Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Kecemasan Keira


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 58.




Sahira yang masih berada di rumah sakit, tampak menangis tersedu-sedu memandangi sosok Jordan dari balik kaca, ia cukup sedih melihat abangnya dalam kondisi kritis dan masih belum sadarkan diri sampai saat ini.


Elargano pun menghampiri Sahira dan berdiri tepat di samping gadis itu, ia melirik ke arah wajah Sahira melihat air mata yang terus mengucur membasahi kedua pipinya, membuat El ingin sekali bergerak menghapus air mata disana.


Diluar dugaan, Elargano meraih satu tangan Sahira dan menggenggamnya erat, meletakkan tangan mulus gadis itu di atas dadanya.


Sahira terkejut lalu mengarahkan pandangan ke pria tersebut, ia tak mengerti apa yang dilakukan Elargano padanya karena tak biasanya juga El menggenggam tangannya.


"Lu ngapain sih?" tanya Sahira keheranan.


"Eh eee gu-gue gak ngapa-ngapain kok, gue cuma pengen lu berhenti nangisnya!" jawab El gugup.


"Sejak kapan lu mulai perduli sama gue?" Sahira menatap tak percaya ke arah mata Elargano.


"Yaelah sinis banget sih lu sama gue! Gini-gini gue juga punya hati nurani kali, gue gak bisa lihat cewek kayak lu nangis begitu! Makanya gue kesini buat hibur lu, udah ya jangan nangis lagi!" ucap Elargano tersenyum renyah.


"Gue gak bisa, El! Gue ini sayang banget sama abang gue, kalau dia lagi kritis kayak gini rasanya gue ikut sakit! Apalagi sejak kecil, dia yang selalu rawat dan besarkan gue!" ucap Sahira.


"Iya sih, tapi tetap aja lu gak boleh terus-terusan nangis kayak gini!" ucap Elargano.


"Yaudah, mau sampai kapan nih lu pegang tangan gue terus begini?" tanya Sahira.


"Eh sorry sorry!" ucap El reflek melepaskan tangan Sahira dari genggamannya.


"Gapapa," ucap Sahira singkat.


Kini gadis itu kembali menatap ke depan, melihat sosok abangnya yang masih pingsan dan belum bisa sadarkan diri itu.


"Bang, cepat sadar dong bang! Aku kangen dengar candaan abang, kangen bisa ketawa bareng sama abang! Ayolah bang, aku gak bisa terus lihat abang kayak gini!" ucap Sahira bersedih.


Elargano hanya diam memandangi wajah Sahira dari samping dengan perasaan tidak tega.


"Kasihan juga nih cewek! Gue harus ngapain ya supaya bisa hibur dia? Masalahnya dia susah banget dihibur, gue kan jadi bingung!" batin El.


Lalu, tak lama Ratna bersama Nur kembali sehabis mengurus administrasi Jordan. Ya kebetulan saat ini Ratna telah menjadi wanita yang kaya raya, berkat dirinya menikah dengan ayah dari Thoriq alias si pengusaha yang cukup terkenal di negaranya sana.


"Sahira!" ucap Ratna memanggil putrinya.


Sontak gadis itu menoleh ke asal suara, ia tersenyum menatap ibunya dan langsung memeluk kembali tubuh sang ibu dengan membenamkan wajahnya pada dada Ratna.


"Bu, bang Jordan belum sadar juga! Aku sedih banget Bu! Hiks hiks..." ucap Sahira terisak.


"Sabar ya sayang! Kita sama-sama doakan kesembuhan abang kamu, sudah ya kamu lebih baik makan siang dulu! Ini ibu udah belikan makanan buat kamu dan teman kamu itu, ajak dia sekalian makan sama kita disini ya siang!" ucap Ratna menenangkan putrinya.


"I-i-iya Bu," ucap Sahira mengangguk setuju.


Sahira pun mengangkat kepalanya, melepas pelukan dan menoleh ke arah Elargano. Wajah sedihnya itu berubah drastis saat ia menatap Elargano, seakan kesedihannya telah hilang.


"Heh! Lu ikut makan aja sama kita, nanti lu sakit maag lagi gara-gara telat makan!" ucap Sahira.


