Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Bantu aja dia


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 108.




Sahira dan Raisa menyusul Grey ke dalam toilet wanita di lantai dasar sekolah mereka.


Terlihat disana juga ada dua orang murid wanita yang sedang membasuh wajah mereka.


"Hey! Kalian lihat Grey masuk kesini gak? Dia kemana ya?" tanya Sahira pada mereka.


"Lihat kok. Tuh tadi si Grey masuk kesana!" jawab salah satu dari mereka sembari menunjuk ke arah pintu toilet tempat Grey berada.


"Oke, makasih ya!" ucap Sahira tersenyum.


"Sama-sama," balas murid itu.


Dua orang murid wanita tadi pun keluar dari toilet tersebut, sedangkan Sahira dan Raisa perlahan mencoba untuk membujuk Grey agar mau keluar dari dalam sana.


TOK TOK TOK...


"Grey, lu keluar dong jangan sembunyi disana terus! Kita tahu lu pasti sedih banget setelah lihat kalau foto-foto lu disebar di grup wa sekolah sama orang yang gak dikenal, tapi tolong jangan begini Grey!" ucap Sahira.


"Iya Grey, minimal lu matiin dulu air kerannya supaya gak mubazir! Kasihan juga pihak sekolah kalau nanti kena tagihan air mahal!" ucap Raisa.


Sahira spontan menoleh ke arah Raisa dan menjitak kepala gadis itu.


"Awhh sakit tau!" rintih Raisa memegangi kepalanya.


"Ish, lu dongo banget sih! Ngapain malah bahas begituan disaat kayak gini? Grey itu lagi sedih, dia butuh dihibur!" ujar Sahira.


"Ya barusan gue kan maksudnya mau hibur Grey tahu, kan siapa tahu dia ketawa sama jokes receh gue." kata Raisa membela diri.


"Hiburan apanya? Yang ada Grey makin deras tuh nangisnya di dalam!" ujar Sahira.


"Yaudah, coba lu ketuk sekali lagi! Siapa tahu Grey mau nurut dan keluar. Atau kalau dia masih gak mau buka pintunya, nanti kita minta bantuan satpam aja buat bukain." usul Raisa.


"Lu kepintaran apa gimana sih, Rai? Ngapain pake minta bantuan satpam segala? Orang ini tinggal ditarik kenop nya juga kebuka," ucap Sahira sembari mencoba membuka pintu.


Dan Sahira pun terkejut karena pintu itu terbuka.


"Hah? Kok kebuka sih?" ujar Sahira kaget.


"Waw amazing!" puji Raisa.


Terlihat kalau Grey tengah menangis di pojokan tembok sembari berjongkok dan terus membasuh kepalanya dengan air dari ember.


Melihat itu, sontak Sahira serta Raisa langsung menerobos masuk ke dalam dan berupaya menghentikan tindakan Grey itu.


"Eh eh Grey stop! Jangan diterusin!" teriak Sahira panik.


Sahira pun mengambil gayung dari tangan Grey, sedangkan Raisa membantu Grey berdiri dan menenangkan gadis itu.


"Ya ampun Grey! Lu kenapa ngelakuin itu sih? Kan bahaya tau!" ujar Sahira.


"Iya Grey, kalo lu kedinginan terus sakit gimana! Mandi itu di rumah Grey, bukan di sekolah! Udah gitu lu juga harus copot seragam lu dulu kalo mau mandi di sekolah!" sahut Raisa.


"Rai, mending lu diam deh daripada ngomong tapi gak berbobot! Biar gue aja yang coba tenangin Grey!" ucap Sahira kesal.


"Iya iya..." ucap Raisa cemberut.


Sahira mendekati Grey, memberikan handuk kepada Grey agar gadis itu dapat mengeringkan tubuhnya yang basah.


"Grey, lu jangan kayak gini lagi ya! Gue tahu masalah yang lu alami tuh berat, tapi lu gak sendiri kok! Ada gue sama Raisa disini yang bakal bantu lu buat selesaikan masalahnya!" ucap Sahira.


