
#SangPemilikHati Episode 115.
•
•
Setelah selesai menghubungi Saka, kini Riki kembali menemui Sahira yang masih ia sekap di dalam gudang tak terpakai itu.
Riki masuk dalam gudang tersebut, menghampiri Sahira sambil menunjukkan seringaian iblis di bibirnya.
Sahira yang melihat itu pun mulai panik, ia coba menggerakkan tangan dan kakinya secara bersamaan agar bisa lepas dari sana, namun tentunya gagal karena terlalu kuat.
"Mmppphhh.. mmppphhh..." Sahira terus bersuara walau mulutnya masih dibungkam oleh kain.
"Hahaha, kenapa sih Sahira? Lu pengen ngomong apa? Gue gak bisa dengar jelas nih suara lu, kalo ngomong itu yang bener dong!" ujar Riki yang kini sudah berada di dekat Sahira dan mengelus wajah gadis itu.
Sontak saja Sahira semakin ketakutan karena wajahnya itu disentuh oleh Riki, ia ingin melawan tetapi tidak bisa karena seluruh tubuhnya diikat oleh pria tersebut.
"Lu tenang ya Sahira! Gue bakal buka kain ini dari mulut lu, supaya lu bisa bicara." ucap Riki.
Riki melakukan apa yang barusan ia katakan, ia melepas kain yang menyumpal mulut Sahira itu dan membuangnya ke sembarang arah.
Sahira pun merasa sedikit lega, ia langsung mengambil nafas dalam-dalam dan melirik ke arah Riki dengan tajam.
"Bener-bener ya lu Rik! Lu mau apa sih sebenarnya dari gue? Kenapa lu culik gue?!" geram Sahira.
"Kenapa gue culik lu? Aduh, harusnya lu udah tau dong jawabannya apa! Kan simpel banget, karena gue gak mau lu terlalu dalam ikut campur ke masalah gue dan Grey. Semoga aja dengan begini, lu ataupun El kapok buat ikut campur lagi! Tapi kalau enggak, ya gue bakal tetap kurung lu di tempat ini." jelas Riki.
"Dasar kurang ajar! Emang lu punya masalah apa sih sama Grey, ha? Kenapa lu jahat banget sama dia? Apa salah Grey ke lu coba? Asal lu tahu ya, Grey itu sekarang lagi tertekan banget setelah apa yang lu perbuat ke dia!" bentak Sahira.
"Gue gak perduli! Mau dia tertekan atau bahkan bunuh diri sekalipun, itu bukan urusan gue. Justru malah bagus kalau dia mati, jadi semua dendam gue ke dia berakhir." kata Riki.
"Dendam? Maksud lu?" tanya Sahira bingung.
Riki tersenyum kemudian melangkah menjauhi Sahira, namun tentunya masih berada di sekitaran gudang tersebut.
"Grey itu mantan pacar gue sewaktu SMP dulu, kita pernah punya janji untuk bersama selamanya. Tapi, dia malah khianati gue dan pergi sama laki-laki lain waktu itu." jawab Riki tampak bersedih.
"Serius? Lu sama Grey pernah pacaran?" Sahira sangat syok mendengar itu.
"Ya begitulah, bisa dibilang gue itu sayang banget sama Grey dan gak mau lepas dia. Tapi, namanya cewek gak pernah cukup sama satu cowok. Dia ketahuan lagi berduaan sama cowok lain, dan itu bikin gue marah besar. Bahkan sampai sekarang, gue juga belum bisa maafin perbuatan Grey itu!" jawab Riki.
"Terus, lu lakuin semua ini untuk balas dendam sama Grey karena dia udah nyakitin lu?" tanya Sahira memastikan.
"Iya Ra, gue cuma mau dia rasain apa yang gue rasain waktu itu. Malah kalo bisa lebih daripada itu, karena gue benar-benar gak terima dikhianati sama cewek yang gue cintai!" ujar Riki.
