
#SangPemilikHati Episode 95.
•
•
Setelah selesai menghadiri panggilan polisi sebagai saksi, kini El dan Keira sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang menuju rumah gadis itu.
Elargano tampak senang sekali karena semua masalah Grey telah berhasil dituntaskan, dan pak Panca juga sudah mendapat bayaran atas apa yang dia lakukan terhadap Grey.
Namun, berbeda dengan El justru Keira saat ini masih saja cemberut dan terus murung tak mau melihat wajah El di sampingnya. Sepertinya Keira belum bisa melupakan momen saat El menggandeng tangan Sahira tadi.
"Kenapa sih ya? Kok aku jadi cemburuan begini sama El? Padahal dia itu kan cuma gandengan sama Sahira, dan Sahira itu teman aku. Harusnya aku gak perlu lah kayak gini!" batin Keira.
Elargano yang menyadari perubahan sikap gadisnya pun tampak curiga, ia menoleh dan meraih satu tangan Keira untuk digenggam sembari bertanya padanya.
"Kei, kamu lagi kenapa sih? Kok tiba-tiba cemberut kayak gitu sejak di kantor polisi?" tanya El.
"Ah enggak kok. Aku gak lagi cemberut, orang aku cuma capek aja. Makanya kamu cepetan dong bawa mobilnya, aku ngantuk nih!" jawab Keira.
"Oh gitu, kebiasaan ya abis makan udah kenyang terus ngantuk?" ucap El tersenyum renyah.
"Iya benar, soalnya tadi aku kebanyakan makan baksonya. Kalau di rumah, kan enak bisa langsung rebahan. Tapi, ini tadi malah kita ke kantor polisi dulu." kata Keira sembari mengucek matanya.
"Maaf ya sayang! Aku kan harus bantu Grey buat jadi saksi di kepolisian, tapi syukurlah sekarang urusannya udah selesai. Oh ya, kamu kalau ngantuk tidur aja dulu di mobil! Nanti pas sampai di rumah, aku bangunin deh." usul Elargano.
"Gak mau ah! Aku kalau udah tidur pulas terus dibangunin tuh rasanya gak enak, mending aku tunda aja tidurnya." kata Keira menolak.
"Yaudah, biar gak ngantuk lagi kita ngobrol aja sambil dengerin musik ya?" ucap El tersenyum.
Keira mengangguk pelan dengan kepala yang sudah ia sandarkan pada kursi, ia menguap berpura-pura mengantuk di hadapan El agar pria itu bisa percaya padanya.
Sementara El menyetel musik yang sedang hits agar Keira tidak terus mengantuk, ia juga mengajak Keira berbincang-bincang untuk membuat Keira tetap terjaga.
"Gimana Kei? Masih ngantuk gak kamu?" tanya El.
"Lumayan enggak kok, lagunya enak aku suka." jawab Keira sambil tersenyum.
"Bagus deh! Nanti kamu puas-puasin deh tidur di rumah, tapi jangan sampai malam ya!" ujar El mengusap wajah mulus gadisnya.
"Kenapa? Tadi katanya suruh puas-puasin, tapi kok gak boleh sampai malam?" tanya Keira heran.
"Ya kalau sampai malam, kamu gak bisa tidur lagi nanti. Terus besok ke sekolah terlambat karena kamu begadang," jawab Elargano.
"Oh iya," ucap Keira singkat.
Elargano menghela nafasnya tanpa melepas genggaman tangannya pada Keira, pria itu sadar bahwa ada sesuatu yang tidak ingin disampaikan oleh Keira kepadanya.
"Keira kenapa ya? Dia kayak lagi bete gitu sama gue, tapi dia gak mau cerita." batin El.
***
Singkat cerita, mereka sampai di rumah Keira. El pun menoleh ke samping sambil tersenyum dan mengajak gadis itu untuk segera turun.
Akan tetapi, El cukup terkejut saat melihat Keira tengah memejamkan mata dan sepertinya tertidur pulas disana.
