Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Hadiah pengganti


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 55.


β€’


β€’


"Aaarrgghh sial!!"


Jordan mengumpat penuh kekesalan sembari memukul setir mobilnya, ia masih mengingat betul saat ibunya datang ke rumah dan memeluk Sahira, adik yang paling ia sayangi itu.


Jordan sama sekali tak rela jika ibunya datang begitu saja dan menemui Sahira, karena yang ia inginkan adalah selalu bersama Sahira dan hanya ia yang boleh merawat gadis itu, karena memang sejak kecil ialah yang melakukan itu untuk Sahira.


Pria itu terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, jalanan yang kosong dibarengi dengan rasa emosi membuatnya ingin sekali ngebut.


"Gue gak bisa diem aja! Ibu itu bukan ibu gue atau Sahira lagi, dia cuma wanita tua yang pengen enaknya aja! Bisa-bisanya dia masih berani datang ke rumah gue, padahal sudah bertahun-tahun dia pergi tinggalin gue dan Sahira! Apa pantas wanita seperti itu disebut seorang ibu?" geramnya.


Jordan semakin menambah kecepatan mobilnya, kini ia melaju dengan kecepatan sekitar 100 kilometer perjam di jalanan yang lumayan sepi dan jarang terdapat kendaraan yang lewat.


"Gue yang udah rawat dan besarkan Sahira, bukan dia! Jadi, orang yang pantas buat disayangi oleh Sahira itu cuma gue, gak ada yang lain termasuk wanita tua itu! Bahkan mengingat mukanya aja udah bikin gue eneg, bisa-bisanya Sahira malah peluk dia begitu tadi! Gue harus bawa Sahira pergi dari sana secepatnya, karena gue gak mau wanita tua itu datengin Sahira terus!" ujarnya kesal.


Drrttt...


Drrttt...


Tak lama kemudian, ponselnya yang berada di dashboard berdering menandakan ada telpon masuk. Ia melirik ke layar ponsel, terpampang nama Nur disana sehingga membuat Jordan terpaksa mengangkat telepon tersebut.


πŸ“ž"Halo!" ucap Jordan dengan nada ketus.


πŸ“ž"Halo mas! Kamu kok jutek gitu sih sama aku? Kamu masih kesal sama ibu kamu, karena ibu kamu datang kesini?" ujar Nur.


πŸ“ž"Itu kamu tau, kenapa nanya?!" ujar Jordan.


πŸ“ž"Duh mas, kamu itu gak boleh gitu! Biar gimanapun juga, Bu Ratna itu ibu kandung kamu mas! Ibu yang udah lahirin kamu, ibu yang udah mengandung kamu selama sembilan bulan! Kamu gak pantas bicara begitu sama dia tadi, apalagi sampai benci sama dia!" ucap Nur.


πŸ“ž"Kamu gausah nasihati aku! Sekarang yang aku butuh bukan nasihat, tapi bagaimana caranya buat usir tuh wanita tua dari rumah aku! Dia pasti masih ada disana kan?" ujar Jordan.


πŸ“ž"Eee enggak kok, Bu Ratna lagi antar Sahira ke sekolahnya. Karena tadi kan kamu main pergi gitu aja, jadi Sahira gak ada yang antar deh!" ucap Nur.


πŸ“ž"Apa? Sialan! Emang udah kelewatan tuh wanita tua, beraninya dia bawa pergi Sahira gitu aja! Benar-benar gak bisa ditolerir lagi, bikin kesel aja jadi orang!" geram Jordan.


πŸ“ž"Mas, gak baik begitu!" tegas Nur.


πŸ“ž"Udah deh sayang, cukup!" ujar Jordan.


πŸ“ž"Mas tapiβ€”"


πŸ“ž"Kalau kamu masih belain tuh wanita tua, mending kamu..."


Ucapan Jordan terhenti, lantaran ia melihat sebuah mobil berhenti secara mendadak di depannya, sehingga membuat ia kaget dan reflek membanting setir ke kanan untuk menghindari tabrakan.


Tapi naas, dari arah berlawanan justru terdapat truk bensin yang melaju kencang sehingga tabrakan antara mobilnya dengan truk bensin tersebut tak dapat dihindarkan.


