
#SangPemilikHati Episode 93.
•
•
Sepulang sekolah, Keira yang hendak menuju ke depan ditahan oleh Ibrahim. Lelaki itu mencegatnya dan menatapnya sambil tersenyum, membuat Keira kebingungan melihatnya.
"Lu mau apa sih?" tanya Keira ketus.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Ibrahim membuka tasnya, mengambil sesuatu dari dalam sana untuk ditunjukkan pada Keira.
"Nah ini dia.." pria itu menunjukkan sebuah coklat yang dihiasi pita berwarna pink di bungkusnya.
"Coklat?" Keira terheran-heran melihatnya, ia tak mengerti apa maksud Ibrahim memberikan coklat kepadanya.
"Iya, coklat ini bukan sembarang coklat. Kemarin aku beli dan ternyata di toko tinggal sisa satu-satunya, itu artinya coklat ini spesial alias limited edition. Kamu mau kan terima coklat dari aku ini?" ucap Ibrahim sambil tersenyum.
"Eee gue..." Keira kebingungan harus menerima atau menolak pemberian Ibrahim itu.
"Ayolah Kei, mau ya!" bujuk Ibrahim.
Keira mengangguk pelan, lalu menggerakkan tangannya untuk mengambil coklat tersebut dari tangan Ibrahim. Namun, tiba-tiba saja tangannya ditepis dari samping oleh seseorang.
"Awhh!" pekik Keira sembari menoleh dan melihat orang yang menepisnya, itu adalah Alma sahabat sejatinya.
"Lu kenapa sih, Alma?" tanya Keira bingung.
"Aduh Keira! Lu yang kenapa? Kok lu masih mau terima pemberian Ibrahim setelah apa yang dia lakuin ke lu? Ingat Kei, Ibrahim udah pernah pelet lu dan hubungan lu sama kak El hampir berantakan gara-gara dia! Terus sekarang lu mau terima lagi pemberian dari dia, ha?" ujar Alma.
"Iya juga, yaudah sorry ya Ibrahim! Gue gak bisa terima coklat dari lu, karena gue takut di dalam coklat itu ada apa-apanya. Mending lu makan sendiri aja coklatnya, kan kata lu itu coklat limited edition, jadi pasti enak!" ucap Keira.
"Tapi Kei, ini gak ada apa-apanya kok. Aku gak mungkin masukin sesuatu kesini," ujar Ibrahim.
"Udah lah baim, lu jangan paksa Keira buat terima coklat dari lu! Dan lu juga jangan kasih hadiah terus buat Keira, karena dia gak butuh itu! Asal lu tahu, pacar dia ini bisa kasih apapun kemauan Keira, jadi lu gak perlu repot-repot kasih hadiah buat dia!" tegas Alma.
Ibrahim terdiam merunduk, membuat Keira merasa tidak enak dan coba menghentikan Alma agar tidak terus-terusan menekan Ibrahim.
"Ma, udah stop! Kasihan Ibrahim! Kita mending ke depan aja yuk! Gue juga mau tunggu El datang disana, sekali lagi sorry ya Him gue gak bisa terima apapun dari lu lagi!" ucap Keira.
"Gapapa Kei," ucap Ibrahim pelan.
Setelahnya, Keira pun pergi bersama Alma meninggalkan Ibrahim disana. Keira sesekali masih menoleh ke belakang, menatap Ibrahim dengan wajah kasihan seakan tidak tega karena sudah menolak pemberian pria itu.
"Ish, udah lu ngapain sih masih ngeliatin dia! Lu itu gak boleh kasihan sama dia, biar gimanapun dia yang udah pelet lu waktu itu! Harusnya lu sadar dong, jangan mau deket sama dia lagi!" ujar Alma.
"Iya Ma, gue tahu dia pernah jahatin gue. Tapi, kemarin kan dia udah bantu gue sama El buat buka kunci hp dan berkat dia juga kasus teman gue bisa diungkap. Jadi, gue gak enak lah tolak pemberian dia dan bikin dia sedih begitu." kata Keira.