"Sayang, hey kamu gak boleh gitu dong bicaranya sama teman kamu! Agak lembut sedikit, kamu ini kan wanita dan gak seharusnya kamu bersikap begitu ke teman kamu! Maaf ya nak El, jangan diambil hati perkataan Sahira barusan!" ucap Ratna mengingatkan putrinya dan berbicara pada El.


"Oh tenang aja Bu! Udah biasa kok saya digituin sama Sahira, dia kan anaknya emang begitu Bu!" ucap Elargano tersenyum.


"Heh! Gausah adu domba deh lu!" ujar Sahira kesal.


"Sahira sayang, jangan begitu! Udah yuk udah, kita duduk dulu dan makan bareng-bareng! Ayo nak El, kamu juga ikut makan sama kita!" ucap Ratna menenangkan Sahira agar tidak emosi.


"Iya Bu," ucap Sahira dan Elargano bersamaan, mereka bahkan saling lirik karena kaget.


"Cie kompak banget nih pada!" goda Nur.


"Apaan sih kak?" ujar Sahira tak suka.


Nur pun cekikikan melihat kelakuan adik iparnya yang malu-malu kucing itu, sedangkan Ratna tampak senang karena ada yang bisa menghibur Sahira dan juga Nur dari kesedihan atas musibah yang menimpa Jordan.

__ADS_1




Waktu pulang sekolah tiba, Keira pun bersiap untuk kembali ke rumahnya dan menanti jemputan dari sang kekasih tercinta di depan gerbang sekolah, kebetulan ia juga sudah mengirim pesan pada El yang meminta pria tersebut untuk segera menjemputnya kali ini.


Keira bersama Alma masih berdiri di depan sekolah, ya Keira memang cemas jika Ibrahim datang lagi dan itu sebabnya ia meminta pada Alma untuk menemaninya walau tanpa Kartika yang sudah pulang lebih dulu.


"Kei, kenapa sih lu minta gue temenin? Emang lu takut gitu sama si Ibrahim?" tanya Alma heran.


"Bukan gitu, Ma. Gue cuma males aja ladenin si cowok aneh itu! Soalnya dia tuh ngeselin banget, susah dibilangin lagi!" jawab Keira.


"Ohh, tapi bukannya dia udah janji ya buat gak deketin lu lagi? Kan lu terima gelang pemberian dia tuh!" ucap Alma.


"Ya emang iya sih, gue mau jaga-jaga aja! Siapa tahu kan si Ibrahim tuh ingkar janji dan tiba-tiba deketin gue lagi, males banget tau!" ujar Keira.


"Yaudah, tenang aja ya! Gue bakal temenin lu kok sampe pacar lu datang!" ucap Alma.


"Thanks Ma!" ucap Keira tersenyum.


Benar saja apa yang dicemaskan oleh Keira, ya Ibrahim muncul dengan motornya, berhenti tepat di samping dua gadis itu. Ibrahim membuka kaca helmnya, lalu tersenyum menatap Keira serta Alma.


"Halo guys! Kalian berdua kok belum pulang sih? Lagi pada ngapain disini?" tegur Ibrahim.


Alma pun mendekat dan berbisik di telinga Keira.


"Benar kata lu, Kei! Si Ibrahim emang ingkar janji, tuh buktinya dia udah deketin lu lagi padahal kan lu masih pake gelangnya!" bisik Alma.


"Sssttt! Nanti kalo dia dengar bisa gawat!" ucap Keira meminta Alma diam.


Keira beralih menatap Ibrahim sambil tersenyum, ia menjawab pertanyaan dari pria itu dengan suka hati tak seperti biasanya yang selalu ketus dan bahkan tidak mau menatap mata pria itu.


"Iya nih, Him. Gue lagi nunggu cowok gue jemput, kebetulan Alma juga mau temenin gue disini!" jawab Keira sambil merangkul sohibnya.


"Nah iya tuh, betul!" sahut Alma.