"Lu gak tahu betapa hancurnya perasaan gue sekarang ini Sahira! Setelah gue mengalami pelecehan itu, hidup gue malah semakin hancur! Mana bisa gue bahagia lagi?" ucap Grey sedih.


"Pasti bisa kok! Lu jangan putus asa dulu! Buktinya kemarin kita bisa tangkap pak Panca walau sulit, ya kan?" ucap Sahira.


"Ini beda Sahira. Gue udah dipermalukan satu sekolah dengan disebarnya foto-foto gue itu, gue gak mungkin bisa bahagia lagi! Lu gak ngerti gimana perasaan gue sekarang Sahira! Karena lu gak ngerasain itu!" ucap Grey semakin sedih.


Sahira dan Raisa hanya bisa terdiam setelah mendengar perkataan Grey barusan.




"Heh Riki!" teriak El menghampiri Riki yang ada di belakang sekolah dan tengah merokok.


Sontak Riki beserta teman-temannya pun terkejut dengan kehadiran El disana, mereka kompak berdiri menghadap El dengan wajah bingung.


Sementara El sendiri tampak sangat emosi, ia mengepalkan tangannya dan langsung menarik kerah baju Riki secara kasar.

__ADS_1


"Lu kalo berbuat sesuatu itu dipikir-pikir dulu, jangan langsung bertindak!" bentak El.


"Hah? Lu ngomong apa sih El? Gue gak ngerti sama apa yang lu bahas! Kenapa lu tiba-tiba datang kesini terus marah-marah sama gue? Emang salah gue apa?" tanya Riki heran.


"Gausah pura-pura lu! Gue tahu semua kerusuhan yang terjadi itu ulah lu, karena lu kan yang udah kirim foto Grey ke grup sekolah!" ujar El emosi.


"Bicara apa sih lu El? Bisa-bisanya lu nuduh gue kayak gitu, emang lu punya bukti? Enggak kan? Jangan asal tuduh deh, ngapain amat gue lakuin itu coba!" ucap Riki.


"Gue emang gak punya bukti, tapi gue tahu kalo lu pelakunya. Karena cuma lu di sekolah ini yang tahu tentang kasus pelecehan Grey, terus lu juga yang pertama kali temuin hp pak Panca. Gue yakin banget, sebelum lu kasih tuh hp ke gue pasti lu udah salin semua foto dan videonya ke hp lu kan!" ucap Elargano menebak.


"Ngarang aja lu! Buat apa gue ngelakuin itu? Gak ada untungnya bro! Lagian gue kan juga udah bantuin lu buat ungkap kasus pak Panca, harusnya lu terimakasih ke gue bukan malah nuduh yang enggak-enggak!" ujar Riki.


Akhirnya Riki tersulut emosi, ia melepas paksa tangan El dari kerah bajunya.


"Mending lu pergi dari sini! Atau gue bakal hajar lu karena lu udah bikin keributan dan nuduh gue yang gak bener!" ujar Riki mengusir El.


"Oke! Gue sekarang bakal pergi, tapi gue akan kembali dan bawa bukti kalau lu emang pelakunya!" ucap Elargano.


"Silahkan aja! Gue tunggu tuh bukti!" ujar Riki.


Elargano yang kesal pun berbalik, lalu pergi dari sana untuk mulai melakukan penyelidikan terkait nomor yang sudah menyebarkan foto-foto Grey di grup sekolah pagi tadi.


Sementara Riki kembali duduk disana bersama teman-temannya, mereka juga melanjutkan kegiatan mereka seperti merokok dan bermain kartu.


Elargano melangkah menuju rooftop sekolah, ia ingin menyelidiki semuanya dari atas sana agar tak ada siapapun yang bisa mengganggunya saat sedang fokus.


Namun, seorang wanita yang tak lain ialah Anisa mencegahnya di depan tangga dan membuat El mau tak mau harus meladeni sejenak gadis itu.


"Ada apa?" tanya El singkat.


"Kak, gue mau tanya sama lu. Ini tentang foto Grey yang disebar di grup sekolah. Apa lu terlibat dalam hal ini? Atau justru lu pelaku yang udah sebarin foto-foto itu?" ujar Anisa menuduhnya.