"Tapi Rik, perlakuan lu ke Grey ini udah kelewatan! Lu sampe bikin Grey kena mental, itu parah banget tau!" ucap Sahira.
"Bodo amat! Gue itu udah gak perduli lagi sama Grey, mau dia kena mental atau apa kek itu urusan dia. Oh ya satu lagi, sebenarnya gue ini kerjasama sama pak Panca. Gue yang udah suruh dia buat perkosa Grey waktu itu," ucap Riki.
"Apa??" Sahira tercengang dan melebarkan matanya begitu mendengar penuturan Riki.
Sementara Riki justru tersenyum seringai disertai usapan yang ia berikan pada rambut Sahira.
•
•
Bruuukkk...
Roger dan Alzi melempar tubuh Saka begitu saja ke depan tempat El berdiri hingga pria tersebut tersungkur di lantai.
Sontak saja El serta Farhan dan Raisa terkejut dengan kedatangan tiga orang pria itu disana, mereka kompak menoleh ke arah ketiganya.
"Awhh!!" rintih Saka memegangi lengannya yang terasa sakit.
"Heh! Ada apaan ini? Kenapa lu lempar anak orang gitu aja? Lu kata dia ini karung beras apa?" ujar El bertanya pada dua sahabatnya itu.
"Tenang El! Dia emang pantas digituin, karena dia udah kerjasama sama Riki buat pantau lu disini." ucap Roger menjelaskan pada El.
"Apa?" El terkejut dan melirik tajam ke arah Saka.
"Maafin gue El, gue benar-benar gak sengaja! Gue cuma dibayar sama Riki buat pantau lu, tapi gue gak pengen ngelakuin itu kok sebenarnya. Tolong jangan hukum gue El!" ucap Saka panik.
"Halah alasan aja lu! Selama lu dibayar sama Riki, itu artinya lu udah kerjasama sama dia. Jadi, lu musuh kita dan lu harus kita tangkap!" ucap Roger.
"Benar tuh, sekarang lu nyerah aja deh sama kita!" sahut Alzi.
__ADS_1
"Tenang guys tenang! Biar gue yang coba bicara sama Saka, kalian diam dulu!" pinta El.
Roger dan Alzi menurut, membiarkan El bicara berdua dengan Saka disana.
"Saka, gue mau tanya satu hal sama lu. Pasti lu tahu kan dimana Riki berada saat ini? Dan gue yakin lu juga tahu kalau Sahira sekarang diculik sama Riki, ya kan?" ucap El.
"Eee iya gue tahu El, tapi kalau tempatnya gue beneran gak tahu. Dia gak pernah bilang apa-apa ke gue soal itu, dia cuma tugasin gue buat pantau terus pergerakan lu dan laporin ke dia kalau ada sesuatu yang penting." jawab Saka.
"Okelah, seenggaknya lu punya nomor si Riki kan yang bisa dihubungi?" tanya El pada Saka.
"Pu-punya kok," jawab Saka agak gugup.
"Bagus! Gue minta lu telpon si Riki sekarang, ajak buat ketemuan di taman Wirasakti! Tapi, lu jangan bilang kalau gue yang suruh lu!" titah El.
"Gue gak bisa El, gimana kalau Riki tau dan dia malah marah ke gue?" ucap Saka menolak.
"Oh terserah, kalo lu gak mau bantu gue itu artinya lu harus siap-siap buat dimasukin ke penjara! Karena lu udah membantu si kriminal itu," ucap El mengancam Saka.
"Ja-jangan El, tolong jangan laporin gue ke polisi! Iya iya, gue bakal bantu lu kok buat temuin si Riki!" ucap Saka ketakutan.
"Hahaha, takut kan lu!" cibir Alzi.
"Yaudah, cepat hubungi dia sekarang!" pinta El.
"Ba-baik El..!!" ucap Saka menurut.
Saka pun mengambil ponselnya dan mulai coba menghubungi nomor Riki, namun entah mengapa cukup lama telpon darinya tidak diangkat oleh Riki tak seperti biasanya.
