
#SangPemilikHati Episode 60.
•
•
"Eee itu sejak kapan kamu pakai gelang di tangan kamu? Perasaan kemarin-kemarin tangan kamu masih kosong!" tanya Elargano.
Deg!
Jantung Keira seakan mau copot begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan El padanya barusan, ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada El karena ia khawatir jika El akan marah begitu tahu yang sebenarnya bahwa gelang itu adalah pemberian dari Ibrahim.
Tentu Keira sangat tahu seperti apa sikap El yang mudah cemburu bila mengetahui ia dekat dengan lelaki lain selain dirinya, apalagi pria itu sampai memberikan sesuatu padanya dan sudah tentu Elargano bisa terbawa api cemburu jika sampai mengetahui hal tersebut.
"Eee anu gelang ini tadi aku beli di sekolah, kebetulan ada yang jual!" jawab Keira berbohong.
"Ohh bagus gelangnya, cocok di tangan kamu! Tapi, lebih cocok lagi kalau dilepas!" ucap El langsung menarik lengan Keira dan melepas gelang di tangan gadis itu.
"Loh kok dilepas sih?" tanya Keira heran.
"Iya, emang kenapa? Gak suka? Aku pengennya kamu pakai gelang pemberian aku sayang, nanti aku beliin deh yang paling mahal!" ucap Elargano.
"Duh gausah El, aku pake yang itu aja cakep soalnya! Kamu jangan gitu dong El!" ucap Keira.
"Kenapa sih? Udah pokoknya gelang ini aku yang simpan, terus kamu nanti pake gelang dari aku aja! Aku itu pengen setiap yang kamu pakai tuh pemberian dari aku sayang, aku gak mau kamu beli sendiri!" ucap Elargano.
"Ih jangan diambil gelangnya! Selagi kamu belum beliin gelang yang baru, itu aku pakai dulu gapapa dong sayang!" ucap Keira meminta gelangnya untuk dikembalikan.
Namun, El tetap kekeuh tak mau memberikan gelang itu pada Keira.
"Gak! Aku gak mau balikin!" tegas Elargano.
"Ish, kamu mah gitu mulu! Sayang, aku cuma pakai gelangnya sampai kamu beliin yang baru! Aku suka tau sama model yang itu, kamu jangan egois dong sayang!" ucap Keira kesal.
"Kok egois sih? Aku ini kan pacar kamu, apa salah kalo aku pengen kamu pakai semua barang pemberian dari aku?" ujar Elargano.
"Ya enggak, tapi kan kamu masih belum beliin aku gelang sayang! Jadi, untuk sekarang aku pakai dulu lah gelang yang aku beli di sekolah tadi!" Keira terus memaksa El mengembalikan gelangnya.
"Haish, kamu ngeyel banget ya jadi anak sayang!" ujar Elargano menggelengkan kepala.
"Biarin wle! Itu kan aku beli juga pake uang, udah sini balikin ah sayang!" rengek Keira.
"Iya iya, nih aku balikin!" ujar Elargano.
Akhirnya pria itu mengembalikan gelang milik Keira dan dengan segera Keira memasangnya kembali di lengannya sambil tersenyum senang.
"Nah gitu dong sayang! Lagian emang gelang ini gak cocok apa di tangan aku?" ucap Keira.
"Cocok kok, pake banget malah! Cuma tadi kan aku udah jelasin ke kamu sayang, aku pengen kamu pakai semua barang pemberian aku! Bukan beli sendiri atau dibeliin orang lain, ya kalau dikasih papa atau mama kamu sih gapapa lah!" ucap El.
"Iya iya, nanti kalau kamu udah beliin gelang buat aku baru deh aku bakal lepas gelang ini sayang! Udah ya jangan ngambek gitu!" ucap Keira.
"Gak ngambek kok, aku justru senang ngeliat kamu bahagia gitu!" ucap Elargano tersenyum.
"Iya, ini berkat gelang yang ada di tanganku ini! Aku gak nyesel deh belinya tadi, emang bagus banget ya El!" ucap Keira.
"Iya sayang, bagus kok!" ucap Elargano.
