Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Dilecehkan guru


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 62.




Sahira dan Raisa yang hendak turun ke kantin, tak sengaja melihat Grey tengah menangis sesenggukan di pojok lorong kelas seorang diri. Mereka yang penasaran memilih menghampiri Grey untuk mencari tahu apa yang terjadi, tentu sebagai sahabat mereka juga ingin membuat Grey tenang dan menghiburnya.


Suasana di lorong itu cukup sepi pada waktu istirahat seperti ini, apalagi tempat ini terletak di paling pojok dan jarang sekali ada siswa yang datang kesana kecuali murid-murid nakal.


"Grey!" Sahira memanggil sohibnya itu dan berhenti tepat di sampingnya, ia menatapnya dengan heran begitu juga Raisa yang ada bersamanya.


"Grey, lu kenapa? Kok lu nangis disini?" tanya Raisa.


"Iya Grey, kalo lu ada masalah cerita aja sama kita! Jangan dipendam sendirian, itu malah bisa bikin lu sakit tau! Kita ini kan sahabat lu, udah sepatutnya kita juga bantu lu dalam menyelesaikan setiap masalah yang terjadi sama lu!" sahut Sahira.


Grey hanya terdiam, ia kembali memalingkan wajahnya tanpa menjawab apapun.


"Grey, please lah jangan diam aja begini! Gue tuh khawatir sama lu, Raisa juga sama! Kita gak tega ngeliat lu nangis kayak gini!" ujar Sahira.


"Iya Grey, itu benar!" ucap Raisa.


Lalu, Sahira pun duduk di samping Grey dan memegang pundak gadis itu. Sedangkan Raisa tetap berdiri di dekat mereka menatap juga dengan wajah sedihnya.


"Lu cerita sama kita, ada apa sebenarnya! Kalau emang kita bisa bantu, pasti bakal kita bantu kok! Ya seenggaknya lu cerita aja deh sama kita, supaya perasaan lu juga bisa lebih tenang! Dengan begitu, lu gak akan nangis lagi Grey!" bujuk Sahira.


"Makasih guys! Kalian emang benar-benar sahabat gue dan gue senang banget punya sahabat seperti kalian berdua!" ucap Grey terisak.


"Sama-sama. Itu tugasnya seorang sahabat, sekarang mending lu cerita sama kita!" ujar Sahira.


Sahira merangkul Grey membiarkan gadis itu menumpahkan air mata di pundaknya, perlahan ia juga mengusap punggung Grey agar sohibnya itu bisa lebih tenang dalam bercerita.


"Jadi gimana, apa yang terjadi sama lu?" tanya Sahira penasaran.


"Gu-gue..." Grey tampak gugup dan ragu.


"Udah lu gausah ragu, cerita aja sama kita! Gue sama Raisa pasti bakalan dengerin cerita lu kok, kita gak mau lu sedih terus begini!" ucap Sahira.


"Iya Grey, udah cerita aja gak perlu bingung!" sahut Raisa yang ada disana juga.


"Begini Sahira, Raisa, gue tuh lagi bingung banget harus gimana lagi sekarang. Beberapa hari lalu gue diajak tidur sama guru olahraga kita, dan gue terpaksa mau karena dia ancam bakal turunin nilai gue kalo gue gak mau ikut sama dia!" ucap Grey.


"Hah? Jadi maksudnya, lu udah tidur bareng sama pak Panca guru olahraga kita itu?" ujar Sahira terkejut bukan main mendengarnya.


Grey mengangguk disertai isakan tangisnya.


"Ya ampun! Terus terus, lu udah lapor belum ke kepala sekolah atau BK tentang ini? Perbuatan kayak gini tuh gak boleh didiemin Grey, ini pelecehan namanya!" ucap Sahira.


"Iya tuh, kita gak bisa diem aja kalo udah dilecehkan sama orang!" sahut Raisa.


