SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Pulang kampung 1


__ADS_3

Suasana di Mansion utama menjadi ramai, karena kedatangan Kedua Uncle berserta istrinya.


"Uncle... Aunty, aku tak menyangka kalian, akan datang menemui ku...aduh mimpi apa aku semalam" seru rachel.tersenyum gembira. melihat mereka sedang berbincang ria di ruang keluarga.


Rachel berdiri dari kursi rodanya, lalu menghampiri Uncle dan Aunty nya. yang sedang duduk bersama Sidney, Maikel, dan Magdalena.


Anson memeluk Rachel, lalu merenggangkan pelukannya "Uncle sangat terkejut ketika mendengar dirimu masuk rumah sakit" ucap Anson.


"Kakak... giliran ku! dia juga putri ku" lirih Ansel berdiri di belakang Anson.


"Tunggu sebentar! aku masih merindukan nya" sahut Anson.


"Jangan lama-lama, kakak! memang kau saja, yang merindukannya...aku juga merindukan putri ku" balas Ansel.


"Kalian berdua memperebutkan putri Javier...coba kalian lihat wajah Anthony, sudah merah menahan amarahnya, karena istrinya jadi rebutan kalian" ucap Evita, yang pandai membaca Wajah seseorang.


Anthony hanya tersenyum kaku, melihat pandangan mata, kedua paman istrinya. yang menatap tajam pada Anthony.


"Itu hak nya dia untuk cemburu" Shut Anson


"Tapi kami juga berhak memeluk, putri keluarga kami" Sela Ansel, memeluk tubuh Rachel.


"Sayang, Uncle sangat merindukan mu, kau tahu ketika Galaxy mengabarkan dirimu masuk rumah sakit, tubuh uncle serasa tak berdaya" jujur Ansel.


Anthony hanya memutar dua bola matanya, mendengar ucapan Ansel. mengapa paman istrinya terlihat sangat lebay


"Aku baik-baik saja uncle, terimakasih sudah mengkhawatirkan diriku" ucap Rachel tulus .


Rachel tersenyum ketika memeluk Secara bergantian pada Veleria dan Evita.


"Aunty, semakin seksi saja" jujur Rachel memuji Evita yang memiliki bentuk tubuh Evita seperti gitar sepanyol, walaupun usianya seumuran Sidney.


Rachel lalu memeluk Valeria.


"Apa mereka baik-baik saja di dalam?" tanya Valeria mengelus lembut perut Rachel.


Para wanita langsung serentak memisahkan diri dari pria, mereka mulai larut dalam obrolan seputar dunia wanita.


"Ada apa dengan putramu, mengapa dirinya memakai masker di dalam rumah? Apa dia sakit? suruh dia menjauh dari putri ku! bisa-bisa dia membawa penyakit menular ke sini" Bisik Ansel tanpa jeda. pada Maikel


"Kau jangan asal menuduh! seenaknya saja berbicara, tidak mungkin putra ku memiliki penyakit menular seperti yang kau tuduhkan" sahut Maikel. tak terima dengan ucapan Ansel.


Anson hanya menggeleng kepala. mendengar obrolan kedua orang yang duduk di samping kanannya. meskipun mereka berbicara dengan suara lirih, Anson masih bisa mendengar obrolan mereka berdua.


"Mengapa kalian berdua berisik sekali?!" tegur Anson pada Maikel dan Ansel.


"Anthony mengapa kau memakai maskeran di rumah?" tanya Anson. agar adiknya tidak penasaran.


Ansel yang mendengar pertanyaan kakaknya buat Anthony, jadi memajukan tubuhnya sedikit ke depan.


"Aku, tidak bisa mencium Aroma yang harum, dan sangat menyengat, Uncle. kepala terasa ma pecah" jawab Anthony.

__ADS_1


"Jadi Dia terkena Sindrom Couvade?" seru Ansel. tak percaya.


Anson tertawa kecil mendengar ucapan adiknya.


"Nikmatilah! Anthony, aku juga pernah mengalaminya, rasanya...akan kita ingat seumur hidup kita" ujar Anson.


"Ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan" Lanjut Anson tersenyum lebar mengingat dirinya pada masa istrinya hamil anak kembar mereka.


"Kau juga pernah merasakan, ngidam? aku jadi penasaran?" Ucap Maikel.


Anson tersenyum lebar mendengar pertanyaan Maikel. Anson masih ingat waktu dirinya ngidam, ingin rasanya Anson menggantung saudara kembarnya ujung jarum Big Ben.


"Kau berhutang besar kepada ku, karena sudah menuduh putra ku yang bukan-bukan" Ancam Maikel pada Ansel.


Ansel hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aku akan membayar nya, tenang saja aku akan mengajak mu, memancing di laut" sahut Ansel. sekenanya.


