Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Gara-gara film


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 49.




Adelia kembali dari toilet dan duduk di tempatnya bersama Elargano, gadis itu senyum-senyum saja karena ia belum tahu kalau Elargano sudah membaca pesan dari seorang pria misterius yang mengajak Adelia check-in ke hotel malam ini.


Elargano bertingkah biasa-biasa saja, ia lanjut menyantap hidangan miliknya dan membalas senyuman Adelia, walau dalam hatinya ia sangat jijik dengan gadis tersebut.


"Udah selesai Del?" tanya Elargano.


"Iya, sudah kok. Maaf ya aku lama, soalnya tadi lumayan ramai di toiletnya!" jawab Adelia.


"Oh gapapa, lanjut aja makannya!" ucap Elargano.


"Ah iya, makasih!" ucap Adelia tersenyum tipis.


Elargano tak membalas senyuman Adelia kali ini, ia justru langsung menunduk dan menyantap makanan miliknya dengan cepat, rasanya El sudah malas berlama-lama dengan wanita itu dan ingin segera pergi dari sana jika mungkin.


"Eee kalo gitu aku mau pergi sekarang ya? Itu barusan teman kamu juga udah kirim pesan, katanya kamu ditungguin tuh!" ucap Elargano.


"Hah? Teman aku? Maksud kamu siapa?" tanya Adelia tak mengerti.


"Coba aja cek hp kamu! Maaf ya, tadi aku gak sengaja lihat! Soalnya hp kamu tiba-tiba nyala dan pesannya muncul gitu aja, aku jadi ngebaca dikit deh!" jawab Elargano.


"Oh, iya gapapa..."


Adelia yang penasaran, langsung coba mengecek hp nya untuk memastikan apa yang dibicarakan oleh Elargano tadi.


Ya seketika Adelia terkejut membacanya, isi pesan dari Sean itu benar-benar membuatnya panik. Apalagi ia tahu kalau Elargano sudah membacanya tadi, makin bertambah panik lah dirinya.


"Duh mampus gue! Ini Sean apaan sih prik banget kirim pesan kayak gini?!" batin Adelia.


"Eee kamu tadi baca pesan ini, ya?" tanya Adelia sambil menatap wajah Elargano.


"Iya, kenapa?" ucap Elargano.


"Kamu jangan salah paham dulu! Dia ini orangnya emang suka gak jelas, jadi yang diketik sama dia tuh gak bener El! Emang dia rada-rada gak waras sih, mesum juga otaknya! Kamu percaya kan sama aku El?" ucap Adelia coba menjelaskan.


"Umm, aku gak masalah kok kalaupun itu benar dan kamu emang mau check-in sama dia! Toh kita juga baru kenal dan ketemu dua kali, gak ada hubungannya sama aku kan?" ucap Elargano.


"Ya iya sih, tapi aku kan pengen kita temenan juga biar sama kayak papa kita!" ucap Adelia.


"Tenang aja! Aku udah anggap kamu teman aku, yaudah mending kamu temuin gih cowok itu! Kasihan dia nungguin kamu loh!" ucap Elargano.


"Gak perlu, aku males!" ujar Adelia.


"Loh kenapa? Emang dia siapa sih?" tanya Elargano.


"Dia tuh namanya Sean, teman sekolah aku. Dia emang suka sama aku dan ngejar-ngejar aku terus, padahal aku udah bilang ke dia kalau aku ini gak suka sama dia! Tapi, dia gak perduli dan tetap terus berusaha buat dapetin aku! Makanya aku butuh bantuan kamu El, buat pura-pura jadi pacar aku! Gimana? Kamu setuju gak?" jelas Adelia.


"Apa? Kok malah jadi aku sih? Menurut aku, gak perlu lah pake acara pura-pura pacaran segala! Kamu tegasin aja ke dia, kalau kamu gak suka sama dia!" ucap Elargano memberi usul.