"Tapi masalahnya guys, pak Panca udah rekam semua kejadian kita waktu itu. Dan dia ngancam bakal sebarin video itu ke sosial media sama orang tua gue, kan gawat guys kalo itu sampe terjadi! Bisa-bisa gue bakal ditendang dari rumah, gue gak mau itu terjadi guys!" ucap Grey.


"Apa? Ish bener-bener kurang ajar tuh pak Panca! Guru macam apa yang tega ngelakuin itu ke muridnya sendiri? Lu sabar ya Grey, gue sama Raisa pasti bakal bantu lu kok!" ucap Sahira emosi.


"Iya, lu gak perlu cemas Grey!" ucap Raisa.


Raisa ikut membungkuk dan memeluk Grey sama seperti Sahira, ya ketiganya berpelukan disana menenangkan Grey yang sedang bersedih itu.




Sementara itu, Elargano tengah berkumpul bersama teman-temannya di bawah. Mereka membahas mengenai El yang lebih banyak diam hari ini dibanding sebelumnya, karena tak biasanya memang Elargano seperti itu.


Roger dan Alzi pun coba mencari tahu apa penyebabnya, mereka terus menatap El tanpa henti hingga membuat El sadar dari lamunannya dan menatap ke arah dua pria itu.

__ADS_1


"Ngapain sih kalian ngeliatin gue begitu? Naksir lu pada sama gue?" tanya Elargano bingung.


"Hah? Idih gue gini-gini masih normal kali bro, gue cuma suka sama cewek! Ada-ada aja lu ah!" ujar Roger langsung membuang muka.


"Terus ngapain lu pada lihatin gue gitu?" tanya El.


"Kita cuma heran aja sama lu El, abisnya lu diem kayak gitu gak seperti biasanya. Lu ada masalah apa sih El? Cerita lah sama kita kita, siapa tahu kan kita bisa bantu lu!" ucap Alzi.


"Gue lagi bingung aja sama cewek gue, gimana ya caranya buat kasih tau dia kalau gelang yang dia pakai tuh gak bener? Soalnya menurut gue, sikap Keira jadi berubah sejak pakai gelang yang gak jelas itu! Dia jadi emosian, terus suka senyum sendiri ngeliatin gelangnya sampe gak mau dengerin kata-kata gue bro!" ucap Elargano.


"Hah? Maksud lu si Keira diguna-guna gitu sama orang lewat gelang?" tanya Alzi terkejut.


"Nah bisa jadi tuh! Soalnya sikap Keira tuh berubah drastis pas pakai gelang itu, ya tapi gue belum yakin seratus persen sih karena gue gak punya bukti buat nunjukin itu ke Keira. Cuma gue yakin banget ada yang gak beres dari tuh gelang!" ujar El.


"Kalo gitu lu harus lebih sabar El! Lu ikutin aja terus kemana si Keira pergi, supaya lu bisa dapat petunjuk siapa yang udah guna-guna si Keira! Kan biasanya kalo benda-benda kayak gitu pasti suka nyuruh korban buat deketin tuannya, jadi lu ikutin aja dah tuh si Keira!" ucap Alzi memberi usul.


"Iya tuh, gue setuju sama saran dari Alzi! Dengan begitu, pasti lebih mudah lu tahu siapa orang yang udah berani guna-guna Keira!" sahut Roger.


"Lu berdua bener! Gue bakal ikutin kemana Keira pergi pulang sekolah nanti, thanks banget ya atas usulnya! Emang terkadang lu berdua bisa diandalkan deh, baguslah!" ucap El tersenyum.


"Yeh kita mah selalu begitu kali!" ucap Alzi.


"Iyain deh, yaudah sekarang terserah kalian mau makan atau minum apapun bebas, gue yang traktir karena kalian udah kasih masukan yang bagus banget buat gue! Ayo ayo cepet pesen dah tuh sesuka hati kalian!" ucap Elargano.


"Wah mantap banget nih asyik! Ayo bro, kita pesen yang banyak biar kenyang!" ucap Roger.


"Gas lah, udah laper banget nih gue!" ujar Alzi.


