
#SangPemilikHati Episode 88.
•
•
Sahira masih bersama Farhan di depan cafe, mereka menikmati minuman yang baru saja dipesan oleh Farhan.
Farhan pun nampak senang karena ia bisa dekat dengan Sahira saat ini, walaupun ia tahu jika Sahira hanya terpaksa melakukan itu dan tidak memiliki rasa yang sama padanya.
"Sahira, aku boleh tanya suatu hal gak sama kamu?" Farhan menoleh ke arah Sahira dan meminta izin untuk bertanya padanya.
"Tanya apa?" Sahira terlihat penasaran.
"Kamu beneran gak suka sama El?" tanya Farhan dengan nada pelan sembari menatap Sahira.
"Lu itu apaan sih? Dari kemarin yang ditanyain itu terus, emang gak ada pertanyaan lain apa? Gue kan udah berulang kali bilang, gue sama El itu gak ada rasa apapun. Masih kurang jelas ya jawaban gue, ha?" jawab Sahira kesal.
"I-i-iya iya, maafin aku ya Sahira! Aku cuma mau mastiin aja ke kamu, barangkali kamu bohong atau gak mau jawab jujur ke aku. Karena yang aku lihat, kamu itu setiap kali berdua sama El tuh kayak ada yang beda gitu. Entah perasaan aku aja apa gimana, tapi kamu kelihatan seperti orang yang lagi jatuh cinta," ucap Farhan.
"Gausah sok tahu deh! Gue tuh gak punya rasa sama El, lagian dia kan pacarnya sohib gue, yakali gue suka sama dia. Ngada-ngada aja lu!" ujar Sahira membuang muka.
"Ya bagus deh, berarti masih ada kesempatan dong buat aku hadir di hati kamu?" ucap Farhan tersenyum penuh harap.
"Eee ya kalo gitu gue gak tahu," ucap Sahira gugup.
"Tenang aja! Aku masih kasih kamu waktu untuk jawab pertanyaan aku, kalau kamu udah nemu jawabannya langsung bilang ya ke aku! Kamu gak perlu takut, aku ini bukan tipe laki-laki pemaksa perempuan!" ucap Farhan.
"Iya kak, yaudah kita cabut sekarang aja yuk! Gue pengen balik nih!" pinta Sahira.
"Gak dihabisin dulu minumnya?" tanya Farhan.
"Gue udah kembung, lagian kan bisa minum sambil jalan. Kecuali kalau lu, gak boleh minum sambil nyetir nanti malah nabrak lagi!" ucap Sahira.
"Oh iya ya, yaudah kita jalan sekarang ya? Aku anterin kamu pulang ke rumah, sekalian aku mau ketemu sama orang tua kamu dan abang kamu itu," ucap Farhan tersenyum.
"Hah? Mau ngapain?" tanya Sahira terkejut.
"Aku mau kenalan aja, sekalian silahturahmi. Kan pasti nanti begitu sampai di rumah kamu, aku bakal ketemu tuh sama keluarga kamu. Jadi, yakali aku gak temuin mereka?" jawab Farhan santai.
"Terserah lu aja deh! Udah cepetan jalanin mobil lu!" ucap Sahira.
Farhan mengangguk sembari mengulum senyum, lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan cafe tersebut.
Saat di tengah perjalanan, Sahira cukup terkejut ketika mendapat telpon masuk dari Grey.
Drrttt...
Drrttt...
"Eh eh, ini Grey telpon gue. Akhirnya setelah sekian lama!" ujar Sahira gembira.
"Yaudah, kamu angkat aja dulu telponnya! Siapa tahu Grey mau kasih kabar ke kamu dia ada dimana sekarang," ucap Farhan.
"Iya," Sahira mengangguk cepat lalu mengangkat telpon tersebut.
📞"Halo Grey! Grey, lu dimana sih sekarang? Kenapa tadi lu pergi gitu aja dari cafe gak nungguin gue dulu? Terus pelayan cafe juga bilang, katanya lu pergi sama cowok. Siapa cowok itu Grey? Lu gak kenapa-napa kan?" ucap Sahira panik.
📞"Halo Sahira!" gadis itu amat terkejut ketika mendengar suara yang muncul bukanlah suara milik Grey, bahkan itu adalah suara berat selayaknya pria dewasa.