"Udah berkali-kali aku bilang begitu, El! Tapi nyatanya dia masih tetap deketin aku! Please lah El, kamu bantu aku ya! Nanti aku kasih hadiah deh buat kamu, cuma satu atau dua kali aja kok kamu pura-pura nya!" ucap Adelia memohon.


"Maaf, aku gak bisa! Kamu kan tahu sendiri aku udah punya pacar, gimana kalau dia cemburu nanti?" ucap Elargano tetap menolak.


"Eee yaudah gini deh, biar aku yang coba bicara sama pacar kamu! Setuju?" ucap Adelia.


Elargano terdiam bingung, ia sungguh heran mengapa Adelia sampai sebegitu nya memaksa ia untuk menjadi pacar pura-pura nya.




Keesokan paginya, Sahira seperti biasa hendak berangkat ke sekolah diantar oleh abangnya, Jordan. Namun, kali ini ada yang berbeda darinya karena gadis itu nampak lebih ceria dan selalu tersenyum.


Jordan sangat senang melihat perubahan dari adiknya, yang semula sering cemberut menjadi gadis yang periang. Tentu saja hal itu tak lepas dari pengaruh Keira yang sudah berhasil ditemukan oleh Sahira setelah sepuluh tahun lebih mencari.


"Ra, udah siap?" tanya Jordan pada adiknya.

__ADS_1


"Udah dong bang, aku siap seratus persen buat pergi ke sekolah hari ini! Karena nanti siang aku juga ada janji sama Keira mau nonton film!" jawab Sahira.


"Wih asik tuh! Emang mau nonton film apaan sih? Perasaan gak ada yang rame deh!" ujar Jordan.


"Loh jangan salah bang! Ada film yang lagi rame, judulnya mencuri Raden Kian Santang. Makanya abang banyak-banyak browsing di internet tentang film yang lagi rame, itu seru tau!" ucap Sahira.


"Hah? Gue baru dengar ada film begituan, ada-ada aja dah film jaman sekarang! Tapi gapapa, yang penting gue bisa liat lu bahagia!" ucap Jordan.


"Hehe, iya bang. Eee kalo abang mau ikut juga boleh kok, nanti aku bilangin ke Keira!" ucap Sahira.


"Eh gausah, jangan! Gue mah gak suka film genre begituan! Gue lebih suka nonton pengabdi ketan dua yang bentar lagi mau tayang, baru tuh seru!" ucap Jordan mengacungkan jempol.


"Yaelah sok-sokan nonton horor, paling abis nonton langsung gak berani ke kamar mandi sendirian, terus minta temenin kak Nur deh!" cibir Sahira.


"Yeh mana ada gue begitu, ngaco aja lu!" ujar Jordan.


"Lah buktinya waktu itu pas kita abis nonton film KKN di desa pelari, abang sampe ngigo ketemu ular terus kebayang bayang pas tidur! Padahal filmnya gak begitu seram, huu emang dasar abang penakut!" ucap Sahira meledek abangnya.


"Itu mah beda lagi, Sahira! Kalo film soal ular, gue emang anti banget! Nah kalau yang ini kan beda lagi, pasti gue gak bakal begitu lah! Justru gue yakin, lu gak berani kan nonton pengabdi ketan!" ujar Jordan.


"Dih, kata siapa? Aku berani kok! Lihat aja nanti, aku bakal tonton tuh film ribuan kali!" ucap Sahira.


"Oh oke, gue tantang ya lu buat tonton filmnya! Awas aja kalo gak nonton, gue potong uang jajan lu setengah!" ujar Jordan menantang Sahira.


"Iya siap! Tapi, kalo aku beneran nonton abang mau kasih apa?" tanya Sahira.


"Eee gue tambahin deh uang jajan lu, gimana setuju kan?" jawab Jordan.


"Ya boleh tuh! Deal!" ucap Sahira.


