
#SangPemilikHati Episode 48.
•
•
Sesampainya di rumah Keira, dua gadis cantik yang bersahabat itu langsung turun dari mobil dengan bergandengan tangan, mereka masuk ke dalam rumah secara bersamaan.
Sahira nampak terpukau melihat kemewahan rumah Keira yang cukup luas dan besar itu, ia tak menyangka kalau sahabatnya kini benar-benar sudah menjadi orang kaya raya, walau dari dulu memang Keira sudah kaya tapi tak sekaya saat ini.
"Kei, rumah kamu besar banget! Aku jadi ngerasa gak pantas ada disini!" ucap Sahira.
"Kamu apaan sih, Ra? Kata siapa kamu gak pantas? Kamu itu sahabat aku dari kecil dan sampai selamanya, jadi anggap aja rumahku ini rumah kamu juga! Lagian nih ya, harta dan tahta itu cuma titipan dari Tuhan dan gak dibawa mati! Kamu gausah ngerasa malu atau gak pantas gitu, rileks aja!" ucap Keira sembari menepuk pundak sahabatnya.
"Iya Kei, tapi rumah kamu ini besar banget loh! Beda jauh sama rumahku yang gak seberapa, apa aku diterima masuk kesana?" ujar Sahira.
"Ya pasti diterima dong, Ra! Kamu ini kenapa sih? Dulu aja kamu sering main ke rumah ku kan? Dan papa mamaku juga setuju-setuju aja aku bawa kamu main ke rumah, udah ya gausah cemas gitu!" ucap Keira meyakini Sahira.
"Iya sih, tapi itu kan dulu dan sekarang rumah kamu udah sepuluh kali lipat lebih besar dari rumah kamu yang dulu! Rasanya aku takut kalau kehadiran ku gak disukai nantinya, Kei!" ucap Sahira.
"Gak mungkin lah! Papa mamaku kan udah kenal lama sama kamu, udah ah kamu jangan mikir yang enggak-enggak terus! Aku ini sahabat kamu, jadi kamu gak perlu mikirin soal itu!" ucap Keira.
Sahira tersenyum tipis dan menganggukkan kepala, ia akhirnya mau masuk ke rumah itu bersama Keira.
"Keira emang baik banget! Padahal dia anak orang kaya dan aku cuma lahir di keluarga sederhana, bahkan ayah ibuku aja gak tahu dimana! Tapi, dia mau terima aku sebagai sahabatnya! Emang sifat Keira itu beda jauh sama kak El, kenapa ya mereka bisa menjalin hubungan?" gumam Sahira dalam hati.
Saat sudah berada di dalam, Sahira tambah terpesona dengan bagian dalam rumah tersebut yang seluruhnya dipenuhi oleh barang-barang mewah yang berkilau, dan bahkan ruang tamu itu sangat luas seperti lapangan sepakbola.
"Kei, ini ruang tamu kamu udah seluas rumah aku loh! Tuh kan aku jadi semakin gak pede masuk ke rumah kamu, aku pulang aja ya?" ujar Sahira.
"Hah? Ra, jangan bilang gitu lah! Kamu kan belum ketemu papa mamaku, masa langsung mau pulang? Udah sepuluh tahun lebih loh kita pisah, kamu gak kangen sama papa mamaku?" ucap Keira.
"Iya aku kangen! Tapi—"
"Udah udah Ra, kamu jangan kebanyakan ngomong! Yuk ikut aku aja ke sofa dan duduk disana!" potong Keira dan langsung menarik lengan Sahira.
Gadis itu membawa Sahira menuju sofa, ia meminta Sahira duduk disana menunggu selagi ia akan memesan minuman pada pelayannya.
"Duduk dulu Ra! Aku mau cari bik Roro ke dapur, kamu pasti haus kan?" ucap Keira.
"Umm, iya Kei. Tapi, jangan tinggalin aku sendiri lah! Aku gak berani sendirian disini, nanti kalau ada orang rumah kamu yang keluar terus nyangka aku penyusup gimana? Kan mereka pasti belum tahu kalau aku teman kamu, Kei!" ujar Sahira cemas.