Lalu, mereka tiba di sebuah restoran ternama yang ada di dekat sana. Elargano pun menghentikan mobilnya dan memarkir tepat di halaman restoran tersebut, ia mengajak Keira untuk turun dan makan malam sejenak di dalam sana karena mereka memang belum makan malam ini.
"Sayang, turun yuk kita makan malam dulu!" ucap Elargano menyentuh lengan Keira.
"Ah iya sayang," ucap Keira tersenyum.
Perlahan keduanya turun dari mobil, namun entah mengapa Keira selalu tak bisa lepas memandang gelang pemberian Ibrahim yang terpasang di lengan kirinya itu.
"Kamu kenapa sih sayang? Daritadi kok dilihatin terus itu gelangnya?" tanya Elargano heran.
"Gapapa, aku suka aja sama modelnya! Ini tuh cantik banget tau!" jawab Keira.
"Iya, cantik kayak kamu!" ucap Elargano.
Mereka pun masuk ke dalam restoran, El tampak merangkul pundak Keira yang masih saja fokus pada gelang di tangannya itu.
__ADS_1
•
•
Keesokan harinya, Sahira yang sudah rapih mengenakan seragam sekolah memilih datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Jordan sejenak menjenguknya yang masih terbaring pingsan.
Gadis itu kini sudah berada di dalam ruangan, ia duduk di samping tubuh Jordan, menatapnya secara intens dengan mata berair karena tak bisa lagi menahan kesedihannya melihat kondisi sang abang yang tengah menderita itu.
"Hiks hiks... kalau tau abang bakal bernasib seperti ini sebelumnya, pasti aku gak akan pernah izinin abang buat pergi kemarin! Aku bakal tahan abang supaya tetap di rumah, dan kecelakaan ini gak mungkin terjadi!" ucap Sahira menangis.
Sahira terus mengusap rambut Jordan, mengelus wajahnya lembut dan mengecup keningnya.
Cupp!
Sahira mendongak menatap jam dinding disana, ia terkejut karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia pun bersiap-siap untuk segera pergi ke sekolah, karena tak ingin terlambat lagi seperti sebelumnya, walau sebenarnya ia masih ingin berada disana menemani abangnya.
"Yaudah ya bang, aku mau sekolah dulu? Abang jangan nyerah ya buat berjuang, aku yakin abang pasti bisa sembuh dan lewatin masa kritis ini!" ucap Sahira sesenggukan.
Gadis itu menghapus air matanya, lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan tersebut karena memang ia harus pergi sekolah.
Saat di luar, Sahira langsung bertemu dengan sang ibu yang tadi mengantarnya ke rumah sakit, ia pun tersenyum menatap wajah ibunya dan berpelukan sejenak di depan ruangan itu.
"Sayang, gimana keadaan abang kamu? Kamu udah ngerasa tenang kan?" tanya Ratna.
"Iya Bu, aku sedikit tenang karena udah lihat bang Jordan pagi ini! Tapi, aku tetap aja masih cemas kalau bang Jordan belum sadar!" jawab Sahira.
"Sabar sayang! Abang kamu pasti bisa cepat sembuh kok, sekarang kamu sekolah dulu dan nanti pulangnya baru kamu bisa kesini lagi jenguk abang kamu ya sayang!" ucap Ratna.
Sahira mengangguk saja tanpa melepaskan pelukan sang ibu, Ratna pun mengecup puncak kepala Sahira dan mengusap punggungnya.
"Yaudah yuk, kita jalan sekarang!" ucap Ratna.
"Bu, terus yang jagain bang Jordan disini siapa kalau ibu anterin aku ke sekolah?" tanya Sahira.
"Eee...." Ratna terlihat kebingungan.
"Biar aku aja yang antar Sahira sekolah, Bu!" Thoriq muncul dari arah belakang dan berhenti tepat di dekat Sahira serta ibunya.
"Iya Bu, emangnya kenapa sih? Sahira kan saudara aku juga, jadi biar aku aja yang antar dia ke sekolah! Nah ibu tetap disini deh jagain bang Jordan supaya gak sendirian!" jawab Thoriq.
