Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Kembalinya Keira


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 69.




Keira keluar dari kamarnya, bergegas menuruni tangga dan menghampiri papa serta mamanya di bawah sana, ia tampak cemas setelah menyadari gelang di lengannya hilang.


Gadis itu sampai di meja makan, yang mana terdapat mama serta papanya sedang menikmati sarapan bersama disana. Keira pun langsung bertanya soal gelang miliknya itu kepada kedua orangtuanya tanpa berbasa-basi lagi.


"Mah, Pah, mama sama papa tahu gak dimana gelang aku?" tanya Keira panik.


Sontak Lingga serta Zahra terkejut dengan kemunculan Keira yang sudah tiba-tiba berada di belakang mereka itu, mereka menatap ke arah putrinya yang sedang berdiri disana.


"Loh sayang, kamu kok datang-datang langsung nanya soal gelang kamu sih? Bukannya sapa mama atau papa dulu kek gitu!" ujar Zahra.


"Iya, bikin kaget aja!" sahut Lingga.


"Eee iya mah, pah, maaf aku lupa! Yaudah, selamat pagi mama, selamat pagi papa! Nah udah kan? Sekarang aku mau tanya sama papa dan mama, papa mama lihat gak gelang aku yang suka aku pakai di lengan itu? Soalnya tadi tiba-tiba pas aku bangun, itu gelangnya udah gak ada. Padahal nih ya, semalam masih ada kok!" ucap Keira.


"Aduh sayang! Kamu kenapa malah tanya soal itu ke papa sama mama? Kita kan gak tahu menahu soal gelang kamu, yang punya kamu kok malah tanyanya ke mama sama papa!" ujar Lingga.


"Iya sayang, kamu kan semalam langsung naik ke kamar dan gak turun lagi, terus baru sekarang ini mama ketemu sama kamu. Mana mungkin mama tahu soal gelang kamu sayang, mungkin jatuh kali atau lepas sewaktu kamu tidur semalam. Coba aja kamu cek dulu di kamar kamu!" ucap Zahra.


"Udah mah, dan itu gelang gak ada di kamar aku! Makanya aku tanya ke papa sama mama, siapa tahu kan papa mama lihat!" ucap Keira.


"Enggak kok sayang, mama sama papa gak lihat gelang kamu. Lagian yaudah lah, kamu lupain aja gelang itu biar nanti papa beliin yang baru buat kamu ya sayang!" ucap Lingga.


"Bukan masalah itu pah, gelang itu tuh hadiah dari teman sekolah aku dan aku udah janji buat jaga sama pakai gelang itu selamanya! Kalau dia tahu aku lepas gelangnya, nanti dia bisa marah terus balik deketin aku lagi pah, mah! Aku kan gak mau bikin kak El cemburu sama aku, kalau tahu ada laki-laki lain yang deketin aku! Makanya aku terpaksa terima gelang pemberian dia, supaya aku bisa lepas dari dia mah, pah!" ucap Keira.


Lingga dan Zahra terkejut mendengar penuturan Keira, mereka sekarang yakin bahwa memang benar kemarin Keira sempat terkena pengaruh dari gelang tersebut karena penjelasan gadis itu sangat berbeda dengan sebelumnya.


"Mah, pah, aku harus gimana dong sekarang? Kak El pasti cemburu nanti kalau tahu ada laki-laki yang deketin aku!" ujar Keira panik.


"Tenang aja sayang! Gak mungkin El begitu kok sama kamu, dia kan sayang sama kamu!" ucap Lingga sambil tersenyum.


"Benar sayang! Udah kamu gausah cemas ya, yuk sekarang kamu sarapan dulu!" sahut Zahra.


Zahra langsung berdiri mendekati Keira, kemudian mengajak gadis itu duduk disana bersamanya dan juga Lingga. Keira menurut saja lalu mulai mengambil piring kosong untuk sarapannya.


"Nah, kamu sarapan dulu ya anak mama yang cantik!" ucap Zahra sembari mengusap rambut putrinya dan mengambilkan nasi serta lauk untuk sarapan Keira disana.