"Hahaha, kamu tenang aja! Kalaupun mereka gak kenal sama kamu, asal kamu gak berbuat macam-macam ya pasti mereka juga gak bakal usir kamu kok Sahira!" ucap Keira.
"Yang bener kamu?" tanya Sahira.
"Iyalah, udah duduk aja dulu!" jawab Keira.
"Iya Kei,"
Sahira menurut pada perkataan Keira, lalu perlahan mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang empuk dan sangat-sangat nyaman itu.
Begitu tubuhnya menyentuh sofa itu, Sahira langsung merasa terbawa ke dalam sofa dan membuatnya tak bisa berkata-kata karena sofa itu memang sangat nyaman.
"Kei, sofa kamu empuk banget sih! Aku nyaman deh lama-lama duduk disini!" ujar Sahira.
"Ahaha, ya syukurlah kalo kamu nyaman! Yaudah, aku ke dapur dulu ya? Abis itu baru kita ke kamarku, karena aku mau ganti baju, udah gerah nih!" ucap Keira tersenyum.
"Oke Kei!" ucap Sahira.
Setelahnya, Keira pun melangkah ke dapur meninggalkan Sahira sendirian di sofa, Sahira masih terus enjot-enjotan di atas sofa itu seperti anak kecil yang baru merasakan duduk pada sofa ternyaman di dunia.
•
•
Disisi lain, Elargano tengah makan malam bersama Adelia di sebuah restoran yang merupakan salah satu dari ratusan cabang usaha milik papanya, ya ia sengaja mengajak Adelia kesana karena melihat gadis itu merasa lapar setelah terdengar bunyi perutnya berkali-kali.
Adelia pun tak dapat menahan rasa gugupnya saat makan berdua dengan Elargano, ia bahkan terus menundukkan wajahnya dan mencoba menjaga image di depan El agar pria itu tidak ilfeel padanya.
"Hey, makannya kok sedikit sedikit sih? Bukannya kamu lagi lapar?" tanya El menegur Adelia.
"I-i-iya El, aku emang lapar. Tapi, kalau makan aku selalu begini! Kata mamaku, makan itu gak boleh buru-buru nanti keselek!" jawab Adelia pelan.
"Ohh iya juga sih, mama kamu benar!" ujar Elargano.
__ADS_1
Gadis itu hanya tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan makannya sambil terus menunduk. Sedangkan Elargano sendiri mulai mengikuti gaya makan dari Adelia, ia tak mau selesai makan lebih dulu daripada gadis itu karena pasti suasananya akan beda dan ia bingung harus apa nantinya.
"Eee kamu kalo lagi makan begitu lucu ya! Aku jadi pengen cubit pipi kamu yang gemesin itu!" ujar El.
"Uhuk uhuk..."
Tiba-tiba Adelia tersedak begitu mendengar ucapan Elargano, tentu saja El langsung panik dan menyediakan minuman untuk gadis itu agar rasa tersedak Adelia bisa hilang.
"Eh eh minum dulu nih!" ujar Elargano panik.
Tanpa berpikir panjang, Adelia menenggak setengah minuman miliknya dan kembali merasa tenang setelah meminum itu.
"Kamu kenapa? Perasaan makannya udah pelan, kok masih keselek aja?" tanya Elargano bingung.
"Umm, mungkin karena aku kurang fokus tadi! Makasih ya udah bantu aku pas keselek!" ucap Adelia gugup.
"Sama-sama," ucap El tersenyum.
"Eee aku ke toilet sebentar, ya?" ujar Adelia minta izin pada Elargano.
"Oh, silahkan!" ucap Elargano mengizinkan.
Wanita itu beranjak dari kursi, dan melangkah cepat menuju toilet tanpa membawa tas tenteng nya yang ia tinggalkan di atas meja bersama ponsel di sampingnya.
Elargano geleng-geleng melihat kelakuan Adelia, ia tahu kalau gadis itu sedang salting olehnya sehingga bisa tersedak saat tengah makan tadi, ia mengalihkan pandangan ke meja depan begitu Adelia menghilang dari matanya.
Elargano pun melihat ponsel milik Adelia disana yang mengeluarkan cahaya, karena penasaran ia memilih mengambil ponsel itu untuk melihatnya.
"Ada pesan dari Sean?" gumamnya.