"Udah lah lu gausah kasihan sama dia! Biarin aja, dia itu cuma akting tau! Yuk kita lanjut jalan, siapa tahu kak El udah ada di depan!" ujar Alma.
"Iya iya..." Keira menghela nafasnya, lalu kembali berjalan bersama Alma keluar dari sekolahnya.
Sementara Ibrahim masih termenung di tempatnya memandangi coklat di tangannya yang gagal ia berikan untuk Keira, Ibrahim sungguh merasa sedih karena pemberiannya ditolak oleh Keira akibat dari ulahnya sendiri yang sudah memberi pelet pada Keira sebelumnya.
"Huft, begini banget nasib aku sekarang!" gumamnya.
•
•
Saat sampai di depan sekolah, Keira dan Alma langsung bertemu dengan Elargano yang nampaknya sudah berada disana sedari tadi menunggu kekasihnya pulang sekolah.
Tanpa basa-basi lagi, tentu saja Keira pun maju mendekati El sambil tersenyum bersama Alma yang juga berjalan di sampingnya. El yang sedang melamun, tak menyadari kehadiran Keira disana.
"El," Keira menyapa lembut kekasihnya sembari menepuk pundak lelaki itu hingga El terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Eh sayang, udah pulang?" ujar El kaget.
"Iya El, kamu ngapain ngelamun aja sih? Lagi mikirin apa coba?" tanya Keira penasaran.
"Enggak kok, aku gak ngelamun. Tadi itu aku lagi mikir gimana caranya buat bantu Grey lepas dari pak Panca, apalagi sekarang Sahira juga udah gak mau minta bantuan aku lagi buat urusan ini. Makanya aku bingung harus gimana," jelas El.
__ADS_1
"Hah? Emang apa masalahnya sampai Sahira gak mau dibantu sama kamu lagi? Dia marah sama kamu atau kamu udah lakuin kesalahan yang bikin dia kesal?" tanya Keira heran.
"Aku juga gak tahu, coba deh kamu tolong tanyain sama dia! Siapa tahu kalau kamu yang ngomong, Sahira mau buka mulut. Soalnya udah beberapa kali aku tanyain ke dia, eh tapi dia nya malah gak mau jawab." kata Elargano.
"Yaudah, nanti aku bicara sama dia. Sekarang kita balik yuk! Aku udah lapar nih," pinta Keira.
"Oke sayang!" ucap El tersenyum dan menggandeng tangan Keira rapat.
"Ma, gue balik duluan ya sama cowok gue? Lu hati-hati pulangnya, sampai jumpa besok!" ucap Keira pamitan dengan temannya.
"Iya Kei, bye!" ucap Alma tersenyum.
Alma pun pergi ke parkiran mengambil mobilnya agar bisa pulang, sedangkan Elargano meminta gadisnya masuk ke dalam mobil.
"Yuk masuk!" ucap El membukakan pintu untuk Keira dan menutupnya kembali.
El jalan mengitari mobil, masuk melalui pintu lainnya dan duduk di samping Keira. Pria itu memasang sabuk pengaman bagi Keira serta dirinya sambil sesekali mengelus wajah Keira.
"Kamu makin cantik aja sih!" puji El.
"Ah dasar gombal! Udah deh, mending buruan kamu jalanin mobilnya terus kita pulang! Aku udah gak tahan sama laparnya!" ucap Keira.
"Hahaha... iya deh, aku takut juga jadi makanan kamu. Biasanya kan cewek kalo udah lapar apa aja dimakan," sarkas El.
"Ya gak gitu juga lah! Aku masih waras kali, kalau mau makan aku pilih-pilih makanan lah. Yakali aku makan kamu! Gak bakal kenyang lah!" ucap Keira tersenyum sedikit.
"Yeh malah menghina! Gini deh, kita cari tempat makan dekat sini aja ya? Supaya kamu gak perlu tahan lapar kamu, terus kita makannya juga bisa barengan kan." usul Elargano.
"Umm... boleh deh. Tapi, kamu yang traktir ya!" ucap Keira.