"Kenapa Sahira?" Farhan penasaran plus bingung ketika melihat ekspresi Sahira yang terkejut itu.
Sahira menggeleng dan kembali berbicara di telpon pada laki-laki tersebut.
📞"Heh! Lu siapa ha? Dimana teman gue Grey? Apa yang udah lu lakuin sama dia? Jangan pernah berani-berani lu sentuh dia ya, atau lu bakal berhadapan sama gue!" ancam Sahira.
📞"Hahaha, saya tidak takut dengan ancaman kamu Sahira! Justru sebaliknya, saya minta kamu hentikan penyelidikan kamu itu dan lupakan semua masalah yang menimpa Grey! Jangan pernah cari gara-gara dengan saya!" ucap pria itu.
📞"Pak Panca? Jadi, lu yang udah bawa Grey? Cepat lepasin Grey sekarang, jangan macam-macam sama dia!" ujar Sahira emosi.
📞"Tenang aja! Saya akan lepaskan Grey, tapi setelah kamu berjanji dengan saya untuk lupakan semua itu! Kalau tidak, maka Grey akan selamanya dengan saya! Camkan itu!" ucap pria itu.
📞"Heh! Pak—"
Tuuutttt...
Belum sempat Sahira menyelesaikan ucapannya, pak Panca sudah lebih dulu mematikan telpon itu dan membuat Sahira kesal.
"Ish, kurang ajar tuh guru sialan!" umpatnya kesal sembari memukul-mukul pahanya sendiri.
"Hey, kamu kenapa sih?" tanya Farhan heran melihat tingkah Sahira yang seperti itu.
__ADS_1
"Barusan pak Panca ternyata yang telpon gue, dia bilang kalau sekarang Grey ada sama dia. Terus dia juga ancam gue, katanya gue diminta buat gak selidiki lagi masalah pelecehan itu. Kalau gue gak nurut, dia bakal apa-apain Grey. Gue harus gimana ya kak?" Sahira menjelaskan semuanya pada Farhan dan menanyakan solusinya.
"Eee aku belum kepikiran ide nih sekarang, mungkin nanti kali ya sembari jalan. Kamu sabar dulu aja, jangan emosi begitu!" ucap Farhan berusaha menenangkan gadis itu.
"Gimana gue gak emosi coba? Pak Panca itu ngeselin banget! Dia udah berbuat semena-mena ke Grey, terus sekarang dia juga gak mau tanggung jawab! Lihat aja, gue pasti bakal kirim dia ke penjara!" ujar Sahira.
Melihat Sahira begitu emosi, Farhan pun memilih diam membiarkan gadis itu meluapkan emosinya.
•
•
Disisi lain, ponsel milik pak Panca sudah berhasil dibuka oleh Ibrahim. Tentu saja El serta Keira merasa senang karena mereka akan mendapat bukti video pelecehan terhadap Grey yang melibatkan pak Panca itu, dan El juga tidak lagi curiga jika Ibrahim hanya membohonginya.
"Nah, ini hp nya udah bisa dibuka. Silahkan aja kalau kalian mau cek isi di dalamnya! Barangkali ada saldo dana atau ovo yang bisa diambil, ya kan?" sarkas Ibrahim.
"Apaan sih? Garing lu!" El sangat ketus dan langsung mengambil ponsel itu begitu saja dari tangan Ibrahim.
"El, gak boleh gitu!" bisik Keira.
"Iya iya... thanks ya! Kalo gitu gue sama Keira pergi dulu, sekali lagi makasih!" ucap El.
"Sama-sama," ucap Ibrahim tersenyum singkat.
"Yaudah, yuk sayang kita pulang!" ucap El menatap dan langsung mencengkeram lengan gadisnya.
"Itu gak dicek dulu isi hp nya?" tanya Keira.
"Udah, nanti aja di mobil!" jawab El.
"Iya iya.." Keira menurut lalu mengikuti El pergi dari rumah itu setelah pamitan dengan Ibrahim, walau ia merasa tidak enak pada Ibrahim karena sikap El yang begitu menyebalkan.
Sementara Ibrahim tetap disana, tersenyum memandangi punggung Keira yang perlahan menghilang.
