
#SangPemilikHati Episode 120.
•
•
Keira masih terus diam disaat El berusaha untuk menjelaskan semuanya.
El pun lambat laun merasa frustasi, ia bingung harus dengan cara apa lagi untuk dapat membuat Keira tersenyum kembali.
"Sayang, ayo dong kamu bicara sepatah atau dua patah kata gapapa deh! Yang penting aku bisa dengar suara imut kamu itu. Aku kangen loh sama suara kamu sayang, bicara sambil senyum dong buat pacar kamu ini!" ujar El.
Keira lagi-lagi hanya diam dan fokus menatap ke depan, membuat El semakin frustasi.
Ciiitttt...
El menginjak rem, membuat mobilnya berhenti sembarangan di tengah jalan yang sepi.
El menoleh ke arah Keira, menatapnya intens dan perlahan menggerakkan tangannya.
"Kamu mau bicara, atau aku cium kamu nih sampai kamu bisa buka mulut kamu itu." ancam El sembari mengusap puncak kepala gadisnya.
Keira amat terkejut, ia menatap El dengan wajah cemasnya disertai rahang bergetar.
El tersenyum, mencengkram rahang Keira dan mendekat ke arah wajah gadis itu.
"Kamu cantik banget sih Keira! Jangan ngambek terus ya cantikku, sayangku! Aku bawa kamu jalan-jalan deh hari ini sampai kamu puas, gimana?" ucap El mengelus wajah gadisnya.
Keira menggeleng tanda tak mau, namun El justru menguatkan cengkeramannya di rahang Keira.
"Awhh sakit!" ucap Keira spontan.
"Hahaha, itu dia. Akhirnya aku bisa deh dengar suara kamu yang imut dan gemesin, aku suka banget dengarnya sayang!" ucap El terkekeh.
El terus mencubit pipi Keira karena merasa gemas sembari juga mencium seluruh area wajahnya, mulai dari pipi, kening, dagu, hingga hidung gadis itu berkali-kali.
"Ish, udah lah jangan cium-cium terus! Kamu mau muka aku penuh sama air liur kamu?" ujar Keira.
"Gapapa sayang, bagus dong kalo wajah kamu basah karena air liur aku. Suruh siapa kamu bisa seimut ini? Aku kan jadi makin gemas sama kamu, apalagi pas kamu ngambek begini. Udah ya, makanya jangan ngambek terus!" ucap El.
"Aku gak ngambek kok, daritadi aku cuma cemas sama Sahira. Aku ngerasa bersalah aja karena udah tinggalin dia disana," ucap Keira.
"Oh begitu, mau balik lagi ke tempat itu? Kalau mau, aku putar balik nih." tanya El.
"Umm, aku pengen sih. Tapi, kamu jujur dulu sama aku sekarang!" ucap Keira.
"Hah? Jujur apa?" tanya El kebingungan.
"Kamu ada perasaan suka gitu gak sama Sahira?" ucap Keira bertanya dengan serius.
"Kamu ini bicara apa sih? Sahira itu aku anggap cuma sahabat, gak lebih." ucap El terkekeh.
"Masa sih? Kamu bohong kan?!" ucap Keira.
"Gak ada yang bohong Keira sayang, aku jujur kok. Lagian kamu kenapa bisa mikir kayak gitu? Sahira itu kan juga sahabat kamu dari kecil, masa kamu cemburu sama dia?" ucap El.
"Biarpun dia sahabat aku, gak menutup kemungkinan kan kalau kamu punya rasa sama dia, atau sebaliknya?" ucap Keira.
"Hus! Kamu bicara apa sih cantik? Udah deh, sekarang kamu maunya apa? Bilang aja ayo sama aku! Supaya aku bisa turutin semua kemauan kamu, dan kamu gak marah lagi sama aku!" ucap El tampak makin kesal.
"Kamu kok kayak emosi gitu sama aku? Kamu beneran udah beda ya El," ucap Keira.