"Hah? Lu kenapa sih? Bisa-bisanya lu malah nuduh gue!" geram Elargano.


"Bukan nuduh, gue cuma tanya." kata Anisa.


"Jawabannya bukan gue! Udah awas minggir gue mau lewat!" ujar Elargano kesal.


El mendorong tubuh Anisa begitu saja, lalu melangkah menaiki tangga dengan sedikit tergesa-gesa.


Hal itu justru membuat Anisa merasa aneh dan semakin curiga pada Elargano.




Ya memang Ratna belum mengenal kedua besannya itu, karena saat Jordan menikahi Nur dirinya masih berada di luar negeri bersama anak-anaknya.


TOK TOK TOK...


"Permisi, selamat pagi!" ucap Ratna sembari mengetuk pintu.


"Bu, kita ngapain sih kesini? Maksud aku, kalau ibu cuma mau kenalan dan ketemu sama besan ibu, kenapa harus ajak aku sama bang Thoriq?" tanya Nawal dengan wajah malasnya.


"Sayang, emangnya kamu gak mau ya temenin ibu kesini? Kamu kan bisa loh sambil main juga sama Jordan dan Nur, supaya kamu lebih akrab sama mereka!" ucap Ratna.


"Bukan gak mau Bu, tapi aku malas aja. Aku kan masih capek Bu dan masih pengen istirahat di apartemen," ucap Nawal.


"Oh gitu, terus kenapa kamu semalam minta diajak buat jalan-jalan keliling Jakarta kalau kamu capek? Baru dibawa ke rumah ini aja kamu udah kecapekan, apalagi keliling Jakarta sayang. Yang ada kamu bisa ngos-ngosan!" ucap Ratna.


"Hehe.." Nawal nyengir dan garuk-garuk kepala.


Tak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam dan memperlihatkan sosok wanita dewasa yang tentu saja adalah Azizah.


Ceklek...


"Iya selamat pagi, kalian siapa ya?" ujar Azizah.


"Eee halo Bu! Pasti ibu ini ibunya Nur, ya?" ucap Ratna menyapa besannya.


"Iya benar, saya Azizah. Apa ibu kenal dengan putri saya?" ucap Azizah kebingungan.


"Tentu saja, perkenalkan Bu saya ini Ratna ibu kandung Jordan yang baru datang dari luar negeri beberapa waktu lalu. Dan ini anak-anak saya, mereka Thoriq dan Nawal." ucap Ratna.


"Oalah, jadi ibu ini ibunya Jordan? Wah berarti besan saya dong? Salam kenal ya Bu!" ucap Azizah tersenyum renyah.


"Iya Bu benar," ucap Ratna ikut tersenyum.


Keduanya berpelukan, melakukan cipika-cipiki dengan tangan saling berjabatan.


Sementara Thoriq dan Nawal hanya mencium tangan Azizah sebagai rasa hormat mereka.


"Yasudah, mari masuk Bu! Nur sama Jordan ada di dalam kok, mereka pasti senang lihat kehadiran ibu sama saudara-saudaranya!" ucap Azizah.

__ADS_1


"Terimakasih Bu!" ucap Ratna tersenyum.


Lalu, mereka pun sama-sama masuk ke dalam rumah itu setelah Azizah melebarkan pintu.


Tampak Nawal juga masih saja merasa tak suka begitu memasuki rumah itu.


"Bang, auranya kok gak enak banget ya?" bisik Nawal di telinga abangnya.


"Sssttt diem!" ujar Thoriq sembari mencubit lengan adiknya.


"Awhh sakit bang!" rintih Nawal kesakitan.


Mendengar itu, sontak Ratna serta Azizah menoleh secara bersamaan ke arah Nawal dan Thoriq.


"Nawal, kamu kenapa nak?" tanya Ratna bingung.


"Eee enggak kok Bu, gapapa. Ini tadi bang Thoriq iseng banget sama aku," jawab Nawal.


"Hehe, bercanda doang kok Bu." kata Thoriq.


"Hadeh kalian ini! Maaf ya Bu, mereka ini emang suka banget ribut-ribut kecil kayak gitu!" ucap Ratna.