"Oh gitu, kalian keren banget ya! Aku salut sama persahabatan kalian, karena jarang ada orang yang benar-benar mau jadi sahabat kita! Biasanya paling banyak tuh mereka ada dikala kita senang doang, tapi begitu kita sedih dan kesusahan mereka menghilang gitu aja!" ucap Ibrahim.


"Hah? Mana ada gue kayak gitu Kei? Ya ampun fitnah aja lu!" ujar Alma.


"Ahaha bercanda kok!" Keira tertawa lepas.


Ibrahim yang melihatnya ikut tersenyum senang, ia memandangi wajah Keira terus-menerus karena ini merupakan pemandangan yang langka baginya, jarang sekali ia bisa melihat Keira tertawa seperti itu ketika berdekatan dengannya.


"Kei, kamu manis sekali sayang! Sepertinya efek dari gelang itu mulai kelihatan, aku gak sabar buat milikin kamu Keira!" batin Ibrahim.


Alma menyadari kalau Ibrahim sedari tadi terus menatap sahabatnya, ia pun menegurnya.


"Heh! Lu ngapain ngeliatin Keira kayak gitu sambil senyum-senyum? Jangan macam-macam ya sama Keira, apalagi kalo lu sampe mengkhayal yang enggak-enggak tentang dia!" ujar Alma.


"Ma, lu kenapa sih sensi gitu? Gue yang dilihatin biasa aja kok, kenapa malah jadi lu yang sewot?" ucap Keira membela Ibrahim.


"Ya tapi Kei—"


"Eh udah udah, gausah dibahas! Sorry ya Him, Alma emang gitu orangnya!" potong Keira.


"Gapapa kok, nyantai aja!" ucap Ibrahim tersenyum.


Ya lagi-lagi Ibrahim merasa puas karena Keira membelanya kali ini, ia yakin betul bahwa itu adalah pengaruh dari gelang pemberiannya yang dikenakan oleh Keira.




Saat sedang menikmati makan siang bersama Sahira dan keluarganya, Elargano baru teringat akan janjinya untuk menjemput Keira pulang sekolah kali ini, ya pria itu akan berada dalam masalah besar jika kembali lupa menjemput Keira.


Akibatnya, Elargano pun menghentikan aktivitas makannya dan segera pamitan pada Sahira serta keluarganya yang ada disana. Walau ia agak sedikit ragu, namun mau tidak mau Elargano harus melakukan itu agar tak terjadi masalah pada hubungannya dengan Keira nanti.


"Eee maaf nih semua! Kayaknya saya gak bisa lama-lama disini deh, saya harus pamit sekarang!" ucap Elargano menatap mereka satu persatu.


"Loh, kamu memangnya mau kemana El? Kenapa gak dihabiskan dulu makanannya?" tanya Ratna.

__ADS_1


"Iya Bu, saya ada janji mau jemput pacar saya pulang sekolah. Sekali lagi maaf ya Bu, Sahira juga kak Nur! Tapi, mungkin nanti saya bakal balik lagi kesini buat jenguk bang Jordan!" jawab El.


"Oh begitu, yasudah gapapa kok. Terimakasih ya El sudah mengantar Sahira tadi kesini! Hati-hati kamu di jalan!" ucap Ratna.


"Iya Bu, sama-sama. Kalo gitu saya permisi dulu, Sahira gue pulang ya!" ucap El bangkit dari duduknya.


"Yaudah sana!" ucap Sahira ketus.


"Sahira, jangan begitu dong sama El!" ucap Ratna menegur putrinya.


"Iya mah," Sahira menunduk dan lanjut makan.


Lalu, Elargano pun pergi setelah berpamitan dan mencium tangan Ratna disana. Sedangkan Sahira masih memakan makanannya sampai habis tak perduli dengan pria tersebut.


"Yah sayang banget ya! Ibu kira El itu masih single, tapi ternyata dia udah punya pacar!" ucap Ratna.


"Emangnya kalau El single, ibu mau ngapain?" tanya Nur bingung.


"Ya pastinya bakal ibu jodohin sama Sahira dong, mereka kelihatan cocok kok! Sayang aja dia udah punya pacar, jadi gagal deh!" jawab Ratna.


"Hah? Uhuk uhuk..." Sahira terkejut dan terbatuk-batuk begitu mendengar jawaban ibunya.