"Loh loh kenapa jadi aku? Kan kamu yang duluan cemburu gak jelas gitu, udah dibilang kalau aku sama Sahira gak ada apa-apa dan kita cuma temenan. Eh kamu gak percaya!" ujar El.
"Mana bisa aku percaya? Kamu sama Sahira aja kelihatan dekat banget kok. Bahkan, kamu sekarang lebih sering punya waktu bareng Sahira dibanding sama aku, pacar kamu." kata Keira.
"Ya kamu harusnya ngerti lah sayang, aku kan lagi bantu Sahira kelarin masalahnya." ucap El.
"Terserah kamu aja lah El! Antar aku pulang sekarang, atau aku turun disini!" ujar Keira.
"Jangan pulang dulu dong sayang! Kita mampir ke cafe dulu ya? Kita harus bicarain semua ini sampe clear, aku gak mau ribut terus sama kamu!" ujar El.
"Aku capek, aku mau pulang!" tegas Keira.
"Tapi Kei..."
"El, aku mau pulang. Kalau kamu gak mau anterin aku pulang, yaudah aku turun disini." potong Keira.
"Eh iya iya, aku anterin deh!" ucap El panik.
Keira mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil setelah El menahannya.
Lalu, El pun melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang dan masih sesekali melirik ke arah gadisnya yang tengah cemburu buta itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Keira...??" batin El.
•
•
"Sahira, ya ampun sayang!" Ratna datang ke rumah sakit bersama Nawal, mereka langsung mendekati Sahira yang terbaring disana.
Jordan serta Thoriq pun tersenyum melihat kehadiran ibu mereka disana, biarpun tampaknya Ratna sedikit kecewa karena telah dibohongi oleh putranya sendiri.
"Sayang, kamu gak kenapa-napa kan nak? Ibu khawatir banget sama kamu!" ucap Ratna.
"Aku baik kok Bu, kan ada bang Jordan sama bang Thoriq yang jagain aku." jawab Sahira tersenyum.
"Syukurlah! Tapi, ini kenapa tubuh kamu penuh perban begini? Kamu luka sayang?" ucap Ratna.
"Eee ibu tenang aja ya! Luka aku gak banyak kok, dan ini juga udah membaik." ucap Sahira.
"Gak banyak gimana sayang? Hampir seluruh tubuh kamu diperban begini, kamu pasti kesakitan ya sayang?!" ucap Ratna cemas.
"Enggak Bu, aku udah gak sakit kok. Ibu gak perlu cemas begitu!" ucap Sahira.
Ratna tersenyum kemudian menangkup wajah Sahira dan mengusapnya lembut, Sahira sangat senang karena ibunya mau datang kesana untuk menengoknya.
"Makasih ya Bu, ibu udah datang buat jenguk aku! Aku senang banget ada ibu disini!" ucap Sahira.
"Iya sayang, pasti ibu bakal ada disisi kamu! Ibu kan sayang banget sama kamu! Ibu gak mau kamu terluka seperti ini lagi sayang!" ucap Ratna.
"Aku juga sayang sama ibu!" ucap Sahira.
Nawal yang turut hadir disana hanya memalingkan wajahnya dan merasa tak suka melihat kemesraan antara Sahira dengan ibunya itu.
Thoriq pun menghampiri adiknya, ia rangkul pundak Nawal sembari mencubit pipinya agar gadis itu tidak terus-terusan cemberut.
"Hey! Kamu kenapa cemberut gitu? Gak mau ikut peluk kakak kamu yang lagi sakit itu? Ingat loh Nawal sayang, Sahira kan kakak kamu juga!" ucap Thoriq berusaha menghibur Nawal.
"Bukan kak, dia bukan kakak aku. Lagian aku kesini cuma mau nemenin ibu," ucap Nawal ketus.
"Waduh jutek amat sih adik kakak yang satu ini! Jangan kayak gitu dong sayang, nanti cantiknya ilang loh!" goda Thoriq.
"Apaan sih kak?! Aku mau nunggu di luar aja ah, suasananya gak enak disini!" ucap Nawal.
