Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Putusin aja!


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 121.




"Tunggu dong sayang! Kamu coba buktiin ke aku kalau kamu emang gak marah! Soalnya dari raut kamu tuh kelihatan tahu," pinta El.


"Buktiin kayak gimana? Kamu mau aku ngapain sekarang, ha?" tanya Keira bingung.


"Cium aku," jawab El tersenyum penuh harap.


"Hah??" Keira terkejut dan agak malas meladeni permintaan El barusan.


"Iya Kei, ayo dong cium aku! Biar aku tahu kalau kamu udah gak marah sama aku," jelas El.


"Ish, gak mau!" ucap Keira menolak.


"Oh yaudah, aku gak akan biarin kamu turun dari mobil sebelum kamu mau cium aku. Jadi, kita bakal sama-sama menetap disini deh." kata El.


"Jangan ngada-ngada deh El! Kamu gak bisa paksa aku buat cium kamu!" ujar Keira kesal.


"Jelas bisa dong, aku kan pacar kamu dan kamu harus mau cium aku! Tadi kamu bilang udah gak marah lagi sama aku, seharusnya kamu gak masalah dong buat cium aku!" ucap El.


"Huh kamu emang ngeselin ya El! Oke deh, aku mau cium kamu. Tapi, cuma sekali aja ya jangan minta lebih!" ucap Keira.


El mengangguk pelan, lalu mendekatkan wajahnya pada Keira sambil tersenyum renyah.


Cupp!


Satu kecupan mendarat di pipi El, namun itu tak membuat El puas karena ia menginginkan lebih.


"Kok disitu sih?" tanya El.


"Loh, terus dimana? Kamu kan minta dicium, aku udah turutin tuh cium pipi kamu. Masa masih kurang juga?" ujar Keira terheran-heran.


"Aku maunya bukan cuma di pipi sayang, tapi disini juga." ucap El seraya menunjuk bibirnya.


"Hah? Kalau di bibir kamu, aku gak mau ah. Itu mah nanti kamu malah keenakan terus gak mau udahan lagi, aku itu kan pengen cepat-cepat pulang El!" ucap Keira menolak.


"Terserah kamu sih, kalo kamu gak mau cium aku yaudah kita bakal tetap disini sampai kapanpun. Bahkan, sampai besok pagi juga aku bersedia kok." ucap El terkekeh kecil.


"Haish, kamu nyebelin ya El!" umpat Keira.


"Makanya buruan cium aku!" ujar El.


Keira terdiam sejenak sembari memalingkan wajahnya ke samping, sedangkan El terus menanti kecupan dari Keira sambil tersenyum smirk.


"Keira sayang, kamu gak punya pilihan lain loh. Kalau kamu gak mau cium aku, nanti kamu gak bakal bisa keluar dari mobil ini. Apa kamu mau terjebak disini sampai besok?" ucap El.


"Ish, kamu diem dulu! Aku kan lagi mikir apa aku harus cium kamu atau enggak!" ucap Keira.


"Hahaha, buat apa mikir sih? Tinggal cium aja apa susahnya sayang? Bibir aku nganggur loh ini daritadi, dia minta dicium sama kamu." kata El.


"Berisik ih kamu!" ucap Keira kesal.


El terkekeh saja dengan tingkah gadisnya yang cukup menggemaskan itu, ingin rasanya ia segera mencium bibir Keira saat ini juga.


"Kalau kamu gak mau cium bibir aku, yaudah deh aku aja yang duluan cium kamu." ucap El.


"Hah??" Keira terkejut dan reflek menoleh ke arah El, ia membulatkan mata saat El sudah mendekati wajahnya bersiap mengecup bibirnya.


"Aaaaa jangan dulu El, aku belum siap!" Keira berteriak dan mendorong tubuh El.


"Kamu kok histeris banget sih? Padahal aku cuma mau cium kamu loh, kan kita udah pernah ciuman juga sebelumnya. Kenapa malah sekarang kamu takut banget?" tanya El heran.