"Iya sayang, udah pasti itu mah! Kamu mau makan apa sekarang?" tanya El pada gadisnya.
"Bakso! Panas-panas gini paling enak makan bakso pedas, terus minumnya es campur. Di depan belok kanan ya, aku tahu tempat bakso paling enak dekat sini!" ucap Keira.
"Emang ya kamu kalau soal bakso paling tahu, oke deh demi kamu apapun bakal aku lakuin!" ucap El terkekeh kecil.
Keira hanya tersenyum lalu memalingkan wajahnya, dalam pikirannya ia masih merasa tidak tega pada Ibrahim dan ia penasaran bagaimana keadaan Ibrahim saat ini.
•
•
Meski begitu, Sahira masih belum tenang kalau ia belum bisa menemukan keberadaan Grey dan memastikan gadis itu baik-baik saja. Terlebih pihak polisi juga tidak akan mudah mencari lokasi pak Panca berada, karena pastinya rintangan akan menghadang pencarian mereka.
"Sahira, kita mau cari kemana lagi nih? Udah hampir satu kota loh kita puterin, mending kita pulang aja yuk dan serahin semuanya ke pihak polisi!" ucap Thoriq.
"Gak bisa bang, gue belum tenang kalo gue belum bisa temuin Grey dan pastiin dia baik-baik aja! Tolonglah bang, bantu gue ya buat cari Grey! Cuma lu yang bisa gue harapin sekarang!" ucap Sahira.
"Iya iya, gausah sedih gitu kali! Gue pasti bakal bantu lu kok! Tapi emang, cowok yang biasa bantu lu tuh kemana? Siapa tuh namanya, El ya?" ucap Thoriq menanyakan soal Elargano.
"Gak tahu ah, udah jangan bahas dia lagi! Gue mau fokus cari Grey, jadi gue gak mau bahas yang lain selain itu!" ujar Sahira.
"Lu kenapa sih? Kok sewot gitu pas gue bahas El? Lagi ada masalah lu sama dia?" tanya Thoriq heran.
"Enggak kok, gak ada apa-apa. Udah lah, gue kan dah bilang tadi jangan bahas dia lagi! Kenapa lu masih aja tanyain dia sih? Mending lu fokus nyetir, terus kita lanjut cari Grey!" geram Sahira.
"Iya cantik, jangan marah-marah gitu dong cantiknya ilang loh!" goda Thoriq sembari mencolek pipi adiknya dan tersenyum renyah.
"Yaudah, stop bahas si dia!" pinta Sahira.
Thoriq mengangguk pelan disertai senyum manis yang terpampang di wajahnya, lalu kembali fokus ke depan menatap jalan walau sesekali juga melihat ke arah Sahira yang masih tampak bete.
"Sahira, gue udah buntu nih gak tahu mau cari kemana lagi. Kita pulang aja yuk!" ucap Thoriq.
"Ah jangan! Gue gak mau pulang sebelum berhasil temuin Grey, pokoknya kita harus terus cari dia kemanapun!" tegas Sahira.
"Heh! Kalo gitu sekarang lu kasih tahu ke gue, kemana kita harus cari temen lu itu! Gue kan udah bilang, otak gue buntu." kata Thoriq kesal.
"Ya gue juga gak tahu bang, tapi kok lu emosi gitu sih sama gue? Lu gak ikhlas bantu gue cari Grey? Yaudah, lu boleh pulang kok. Biar gue lanjut cari Grey sendiri aja." kata Sahira.
"Eh eh jangan dong! Gue gak mungkin biarin lu pergi sendiri! Iya iya gue temenin kok, kita gausah pulang kalo perlu sampe tengah malam!" ucap Thoriq.
__ADS_1
"Udah gapapa lu pulang aja!" ucap Sahira.
"Enggak Sahira, udah lu jangan ngambek gitu! Gue lebih suka lihat lu ceria dan tersenyum, ayo dong senyum biar gue seneng!" ujar Thoriq.
"Oke! Tapi, lu jangan minta buat pulang lagi ya!" ucap Sahira.