Tentu saja El kebingungan saat ini, ia tak sadar kapan pastinya Keira mulai tertidur di mobilnya, padahal sebelumnya mereka masih asyik mengobrol dan berbincang.
"Ya ampun! Cepet banget nih cewek tidurnya, apa karena dia udah ngantuk berat ya?" ujar El.
"Tapi, kalau dilihat-lihat Keira makin cantik aja pas lagi tidur kayak gini." sambungnya.
El pun menggerakkan tangannya, mengusap kening Keira dan menyingkirkan rambutnya agar ia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. El maju mendekat, kemudian mengecup kening Keira dengan lembut. Cukup lama ia menempelkan bibirnya di dahi mulus sang kekasih.
"Gimana ya ini? Kalo gue bangunin Keira, nanti dia ngambek lagi. Apa gue gendong aja ya terus gue bawa keluar?" gumamnya kebingungan.
"Duh, tapi nanti kalau om Lingga atau tante Zahra nyangka yang enggak-enggak gimana? Dikiranya gue lagi yang bikin Keira tidur kayak gini," ujar El masih belum menemukan ide.
Akhirnya Elargano tidak memiliki cara lain, ia pun turun lebih dulu dari mobilnya lalu berjalan mengitari mobil untuk menghampiri Keira.
Pria itu membuka sabuk pengaman di tubuh Keira, lalu menggendong gadisnya keluar dari sana.
"Huh berat juga cewek gue! Apa ini gara-gara gue udah jarang nge-gym ya?" gumamnya.
Elargano pun melangkah menuju depan pintu dengan menggendong tubuh Keira ala bridal style, entah mengapa ia merasa senang sekali melakukan itu karena wajah Keira bisa ia lihat dengan jelas dari posisi seperti ini.
__ADS_1
"Cantik banget kamu sayang!" ucapnya.
Tiba-tiba saja, bik Inah alias pelayan di rumah itu muncul dari dalam rumah dan tidak sengaja melihat El sedang menggendong Keira.
"Loh den, ini non Keira kenapa den?" tanya bik Inah cemas sekaligus penasaran.
"Gapapa kok bik, tadi Keira ketiduran di mobil. Makanya saya gendong kesini, soalnya gak enak juga kalau saya bangunin Keira yang lagi tidur pulas." jawab El menjelaskan.
"Oalah syukurlah! Saya kirain non Keira kenapa-napa tadi den," ucap bik Inah merasa lega.
"Enggak bik, Keira baik-baik aja kok." ucap El.
"Oh ya, ini saya bawa Keira kemana ya bik? Pegal juga lama-lama saya gendong terus begini," tanya Elargano pada bik Inah.
"Ayo masuk aja den! Di dalam ada nyonya kok," ucap bik Inah melebarkan pintu memberi ruang bagi El masuk ke dalam.
"Iya bik, makasih!" ucap El tersenyum.
Elargano pun membawa Keira masuk ke rumahnya, ia menemui Zahra yang kebetulan sedang berada di ruang tamu.
***
Elargano pun menghampiri Zahra yang tengah duduk di sofa sambil menikmati cemilannya, sedangkan bik Inah pamit ke dapur membiarkan El pergi menemui Zahra sendiri.
"Misi tante!" ucap El menyapa Zahra.
"Eh ada kamu El, itu Keira kenapa digendong begitu?" ucap Zahra cemas.
"Iya tante, Keira tadi ketiduran di mobil. Ini aku gendong dia karena aku gak tega banguninnya, tante." jawab Elargano.
"Oalah Keira ini... yasudah, tante boleh minta tolong kan sama kamu nak El?" tanya Zahra.
"Boleh kok tante, tante mau dimintain tolong apa ya?" ucap Elargano.
"Ini Keira kan tidur, tolong bawa dia ke kamarnya ya di atas! Soalnya papanya itu belum pulang, kalau tante yang harus gendong Keira gak kuat. Jadi, kamu aja sekalian ya bawa Keira ke kamarnya?" ucap Zahra sambil tersenyum renyah.