"Aku senang bisa bantu kamu Keira!" ucapnya.
"Ehem ehem.." Leani tiba-tiba muncul mendekati adiknya yang sedang tersenyum itu.
Ibrahim pun terkejut dan spontan bergerak menjauh dengan gelagat anehnya, membuat Leani terkekeh dan justru sengaja menggoda Ibrahim karena ia tahu adiknya itu menyukai Keira.
"Cie cie.. seneng banget kayaknya lihatin si Keira terus sampe senyum-senyum gitu! Ingat loh, dia udah punya pacar! Jangan sampe lu ribut sama cowoknya cuma gara-gara Keira! Mending lu cari yang lain aja!" ujar Leani.
"Apa sih mbak? Aku cuma sekedar suka kok, gak mungkin juga Aku nekat begitu. Udah lah mbak, aku mau ke kamar lagi!" ucap Ibrahim.
Ibrahim tak memperdulikan kakaknya lagi, ia pergi begitu saja masuk ke kamar untuk menuntaskan hasratnya yang tertunda, ya sejak tadi ia memang menahan itu saat ada Keira di dekatnya.
❤️
El dan Keira kini sudah berada di mobil, mereka hendak mengecek isi handphone milik pak Panca yang sudah berhasil dibuka.
"Kita cek videonya dulu ya?" ucap Elargano.
"Iya El," ucap Keira singkat.
Elargano justru memandangi gadisnya sambil tersenyum dan memajukan wajahnya mendekat ke arah Keira, ia mencubit kedua pipi Keira karena gemas dan membuat gadis itu keheranan.
"El, kamu kenapa sih? Katanya mau buka tuh hp, kok malah ngeliatin aku aja kayak gitu sambil pegang pipi aku?" tanya Keira bingung.
"Ahaha, aku terpesona sama kecantikan kamu sayang! Udah gitu kamu juga gemesin banget, aku jadi gak bisa fokus lihat hp deh!" ujar El tertawa.
"Haish, kamu mah gombal terus! Udah buruan itu dicek hp nya keburu malam ih!" ucap Keira.
"Iya iya cantik... kamu kenapa sih gemesin banget?" El justru kembali mencubit pipi Keira sambil tersenyum manis.
Keira pun menatapnya dengan jengkel dan wajah cemberut, Elargano terkekeh geli lalu mengalihkan perhatian ke layar ponsel untuk menghindari amarah gadisnya.
Setelah mengeceknya, Elargano menemukan sebuah video yang terkunci dan ia sangat yakin bahwa itu adalah video yang sedang ia cari saat ini, hanya saja ia tidak bisa membukanya karena vide tersebut sengaja dikunci oleh pak Panca.
"Nah nah, ketemu nih videonya!" ucap El sembari menoleh ke arah gadisnya.
"Loh, kamu kenapa masih cemberut gitu sih?" Elargano heran melihat Keira yang belum juga merubah ekspresinya.
"Abisnya kamu ngeselin!" ujar Keira.
"Hahaha... iya iya aku minta maaf ya! Ini sekarang ada yang lebih penting tau, aku udah dapatin videonya. Tapi, sayang banget video ini dikunci sama pak Panca!" ucap Elargano.
"Ya gampang, kan tinggal kamu buka kuncinya di pengaturan. Gitu aja kok repot!" cibir Keira.
"Oh iya ya.. kamu jangan ngambek gitu lah sayang! Aku kan udah minta maaf sama kamu, aku janji deh gak cubit pipi kamu lagi!" ucap Elargano mengangkat dua jarinya.
"Yaudah, sekarang cek tuh videonya bener apa enggak isinya pak Panca yang lagi lecehin Grey!" ucap Keira.
__ADS_1
"Iya. Eh tapi, kalau misal beneran gimana? Aku berdosa dong lihat video ini!" ujar El bingung.
"Gapapa lah kamu ini yang dosa bukan aku!" ucap Keira dengan santainya.
"Yeh masa gitu? Kita langsung serahin ke kantor polisi aja kali ya? Biar yang dosa polisinya, bukan kita!" ujar El nyengir.
