
#SangPemilikHati Episode 118.
•
•
Farhan turun dari mobilnya, lalu menghampiri Alzi serta yang lainnya di tempat persembunyian itu.
Sontak saja mereka terkejut dengan kehadiran Farhan disana, pasalnya mereka tahu kalau El tidak mengizinkan Farhan untuk ikut dengan mereka.
"Heh! Lu ngapain malah kesini? Si El kan udah bilang tadi, lu gak boleh ikut!" ujar Alzi.
"Tau, jangan jadi perusuh deh lu!" sahut Roger.
"Gue kesini mau bantu kalian cari Sahira, bukan buat merusuh. Lagian gue juga harus tanggung jawab, karena Sahira diculik itu kan gara-gara kelalaian gue." ucap Farhan.
"Nah itu lu sadar, seharusnya lu gausah datang kesini dong! Nanti malah bikin tambah masalah lagi," ucap Alzi ketus.
"Tunggu tunggu, maksudnya apa nih? Jadi, Sahira diculik itu gara-gara kamu?" tanya Jordan heran.
"Eee iya bang, gue minta maaf ya karena gue gagal buat jagain Sahira! Dia diculik waktu lagi sama gue, sekali lagi gue minta maaf sama lu, bang!" ucap Farhan merasa bersalah.
"Emang kurang ajar ya lu!" Jordan emosi dan hendak memukul Farhan, tetapi ditahan oleh Thoriq agar tidak terjadi keributan disana.
"Tahan Jor, tahan!" ucap Thoriq.
"Riq, jangan tahan gue! Gue harus kasih pelajaran ke dia, gara-gara dia sekarang Sahira diculik!" ucap Jordan emosi.
"Lu gak boleh begitu Jor, nanti kita bisa ketahuan sama si Riki!" ucap Thoriq.
"Tuh kan Han, situasinya jadi gak kondusif nih gara-gara lu datang! Emang lu itu biang masalah deh!" ucap Roger kesal.
"Sorry, gue gak ada maksud!" ucap Farhan pelan.
Jordan yang masih emosi itu terus ditenangkan oleh Thoriq, perlahan-lahan ia dapat mengontrol emosi di dalam dirinya dan mengingat misi mereka yang sedang ingin menangkap Riki.
"Ini polisi kemana sih? Kok lama banget belum datang juga?" ujar Alzi keheranan.
"Gak tahu, masih di jalan kali. Sabar aja bro!" ucap Roger menenangkan Alzi.
✨
Sementara itu, Riki masih terus mengancam Saka menggunakan pisau yang ia tempelkan pada pinggang pria tersebut.
Riki belum percaya seratus persen dengan Saka, ia yakin jika pria itu memiliki rencana untuk menjebaknya disana.
"Cepat lu ngaku sama gue, dimana si El dan teman-temannya itu?!" pinta Riki.
"Ngaku apa sih Rik? Gue daritadi udah bilang loh, gue gak bawa siap-siap kesini." kata Saka.
"Oke! Kalau emang begitu, terus ada urusan apa lu ajak gue ketemuan disini?" tanya Riki.
"Gue itu mau kasih tau informasi penting buat lu, dan gue yakin lu bakalan senang banget dengan info ini! Makanya gue ajakin lu ketemuan disini, eh lu malah nuduh gue yang enggak-enggak!" jawab Saka.
"Yaudah, cepat cerita ke gue apa informasi penting itu! Gue gak bisa lama-lama disini, gue harus jagain Sahira!" ucap Riki masih terus tegang.
"Iya, tapi ini pisaunya jauhin dulu dong! Gue ngeri tau kalau nanti pinggang gue ketusuk beneran sama nih pisau, bisa berdarah-darah gue bro!" pinta Saka.
"Gausah alihin pembicaraan! Biarin pisau ini ada disitu, supaya lu gak bisa macam-macam sama gue! Sekarang lu cerita aja ke gue, ada informasi penting apa?!" ujar Riki.
"I-i-iya deh.." ucap Saka menurut pasrah.