"Iya mah, yaudah mama juga lanjut sarapannya! Ini biar aku aja yang ambil sendiri, aku bisa kok!" ucap Keira tersenyum.


"Udah gapapa sayang, mama ini lagi senang karena kamu sudah kembali seperti dulu!" ucap Zahra.


"Hah? Maksud mama? Emangnya aku sebelumnya kemana? Kok mama bilang aku sudah kembali?" tanya Keira terheran-heran.


Zahra tersenyum saja bersama suaminya.




Disisi lain, Thoriq mengantarkan Sahira pulang ke rumah karena gadis itu harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah di pagi hari yang indah ini. Ya sebelumnya Sahira juga sudah pamitan dengan sang ibu dan juga abangnya ketika di rumah sakit.


"Bang, makasih ya udah anterin gue! Lu tunggu sebentar ya, gue cuma mau ganti baju seragam doang kok kan tadi udah mandi di rumah sakit!" ucap Sahira.


"Iya, pasti gue tungguin kok sampe lu kelar ganti baju! Atau lu mau mandi lagi juga gapapa, gue gak akan tinggalin lu!" ucap Thoriq tersenyum.


"Yeh iya lu gak bakal ninggalin gue, tapi pasti nanti gue telat kalau gue mandi lagi. Lu kayak gak tahu aja cewek mandinya seberapa lama, nih ya lu bisa tuh push rank sampe glory sembari nunggu cewek selesai mandi! Atau lu mau naik gunung dulu juga bisa!" ujar Sahira terkekeh kecil.


"Hahaha, lucu banget sih lu! Yaudah sana buruan masuk terus ganti baju, mumpung masih jam segini nih! Nanti kalau telat kelabakan sendiri, gue tunggu disini aja!" ucap Thoriq.


"Yakin mau nunggu disini? Kenapa gak di dalam aja?" tanya Sahira.


"Eee jangan deh! Gue disini aja ya, biar nanti begitu lu kelar ganti baju gue bisa langsung nyalain mobil terus kita berangkat deh!" jawab Thoriq.

__ADS_1


"Ya iya juga sih, yaudah kalo gitu gue ke dalam dulu ya ganti baju?" ucap Sahira.


"Oke! Jangan lama-lama loh, waktu lu cuma lima belas menit karena tinggal setengah jam lagi bel sekolah bakal maju!" ucap Thoriq mengingatkan Sahira sambil tersenyum.


"Santai aja!" ucap Sahira pede.


Gadis itu pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumahnya bersiap mengganti pakaian dengan seragam sekolah miliknya. Sedangkan Thoriq tetap berada di mobil, menunggu Sahira selesai berganti pakaian disana karena ia tak mau hanya berduaan dengan Sahira di dalam rumah.


"Kalau gue ikut ke dalam, gak tahu deh gue bisa tahan diri apa kagak buat enggak berbuat macam-macam sama lu Sahira!" ucap Thoriq.


Tak lama kemudian, Sahira pun kembali ke depan dengan pakaian seragamnya. Ia tersenyum menyapa Thoriq yang menunggunya sambil bersandar pada badan mobil.


"Gue udah kelar nih, lu ngapain malah turun dan diri disini, emang gak pegel?" ucap Sahira.


"Gak kok, justru gue pegel duduk terus di dalam. Abisnya lu lama banget sih, cuma ganti baju aja selama ini gimana kalo sekalian mandi!" ujar Thoriq geleng-geleng kepala.


"Eee hehe kan gue udah bilang tadi, lu ikut masuk aja ke dalam supaya gak pegal! Eh tapi lu nya malah gak mau, yaudah jangan salahin gue lah!" ucap Sahira tertawa kecil.


"Gak ada yang salahin lu kok, yaudah yuk kita langsung aja berangkat sekarang ke sekolah lu mumpung belum telat!" ucap Thoriq.


"Iya bang, yuk!" ucap Sahira tersenyum.