"Benar juga kamu! Sahira sayang, kamu kali ini diantar sama Thoriq dulu ya? Gapapa kan sayang?" ucap Ratna beralih menatap Sahira.
"Gapapa Bu," Sahira menjawab sambil tersenyum.
"Yaudah, kalian hati-hati ya sayang! Thoriq, ibu titip Sahira sama kamu, jagain dia loh dan kamu bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut!" ucap Ratna sembari memegang pundak Thoriq.
"Tenang aja Bu! Sahira aman kok sama aku, kan aku jago nyetirnya!" ucap Thoriq tersenyum.
"Aamiin!" ucap Ratna.
"Bu, aku berangkat sekolah dulu ya?" ucap Sahira pamitan pada ibunya, ia mencium tangan sang ibu lalu tersenyum renyah.
"Iya sayang, semangat ya sekolahnya!" ucap Ratna tersenyum.
"Bu, aku anterin Sahira dulu!" Thoriq juga mendekati ibunya dan mencium tangan sang ibu seperti yang dilakukan Sahira tadi.
Setelah berpamitan, kini Thoriq serta Sahira yang merupakan saudara tiri itu pergi dari rumah sakit meninggalkan Ratna sendirian disana, mereka jalan bersamaan menuju tempat parkir.
"Sahira!" tiba-tiba Thoriq memanggil gadis itu sembari menoleh ke arahnya.
"Ah iya, kenapa?" tanya Sahira bingung.
"Eee gapapa kok, gue cuma manggil aja!" jawab Thoriq sambil tersenyum mengalihkan pandangan.
"Lah gak jelas!" cibir Sahira.
Thoriq hanya terkekeh kecil sembari menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal, sebenarnya ia canggung untuk berbicara dengan Sahira.
"Nih cowok kenapa sih?" batin Sahira.
•
•
__ADS_1
Sementara itu, Keira tiba di sekolahnya bersama Elargano yang tadi menjemputnya. Keduanya turun dari mobil dan berbincang sejenak sebelum gadis itu memasuki area sekolahnya, nampaknya El masih bingung mengapa Keira sangat senang dengan gelangnya itu.
Pria itu menarik lengan gadisnya dan mencengkeramnya erat, membuat Keira merintih menatap wajah El dengan perasaan heran, ia tak mengerti mengapa tiba-tiba El menjadi seperti itu padanya.
"Awhh! Kamu kenapa sih sayang? Lepasin tangan aku, sakit tau!" ujar Keira.
"Aku bingung deh sama kamu, apa sih istimewanya gelang ini? Kok kamu dari kemarin kayak seneng banget lihatin gelang ini? Bahkan sampai kamu gak fokus ke aku loh sayang!" ujar Elargano.
"Apa sih? Emangnya salah ya kalo aku suka sama gelang baru aku? Masa cuma sama gelang aja kamu cemburu? Lebay tau gak!" ujar Keira.
"Bukan masalah cemburu, aku cuma heran sama kamu karena kamu tuh kayak orang yang lagi tergila-gila sama gelang itu tau gak! Aneh banget tingkah kamu sayang, mending lepas aja deh gelangnya biar kamu gak begitu lagi!" ucap El.
"Ish, gak mau! Jangan paksa aku buat lepasin gelang ini deh, karena sampai kapanpun aku gak mau lepasin ini!" Keira emosi dan menghentakkan tangannya lepas dari genggaman Elargano.
"Sayang, kamu kok jadi gini sih?" ujar El heran.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu malah lebay begini sih?!" tegas Keira.
"Keira, aku ini cuma minta kamu lepas gelang itu! Karena kelihatannya ada yang gak beres dari gelang itu sayang, mending kamu cepat-cepat lepas deh sebelum terlambat!" ucap Elargano.
"Gak! Kamu itu terlalu lebay sayang! Ini cuma gelang biasa, jadi kamu gausah mikirin yang aneh-aneh deh!" ujar Keira.
Elargano terdiam bingung, dirinya pun belum terlalu yakin bahwa gelang yang dikenakan Keira memang menyimpan aura mistis, namun ia ingin mencegah hal buruk terjadi dengan meminta Keira melepas gelang tersebut.