"Jadi, gue itu dapat kabar kalau El lagi minta bantuan sama temannya yang jago melacak. Dia kayaknya manfaatin video lu sama Sahira yang viral itu deh buat dilacak, mungkin aja si El udah temuin tempat itu sekarang." jelas Saka.
"Apa? Serius lu Sak? Kenapa lu gak bilang dari awal, bodoh?!" geram Riki.
"Sorry Rik! Gue takut ketahuan lagi sama El dan teman-temannya, soalnya tadi mereka sempat pergokin gue sewaktu gue lagi telpon lu." ucap Saka.
"Yang bener? Terus, lu gimana?" tanya Riki.
"Ya untung aja gue bisa ngeles dan kabur, tapi tetap gue masih cemas kalau bakal ketahuan lagi pas telpon lu di sekolah." jawab Saka.
"Sial! Kenapa gue bisa seceroboh ini? Harusnya gue gak bikin video itu di tempat Sahira berada! Gue benar-benar bodoh!" umpat Riki kesal.
"Itu dia Rik, harusnya lu pikir-pikir dulu sebelum bertindak! Sekarang gara-gara tindakan lu itu, malah jadi memudahkan El buat lacak keberadaan Sahira." ucap Saka.
"Gue kan gak ngira kalau El punya teman yang bisa melacak kayak gitu, jadi gue pikir aman-aman aja. Lagian niat gue bikin video itu kan biar El gak bisa lapor ke polisi, eh ternyata gue salah perkiraan!" ucap Riki tampak menyesal.
"Sekarang lu mending cepat balik deh ke tempat Sahira! Daripada lu keduluan sama si El, nanti lu bisa kehilangan Sahira dan lu juga bakal ditangkap sama polisi." kata Saka.
"Oke, gue pergi sekarang. Lu jangan hubungi gue dulu untuk sementara waktu, supaya gak ada yang curiga!" ucap Riki bangkit dari duduknya.
Saka mengangguk pelan, dirinya merasa lega setelah pisau di pinggangnya telah hilang.
Disaat Riki hendak pergi, tiba-tiba saja rombongan polisi muncul dan mengacungkan pistol ke arahnya.
"JANGAN BERGERAK!!" teriak polisi itu.
__ADS_1
Sontak Riki reflek mengangkat dua tangannya, begitu juga dengan Saka yang ketakutan.
✨
Alzi, Roger, Jordan, Thoriq serta Raisa dan Farhan yang masih bersembunyi di tempat yang agak jauh itu pun tampak tersenyum setelah melihat polisi muncul di depan sana.
Mereka semua pun kompak melangkah maju dan menghampiri Riki serta Saka disana sambil tersenyum puas, terlebih Jordan dan juga Thoriq yang sama-sama emosi.
"Hahaha, rasakan itu Riki! Makanya lain kali jangan pake sebar-sebar foto orang segala, terus culik anak orang lagi!" ujar Roger tertawa puas.
Riki menatap tajam ke arah mereka, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya sudah diborgol oleh para polisi tersebut.
"Mari ikut kami!" pinta polisi itu.
"Enggak pak, saya gak salah pak. Saya itu tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh mereka, saya orang baik loh pak!" ucap Riki.
"Baik gigi lu ijo! Udah deh, lu gausah manipulatif begitu! Ikut aja sana ke kantor polisi!" ujar Roger.
"Riki, katakan sama saya dimana Sahira!" ucap Jordan dengan tegas.
"Oh iya, tunggu dulu pak jangan dibawa dulu si Riki nya! Dia harus serahin dulu Sahira ke kita, Sahira itu orang yang diculik sama dia, pak!" ucap Alzi pada polisi disana.
"Baiklah, ayo cepat tunjukkan dimana kamu menyembunyikan Sahira?!" ujar si polisi pada Riki.
"I-i-iya pak.." ucap Riki gemetar.
"Awas lu ya, jangan bohongin kita! Kalau sampai lu bohong, gue jitak pala lu!" ujar Roger.
Akhirnya Riki dibawa ke dalam mobil polisi, bersama Saka juga karena diduga bekerjasama dengan Riki untuk menculik Sahira.
Sementara yang lainnya kini ikut pergi dengan kendaraan mereka masing-masing, mengikuti mobil polisi itu untuk membawa mereka pada Sahira.