Mereka pun masuk ke dalam mobil bersamaan, namun diluar dugaan Thoriq bergerak memasangkan seat belt di tubuh Sahira ketika gadis itu sedang melamun, hal itu membuat Sahira terkejut dan reflek menatap ke arah Thoriq.


"Lu ngapain pasangin sabuk pengaman buat gue? Gue bisa sendiri kok!" tanya Sahira.


"Gapapa, biar keren aja kayak di film-film gitu!" jawab Thoriq sambil tersenyum.


"Hah? Ya ampun, kocak banget sih lu bang! Yaudah, makasih deh karena lu udah pasangin sabuk pengaman ini walaupun gue gak minta!" ucap Sahira.


"Gue senang ngeliat lu senyum kayak gitu, lu jadi kelihatan lebih cantik dan manis!" ucap Thoriq.


"Hah? Udah ah jangan kebanyakan ngomong yang gak bener deh, mending kita jalan sekarang aja biar cepet sampe di sekolah!" ujar Sahira.


"Iya iya, jangan jutek gitu dong!" ujar Thoriq sembari mencolek pipi adiknya.




Begitu keluar dari rumahnya, Keira yang ditemani oleh kedua orangtuanya itu dibuat cukup kaget saat melihat Elargano sudah berdiri di depan sana memandang ke arahnya sambil tersenyum dengan kedua tangan dilipat di bagian depan tubuhnya.


Elargano pun melangkah mendekati Keira sang kekasih sambil terus tersenyum, gadis itu nampak gugup saat melihat kedatangan kekasihnya karena ia khawatir jika El akan marah padanya mengingat apa yang sudah dilakukan Ibrahim yakni mendekati dirinya dan memberi hadiah kepadanya.


"Hai om, tante!" ucap El menyapa kedua calon mertuanya itu dan mencium tangan mereka.


"Iya hai juga El!" ucap Zahra tersenyum.


"Selamat pagi El! Kelihatan ceria banget nih pagi ini, pasti kamu lagi bahagia ya?" ucap Lingga.


"Iya dong om, siapa yang gak bahagia ketika ngeliat pacarnya ini semakin tambah cantik aja!" ucap Elargano beralih menatap gadisnya dan mencolek pipi Keira sambil terkekeh kecil.


"Ahaha, tuh sayang kamu dipuji sama pacar kamu! Jangan diem aja dong, harusnya kamu balas pujian El atau paling enggak kasih senyum gitu!" ujar Lingga menegur putrinya.


"Papa apaan sih ih? Jangan suka iseng deh sama aku! Lagian kamu juga El, jemput aku kok gak bilang dulu sih?" ucap Keira cemberut.


Melihat ekspresi Keira saat ini membuat El semakin merasa senang, ia bahagia karena Keira gadisnya sudah tersadar dari pengaruh pelet itu dan gelang yang dikenakan gadis itu pun memang telah tiada karena sudah diambil oleh Lingga.


Elargano mendekat, meraih dua tangan Keira dan menggenggamnya erat sambil tersenyum. Lalu, pria itu menaruh tangan Keira di dadanya hingga membuat Keira melongok tak mengerti apa maksud El melakukan itu padanya.


"Ka-kamu mau apa...??" tanya Keira heran.


"Sayang, kamu ngerasain gak kalau jantung aku berdetak lebih kencang sekarang?" ucap El.


"I-i-iya... terus kenapa?" ujar Keira bingung.


Lingga dan Zahra yang menyaksikan momen itu hanya saling rangkul sambil tersenyum, mereka membiarkan sepasang kekasih itu bermesraan karena dahulu mereka pun pernah melakukannya.

__ADS_1


"Ini pertanda kalau aku benar-benar cinta sama kamu sayang, aku selalu gak bisa tahan diri tiap kali lihat senyum kamu yang manis itu!" ujar El.


"Ish, kamu mah gombal terus ih!" cibir Keira.


Gadis itu menarik paksa tangannya, lalu memalingkan wajah dan cemberut.