"Ya beda kondisinya, sekarang aku lagi gak mau ciuman sama kamu. Aku itu maunya turun terus pulang ke rumah!" jawab Keira.


Cupp!


Keira melongok lebar ketika El tiba-tiba mengecup bibirnya, ia memang tidak sempat menghindar lantaran El begitu cepat mendaratkan kecupan di bibirnya.


"Yes dapat satu!" ucap El girang.


"Ih dasar nyebelin!" ujar Keira kesal dan langsung menghujani tubuh El dengan pukulan.


"Aduh aduh aduh!" El hanya bisa pasrah saat gadisnya itu memukulinya.



__ADS_1


Hari telah berganti, Sahira pun sudah berada di rumahnya dan tengah beristirahat di kamar bersama ibunya yang memang selalu menemani Sahira kapanpun dimanapun.


Biarpun sudah keluar dari rumah sakit, tetapi Sahira masih belum pulih sepenuhnya karena lengan serta kaki gadis itu masih terasa sakit akibat sayatan yang diberikan oleh Riki.


"Sayang, kamu harus cepat sembuh ya! Ibu gak tega melihat kamu terus kesakitan seperti ini, ibu mau kamu pulih lagi sayang!" ucap Ratna.


"Iya Bu, insyaallah aku bakal sembuh dalam waktu cepat kok! Ini juga rasa sakitnya perlahan udah mulai hilang, cuma emang kalau disentuh atau digerakin tuh berasa banget sih." ucap Sahira.


"Yaudah, sekarang ini kamu jangan kebanyakan gerak dulu ya sayang, sampai semua anggota tubuh kamu benar-benar pulih!" ucap Ratna.


Sahira mengangguk pelan sambil tersenyum manis, lalu tampak Sahira celingak-celinguk seperti mencari seseorang di luar sana.


"Kamu cari siapa sayang?" tanya Ratna.


"Eee itu Bu, bang Jordan sama bang Thoriq pada kemana ya? Kok gak kelihatan?" ucap Sahira.


"Oalah, abang-abang kamu lagi ngumpul di bawah. Memangnya kenapa sayang? Kamu mau ketemu sama mereka?" ucap Ratna.


"Enggak kok Bu, aku cuma mau tau aja mereka dimana." ucap Sahira.


"Oh gitu, kalau emang mau ketemu biar ibu panggilin mereka kesini." kata Ratna.


"Eh gausah Bu, nanti malah ganggu mereka! Biarin aja mereka pada ngobrol di bawah, aku juga mau istirahat kok." ucap Sahira.


"Yaudah, kamu istirahat ya cantik!" ucap Ratna.


"Iya Bu," ucap Sahira tersenyum tipis.


Ratna pun beranjak dari duduknya, mengusap puncak kepala Sahira sebelum pergi keluar.


"Ibu keluar dulu ya?" ucap Ratna.


"Iya Bu, makasih ya ibu udah perduli sama aku dan mau bantu aku buat makan! Ibu emang paling terbaik deh!" ucap Sahira.


"Sama-sama sayang, yaudah ibu pergi dulu. Kamu istirahat yang cukup supaya cepat sembuh!" ucap Ratna sambil tersenyum.


"Iya ibuku sayang.." ucap Sahira manja.


Disaat Ratna hendak keluar, tiba-tiba saja Nur datang membawakan pudding di piring yang membuat Ratna tidak jadi keluar.


"Misi Bu, Sahira! Aku udah bikinin pudding nih buat kamu, Sahira." ucap Nur tersenyum.


"Eh kak Nur, pake repot-repot segala sih bikinin pudding begitu. Harusnya gausah lah kak, aku kan jadi gak enak tau!" ucap Sahira.


"Makasih ya kak!" ucap Sahira tersenyum.


"Ibu mah nanti aja makannya, ini biar buat Sahira aja. Mau ibu suapin sekalian gak sayang?" ucap Ratna.


"Eh gausah Bu, aku bisa sendiri kok." ujar Sahira.


"Yakin? Tangan kamu kan masih sakit sayang, emang bisa buat makan?" tanya Ratna cemas.