"Oh gitu, tenang aja tante! Kalo gitu saya bawa Keira ke kamar dulu ya? Eh tapi, gapapa nih tante kalau saya masuk kamar Keira?" ucap El ragu.
"Udah gapapa, tante percaya kok sama kamu. Asal kamu jangan lama-lama disana! Abis tidurin Keira di ranjang, kamu langsung turun lagi kesini!" ucap Zahra.
Tanpa banyak bicara lagi, El pun bergegas membawa tubuh Keira ke kamarnya. Ia menaiki tangga dengan perlahan dan berhati-hati sekali agar Keira tidak terbangun dari tidurnya.
Sesampainya di kamar Keira, pria itu langsung dengan cepat menaruh tubuh Keira di atas ranjang dan menutupinya dengan selimut. El menatap sejenak wajah Keira, duduk di sampingnya sembari mengusap puncak kepala gadisnya.
"Huh capek juga gendong kamu dari depan sampe kesini. Semoga aja dugaan aku salah, kamu gak lagi marah sama aku!" ucap Elargano.
Tak ingin terlalu lama disana karena takut khilaf, El pun bergegas pergi keluar dari kamar Keira.
Sebelumnya tak lupa El juga mematikan lampu kamar Keira dan menutup pintunya rapat-rapat.
Sesudah El pergi, Keira membuka satu matanya untuk memastikan apakah kondisi sudah aman atau belum. Ya rupanya gadis itu hanya berpura-pura tertidur.
"Maaf ya El! Aku cuma gak mau kamu banyak tanya, karena aku sendiri juga bingung kenapa aku jadi cemburuan begini!" ucap Keira.
•
•
Disisi lain, Sahira ikut bersama Thoriq ke apartemennya sesudah mereka selesai mengantar Grey pulang. Memang sebelumnya mereka juga menemani Grey berbicara dengan polisi sebagai saksi atas kasus pelecehan pak Panca.
Gadis itu sengaja meminta ikut dengan Thoriq, karena ia tahu ibunya juga berada di apartemen itu setelah Jordan tidak mengizinkan sang ibu untuk tinggal lebih lama di rumahnya.
"Bang, thanks ya udah bolehin gue ikut kesini! Gue pengen ketemu ibu soalnya," ucap Sahira.
"Iya sama-sama. Gue juga gak tega sama lu, karena lu kan anaknya ibu, tapi abang lu itu malah pisahin lu dari ibu." ujar Thoriq.
"Gue juga bingung bang, kok bang Jordan segitunya ya sama ibu? Padahal ibu kan udah minta maaf dan jelasin semuanya ke dia, tapi bang Jordan tetap aja gak mau maafin ibu apalagi terima ibu." kata Sahira.
"Yang sabar aja! Udah yuk, kita ke atas sekarang!" ucap Thoriq mencolek pipi Sahira.
Sahira mengangguk setuju, lalu mengikuti Thoriq berjalan ke dalam apartemen itu.
Teng nong teng nong...
Thoriq memencet bel begitu sampai di depan pintu apartemennya, sedangkan Sahira hanya berdiam diri di samping abangnya itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan Ratna muncul dari balik pintu dan tersenyum begitu melihat kedua anaknya ada disana.
Ceklek...
"Eh kalian berdua. Ya ampun ibu senang banget bisa lihat kamu lagi Sahira!" ucap Ratna.
"Sahira doang Bu? Aku enggak?" tanya Thoriq.
"Ya ibu kan udah sering lihat kamu, kalau Sahira ini kan ibu jarang banget ketemunya. Udah yuk sayang, kita masuk ke dalam! Ibu kebetulan udah masak tadi, jadi kita makan siang sama-sama yuk!" ucap Ratna mengajak anaknya masuk.
"Iya Bu, aku juga pengen makan masakan ibu." kata Sahira langsung maju dan memeluk ibunya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam, Ratna juga langsung membawa putrinya itu ke meja makan dimana sudah disediakan cukup banyak lauk makanan disana.
"Sayang, kamu boleh makan sepuasnya. Yuk dimakan!" ucap Ratna.