Ia melihat pesan tersebut dan membacanya di dalam hati, seketika matanya melongok lebar begitu melihat isi pesan yang dikirim oleh pria bernama Sean itu.
"Malam Adel sayang! Kamu lagi dimana? udah siap belum? Malam ini kita check-in di hotel titan ya sayang? Aku jemput kamu di tempat biasa!" gumam El saat membaca isi pesan tersebut.
Pria itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia tak percaya kalau Adelia adalah wanita penghibur terlihat dari isi pesan itu.
Dengan cepat El menaruh kembali ponsel milik Adelia di meja, lalu berpura-pura seakan tak terjadi sesuatu, walau sebenarnya ia masih tak percaya jika Adelia bisa seperti itu, padahal yang ia tahu Adelia adalah anak dari rekan bisnis papanya.
"Bisa-bisanya cewek yang gue kira lugu, ternyata udah pengalaman soal begituan!" batin Elargano.
•
•
Tiba-tiba saja Zahra muncul dari arah tangga, ia melangkahkan kaki menuju ruang tamu saat melihat sosok gadis cantik yang sedang berada disana, tentu Zahra penasaran karena ia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya.
"Eee maaf! Kamu siapa ya?" tegur Zahra.
Sontak Sahira terkejut, ia menoleh dan reflek berdiri menghadap ke arah Zahra. Ya Sahira masih mengenali sang mama dari sahabat tersayangnya itu karena perubahan wajah Zahra yang tidak terlalu signifikan, ia pun tersenyum lalu hendak mencium tangan Zahra.
"Tante Zahra? Selamat malam tante!" ucap Sahira dengan sikap sopan nya.
"Iya malam juga, tapi kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di rumah saya? Siapa yang bawa kamu kesini, nak?" tanya Zahra penasaran.
"Eee saya Sahira, tante. Sahira sahabat masa kecil Keira, yang sudah sepuluh tahun lebih tidak bertemu dengan Keira!" jawab Sahira mengenalkan diri.
"Sahira?" ujar Zahra kebingungan.
"Iya tante, kalau tante ingat saya ini dulu teman kecil Keira dari TK sampai SD. Sayangnya, Keira harus pergi berobat ke luar negeri dan gak bisa ketemu sama saya lagi!" ucap Sahira.
Zahra terus berupaya mengingat-ingat tentang Sahira, sampai akhirnya ia berhasil.
"Ah iya iya, tante ingat sayang! Kamu Sahira yang selama ini dicari-cari sama Keira kan? Dia itu setiap malam selalu bersedih memikirkan kamu loh Sahira, akhirnya kalian bisa bertemu lagi! Maafin tante ya, tadi tante sempat gak kenal sama kamu!" ujar Zahra.
"Gapapa tante, wajar kok!" ucap Sahira tersenyum.
"Boleh tante peluk kamu sayang?" tanya Zahra.
Sahira mengangguk dan mereka pun berpelukan disana melepas rindu, Sahira memang sudah lama tak merasakan pelukan kasih sayang dari ibunya seperti itu.
Tak lama kemudian, Keira kembali dari dapur membawakan minuman untuk Sahira. Gadis itu terkejut saat melihat mamanya sudah berada disana bersama Sahira dan tengah berpelukan, namun ia merasa senang karena nyatanya sang mama masih mengingat Sahira.
"Syukur deh! Ternyata dugaan Sahira tadi salah, buktinya mama masih bisa terima Sahira biarpun rumah aku udah sebesar ini!" batin Keira.
Akhirnya Keira melangkah maju mendekati mamanya serta sahabatnya itu sambil membawa minuman.
__ADS_1
"Mama, Sahira!" ucap Keira memanggil mereka.
Sontak keduanya langsung melepas pelukan dan menatap ke arah Keira, terlihat jelas raut kesedihan di wajah Sahira karena memang gadis itu amat sangat merindukan ibunya.
"Aku seneng deh mama masih kenal sama Sahira teman aku!" ucap Keira tersenyum.
"Iya dong sayang, setiap malam kamu kan selalu bicarakan tentang Sahira! Jadi, ya mama masih ingat dong sama momen kecil kalian dulu!" ujar Zahra.