Nawal melepas tangan Thoriq dari pundaknya, lalu berniat pergi keluar karena kesal.
Namun, Thoriq menahannya agar tetap disana dan tak membolehkan Nawal pergi.
"Aku gak mau, kak. Jangan maksa dong!" ujar Nawal menolak ajakan Thoriq.
"Biarin, kakak gak perduli!" ujar Thoriq.
"Ish, lepasin aku kak!" ucap Nawal terus berontak dari pegangan Thoriq.
Thoriq terus menarik tangan Nawal, membawa gadis itu mendekat ke arah Sahira serta Ratna yang tengah berpelukan disana.
"Ibu, Sahira, ini Nawal katanya mau ikut pelukan juga. Dia khawatir banget tuh sama kondisi Sahira, sampai-sampai mau nangis!" ucap Thoriq.
"Hah? Mana ad—awhh!" ucapan Nawal terpotong saat Thoriq meremass lengannya cukup kuat.
"Oh ya? Yaudah sayang, sini ikut pelukan yuk sama kita! Kak Sahira pasti juga senang sekali dapat perhatian dari adiknya, iya kan Sahira?" ucap Ratna meraih tangan Nawal dan dibawa ke dekatnya.
"Iya Bu, senang banget!" jawab Sahira.
Nawal pasrah saja saat ibunya meminta ia mendekat dan berpelukan disana dengan Sahira, tapi tentunya raut wajah ia masih tak berubah.
Thoriq terkekeh kecil melihatnya, Jordan yang ada disana pun mendekat ke arah Thoriq dan berbisik di telinganya agar tidak terdengar yang lain.
"Riq, kenapa lu harus paksa Nawal kayak gitu?" tanya Jordan bingung.
"Gue gak mau ada masalah di keluarga kita bro, gue pengennya kita semua akur. Makanya gue harus deketin Nawal sama Sahira, supaya mereka bisa cepat akrab." jawab Thoriq.
"Iya sih, lu benar Riq!" ucap Jordan mengangguk.
Thoriq tersenyum tipis, ia puas karena berhasil membuat Nawal mau berpelukan dengan Sahira walau terpaksa.
"Gue yakin lu pasti bisa akur sama Sahira, Nawal!" batin Thoriq.
•
•
Riki dibawa keluar dari selnya oleh para polisi, ia dipertemukan dengan Grey serta kedua orangtuanya yang sudah menunggu disana.
Tampak raut wajah penuh kemurkaan terpampang di muka ketiga orang itu, terlebih Grey karena ia tahu bahwa Riki lah yang melakukan semuanya.
__ADS_1
"Hahaha, jadi kalian yang datang? Mau pada ngapain sih, ha?" ucap Riki.
"Duduk!" perintah Agus pada Riki.
Riki tersenyum smirk, kemudian duduk secara perlahan di hadapan ketiga orang itu.
"Lu benar-benar kurang ajar ya, Rik! Lu udah bikin gue dipermalukan satu sekolah!" Grey langsung emosi dan menarik kaos milik Riki itu sembari berusaha memukulnya.
"Eh eh Grey, tahan Grey jangan begini sayang! Kamu harus bisa tahan diri, ini kantor polisi!" pinta Fadia berusaha menahan putrinya.
"Iya Grey, jangan kayak gini!" sahut Agus.
"Pah, mah, aku gak bisa tahan lagi! Aku harus kasih dia pelajaran! Dia itu benar-benar udah bikin aku malu!" bentak Grey.
"Hahaha, lu mau pukul gue? Ayo pukul aja Grey, pukul nih! Lu bisa lampiaskan amarah lu ke gue sekarang, ayo cepat pukul! Gue gak akan ngelawan kok," ucap Riki menantang.
"Oke. Rasain ini Riki biadab! Manusia gak tahu diri!" Grey makin emosi dan terus memukuli Riki.
Namun, polisi serta kedua orangtuanya berhasil menahan Grey untuk tidak melakukan itu.
"Cukup Grey!" pinta Agus.