Kedua pria itu langsung bergegas menuju kantin memesan makanan serta minuman, sedangkan El tetap disana merenung coba menebak-nebak siapa yang sudah melakukan itu pada gadisnya.


"Kira-kira siapa ya yang melet Keira? Beraninya dia berbuat begitu sama cewek gue! Lihat aja, bakal gue abisin tuh orang!" gumam El dalam hati.


Tak lama kemudian, Sahira datang menemui El seorang diri dan berhenti tepat di samping pria itu.


"Kak El!" gadis itu memanggil Elargano dengan lembut, membuat lelaki tersebut menoleh ke arahnya dan menatap tajam penuh keheranan.


"Gue mau bicara dong sama lu, sebentar aja! Boleh kan?" jawab Sahira.


"Yaudah duduk!" ucap Elargano.


"Gak disini, lu ikut gue ke belakang!" ucap Sahira.


"Haish, iya iya gue ikut sama lu! Ini karena tadi lu udah perduli sama gue, yuk buruan!" ucap El langsung berdiri dan menggandeng tangan Sahira membawa gadis itu pergi dari sana.


❤️


Singkat cerita, mereka sampai di belakang dan Elargano pun langsung meminta Sahira duduk untuk segera bercerita apa yang ingin dibicarain oleh gadis itu padanya, karena ia memang tak punya banyak waktu sebagai orang sibuk.


Sahira duduk berdampingan dengan El disana, ia mengambil nafas sejenak sebelum memulai ceritanya karena ia pun masih agak syok setelah mendengar cerita dari Grey tadi dan ia sama sekali tak menyangka kalau guru di sekolahnya bisa melakukan hal sekeji itu pada Grey.


"Gimana? Lu mau ngomong apa sama gue? Atau jangan-jangan lu cuma pura-pura aja? Padahal mah lu mau berduaan aja kan sama gue?" ujar El.


"Idih kepedean banget sih lu! Gue tuh serius pengen cerita sesuatu sama lu, dan ini penting banget! Gue harap lu bisa bantu gue, secara lu kan orang terpandang disini!" ucap Sahira.


"Oh ya emang betul! Semuanya juga tahu kalo soal itu!" ucap El menyombongkan diri.


"Yaudah, lu bisa dong bantu gue?" tanya Sahira.


"Ya bantu apa dulu kocak? Lu aja belum cerita ke gue masalahnya apa, gimana gue bisa bantu lu Maemunah!" ujar Elargano.


"Iya iya gue salah, yaudah gue cerita nih. Tapi, lu dengerin ya jangan bercanda!" ucap Sahira.


"Buat apa juga gue bercanda? Udah cepet cerita, gue gak punya banyak waktu nih buat ladenin lu disini!" ucap Elargano.


"Yaelah sok sibuk lu!" cibir Sahira.

__ADS_1


"Yeh serius, udah buruan cerita!" ujar Elargano.


Sahira terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya, barulah ia kembali menatap El dan sudah siap menceritakan semua yang dialami Grey itu kepada Elargano agar pria itu dapat membantu Grey mendapatkan keadilan disana.


"Gue mau kasih tau sesuatu ke lu, ini tentang sohib gue yang namanya Grey. Jadi dia baru mengalami pelecehan dari salah seorang guru disini, dan sekarang dia tuh trauma berat! Gue mau minta sama lu buat kasih perhitungan ke tuh guru, supaya Grey dapat keadilan!" ucap Sahira.


"Apa? Pelecehan? Serius lu bilang gitu? Disini belum pernah loh ada murid yang dilecehkan kayak gitu, lu jangan ngada-ngada deh Ra nanti jadinya malah fitnah!" ujar Elargano.


"Emang lu lihat muka gue ini lagi bercanda, ha? Gue serius! Gue kayak gini karena gue mau bela teman gue, sekaligus menuntut keadilan buat para siswi disini! Kalau kejadian kayak gini terus didiemin, bukan gak mungkin akan ada kejadian yang sama ke depannya dan gue gak mau itu!" ucap Sahira tegas.