"Kei, dengerin aku dong sayang! Aku cuma pengen kamu baik-baik aja dan gak kenapa-napa, ayolah lepas gelang kamu demi kebaikan kamu sendiri sayang!" bujuk Elargano.
"Kamu kayaknya udah benar-benar gak waras ya El? Cuma karena gelang ini kamu jadi kayak gini, haish aku muak sama kamu!" ujar Keira kesal.
Gadis itu berbalik dan pergi begitu saja, ia melangkah tergesa-gesa meninggalkan Elargano yang masih terdiam menatap punggung Keira dari tempatnya berdiri saat ini.
Sebenarnya El ingin sekali mengejar Keira, namun ia khawatir justru akan membuat Keira makin emosi dan hubungan mereka semakin renggang hanya karena kecurigaannya itu.
"Aaarrgghh!! Pokoknya gue harus terus awasin Keira, gue gak mau dia kenapa-napa!" ujar El.
•
•
Keira masuk ke sekolahnya, ia masih tampak kesal mengingat ucapan El yang sangat ingin melepas gelang dari tangannya. Akibatnya, kini ia berjalan dengan wajah cemberut dan tak perduli pada berbagai godaan yang ia terima dari mulut pria di depan sana seperti biasa.
Sampai ketika ia tiba di lobi sekolah, tiba-tiba Ibrahim mencegahnya dan tersenyum menatap ke arahnya, membuat Keira berhenti sejenak untuk berbicara dengan pria itu. Entah mengapa Keira justru tersenyum saat bertemu Ibrahim disana.
"Baim? Ada apa?" tanya Keira lembut.
"Keira kayaknya beneran udah kena pengaruh gelang itu, buktinya dia kelihatan seneng pas ngeliat gue disini!" batin Ibrahim.
"Eee kamu lagi kenapa, Keira? Kok aku lihat tadi kamu jalan sambil cemberut gitu? Apa kamu lagi ada masalah sama pacar kamu? Aku nebak aja sih, soalnya tadi aku juga lihat kamu diantar sama pacar kamu itu!" ucap Ibrahim.
"Oh, iya lu bener Him! Gue lagi kesel banget sama cowok gue itu!" ucap Keira.
"Loh emangnya kenapa?" tanya Ibrahim.
"Barusan tuh cowok gue minta gue buat lepas gelang ini, padahal kan gelang yang lu kasih ini tuh bagus banget dan gue suka sama bentuknya! Makanya gue kesel banget!" jawab Keira.
"Apa alasan dia minta kamu buat lepas gelang itu? Pasti ada dong alasannya!" tanya Ibrahim.
"Iya, katanya gelang ini udah merubah sikap gue ke dia! Terus gue jadi lebih sering perhatiin gelang ini daripada dia, kan aneh ya masa dia cemburu sama gelang?!" jawab Keira.
"Hahaha, mungkin cowok kamu lagi cari alasan aja supaya hubungan kalian bisa berakhir, dan dia pengen seolah-olah kamu yang salah dalam hal ini! Jadi, dengan mudah dia bisa putus dari kamu terus cari pacar lagi deh!" ucap Ibrahim.
"Hah? Masa iya sih? Emangnya kenapa El sampai harus ngelakuin itu supaya bisa putus dari gue?" ujar Keira terheran-heran.
"Ya bisa aja dia emang udah gak cinta lagi sama kamu, atau hatinya sekarang udah bukan buat kamu! Ada wanita lain yang memikat hatinya, itu alasan dia pengen putus dari kamu!" jelas Ibrahim.
Keira terdiam memikirkan perkataan Ibrahim, kini ia menjadi salah paham pada kekasihnya sendiri.
"Yaudah ya Kei, aku pergi ke kelas dulu? Sekali lagi aku ingetin sama kamu, mending sudahi aja hubungan kamu dan dia daripada kamu sakit hati nanti pas lihat dia menaruh perhatian ke wanita lain!" ucap Ibrahim tersenyum.
Pria itu berlalu pergi setelah mengatakan demikian, sedangkan Keira masih terdiam di tempat bingung harus melakukan apa.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1