"Dimohon untuk tenang ya, mbak! Ini kantor polisi, dan jangan bikin keributan di tempat ini atau mbak kami persilahkan keluar!" ucap polisi.
"Iya pak, maafkan putri kami ya! Dia terpancing emosi dengan orang ini, maklumlah pak dia kan sedang depresi." ucap Agus.
"Baik, kami maklumi untuk kejadian tadi. Tapi, mohon jangan diulangi ya!" ucap polisi itu.
"Iya pak, saya akan jaga putri saya!" ucap Agus.
Akhirnya polisi itu kembali mundur dan membiarkan mereka berbicara dengan Riki disana setelah situasi kembali kondusif.
"Grey, kamu tenang ya! Jangan terbawa emosi!" ucap Fadia sembari memeluk putrinya.
"Iya mah, aku kesel aja karena dia udah bikin semua orang di sekolah jadi benci sama aku. Padahal aku ngerasa gak ada salah sama dia, tapi aku bingung kenapa dia lakuin itu semua ke aku!" ucap Grey.
"Gak ada salah? Lu yakin Grey gak punya salah sama gue? Coba lu ingat-ingat lagi deh sewaktu kita smp dulu, masa semudah itu lu lupain semuanya?" ucap Riki.
"Maksud lu apa?" tanya Grey heran.
"Gak perlu lah gue jelasin, gue yakin lu juga tahu kok. Apa yang gue lakuin sekarang ke lu ini gak seberapa sama yang pernah lu lakuin dulu ke gue. Jadi, jangan sok paling tersakiti deh! Dasar cewek munafik!" ucap Riki.
"Hey, jaga bicara kamu ya Riki! Jangan pernah kamu cela anak saya seperti itu!" bentak Agus.
"Kenapa om? Anak om ini emang begitu kok, dia gak cukup sama satu cowok aja. Dia suka jual dirinya ke setiap laki-laki, kalo gak percaya tanya aja sama dia!" ujar Riki.
"Kurang ajar!" kini giliran Agus yang tersulut emosi, ia beranjak dari kursi dan langsung memukul wajah Riki tanpa ampun.
Bugghhh...
•
•
El tiba di rumah Keira, mereka masih diam-diam saja tanpa ada yang mau memulai bicara.
"Sayang, aku temenin kamu sampai ke dalam rumah ya?" ucap El menyentuh tangan Keira.
"Gausah!" ucap Keira ketus dan langsung menarik tangannya menjauh dari El.
Keira pun hendak membuka pintu mobil itu, tetapi ditahan oleh El yang tak ingin membiarkan Keira pergi begitu saja tanpa dirinya.
"Eits, kamu gak bisa kemana-mana sayang! Kamu disini dulu sama aku sebentar!" ucap El.
"Mau apa lagi sih El? Emang belum puas kamu udah anterin aku sampe sini?" tanya Keira kesal.
"Aku pengen kamu benar-benar maafin aku, jangan kayak sekarang ini! Aku tahu kamu masih marah kan karena tadi aku peluk Sahira? Ayolah Keira, aku gak kuat lihat kamu cemberut terus!" ujar El.
"Siapa yang marah sih? Aku daritadi juga baik-baik aja kok, kamu tuh yang terlalu overthinking." ucap Keira mengelak.
"Hah? Masa sih?" tanya El tidak percaya.
"Iyalah, buat apa coba aku marah? Mau kamu peluk Sahira atau siapapun itu, aku gak perduli El. Udah ya, aku mau turun sekarang!" jawab Keira tersenyum.
El sedikit lega melihat senyuman di wajah Keira, namun tetap saja ia belum puas dengan itu.
"Tunggu dong sayang! Kamu coba buktiin ke aku kalau kamu emang gak marah! Soalnya dari raut kamu tuh kelihatan tahu," pinta El.
"Buktiin kayak gimana? Kamu mau aku ngapain sekarang, ha?" tanya Keira bingung.
"Cium aku," jawab El tersenyum penuh harap.
"Hah??" Keira terkejut dan agak malas meladeni permintaan El barusan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...