syok berat dan aku gak mau hubungan persahabatan kita rusak karena itu." kata Sahira.


"Aku juga gak mau itu terjadi, biar gimanapun kan kita udah temenan dari kecil. Tapi, tetap aja aku gak bisa bohong kalau aku sedih banget pas lihat kamu dekat sama El." ucap Keira.


"Iya Kei, aku ngerti kok. Maka dari itu, mulai saat ini aku janji sama kamu kalau aku gak akan dekat lagi sama kak El!" ucap Sahira.


"Bagus deh!" ucap Keira tersenyum.


"Jadi, hubungan kita baik-baik aja kan?" tanya Sahira.


"Eee ya begitu deh," jawab Keira.


Sahira langsung tersenyum renyah dan melangkah maju mendekati Keira, ia pun memeluk Keira dengan erat seraya mengusap punggung gadis itu.


Farhan serta El hanya terdiam memandangi kedua gadis yang tengah berpelukan itu, mereka turut merasa senang melihat keduanya sudah akur.


"Sekali lagi aku minta maaf ya sama kamu, Kei!" ucap Sahira.


"Aku juga minta maaf sama kamu, Sahira!" balas Keira.




Beberapa hari kemudian...


"Jadi, apa keputusan kamu Sahira?" Farhan bertanya pada gadis di hadapannya dengan penuh harap.


Sahira terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang akan ia pilih saat ini.


Ia tahu bahwa dirinya tidak boleh sembarangan mengatakan jawaban itu pada Farhan.


"Setelah beberapa hari aku kenal dan dekat sama kak Farhan, aku tahu kalau kamu ini orang yang baik. Aku rasa kamu bisa jadi pasangan yang baik buat aku dan mungkin kamu bisa ada di sisi aku saat aku lagi butuh sandaran," jawab Sahira.


"Umm, apa itu artinya kamu mau terima aku buat jadi pacar kamu, Sahira?" tanya Farhan masih tegang dan deg-degan.


"Iya kak, aku mau." jawab Sahira mengangguk pelan sambil tersenyum seraya menundukkan wajahnya yang sudah mulai memerah itu.


"Kamu serius Sahira?" tanya Farhan tak menyangka.


Sahira menjawabnya dengan anggukan, sontak Farhan langsung berdiri dari duduknya dan berteriak heboh.


"HOREEE!!" teriaknya cukup keras.


"Ish, kak Farhan! Ngapain kamu pake teriak-teriak segala coba? Malu tau dilihatin orang-orang!" ucap Sahira menegur pria yang saat ini telah menjadi kekasihnya itu.


Farhan menoleh sambil terkekeh kecil, lalu menghampiri Sahira dan menarik tubuh gadis itu agar berdiri bersamanya.


Cupp!


Ia beranikan diri mengecup pipi serta hidung Sahira, ini merupakan yang pertama bagi mereka.


Sahira pun melongok saja dibuatnya, tapi ia tak bisa menolak karena Farhan adalah kekasihnya.


"Maaf Sahira! Itu tadi aku reflek, karena aku benar-benar senang banget setelah kamu mau terima aku buat jadi pacar kamu. Aku seperti ngerasa ini mimpi tau," ujar Farhan.


"Sampe segitunya ya kak?" ujar Sahira.


"Ya iya dong, aku ini kan udah lama nunggu jawaban dari kamu Sahira. Wajar aja dong kalau aku bereaksi kayak tadi," ucap Farhan.


"Iya iya, aku ngerti kok kak. Terus, sekarang kamu mau apa tarik tangan aku buat berdiri kayak gini?" tanya Sahira bingung.


"Kita dansa yuk!" jawab Farhan.


"Hah? Dansa?" Sahira terkejut mendengarnya.


"Iya Sahira, ayo kita dansa disini! Kamu mau kan?" ucap Farhan.


"Ya mau aja sih, tapi kenapa harus disini? Malu tau banyak orang!" ucap Sahira.


"Gausah malu, nikmati aja!" ucap Farhan sembari meraih dua tangan gadis itu.


"Eee..."


"Ayolah Sahira! Emangnya kamu gak mau merayakan hari jadian kita ini?" ucap Farhan memelas.


"Ma-mau kok, iya iya aku siap deh dansa sama kamu disini!" ucap Sahira tampak gugup.


"Makasih ya!" ucap Farhan tersenyum.


Sahira mengangguk pelan, mereka pun mulai sama-sama menggerakkan kedua kaki. Farhan meletakkan tangan Sahira di pundaknya, sedangkan tangannya sendiri merengkuh pinggang Sahira.


Mereka saling bertatapan dan berbagi senyum di bawah sinar rembulan yang menyinari mereka.


"Persahabatan itu memang menyenangkan, tapi sesekali mencoba untuk terjun ke dunia percintaan sepertinya juga tidak ada salahnya. Aku akan berusaha mencintai kamu, Farhan Prasetya!" batin Sahira.


...~Selesai~...


...Yeay tamat🥳...


...Harusnya sih masih lanjut, tapi karena levelnya diturunin sama nt jadinya petrik males deh buat lanjutin novel ini😔...

__ADS_1


...Bye semua, makasih yang udah setia dukung novel ini🥰...


__ADS_2