"Iya Bu, makasih!" ucap Sahira tersenyum.
"Eh ya, kamu kesini udah izin belum sama Jordan atau Nur?" tanya Ratna.
"Eee belum Bu," jawab Sahira menggeleng.
"Aduh sayang! Kenapa belum sih? Gimana nanti kalau Jordan nyariin kamu, ha? Cepat gih kamu kabarin abang kamu itu!" ujar Ratna.
"Tau tuh Bu, tadi aku juga udah bilang begitu. Tapi, dia tetap ngeyel gak mau telpon si Jordan." kata Thoriq.
"Aku cuma takut bang Jordan gak kasih izin aku buat kesini temuin ibu, kan ibu tau sendiri bang Jordan kayak gimana kalau menyangkut ibu. Aku ini kan kangen banget sama ibu! Aku mau ketemu ibu dan tidur bareng disini sama ibu, boleh kan?" ucap Sahira.
"Kamu mau tidur disini malam ini sayang?" tanya Ratna terkejut.
"Iya Bu, boleh enggak?" ucap Sahira.
"Ibu sih boleh-boleh aja sayang, tapi ini kan apartemen Thoriq, jadi kamu izin dulu sama dia! Selain itu, kamu juga harus bilang sama Jordan atau Nur. Supaya mereka gak cariin kamu," ucap Ratna.
"Iya deh Bu, nanti aku telpon kak Nur. Kalau soal bang Thoriq, gak perlu izin juga pasti dia bakal kasih izin kok. Ya kan bang?" ucap Sahira menoleh ke arah Thoriq.
"Hah? Kata siapa? Gue gak bolehin lu tidur disini, gak ada tempat tau!" ucap Thoriq.
"Ih gitu amat sih! Kamarnya kan ada dua, bisalah aku satu terus ibu satu." kata Sahira.
"Yeh terus gue tidur dimana Maimun?!" geram Thoriq.
"Ish nama gue Sahira bukan Maimun! Lagian lu kan bisa tidur di sofa bang, ya enggak?" ucap Sahira tersenyum.
"Kenapa gak lu aja yang tidur di sofa?" tanya Thoriq.
"Ih emangnya lu tega apa biarin gue tidur di sofa? Gue ini kan cewek tau bang, terus gue juga adek lu. Terus nih ya—"
"Ah udah udah bawel lu! Iya iya lu boleh tidur disini! Udah kan? Puas lu?" potong Thoriq.
"Hehe gitu dong bang... makasih!" ucap Sahira tersenyum renyah.
"Halah sok manis lu!" cibir Thoriq.
Mereka pun melanjutkan makan siangnya, Sahira merasa senang karena ia dibolehkan menginap disana bersama ibunya.
"Tapi, besok kan kamu sekolah sayang. Seragam sekolah kamu gimana dong kalau kamu nginep disini?" tanya Ratna bingung.
"Gapapa Bu, ini kan aku masih pakai seragam. Jadi, besok kalau aku mau sekolah ya pakai seragam yang ini lagi." jawab Sahira santai.
"Idih jorok banget sih lu! Baju lu ini kan udah dipake sekarang, kena keringat sama bau badan lu. Masa mau lu pakai lagi buat besok? Nanti satu sekolah pada kebauan loh!" ujar Thoriq.
"Dih, mana ada gue bau? Gue mah selalu wangi tau!" ucap Sahira.
"Tapi benar kata Thoriq, sayang. Kamu gak bisa pake seragam ini lagi. Udah, biar nanti Thoriq beliin kamu seragam yang baru buat dipake besok!" ucap Ratna.
"Lah kok jadi aku lagi, Bu?" ujar Thoriq.
"Gapapa dong Thoriq, kamu bantu adik kamu ini ya!" ucap Ratna tersenyum.
"Huft, iya deh Bu." kata Thoriq pasrah.
Sahira terkekeh kecil sembari menikmati makan siangnya, sedangkan Thoriq menatap sinis ke arah Sahira merasa sedikit kesal karenanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...