"Sahira, lu harus selamat! Gue gak mau lu kenapa-napa, Sahira!" batin Jordan.
•
•
El dan Keira sudah tiba di lokasi yang diduga adalah tempat Riki menyimpan Sahira.
Kebetulan tempat El yang ahli melacak itu, sudah memberikan informasi terkait lokasi keberadaan dari video viral itu.
"Sayang, beneran ini tempatnya?" tanya Keira.
"Iya cantik, menurut teman aku sih emang disini. Aku masuk ke dalam dulu ya? Kamu disini aja, jangan kemana-mana! Apapun yang terjadi nanti, kamu tetap gak boleh keluar dari mobil!" pinta El.
Cupp!
El langsung mengecup bibir ranum Keira dan memotong ucapan gadis itu.
"Ikuti aja kata-kata aku, ini semua demi kebaikan kamu sayang!" tegas El.
"I-i-iya deh.." ucap Keira mengangguk pelan.
Lalu, El pun turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam bangunan bekas yang lumayan besar itu untuk segera menyelamatkan Sahira.
Sementara Keira menunggu di mobil sembari berharap-harap cemas untuk keselamatan sohibnya dan kekasihnya di dalam sana.
"Sahira, semoga kamu bisa diselamatkan ya!" gumam Keira dalam hati.
Elargano yang hendak melangkah lebih dalam guna mencari Sahira, dihadang oleh beberapa orang yang bertugas menjaga disana.
"Wah wah wah, ternyata lu bisa temuin tempat ini juga El. Salut gue sama kemampuan lu!" ucap Alta sembari bertepuk tangan.
"Hahaha, tapi sayang lu cuma bisa sampe disini aja bro. Kita gak akan biarin lu buat masuk lebih jauh lagi!" sahut Fakhri.
"Kalian berdua cepat kasih tahu gue, dimana Sahira?!" bentak El.
"Kita gak akan kasih tahu ke lu, dan lu gak bisa maksa kita buat lakuin itu!" ucap Alta.
"Kata siapa? Gue bakal paksa kalian, gue juga bakal habisin kalian berdua dan masukin kalian ke penjara!" ujar El.
"Hahaha, tidak semudah itu Elargano!" ucap Alta.
Elargano tampak mengambil ancang-ancang untuk menyerang kedua pria di depannya.
Namun, mata El terbelalak saat melihat empat orang pria bertubuh besar muncul dari dalam.
"Hahaha, gimana El? Masih berani?" ledek Fakhri.
"Kurang ajar! Kayaknya Riki emang udah siapin penjagaan super ketat disini, gue gak mungkin bisa kalahin mereka sendirian!" batin El.
"Udah deh, mending lu pergi sana yang jauh! Lu gak akan bisa bebasin Sahira dari sini!" ucap Alta.
"Ayolah El, lu pasti bisa!" batin El menyemangati dirinya sendiri.
"Hiyaaa..." El maju menyerang keempat pria besar di depannya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Perkelahian pun terjadi, mereka tampak saling pukul dan menyerang satu sama lain, walau tentu El cukup kewalahan menghadapi empat orang sekaligus.
✨
Keira yang masih menunggu di mobil, merasa cemas karena tak kunjung ada kabar dari El maupun teman pria tersebut.
"Duh, El kemana ya? Kira-kira dia berhasil apa enggak bebasin Sahira? Kok lama banget sih? Gue khawatir banget sama dia, gimana kalau dia terluka?!" cemas Keira.
Akhirnya Keira memutuskan untuk keluar dari mobil, ia sangat khawatir pada kondisi Elargano.
"Ah gue keluar aja deh!" ucapnya.
Setelah keluar dari mobilnya, Keira tampak bingung harus masuk ke dalam gedung tersebut atau tidak. Pasalnya, El sudah memperingati ia untuk tetap di mobil dan tidak boleh kemana-mana.
Keira memang cemas pada kondisi El, tapi disisi lain dirinya juga takut kalau El akan memarahinya jika ia tetap nekat masuk ke dalam gedung tak terawat itu.