Tak lama kemudian, Nur yang baru selesai beberes di dapur muncul menghampiri Sahira serta Jordan yang masih ada di depan pintu. Nur menatap heran ke arah mereka, karena sepasang adik-kakak itu masih belum berangkat juga.


"Loh Sahira, mas Jordan? Kok kalian masih pada disini sih? Emang gak takut telat? Ini udah mau jam setengah tujuh loh!" tanya Nur heran.


"Hah? Aduh mati aku! Ini gara-gara bang Jordan sih, pake ngajakin aku ngobrol segala!" ujar Sahira.


"Iya iya maaf! Yaudah, kita langsung ke mobil aja yuk marah-marahnya nanti aja! Kalo lu telat, nanti malah ada alasan lagi buat lu malas-malasan di rumah!" ucap Jordan.


"Yeh aku juga gak mau telat kali, bang!" ucap Sahira.


"Bang, cepet bang nanti aku telat!" ujar Sahira panik.


"Iya iya santai aja kali!" ucap Jordan.


Jordan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.




Sesampainya di sekolah, Sahira tergesa-gesa turun dari mobil abangnya karena melihat para murid sudah berlarian menuju gerbang. Ia sangat panik khawatir kalau gerbang akan segera ditutup.


"Bang, aku sekolah dulu ya? Assalamualaikum!" ucap Sahira panik.


"I-i-iya iya, waalaikumsallam..." ucap Jordan.


Sahira membuka pintu, kemudian turun dari mobil dan langsung berlari menuju gerbang. Sedangkan Jordan masih tetap di dalam memperhatikan Sahira yang tengah berlari, ia ikut cemas karena melihat gerbang sekolah yang sudah hampir tertutup.


"Ayo Sahira, lu bisa!" ucap Jordan dari dalam.


Gadis itu terus berlari bersama para murid lainnya yang juga terlambat datang, mereka seperti peserta lomba lari yang sedang mengincar hadiah, yakni tidak terlambat masuk sekolah.


Namun, Sahira harus menerima kenyataan bahwa ia terlambat dan tidak bisa masuk ke sekolah. Ya satpam yang menjaga gerbang sudah menutup pintu dengan rapat serta menggemboknya, sehingga Sahira dan beberapa murid disana tampak kecewa.


"Yah pak, buka dong kita mau masuk nih!"


"Iya pak, apa bapak gak kasihan sama kita? Udah lari-lari gini dari jauh mau belajar, eh malah gak dikasih masuk!"


"Betul tuh pak! Kasih izin kita masuk dong, lagian kita cuma terlambat beberapa menit!"


Begitulah suara-suara dari para murid yang terlambat, tentunya hanya kaum wanita karena kaum pria justru senang jika tidak dapat masuk dan mereka bisa bolos sekolah.

__ADS_1


"Gimana ini? Gue telat masuk lagi!" batin Sahira.


Satpam yang kebetulan masih berdiri disana, tak perduli dengan rengekan serta permohonan dari para murid tersebut, menurutnya ia sudah menjalankan tugas dengan baik karena waktu masuk sekolah telah ditentukan.


"Hey, anak-anak pemalas! Besok-besok kalau kalian mau sekolah, itu bangunnya lebih pagi biar gak telat kayak gini! Udah udah, sana bubar dan pulang ke rumah masing-masing!" ucap satpam.


"Yah tapi pak, ayo dong bolehin kita masuk! Nanti saya beliin coklat deh buat bapak!"


"Iya tuh, please pak!"


Murid-murid itu tetap kekeuh meminta dibukakan pintu, dan tentunya pak satpam juga teguh pada pendiriannya tak mau mudah terpedaya dengan rayuan mereka.


"Saya bilang gak bisa, ya gak bisa!" tegas pak satpam.


Disaat pak satpam hendak pergi, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah muncul dan membunyikan klakson membuat seluruh murid disana menyingkir.


Tiiinnnn...


Satpam itu menoleh kembali, dilihatnya mobil Lamborghini hitam berhenti di depannya.