"Gapapa Bu, maklumlah namanya juga sesama saudara. Pasti kadang ada ributnya, tapi kalau lagi akur ya akur banget!" ucap Azizah tersenyum.


"Ahaha, iya Bu.." Ratna tertawa kecil.


Mereka menghentikan langkah saat Nur bersama Anwar alias ayahnya muncul di depan sana.


Keduanya terkejut melihat kehadiran Ratna disana.




Siang harinya, El sudah bersama Keira di dalam mobil dan akan mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan Keira terus mengajak El berbicara karena ia sedang senang kali ini.


Namun, entah mengapa El hanya terdiam dan fokus ke depan sembari memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan bukti kalau Riki lah pelaku penyebar foto Grey itu.


Tentu saja Keira merasa jengkel karena ia seperti tidak dianggap oleh El, gadis itu pun berhenti berbicara dan menatap El dengan jengkel.


"Sayang!" ucap Keira dengan nada tinggi.


"Ah iya sayang, kenapa?" ujar El sambil tersenyum dan menoleh ke arah Keira.


"Gausah sok manis deh! Daritadi aku cerita panjang lebar sama kamu, eh kamu malah diem aja gak ada respon sedikitpun. Sebenarnya kamu lagi mikirin apa sih, sayang? Aku pacar kamu ada disini loh, kenapa pikiran kamu malah kemana-mana!" ujar Keira emosi.


"Ma-maaf sayang! Aku lagi kurang fokus tadi, soalnya ada masalah lagi di sekolah yang bikin aku pusing banget!" ucap Elargano.


"Masalah apalagi sih? Bukannya yang kemarin baru kelar ya soal temannya Sahira itu? Masa sekarang udah ada masalah lagi? Sebenarnya sekolah kamu itu tempat belajar atau tempat masalah sih?" tanya Keira kesal.


"Iya sayang, maaf banget ya! Jadi, tadi pagi tuh ada nomor misterius yang gak dikenal sebarin foto-foto Grey sewaktu dilecehkan sama pak Panca. Nah, semua foto itu disebar ke grup wa sekolah. Jadi otomatis sekarang semua murid tuh tahu kalau Grey pernah tidur sama pak Panca," jelas El.


"Hah? Kok bisa kayak gitu sih? Tega banget tuh orang yang udah sebarin foto Grey!" ujar Keira.


"Itu dia sayang, makanya aku sekarang lagi selidiki siapa pelakunya. Aku sih curiga sama satu orang, cuma aku gak punya bukti kalau dia pelakunya." kata Elargano.


"Yaudah, maafin aku ya El karena tadi aku udah marah-marah sama kamu tanpa dengerin dulu penjelasan dari kamu!" ucap Keira.


"Gapapa sayang, aku justru suka lihat kamu marah kayak tadi. Soalnya kamu kalo lagi marah-marah plus cemberut tuh tambah imut tau, aku makin pengen makan pipi kamu itu!" ujar El terkekeh.


"Ish dasar gombal!" cibir Keira tersipu.


"Hahaha... tapi kamu suka kan aku gombalin terus kayak gitu?" goda El.


"Enggak, biasa aja." elak Keira.


"Ah masa? Buktinya tadi wajah kamu merah banget loh udah kayak udang rebus," ujar Elargano.


"Gak ada ya, jangan ngada-ngada deh!" ujar Keira.


"Tuh kan, kamu itu gemesin banget kalo lagi cemberut kayak gini. Ini sih bisa-bisa aku gak tahan terus rauk muka kamu itu," ujar El.


"Apa sih El! Kamu gausah gombal terus deh! Mending sekarang kamu cepetan bawa mobilnya, supaya aku bisa pulang! Jadi, abis itu kamu juga bisa selidiki masalah Grey!" ucap Keira.


"Emangnya boleh kalo aku selidiki masalah Grey?" tanya Elargano pada gadisnya.


"Ya boleh dong, Grey kan temannya Sahira dan otomatis jadi teman aku juga. Kamu kalau bantu dia ya gapapa lah," jawab Keira.


"Oke deh, makasih ya cantikku!" ucap El sembari mencubit pipi Keira.


"Awhh sakit sayang!" ujar Keira dengan manja.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2