"Terserah kamu! Tapi saran aku sih, mending kamu cek dulu isinya! Nanti pas udah dikasih ke polisi ternyata isinya bukan video begituan gimana? Yang ada kamu bakal malu sendiri!" ucap Keira.
"Iya juga sih," El pun bingung saat ini.
Akhirnya mau tidak mau, El mengecek isi video tersebut untuk memastikannya benar atau tidak.
"Gimana? Isinya benar gak?" tanya Keira.
"Beneran nih, mau nobar?"
•
•
Sahira sampai di rumah bersama Farhan yang mengantarnya, ia turun dari mobil lalu menghampiri Thoriq yang sedang duduk di teras sembari menikmati wedang jahe.
Farhan pun menyusul turun mengikuti Sahira berjalan dari belakang dengan perlahan, jujur ia merasa gugup karena ini kali pertama ia akan bertemu dengan pihak keluarga Sahira.
"Assalamualaikum bang," ucap Sahira memberi salam pada abangnya itu.
"Waalaikumsallam. Eh kamu Sahira? Kok pulangnya sore-sore banget begini sih? Abis darimana emang kamu?" ucap Thoriq.
Sahira mencium tangan abangnya lalu menjelaskan apa yang baru ia lakukan tadi.
"Ini bang, gue tadi abis ada urusan di luar. Lagian emang masalah ya kalo gue pulang sore begini?" ucap Sahira.
"Ah enggak kok," ucap Thoriq singkat.
"Eh ya, ini kok lu bisa ada disini? Emang bang Jordan udah mau terima lu?" tanya Sahira.
"Belum sih, cuma gue disuruh stay disini sama ibu. Tapi, paling nanti malam gue balik ke penginapan. Emang kenapa sih kalo gue disini? Lu gak suka?" ucap Thoriq.
"Bukan gitu, kan gue cuma nanya." kata Sahira.
Lalu, Thoriq baru sadar jika ada seorang lelaki di dekat Sahira yang tersenyum ke arahnya.
"Eh dia siapa?" tanya Thoriq menatap ke arah Farhan.
"Eee ini temen gue, bang. Namanya Thoriq. Dia yang antar gue pulang," jawab Sahira.
"Halo bang!" Farhan menyapa Thoriq dan berjabat tangan dengan abang dari Sahira itu.
"Ya halo!" ucap Thoriq singkat.
"Sahira, kamu jago juga ya!" bisik Thoriq di telinga Sahira.
"Hah? Jago apa?" Sahira kaget mendengarnya.
"Itu buktinya lu kesini sama cowok yang beda, berarti kan lu jago memikat hati para cowok!" ucap Thoriq tersenyum tipis.
"Apaan sih ih! Udah ah, gue mau masuk ke dalam. Gue udah gak tahan nih gerah!" ujar Sahira.
"Lah lah, terus temen lu ini gimana? Gak diajak masuk juga bareng sama lu?" tanya Thoriq.
Sahira pun mengurungkan niatnya dan beralih menatap Farhan lebih dulu.
"Kak, lu masih mau disini?" tanya Sahira.
"Eee enggak deh, aku langsung pamit ya? Assalamualaikum," jawab Farhan pamitan pada Sahira serta Thoriq.
"Iya iya, waalaikumsallam.." ucap Thoriq dan Sahira serentak.
Setelahnya, Farhan pun berbalik dan pergi dari sana dengan mobilnya. Walau sebenarnya Farhan masih ingin disana bersama Sahira, namun ia tidak enak karena Sahira tampak letih.
Sementara Sahira sendiri juga hendak masuk ke rumahnya, akan tetapi dicekal oleh Thoriq yang menahannya.
"Tunggu!" pinta Thoriq.
"Ish, kenapa lagi sih bang? Lu mau godain gue lagi karena gue pulang bareng sama cowok lain, iya? Lu gak puas-puas apa bang? Gue tuh gak ada apa-apa sama dia, dan satu lagi gue juga—" Thoriq langsung menempelkan jarinya di bibir Sahira membuat gadis itu berhenti mengucap.
"Kamu ini cerewet banget sih! Kalo ngomong udah kayak mercon gak ada ujungnya. Gue tuh mau bilang sama lu, nanti malam ikut gue dinner di luar ya!" ucap Thoriq.
"Hah??" Sahira terkejut dan menganga lebar.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...