Seorang pria pengemudi mobil itu memunculkan wajahnya dan berteriak.


"Pak Budi, bukain pintunya saya mau masuk!"


Ya itulah Elargano, si murid kaya raya yang suka bertindak seenak jidatnya. Ia merasa seakan-akan seperti penguasa dan seluruh orang harus menurut padanya.


"Waduh mas El, kalau saya buka gerbangnya nanti yang lain pada ikut masuk mas!" ucap pak satpam.


"Ohh, bapak nolak kemauan saya? Yaudah gapapa, nanti saya tinggal bilang ke papa buat tuntut bapak supaya masuk penjara!" ancam Elargano.


"Eh eh eh, jangan mas El! Saya masih mau kerja cari uang, kalau saya di penjara siapa yang kasih makan anak istri saya nantinya?" ujar pak satpam.


"Yaudah, cepat buka pak!" bentak Elargano.


"Eee ba-baik mas!" ucap pak satpam gugup.


Akhirnya satpam itu menurut dan mau membuka pintu gerbang untuk Elargano, namun tentunya hanya untuk Elargano bukan yang lain. Satpam itu berusaha agar murid-murid lainnya tetap berada disana dan tak bisa masuk ke dalam.


Sementara Sahira yang melihat itu, langsung mendekat ke arah Elargano dan berbicara pada pria tersebut, ia sungguh tidak suka dengan orang yang menyalahgunakan kekuasaannya seperti itu.


"Heh kak El! Lu kok sombong banget sih? Mentang-mentang anak orang kaya, terus lu bisa seenaknya gitu mau masuk ke sekolah padahal udah telat!" ujar Sahira.


"Lu kenapa sih, Sahira? Lu kan telat juga nih, harusnya lu makasih sama gue karena lu bisa masuk ke sekolah dan belajar! Coba kalo gak ada gue, paling lu udah disuruh pulang sama satpam!" ucap Elargano santai.


Pria itu pun langsung memacu mobilnya memasuki area sekolah, diikuti oleh beberapa murid termasuk Sahira. Sang satpam tampak kewalahan karena gagal mencegah murid-murid itu.


"Hey, kalian kenapa malah ikut masuk?! Aduh ah riweh ini mah urusannya!" ujar pak satpam.




Saat tengah jalan menyusuri lorong sekolah dan hendak masuk ke kelas, tiba-tiba seseorang menarik lengan Sahira dari belakang sehingga gadis itu terkejut dan meronta-ronta.


"Eh eh sabar, ini gue!" ujar pria yang tak lain ialah El.


"Haish, lu ngapain sih ngagetin gue aja? Bukannya buruan ke kelas sana, kita udah telat tau!" ucap Sahira keheranan.


"Tar dulu dong! Lu gak mau bilang makasih gitu sama gue? Kan gue tadi udah bantu lu, ayolah lu hutang budi nih sama gue Sahira! Kalo bukan karena gue, gak mungkin lu bisa masuk sini!" ucap El.


"Hah? Lu kalo gak niat nolongin, ya gausah nolong lah! Lagian gue tahu kok, pasti lu niatnya juga mau nyelamatin diri lu sendiri kan?! Soalnya lu juga telat, kalo enggak mah mana mungkin lu mau bantu gue masuk kesini?" ujar Sahira.


"Dih, udah ditolongin malah nyolot! Buruan lu bilang makasih ke gue atau gue gak bakal lepasin tangan lu sampe siang!" ucap Elargano.


"Ish lu nyebelin banget ya jadi orang! Lepasin gue cepet ah!" ujar Sahira berontak.


Namun, usahanya sia-sia karena tenaga El memang cukup kuat jika dibandingkan dengan dirinya.


"Hahaha gak mau! Kalo lu pengen masuk kelas, bilang makasih dulu ke gue! Selain itu, nanti istirahat pertama lu juga harus makan berdua sama gue di kantin!" ucap Elargano.


"Apa??" ujar Sahira terkejut.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2