"Aaaaa..." teriak Jordan penuh ketakutan.


Braakkk...


Mobilnya terpental, terguling-guling di atas jalan aspal sampai berhenti dengan posisi terbalik, sedangkan truk tersebut berhasil berhenti.


πŸ“ž"Halo mas! Mas, kamu kenapa mas? Mas Jordan!"


Suara Nur masih terdengar dari ponsel Jordan, namun pria itu sudah tak sadarkan diri dengan kondisi mengenaskan akibat kecelakaan yang menimpanya.


"Eh eh ada yang kecelakaan tuh!"


"Yuk tolongin tolongin!"


Orang ramai berbondong-bondong menghampiri mobil milik Jordan yang terbalik itu, mereka hendak menolong Jordan menyelamatkan pria itu dari dalam mobil tersebut, namun sulit karena pintu mobil yang terkunci.


β€’

__ADS_1


β€’


Sementara itu, Sahira sampai di sekolahnya bersama ibu dan juga saudara tirinya. Mereka turun dari mobil mengantar Sahira sebelum gadis itu masuk ke dalam sekolahnya.


Sahira memang berbeda dengan Jordan, ia masih mau menerima sang ibu karena memang selama ini ia selalu merindukan sosok ibu dan ingin dapat memeluk serta mendapat kasih sayang dari seorang ibu yang belum pernah ia rasakan.


"Ini sekolah kamu sayang?" tanya Ratna.


"Iya Bu, aku sekolah disini lewat beasiswa yang aku dapat! Kalau enggak gitu, mungkin aku gak bisa sekolah disini!" jawab Sahira.


"Wah sayang, kamu hebat sekali! Ibu bangga sama kamu Sahira!" ucap Ratna memuji putrinya.


"Ah biasa aja kok Bu, itu berkat bang Jordan juga yang mau susah payah ajarin aku! Oh ya, sekali lagi aku minta maaf ya sama ibu perihal kelakuan bang Jordan tadi ke ibu, mungkin bang Jordan begitu karena masih gak percaya ibu bisa pulang! Ibu jangan benci ya sama bang Jordan!" ucap Sahira.


"Kamu ini baik sekali sayang! Kamu tenang aja ya, gak mungkin ibu bisa benci sama putra ibu sendiri!" ucap Ratna mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut.


"Ibu juga baik!" ucap Sahira tersenyum.


"Yaudah sayang, kamu masuk gih belajar yang rajin ya! Nanti siang kalau kamu mau, ibu bisa jemput kamu lagi disini!" ucap Ratna.


"Boleh Bu, aku mau! Tapi, sebelum masuk sekarang aku pengen dong peluk ibu lagi sambil cium gitu! Kan aku masih kangen banget sama ibu, aku rindu sama ibu!" ucap Sahira merengek.


"Hahaha iya sayang, sini ibu peluk dan cium kamu nak!" ucap Ratna.


Keduanya berpelukan disana, inilah yang memang diinginkan Sahira sejak dulu yakni dapat merasakan pelukan hangat penuh kasih sayang dari seorang ibu, suatu hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Terimakasih ya Tuhan, engkau telah mengabulkan doa ku yang lainnya! Setelah kau pertemukan aku dengan Keira, kini engkau pun membawa ibu kembali ke pelukan aku!" batin Sahira.


Setelah puas berpelukan, Sahira pun kembali pamitan pada ibunya untuk masuk sekolah.


"Yaudah ya Bu, aku sekolah dulu!" ucap Sahira.


"Iya sayang, semangat belajarnya! Ibu selalu doakan yang terbaik buat kamu, jangan pernah menyerah ya nak!" ucap Ratna tersenyum.


"Pasti Bu! Aku pasti akan lebih bersemangat, apalagi ibu sekarang udah ada lagi buat dukung aku disini! Tapi, ibu gak akan pergi lagi kan dari hidup aku?" ucap Sahira cemas.


"Tenang ya sayang! Ibu bakalan tinggal disini kok, kebetulan ibu udah sewa apartemen di dekat rumah abang kamu, supaya kita bisa terus ketemu! Mungkin suatu saat nanti... ibu, kamu dan juga bang Jordan bisa tinggal bareng-bareng lagi!" jawab Ratna mengusap air mata di wajah putrinya.