El merasa geram dan curiga kalau Saka sedang mengerjainya, ia pun bergerak mengambil alih ponsel itu dari tangan Saka untuk memastikan sendiri apakah Saka menelpon Riki atau tidak.
"Eh eh, kenapa diambil El? Gue beneran kok telpon si Riki, cuma belum diangkat aja." kata Saka.
"Sorry! Gue pikir lu tadi kerjain gue, ternyata emang bener belum diangkat." kata El.
"Ahaha, kalem bro kalem!" ucap Roger.
•
•
Riki yang tengah berbincang dengan Sahira, merasa jengkel saat Saka berkali-kali menelponnya.
"Gue benar-benar gak nyangka lu sejahat itu Rik, emang parah banget ya lu!" ujar Sahira.
"Gue tahu gue jahat, tapi pengkhianatan lebih dari sekedar kejahatan Sahira. Setiap yang berkhianat tidak pantas untuk dimaafkan, karena mereka itu tidak punya yang namanya kesetiaan." ucap Riki tersenyum smirk.
"Pemikiran lu udah gak tertolong lagi Rik, lu harus segera ditangkap dan ditahan supaya lu bisa berpikir jernih lagi!" ucap Sahira.
"Hah? Gue? Ditangkap? Lu yang bener aja Sahira, siapa coba yang bisa tangkap gue? Si El itu? Atau lu?" ucap Riki terkekeh.
"Mungkin bukan gue atau El yang bakal tangkap dan hukum lu, tapi gue yakin nanti ada saatnya lu bisa mendapat balasan atas segala perbuatan yang udah lu lakuin!" ujar Sahira.
"Gue gak perduli Sahira, apapun yang lu bilang gue gak perduli. Sekarang lu diem dulu disini, gue mau angkat telpon keluar." kata Riki.
"Oh ya, siap-siap aja karena setelah ini gue bakal balik lagi kesini buat urus rencana gue selanjutnya sama lu." sambungnya sembari menatap Sahira.
Sahira diam saja saat wajahnya diusap oleh Riki, tapi tentu saja ia tidak ingin disentuh oleh lelaki seperti Riki.
Riki pun melangkah pergi dari sana untuk mengangkat telpon Saka.
"Apa maksud si Riki itu sih? Dia mau apain gue ya? Jangan sampai deh dia punya rencana yang buruk, gue ngeri banget!" gumam Sahira dalam hati.
Setelah keluar dari ruangan itu, kini Riki membuka ponselnya dan berbalik menelpon Saka karena sebelumnya telpon dari pria itu sudah terputus.
📞"Halo Sak! Lu ngapain sih telponin gue terus daritadi, ha?" ujar Riki agak emosi.
📞"Sorry Rik! Gue gak ada maksud buat ganggu lu, tapi gue cuma mau ajak lu ketemuan nanti setelah gue pulang sekolah. Ada hal penting yang harus lu tau Rik, ini penting banget!" ucap Saka.
📞"Apaan yang penting banget itu? Gak bisa lewat telpon aja?" tanya Riki penasaran.
📞"Enggak Rik, gue harus bicara langsung sama lu. Kalau lu bisa dan bersedia, gue tunggu lu nanti di taman Wirasakti." jawab Saka.
📞"Haish, yaudah oke nanti siang gue datang kesana. Tapi, pastiin kalau gak ada orang yang ngikutin lu dari jauh!" ucap Riki.
📞"Siap Rik, thanks ya!" ucap Saka.
📞"Iya, yaudah lu jangan telpon-telpon gue lagi! Sekarang gue lagi sibuk urus Sahira!" ujar Riki.
__ADS_1
📞"Oke Rik!" ucap Saka menurut.
Tuuutttt....
Riki segera menutup telponnya, lalu kembali ke dalam menemui Sahira.
Tampak Sahira langsung menoleh ke arah Riki begitu mendengar suara pintu terbuka.
"Rik, lu mau apa ke gue?" tanya Sahira panik.