"Iya cantik," Thoriq tersenyum renyah dan mencubit hidung gadis itu sekilas.
"Huh dasar nyebelin!" cibir Sahira.
Thoriq tertawa lebar melihat ekspresi Sahira, gadis itu kemudian ikut tersenyum sesuai kemauan Thoriq agar abangnya itu mau mengantarnya.
•
•
Sementara itu, El dan Keira masih berada di warung bakso dekat sekolahan gadis itu. Mereka tengah menikmati dua mangkuk bakso serta semangkuk es campur yang mereka bagi dua, tidak ada alasan untuk itu karena El hanya ingin terlihat lebih romantis dengan kekasihnya.
"Sayang, kalau kamu kurang es campur nya boleh nambah lagi kok. Ini kan kita berdua tadi, pasti kamu kurang kan? Tambah aja lagi biar aku yang bayar!" ucap Elargano.
"Gak kurang kok, ini udah cukup buat aku. Kamu kan tahu aku gak minum banyak, lagian perut aku juga udah kembung. Kecuali kalau baksonya, baru deh aku mau nambah lagi. Soalnya aku suka banget sama bakso disini," ucap Keira.
"Yeh dasar penggila bakso! Yaudah, kamu pesan aja lagi sesuka kamu!" ujar El.
"Hehe makasih sayang!" ucap Keira nyengir.
Akhirnya Keira kembali memesan satu mangkuk bakso untuknya, ia memang tidak pernah puas kalau urusan bakso. Sementara El hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadisnya.
Bruuukkk...
Tiba-tiba saja ada seseorang yang tak sengaja menyenggol El dari belakang, hampir saja pria kgk terkena tumpahan kuah bakso di meja.
"Heh! Kalau jalan hati-hati dong!" El emosi dan membentak gadis yang menabraknya.
"Ma-maaf! Saya gak sengaja.." gadis itu mendongak menunjukkan wajahnya dengan ekspresi panik.
El yang melihat itu sangat terkejut.
"Grey?" ucapnya spontan.
Wanita yang tak lain adalah Grey merasa gugup, tubuhnya gemetar seperti orang yang sedang ketakutan. Elargano merasa bingung, ia melirik ke sekitar dan menemukan sosok pak Panca tengah duduk di kursi yang tak jauh dari mereka.
"Sayang, kamu jangan marah-marah dong! Mungkin mbaknya gak sengaja," ucap Keira.
"I-i-iya sayang, aku gak marah kok." ucap El tersenyum ke arah Keira. "Grey, lu kenapa bisa ada disini? Ikut gue yuk, kita pulang dan selesaikan masalah lu!" sambungnya bicara pada Grey.
"Keira terlihat bingung mendengarnya, "Sayang, kamu kenal sama dia?" tanyanya penasaran.
"Iya sayang, ini Grey temannya Sahira yang lagi kita cari-cari selama ini." jawab El.
"Apa? Jadi kamu Grey?" ujar Keira terkejut.
"Iya, aku Grey. Tapi, maaf ya sebelumnya, aku harus segera kembali kesana! Permisi!" ucap Grey langsung hendak pergi dari sana.
"Tunggu!" El mencekal lengan Grey, meminta gadis itu tetap disana bersamanya. "Disini aja, lu gak boleh kemana-mana lagi! Biar gue yang hadapin pak Panca, lu tenang aja!" ucapnya.
"Ta-tapi..."
"Udah santai! Gue pastiin lu bakal baik-baik aja!" potong El.
"Iya Grey, kamu sama aku aja ya! Biar El yang urus semuanya!" ucap Keira.
Grey mengangguk setuju, ia pun tetap disana bersama Keira. Sedangkan El bergerak menuju meja tempat pak Panca berada, pria itu mengepalkan tangannya menatap pak Panca penuh emosi.
Braakkk...
El menggebrak meja dengan keras, membuat pak Panca terkejut dan reflek menoleh. Guru itu sangat kaget melihat keberadaan El disana.
"Elargano?" ucapnya panik.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...