"Hey, mana ada aku gombal? Semua yang aku bilang itu fakta, kalau gak percaya tanya aja mama sama papa kamu! Bahkan bintang pun minder sama kamu kalau di siang hari, karena sinarnya kalah sama kecantikan wajah kamu itu! Makanya mereka milih buat muncul di malam hari aja, sewaktu kamu lagi tidur sayang!" ucap El.


Keira menggelengkan kepalanya mendengar apa yang disampaikan Elargano padanya, sedangkan El tersenyum dan kembali menggenggam dua tangan gadisnya itu.


Zahra dan Lingga yang masih ada disana turut dibuat terkagum-kagum dengan cara El membujuk Keira putri mereka itu, keduanya pun sampai tersenyum mengingat jaman mereka muda dulu.


"Udah lah El, kamu jangan kebanyakan gombal! Nanti stok gombal kamu habis loh!" ujar Keira.


"Ya gak akan habis lah, orang setiap kali ketemu kamu pasti selalu muncul aja ide buat gombalin kamu sayangku!" ucap El tersenyum.


"Haish, mau sampai kapan nih disini terus? Nanti yang ada bel keburu bunyi, mending kita cepetan berangkat sekarang sayang! Aku gak mau kamu telat nanti ke sekolahnya!" bujuk Keira.


"Iya iya, aku lanjut gombalin kamu di mobil aja deh!" ucap Elargano.


"Terserah kamu!" cibir Keira.


Akhirnya sepasang kekasih itu pamit pada Zahra dan Lingga, kemudian jalan berdampingan menuju mobil El untuk segera pergi ke sekolah.




Thoriq menyadari sikap Sahira yang aneh sepanjang perjalanan menuju sekolahnya, pria itu pun menghentikan mobilnya sejenak ke pinggir untuk menegur Sahira disana.


Namun, sebelum Thoriq menegurnya gadis itu sudah sadar lebih dulu karena mobil Thoriq berhenti bukan pada tempat tujuannya, Sahira pun bingung lalu melirik Thoriq dan bertanya pada pria itu mengapa mereka berhenti disana.


"Bang, kok lu berhenti disini? Mau ngapain?" tanya Sahira kebingungan.


Thoriq tersenyum tipis, kemudian mendekat ke wajah Sahira dan mengusap lembut rambut gadis itu sembari menarik wajahnya agar lebih dekat pada bahunya.


"Kamu lagi mikirin apa? Daritadi aku perhatiin kamu diem terus, pasti ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu kan?" ujar Thoriq.


"Hah? Gu-gue gak lagi mikir apa-apa kok, gue cuma bingung lupa minta uang jajan tadi sama kak Nur. Terus gue juga gak bikin bekal, gue bingung deh mau makan apa nanti pas istirahat!" ucap Sahira berbohong.


"Ohh, yaelah soal itu aja pake dipikirin sih! Kan disini ada aku, kamu bisa minta uang jajan ke aku Sahira! Aku ini juga abang kamu, jadi kamu gak perlu malu buat minta ke aku!" ucap Thoriq.


"I-i-iya sih, cuma kan—"


"Sssttt! Udah udah, soal uang jajan gausah dipikirin lagi! Berapapun yang kamu mau, pasti aku kasih kok buat kamu Sahira!" potong Thoriq.


Sahira terdiam membulatkan matanya lebar-lebar saat Thoriq menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu, Sahira nampaknya makin tak mengerti dengan sikap baik Thoriq padanya belakangan ini.


"Yaudah iya, makasih ya bang!" ucap Sahira setelah Thoriq melepas jari telunjuknya.


"Sama-sama. Kita lanjut jalan kan?" ucap Thoriq.


"Iya bang," jawab Sahira singkat.


"Tapi, lu gak boleh melamun lagi! Setuju?" ucap Thoriq yang masih mendekatkan wajahnya pada wajah Sahira.


Sahira hanya mengangguk pelan, deru nafas Thoriq terasa di hidungnya dan membuat gadis itu gugup karena Thoriq terus-menerus mengikis jarak diantara mereka saat ini.


"Good girl!"


Cupp!


"What?" batin Sahira.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2