Riki terus melangkah hingga berhenti di dekat Sahira dan memandangi wajah gadis itu.
"Hahaha, panik ya? Santai aja kali gausah panik, gue gak bakal apa-apain lu kok! Gue cuma mau lu lakuin sesuatu buat gue," jawab Riki.
"Sesuatu apa?" tanya Sahira bingung.
"Sebentar ya!" ucap Riki tersenyum.
Riki pun kembali melangkah, ia mengambil sesuatu dari dalam laci lalu membawanya menuju Sahira.
•
•
"Sialan si Riki!" umpat El merasa kesal.
"Sabar El! Sebentar lagi juga kita bisa tangkap tuh si Riki, terus kita bebasin Sahira dari dia!" ucap Alzi coba menenangkan Elargano.
"El, gue boleh pergi sekarang kan? Tugas gue kan udah selesai, gue udah bikin Riki mau ketemuan di taman Wirasakti." ucap Saka.
"Lu boleh pergi, tapi nanti siang lu temui gue lagi karena lu harus ikut ke taman itu!" ucap El.
"Loh, kenapa gue harus ikut? Kan yang ada urusan sama Riki itu kalian, bukan gue." ujar Saka.
"Udah lu gausah banyak cincong! Ikutin aja perintah El atau lu juga bakal kita masukin ke penjara!" bentak Roger.
"I-i-iya, oke oke gue nurut!" ucap Saka menyerah.
"Yaudah, lu pergi sana! Awas ya kalo lu gak datang nanti siang, kita bakal cari lu sampai dapat!" ucap Elargano.
"I-i-iya El..." Saka tampak gugup dan gemetar saat ia hendak bangun dari posisinya.
"Gue permisi dulu!" sambungnya berpamitan kepada El serta yang lainnya disana.
El pun memberi jalan untuk Saka lewat, namun Roger bertindak iseng dengan menginjak ujung sepatu Saka hingga pria itu hampir terjatuh lagi.
"Hahaha.." Roger tertawa cukup keras.
"Tobat lu bro, jangan kayak gitu!" ujar El.
"Ahaha, gapapa lah bro sekali sekali. Abisnya tuh anak ngeselin banget, pake segala kerjasama sama Riki!" ujar Roger.
"Udah lah, yang penting dia udah mau bantu kita. Tinggal kita siapin aja rencana selanjutnya buat tangkap di Riki, gue yakin dengan begitu masalah ini bakal kelar!" ucap El.
Lalu, Raisa tampak mendekati El dan berbicara dengan pria tersebut.
"Kak, kalo gue nanti siang ikut sama lu buat tangkep Riki, kira-kira boleh apa enggak?" tanya Raisa sedikit berbisik.
"Hah? Duh ngapain sih ayang bebeb Raisa? Kamu gausah ngada-ngada deh, biar ini jadi urusan aku sama El aja. Kamu mah duduk diam yang manis disini, jangan ikut-ikutan segala!" ujar Roger.
"Beb, Grey itu teman aku dan aku mau bantu dia buat selesaiin masalahnya. Aku gak bisa diam aja, apalagi sekarang Sahira juga diculik sama Riki." kata Raisa memaksa ikut.
"Ya tapi beb—"
"Eh udah udah! Biarin aja cewek lu ikut, kan bisa sambil lu jagain nanti. Lagian juga kita bakal bawa polisi sekalian buat tangkap Riki," potong El.
"Hah? Polisi? Serius lu El?" ujar Roger kaget.
"Iyalah, gue gak mau bertele-tele lagi. Pokoknya nanti siang kita harus bisa tangkap si Riki dan bebasin Sahira!" ucap Elargano.
"Gue setuju sama yang lu bilang kak!" ucap Raisa.
"Eee gue juga ikut ya?" ucap Farhan menghampiri El dan meminta izin untuk ikut dengannya.
El menatap Farhan dengan sinis, memutar bola matanya dan menghela nafas di hadapannya.
"No," jawab El singkat.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...