"Wow...apa aku tidak salah dengar? Terakhir kita memancing bersama, di Yacht milik Darrel, tak henti-hentinya kau muntah, karena ombak laut yang sedang bergelombang" sahut Maikel, menggerutu


Ansel bergeming tak berbicara lagi


Anson tertawa kecil mendengar gerutunya Maikel.


"Memang nya , kapan kau pergi memancing dengan mereka berdua?" tanya Anson.


"Dua hari yang lalu, acara memancing kita jadi kacau, gara-gara dia mabuk laut" sahut Maikel.


Anthony tidak menyangka, papanya sangat akrab dengan mereka berdua.


"


"Nyonya besar, Makan malam sudah tersedia di meja makan" Ucap kepala koki Mansion utama.


Mereka semua menikmati makan malam bersama, yang sudah di buat Koki Mansion.


*****


Dua hari berlalu. mereka semua sudah berencana pergi ke rumah Rachel, rumah di mana Javier dan istrinya tinggal. sekalian berziarah ke makam Javier dan istrinya.


Rachel sengaja mengundang ketiga temannya, untuk ikut bersama ke rumah Orang tuanya, Rachel sengaja mengajak ketiga sahabatnya agar dirinya tidak merasa sepi. di sana , Rachel juga merasa bosan mendengar obrolan sekitar wanita yang beda usia dengan dirinya.


Anthony sengaja menyuruh Dion membeli satu mobil Toyota Hiace luxury, untuk kenyamanan istrinya.


Sedangkan kedua orangtuanya, Oma, dan keluarga Dari istrinya, memakai mobil pribadi. menuju ke rumah Rachel.


Di waktu yang sama.


"Ingat yah, Amanda, sampai di sana, elu jangan banyak ngomong, cukup diam! oke!?" ucap Lisa. karena tak tega temannya di tertawai oleh orang lain karena kepolosannya dalam berbicara. Amanda tidak bisa berkomunikasi dengan tepat dengan orang lain. Amanda tidak tahu yang namanya basa-basi dengan orang lain.


"Enggak boleh buka mulut?" sahut Amanda.

__ADS_1


"Iya, tidak boleh buka mulut di sana, oke!" Lisa m ngulang ucapannya.


"Di sana? maksudnya apa sih? kita kan sedang menuju ke rumah mertuanya, Rachel" Sahut Amanda menyenggol bahu Rully.


"Di rumah mertuanya Rachel, Manda..."Rully menjelaskan pada Amanda.


"Oke...jadi, Gw harus diam? tutup mulut?" tanya Amanda.


Lisa dan Rully mengangguk antusias.


Amanda berpikir sejenak.


"Tapi kalau Gw, mati di rumahnya Rachel, elu berdua harus tanggung jawab!" ucap Amanda.


Rully dan Lisa melongo mendengar ucapan Amanda.


"Emangnya udah liat, ada malaikat pencabut nyawa di sebelah, Elu?" tanya Lisa.


Amanda menggeleng kepala.


"Terus kenapa elu bisa tahu, bakalan mati di rumahnya Rachel?" giliran Rully yang bertanya.


"Bisa aja dong, Gw mati di rumahnya, Rachel...Elu berdua kan yang larang, Gw buka mulut. Pasti, Gw kagak makan dan minum dong... apalagi rencananya kita di sana sampai satu Minggu...wajar dong, Gw nanya..." Protes Amanda.


Rully dan Lisa saling beradu pandang.


"Di luar makan dan minum, Amanda, selebihnya, elu diem tidak usah ngomong!apalagi terhadap orang asing, oke!" ujar Lisa.


"Terserah Elu aja, deh...cari baiknya aja" sahut Amanda tidak ambil pusing. dia tahu kedua sahabatnya tak ingin dirinya di pandang tak baik oleh orang lain.


Mansion Utama.


"Mobilnya besar banget" seru Rachel melihat Mobil Hiace masuk kedalam halaman Mansion.


"Aku sengaja membelinya, untuk kenyamanan kamu selama di perjalanan, sayang" jujur Anthony.


"Wow... Terimakasih" sahut Rachel langsung memeluk suaminya.


"Bunda aku ingin ikut bersama mu saja! aku tak ingin ikut dengan Granddad" Celetuk di Elton menarik-narik ujung dress, Rachel.


"Berikan Alasan mu, kenapa tidak ingin ikut dengan Granddad?" tegur Anson, menarik lembut tangan Elton, lalu memangku nya.


Rachel tersenyum melihat wajah Elton yang sedang berpikir sejenak, mencari alasan yang tepat.


Sebuah Mini Cooper Cabrio, berwarna biru metalik, masuk kedalam Mansion utama.


Membuat pandangan mata semua yang sedang berada teras depan Mansion beralih ke Arah Mini Cooper Cabrio.


"Sahabat mu, sudah datang sayang" ucap Anthony.


"Itu bukan Mobil yang biasa mereka pakai, Bee" sahut Rachel.

__ADS_1


TBC


 


__ADS_2