"Aamiin sayang!" ucap Ratna.


Sahira pun mencium tangan ibunya, lalu berpamitan juga pada saudara tirinya yang kini berdiri di samping sang ibu.


"Bu, Thoriq, aku pamit sekolah ya?" ucap Sahira.


"Iya Sahira..." ucap Ratna dan Thoriq bersamaan.


Gadis itu pun melambaikan tangan ke arah mereka, lalu berjalan pergi memasuki sekolahnya meninggalkan ibu serta saudara tirinya yang masih berdiri di depan sana.


β€’


β€’


Saat Sahira sampai di lobi, ia terkejut lantaran tiba-tiba seseorang menarik lengannya dari belakang. Sahira menoleh ke belakang dan melihat sosok Elargano berdiri di dekatnya, ya pria itulah yang menarik lengannya barusan.


Sahira yang terheran-heran itu coba bertanya pada Elargano apa maksudnya mencegat ia seperti itu saat hendak memasuki area sekolah, apalagi pria itu tampak menatapnya dengan tajam dan serius hingga membuat ia makin penasaran.


"Lu mau apa sih? Gak capek apa gangguin gue terus setiap hari, ha?" tanya Sahira kesal.


"Sabar Sahira! Gue gak bermaksud ganggu lu kok, gue ini cuma mau tanya sesuatu sama lu! Jangan marah-marah gitu dong!" ucap El tersenyum.


"Haish, tanya apa?" ujar Sahira ketus.


"Eee itu tadi yang nganterin lu ke sekolah siapa? Setelan mereka kok keren banget? Ya sorry nih ya bukannya gue ngerendahin lu atau apa, tapi mereka gak kayak keluarga lu!" tanya Elargano.


"Apaan sih? Kepo banget lu jadi orang! Gausah mau tau urusan orang deh, lagian siapa mereka itu juga bukan urusan buat lu!" bentak Sahira.


Sahira kembali hendak pergi dari sana, namun lagi dan lagi Elargano menahan tangannya membuat Sahira tak bisa kemana-mana dan pasrah saja terus berada disana bersama Elargano.


"Lu tuh kenapa lagi sih? Udah gue bilang itu bukan urusan lu!" ujar Sahira geram.

__ADS_1


"Iya iya, sabar napa jangan galak-galak gitu! Gue ini kan pacarnya sahabat lu, harusnya lu hormat dong sama gue bukannya malah begitu!" ujar Elargano.


"Hah? Ogah banget!" ujar Sahira.


"Yeh sombong lu ya sekarang mentang-mentang diantar ke sekolah sama orang kaya, tapi gue bingung kenapa lu bisa berangkat ke sekolah bareng mereka? Terus kok kayaknya lu akrab banget sama tuh ibu-ibu, sampe pelukan segala lagi. Dia siapa lu sih? Jawab dong!" ucap Elargano.


"Heh! Ternyata orang terkaya di sekolah ini, masih suka kepo juga ya? Gue bingung deh sama lu, perasaan baru kemarin lu bilang maaf ke gue dan janji gak mau ganggu gue lagi, lah terus kenapa sekarang lu begini lagi?" ujar Sahira heran.


"Gue perasaan gak usilin atau ganggu lu lagi deh! Gue kan cuma tanya sama lu, karena ya gue penasaran aja mereka siapa! Soalnya setahu gue, lu itu kan diantar jemput sama abang lu! Tapi, tadi yang gue lihat itu orang lain makanya gue penasaran Sahira!" ucap Elargano.


"Itu ibu gue sama sodara tiri gue, kenapa? Lu mau ledekin gue lagi, iya?" ujar Sahira ketus.


"Hah? Seriusan itu ibu lu?" tanya El terkejut.


Sahira mengangguk dengan membuang muka, ia sungguh malas meladeni Elargano saat ini dan ingin segera pergi dari sana, tapi tak berhasil.


"Waw kok bisa sih? Jadi, selama ini ternyata lu punya ibu dan saudara tiri yang kaya raya? Terus, kenapa lu harus sekolah disini pake beasiswa? Menurut gue, ibu lu pasti sanggup kok biayain sekolah lu disini!" ucap Elargano.