"Sahira, ini minum buat kamu!" ucap Keira.
"Ah iya, makasih Kei!" ucap Sahira sembari mengusap air mata yang hendak mengalir.
"Cie yang abis nangis!" goda Keira.
"Ish, kamu apaan sih?! Aku tuh gak nangis, aku cuma keinget sama momen kita kecil dulu yang seru banget dan bikin aku pengen mengulang lagi momen kita itu!" elak Sahira.
"Ahaha, iya bercanda kok! Lagian gak perlu mengulang kali, kita bikin aja momen baru yang bisa menggantikan momen kecil kita! Pastinya bakal lebih seru dan bikin aku sama kamu bahagia, mau kan?!" ucap Keira memberi usul.
"Iya Kei, aku mau!" jawab Sahira mengangguk.
Zahra sangat senang melihat persahabatan antara putrinya dengan Sahira itu, ia berharap mereka berdua dapat terus bersama selamanya.
"Luar biasa kalian! Semoga kalian berdua terus jadi sahabat selamanya ya!" ucap Zahra.
"Aamiin!" ucap Sahira dan Keira bersamaan.
•
•
Disaat Keira hendak mengantar Sahira pulang, mereka justru berpapasan dengan Lingga yang baru kembali dari kantornya. Ya sang papa dari Keira itu tersenyum melihat ke arah putrinya, namun memasang wajah heran ketika menatap sosok gadis cantik yang ada di sebelah putrinya itu.
Lingga memang belum pernah bertemu dengan Sahira dewasa sebelumnya, maka dari itu ia coba mendekati Sahira dan bertanya langsung padanya serta putrinya.
"Kei, ini teman kamu? Apa siapa?" tanya Lingga.
"Iya pah, masa papa gak kenal sih sama dia? Padahal kita dekat banget waktu kecil!" jawab Keira.
"Hah? Papa baru kali ini lihat dia!" ujar Lingga.
"Ah papa payah nih!" ujar Keira.
"Ya maaf sayang! Abisnya papa kan gak merhatiin setiap sahabat kamu, emang dia teman kamu darimana? Sekolah?" ucap Lingga.
"Umm, bukan om! Saya Sahira, teman masa kecil Keira yang sempat berpisah selama sepuluh tahun lebih karena Keira memilih pergi ke luar negeri untuk pengobatan penyakitnya!" jelas Sahira.
Barulah Lingga menyadari dan ingat bahwa yang dilihatnya saat ini adalah sahabat kecil Keira yang selalu dirindukan oleh putrinya itu setiap malam.
"Ohh iya iya om ingat! Keira selalu sebut nama kamu setiap hari sambil memeluk album foto kalian berdua, om juga tahu banget kalau Keira itu sedih sekali selama beberapa tahun ini karena berpisah dengan kamu! Om gak nyangka, akhirnya kalian bisa bertemu lagi! Kamu beda banget loh Sahira, om sampai gak ngenalin kamu!" ucap Lingga.
"Iya om, namanya juga udah sepuluh tahun lebih kita gak ketemu!" ucap Sahira tersenyum.
Sahira pun bergerak maju mencium punggung tangan Lingga, diikuti oleh Keira yang juga melakukan hal sama.
"Kamu sudah daritadi disini, Sahira?" tanya Lingga.
"Eee iya om, dari sore tadi. Ini makanya aku mau pulang ke rumah," jawab Sahira.
"Oh, yaudah om antar aja yuk! Sekalian bareng sama kamu Keira!" ucap Lingga.
"Duh, gausah om! Aku sendiri aja!" tolak Sahira.
"Eh gapapa Sahira, ini sudah malam gak baik kamu pulang sendirian! Mending diantar sama om dan Keira, gapapa ya?" ucap Lingga.
"Iya Ra, udah gausah malu-malu gitu!" ucap Keira.
"Eee iya deh, tapi gak ngerepotin om Lingga kan?" tanya Sahira.
"Ya enggak dong! Udah yuk!" jawab Lingga.
Sahira mengangguk setuju, baginya tak ada salahnya jika ia pulang bersama Lingga karena ia pun masih ingin punya waktu bersama Keira sahabat kecil yang sangat ia rindukan itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1