"Eee bisa kok Bu.." jawab Sahira gugup.


"Kalo enggak gini aja Bu, biar aku yang suapin Sahira. Jadi, ibu bisa istirahat dulu. Kan ibu udah daritadi jagain Sahira, sekarang giliran aku." ucap Nur.


"Jangan kak! Aku makan pudding nya sendiri aja, lagian kalau cuma makan mah aku bisa kok." ucap Sahira menolak.


"Gapapa Sahira, aku emang suka bantu kamu kok. Sini deh aku suapin ya!" ucap Nur.


"Iya deh, aku ngikut aja." kata Sahira.


Akhirnya Nur menyuapi Sahira sembari duduk di pinggir ranjang, sedangkan Ratna pergi keluar karena hendak melakukan kegiatan lainnya di bawah sana.




Sepulang sekolah, Elargano langsung datang ke rumah Sahira membawakan kue keju serta buah-buahan yang akan ia berikan pada Sahira dan juga keluarganya di rumah itu.


Setibanya disana, El pun turun dari mobilnya. Ya ia datang seorang diri karena lupa bahwa ia masih memiliki kekasih saat ini, mungkin El terlalu cemas dengan kondisi Sahira.


"Huft, semoga Sahira suka deh sama kue ini! Gue emang gak tahu sih kesukaan dia apa, tapi kata mbak penjual tadi, kue ini tuh enak banget dan semua orang pasti suka sama kue ini. Ya semoga aja yang dia bilang benar!" gumamnya.


Tin tin...


Tiba-tiba saja suara klakson mobil muncul di dekatnya, El pun agak terkejut dan menoleh ke arah mobil yang datang itu.


"Halo kak El!" rupanya itu adalah teman-teman Sahira yang tak lain ialah, Raisa, Grey dan Anisa.


"Loh, kalian ternyata kesini juga? Tahu gitu kita bareng aja tadi dari sekolah," ucap El.

__ADS_1


"Iya dong kak El, lagian kak El gak bilang sih kalau mau jenguk Sahira juga. Jadinya kita kan gak tahu dan beli makanan sendiri buat Sahira, padahal kalo datang bareng kak El kan bisa sekalian nebeng kue dari kak El itu." ucap Raisa sambil nyengir.


"Hus! Lu kenapa ngomong gitu sih Rai? Buat sahabat sendiri loh, masa pamrih? Sahira aja udah banyak bantu kita tahu," ucap Grey menegur Raisa.


"Hehe, iya iya sorry guys! Gue cuma bercanda kok tadi." ucap Raisa.


"Yaudah, gausah diperpanjang! Oh ya, lu udah baikan kan Grey? Gak ada niat bunuh diri lagi?" ucap El bertanya pada Grey.


"Alhamdulillah enggak kak! Ini semua kan juga berkat kak El sama Sahira yang udah mau bantu gue buat cari tau siapa pelaku penyebaran foto-foto itu, makasih banyak ya kak!" jawab Grey.


"Sama-sama, udah tugas sesama manusia untuk saling tolong menolong." kata El.


"Sebenarnya gue belum ngerasa aman-aman banget, karena bayi pak Panca masih ada di perut gue. Sekeras apapun gue sembunyiin kehamilan gue ini, pasti semua orang bakal tahu juga nantinya!" gumam Grey dalam hati.


"Yaudah, kita masuk aja yuk! Kalau kelamaan disini, kita malah gak jadi-jadi buat jenguk Sahira." ucap El mengajak gadis-gadis itu masuk ke dalam.


"Iya juga ya, malah yang ada kita keasyikan ngobrol dan lupa sama tujuan kita." ujar Raisa terkekeh.


"Makanya jangan pada ngobrol terus!" sahut Anisa.


"Yuk lah masuk!" ucap Grey.


Akhirnya mereka berempat melangkah bersamaan menuju ke teras rumah Sahira, tentunya dengan El yang masih membawa kue di tangannya serta Grey yang belum hilang cemasnya.