"Udah deh cukup, gausah kepo! Gue mau ke kelas sekarang, lepasin tangan gue!" ucap Sahira.


"Sebentar dulu dong, jawab pertanyaan gue yang itu dulu sekali please! Abis itu baru deh gue lepasin tangan lu, janji!" bujuk Elargano.


"Lepasin tangan gue atau gue teriak nih!" ancam Sahira bersungguh-sungguh.


"Sahira, gue cumaβ€”"


"Tolong! Pak, tolong pak ada yang mau lecehin saya pak disini!" potong Sahira langsung berteriak ke arah satpam di depan sana.


Sontak Elargano pun melepas tangan Sahira dan menjauh dari gadis itu.


"Heh! Mulut lu kurang ajar banget ya! Siapa yang mau lecehin lu setan?" bentak Elargano.


"Bodo amat! Suruh siapa ngeyel banget, udah ah gue mau ke kelas jangan ganggu gue lagi!" ucap Sahira dengan santainya.


"Sialan lu!" umpat Elargano kesal.


Sahira tak perduli pada itu, ia terus melangkah menuju kelasnya karena sebentar lagi bel akan berbunyi.


β€’


β€’


Disisi lain, Keira sudah ditunggu oleh Ibrahim di depan tangga menuju kelasnya. Ya pria itu mencegat Keira dan tak membiarkan Keira pergi begitu saja darinya, tampak raut kesal di wajah Ibrahim karena gadis itu telah mengerjainya.


Sementara Keira sendiri merasa heran saat Ibrahim mencegahnya disana, ia tak mengerti mengapa pria itu tampak marah padanya, karena ia rasa tak pernah berbuat salah atau apapun kepada Ibrahim selama ini, justru pria itu yang selalu mengganggu dirinya walau sudah seringkali ia usir.


"Lu mau apa lagi sih cegat gue? Bukannya kemarin lu udah janji gak akan deketin gue lagi?" tanya Keira dengan nada ketus dan melipat dua tangannya di depan sambil mendengus kesal.


"Ya emang aku udah janji, tapi itu kan kalau kamu mau terima boneka yang aku kasih kemarin! Nyatanya kamu malah kasih boneka itu ke teman kamu kan? Jadi, aku masih berhak buat deketin kamu lagi sekarang Keira!" ucap Ibrahim tegas.


"Lu tahu darimana kalau gue kasih boneka itu ke teman gue?" tanya Keira bingung.


"Ya jelas aku tahu lah! Sekarang kamu mending kasih alasan ke aku, kenapa kamu kasih boneka pemberian aku itu ke orang lain!" bentak Ibrahim.


"Simpel aja, gue gak suka boneka itu!" ucap Keira.


Ibrahim terdiam menggaruk dagunya, ia memang selalu sulit untuk bisa marah pada Keira sang gadis yang dicintai olehnya, walau saat ini perasaannya sangat kecewa setelah Keira memberikan boneka darinya kepada Alma.


"Yaudah, gue mau ke kelas sekarang! Lu minggir, jangan halangin jalan gue!" ujar Keira kesal.


"Gak mau! Kamu gak boleh pergi kemana-mana, sebelum kamu janji sama aku kalau kamu mau terima hadiah lain dari aku! Baru setelah itu, kamu boleh ke kelas!" ucap Ibrahim.


"Apaan sih? Hadiah apa lagi?" tanya Keira.


Ibrahim tersenyum lebar, kemudian mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah gelang cantik berukuran sedang digenggam olehnya, lalu ia tunjukkan pada Keira sebagai hadiah untuk gadis itu yang ia berikan secara langsung.


"Ini dia, gelang spesial buat kamu! Kalau kamu mau terima dan janji sama aku buat pakai ini terus di lengan kamu, aku juga janji gak akan pernah deketin kamu lagi!" ucap Ibrahim tersenyum.


Keira terdiam sejenak berpikir apakah ia harus menerima pemberian Ibrahim itu atau tidak.

__ADS_1


...~Bersambung~...


^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^


__ADS_2