"Kenapa sayang? Benar kan apa yang ibu bilang barusan? Kamu sama El itu cocok banget loh, ibu yang baru lihat sekali aja udah ngerasa kalian berdua itu serasi! Pasti kalau kalian jadi pasangan hidup, bakalan romantis banget sih!" ucap Ratna sambil tersenyum.


"Apaan sih Bu? Aku gak mungkin lah sama dia, orangnya nyebelin kayak gitu kok! Lagian pacarnya kak El itu sahabat aku dari kecil, Bu! Yakali aku tega nyakitin dia!" ujar Sahira.


"Oh gitu, sahabat kamu?" ujar Ratna kaget.


"Iya Bu, namanya Keira. Dia itu orang yang baik banget! Aku juga heran, kenapa dia bisa mau pacaran sama cowok kayak si El itu!" ujar Sahira.


"Hahaha, awas loh sayang benci benci nanti malah jadi cinta!" ledek Ratna sambil tertawa.


"Benar tuh Bu! Biasanya sih kebanyakan pada gitu, tinggal tunggu aja waktunya!" sahut Nur.


"Gak akan ya!" ucap Sahira.


Disaat ketiganya cukup asyik berbincang-bincang, Thoriq justru hanya diam saja menikmati makan siang miliknya tanpa merespon sedikitpun pembicaraan tersebut, sungguh anak nolep.




Singkat cerita, Elargano telah sampai di sekolah Keira dengan wajah tergesa-gesa. Ia pun turun dari mobil menemui Keira yang sedang duduk bersama Alma di dekat gerbang sekolah itu, tampak Keira cemberut mungkin karena Elargano telat dalam menjemputnya kali ini.


"Hai sayang! Maaf ya aku lama, kamu pasti udah nungguin daritadi ya!" ucap El agak gugup dan cemas melihat gadisnya cemberut begitu.


"Huft, kamu itu kemana aja sih El? Aku udah nunggu lama loh, sampe pegel nih kaki aku berdiri terus! Untung aja ada kursi kosong disini, jadi aku gak terlalu capek!" ucap Keira kesal.


"I-i-iya maaf! Asal kamu tahu aja Kei, tadi aku abis dari rumah sakit!" ucap Elargano.


"Hah? Rumah sakit? Ka-kamu sakit? Apa kenapa? Ada yang luka atau gimana sayang? Kok kamu gak ngabarin aku sih?" ujar Keira langsung berdiri dan memegang wajah serta tubuh Elargano merasa cemas mendengar ucapan pria itu.


"Enggak enggak, bukan aku yang sakit sayang! Kamu gausah cemas gitu, aku mah baik-baik aja nih sekarang!" ucap Elargano tersenyum.


"Loh, terus ngapain kamu ke rumah sakit? Siapa yang sakit emangnya, El?" tanya Keira.


"Abangnya Sahira kecelakaan, dia sekarang lagi kritis dan belum sadarkan diri! Aku tadi anterin Sahira dulu ke rumah sakit buat jengukin abangnya, makanya aku telat kesini!" jawab Elargano.


"Hah? Abangnya Sahira kecelakaan? Maksud kamu bang Jordan gitu? Dia kritis sayang?" tanya Keira langsung panik.


"Iya sayang, benar!" ucap Elargano.


"Duh, pasti sekarang Sahira lagi sedih banget deh gara-gara abangnya masuk rumah sakit! Kamu anterin aku ya kesana sayang, aku mau ketemu Sahira dan bantu hibur dia! Gimanapun juga, aku sama bang Jordan udah kayak abang-adik juga tahu sayang!" ucap Keira.


"Yaudah, tapi kamu pulang dulu ya terus makan! Baru abis itu kita jenguk bang Jordan di rumah sakit, mau kan?" ucap Elargano.


"Ah enggak gak setuju! Aku maunya langsung ke rumah sakit jenguk bang Jordan, makannya nanti aja gampang! Udah yuk, kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Keira panik.


Gadis itu melangkah tergesa-gesa dan masuk ke dalam mobil El begitu saja meninggalkan Alma yang masih terdiam di tempat.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2