"Haish, gue masuk apa enggak ya? Gue cemas banget sama El, tapi gue juga takut dia marah kalo gue maksa masuk!" gumamnya bingung.
Pukkk...
"Aaaaa jangan apa-apain aku!" Keira berteriak ketakutan saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, ia reflek menutupi wajahnya denhan kedua lengan.
"Hey hey, Keira tenang! Ini gue Jordan, abangnya Sahira." ucap pria itu.
"Hah? Bang Jordan??" Keira bernafas lega setelah memastikan bahwa yang ada di belakangnya adalah Jordan alias abang dari sohibnya.
"Iya Keira, ada Thoriq juga nih." jawab Jordan.
"Halo Keira!" ucap Thoriq menyapa Keira.
"Halo bang! Huh syukurlah ternyata kalian yang muncul, aku pikir tadi ada anak buah Riki! Aku udah takut banget bang!" ucap Keira.
"Kamu kesini sendirian? Apa sama siapa?" tanya Jordan terheran-heran.
"Ah enggak kok bang, aku tadi sama El. Tapi, dia sekarang udah masuk duluan ke dalam buat bebasin Sahira." jawab Keira.
"El sudah di dalam?" ujar Jordan agak terkejut.
"Iya bang, dia masuk tadi begitu kami sampai disini. Eee aku boleh minta tolong gak sama bang Jordan dan bang Thoriq? Ikut masuk ke dalam ya bang, aku cemas banget sama El soalnya daritadi dia belum ada kabar juga." jelas Keira.
"Waduh! Iya iya Keira, kita langsung masuk kok. Kamu disini aja ya, jangan ikut masuk! Serahin semuanya sama kita berdua! Oh ya, nanti ada juga rombongan polisi yang datang kesini bareng sama teman-teman El." pinta Jordan.
"Iya bang, aku tunggu disini kok. Tolong bantu El sama Sahira di dalam ya bang!" ucap Keira.
"Pasti Keira! Kamu gausah khawatir ya!" ucap Jordan menenangkan Keira.
Keira mengangguk pelan saat pipinya disentuh oleh Jordan, lalu kedua pria itu pun melangkah masuk ke dalam sana dengan tergesa-gesa agar bisa segera menyelamatkan Sahira.
✨
Bugghhh...
El terkena kombo tendangan dari dua orang pria yang ia hadapi saat ini. Akibatnya, El terhuyung ke belakang dengan sedikit sesak pada bagian dadanya akibat tendangan itu.
"Aaarrgghh sial! Kalau begini terus, gue bisa kalah! Dan gue gak mungkin bisa selamatin Sahira!" batin El mencoba menahan rasa sakitnya.
"Hahaha, sakit ya El? Makanya jangan sok jagoan deh! Mending lu cabut sana, kita masih baik hati nih kasih lu kesempatan buat pergi. Kalau enggak, lu bakal babak belur disini!" ucap Alta.
"Gue gak akan pergi tanpa Sahira, camkan itu!" ucap El tegas.
El kembali berdiri tegak, mengambil nafas dalam-dalam untuk menetralkan rasa sesak di dadanya dan bersiap untuk bertarung kembali.
"Hiyaaa..."
"Tunggu!" El menghentikan langkahnya saat terdengar suara teriakan dari arah samping.
"Bang Jordan? Bang Thoriq?" ucap El terkejut.
"El, lu gapapa?" tanya Jordan pada El sembari memegang pundak pria itu.
"Gue baik bang, thanks udah datang buat bantu gue!" jawab El merasa lega.
"Gak perlu terimakasih, udah jadi tugas kita buat selamatin Sahira. Kita ini kan abangnya," ucap Jordan.
"Iya El, mending sekarang lu cabut dan cari Sahira di dalam sana! Biar mereka kita berdua yang hadapi," ucap Thoriq.
"Tapi bang—"
"Gak ada tapi tapi, cepat lakukan!" potong Jordan.
"I-i-iya bang, kalian hati-hati ya!" ucap El.
"Lu gak perlu cemasin kita! Bebasin aja Sahira dan bawa dia keluar dari sini!" pinta Thoriq.
"Oke!" ucap El mengangguk setuju.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...