Begitu sampai di teras, mereka tanpa sengaja bertemu dengan Nawal yang juga baru keluar dari rumah itu. Mereka pun menyapa Nawal dan bertanya mengenai Sahira.


"Selamat siang! Permisi nih sebelumnya, kita kesini mau jenguk Sahira. Kira-kira Sahira nya bisa dijenguk apa enggak, ya?" ucap Raisa ramah.


"Gue gak tahu, kalian pada cek aja sendiri ke dalam sana!" jawab Nawal ketus.


Jawaban dari Nawal membuat mereka berempat agak kesal dan tersulut emosi, apalagi Nawal main pergi begitu saja meninggalkan mereka sehingga Raisa hampir ingin memukulnya.


"Ish, nyebelin banget sih tuh anak! Dari gayanya aja udah songong, siapa ya dia?!" geram Raisa.


"Gak tahu, anak pembokat kali!" ucap Grey.


"Udah lah, kita coba ketuk pintu aja!" ucap El menengahi.


El pun mengetuk pintu sembari mengucap salam, sedangkan gadis-gadis itu masih penasaran siapa wanita yang tadi mereka temui itu.




Keira menanti jemputan dari El di halte sekolahnya, gadis itu terus mondar-mandir sembari menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian mencari mobil El.


Bahkan, Keira juga terus melihat arloji di layar ponselnya dan menunggu balasan chat atau telpon dari El.


Akan tetapi, tak kunjung ada kabar apapun dari El yang membuat Keira semakin kesal dan emosi pada kekasihnya itu.


"Ini El kemana sih? Dia lupa sama janjinya apa gimana coba? Padahal tadi pagi dia bilang sendiri mau jemput gue, tapi sampe sekarang gak datang-datang juga!" geram Keira.


Keira memutuskan duduk sejenak di halte itu, lalu coba menghubungi nomor El, namun tidak aktif.


"Ish, malah gak aktif lagi nomornya. El kemana ya? Tahu gini mah tadi gue gak minta pak Aris buat jangan jemput, emang ngeselin banget nih si El kadang-kadang!" ucapnya emosi.


"Keira!" gadis itu terkejut saat ada seseorang yang mendekatinya, ia menoleh dan menatap wajah pria yang tak lain ialah Ibrahim.


"Kamu belum dijemput ya?" tanya Ibrahim.


Keira hanya diam membuang muka, namun itu tak mengurangi semangat Ibrahim untuk mendekatinya.


Ibrahim pun duduk di samping Keira, ia berusaha membuka obrolan dengan gadis itu agar Keira mau berbicara dengannya.


"Eee Keira..." baru saja Ibrahim hendak bicara, tapi Keira sudah menggeser posisinya menjauh.


Tentu saja Ibrahim ikut bergeser mendekati Keira, kemanapun gadis itu menjauh pasti Ibrahim selalu berusaha mendekatinya hingga membuat Keira kesal.


"Ih lu mau ngapain sih Baim?!" geram Keira.


"Gue itu udah punya pacar, lu jangan deketin gue terus dong Baim!" sambungnya.


"Walau aku tahu kamu udah punya pacar, tapi aku akan setia menunggu kok sampai kamu putus sama dia. Aku tahu hubungan kalian lagi gak baik-baik aja kan? Mending putusin aja pacar kamu itu, terus bilang i love you ke aku. Buat apa pertahanin suatu hubungan, kalau salah satu dari kalian udah gak punya perasaan cinta itu lagi?" ucap Ibrahim.


Keira terdiam, ia merenungi perkataan Ibrahim dan menyangka bahwa El memang sudah melupakan dirinya dan lebih memilih Sahira.


"Bener sih yang dibilang Baim, El emang udah beda gak kayak dulu lagi. Apa dia gak cinta lagi sama gue? Mungkin sekarang dia lagi di rumah Sahira, apa gue cek aja dulu ya?" batin Keira.


"Eee Baim, lu bisa anterin gue gak sekarang?" tanya Keira pada Ibrahim.


"Hah? Bisa kok!" jawab Ibrahim penuh semangat.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2