"Iya iya, lu tenang dulu ya! Sekarang lu ceritain lagi ke gue siapa guru yang udah lecehin Grey dan kapan kejadian itu terjadi?" ucap Elargano.


"Pak Panca, ini semua perbuatan dia! Grey bilang, kejadiannya sekitar tiga hari yang lalu!" ujar Sahira.


"Terus, Grey dimana sekarang? Gue mau bicara langsung sama dia!" tanya Elargano.




"Begitu ceritanya, kak...." Grey baru selesai menceritakan semua yang ia alami saat mendapat pelecehan dari guru olahraganya sendiri hanya karena nilai.


Elargano tampak syok dan langsung menutupi mulutnya, ia tak menyangka ada guru yang bisa berbuat seperti itu. Tentunya ia sangat tidak menyukai hal itu, walaupun dirinya terkenal brengs*k dan suka mencari gara-gara.


"Lu gak perlu khawatir Grey! Gue bakal bicara sama Riki nanti dan minta papanya buat kasih hukuman yang setimpal ke pak Panca, ini udah kelewatan dan gak bisa ditolerir lagi! Gue juga gak suka ada kejadian kayak gini di sekolah ini, sekarang mending lu tenangin diri dulu biar gue yang urus semuanya!" ucap Elargano.


"Makasih ya kak! Tapi, gimana nanti kalau pak Panca marah dan sebar video itu ke sosial media?" tanya Grey cemas.


"Soal itu lu gak perlu khawatir! Gue bakal hapus video itu, jadi pak Panca gak akan bisa sebarin videonya ke sosmed! Lu percaya aja sama gue, pasti lu bakal aman!" ucap Elargano.


"Iya kak, aku percaya kok!" ucap Grey pelan.


"Makasih ya kak El! Lu baik banget mau bantu kita, gak salah tadi Sahira minta bantuan sama lu!" ucap Raisa menatap ke arah Elargano.


"Sama-sama, gue ini kan emang benci banget sama yang namanya pelecehan!" ucap Elargano.


"Bagus deh! Semoga aja tuh pak Panca kapok setelah dapat hukuman atas perbuatannya, gue bener-bener benci banget sama guru yang kayak gitu! Menyalahgunakan posisinya untuk melakukan perbuatan yang tidak senonoh!" ucap Sahira.


"Hahaha, tumben bijak banget lu!" cibir El.


"Ish, masih sempat-sempatnya ya lu ledekin gue kayak gitu! Mending sekarang lu langsung temuin Riki dan bicara soal ini, gue kasihan sama Grey tau!" ucap Sahira.


"Iya iya, lu tenang aja kenapa sih! Semuanya bakal beres kalo di tangan gue!" ucap Elargano.


"Ya makanya cepetan beresin sana! Gue gak tega lihat Grey terus-terusan nangis kayak gini, emang lu mau tanggung jawab ha?" ucap Sahira.


"Lah ngapa jadi gue yang harus tanggung jawab? Yang berbuat pak Panca, masa iya gue yang tanggung jawab? Udah gila nih anak kayaknya!" ujar Elargano geleng-geleng kepala.


"Ish, udah sana cepetan!" bentak Sahira.


Sahira memukul-mukul lengan El dengan tangannya meminta pria itu segera pergi menemui Riki dan membereskan semuanya.


"Iya Sahira, udah lu gausah kayak gini kali! Percuma juga lu mukul gue, gak kerasa apa-apa malah geli!" ucap Elargano terkekeh.


"Bodo!" Sahira cemberut dan beralih menatap Grey untuk menenangkan sohibnya itu.


"Yaudah, kalian semua tenang ya jangan panik atau sedih-sedih lagi! Disini kan ada babang El yang bakal bantu kalian, tapi ini semua gak gratis loh! Ada syaratnya terutama buat lu Sahira!" ucap El.


Sontak ketiga gadis itu terperangah menatap El, mereka tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Elargano barusan.


"Maksud kak El? Syarat apa?" tanya Sahira.


"Syaratnya...."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2