
"Flower...Aku ini Suami kamu!" Anthony menepuk lembut dadanya. meyakinkan istrinya.
"Suami? mana buktinya... kalau aku istri,Om? masa iya sih aku menikah dengan Om-om?" lirih Rachel. tak mengakui suaminya.
Arora mengulum bibirnya mendengar ucapan Adik sepupunya. begitu juga yang lainnya. membuat wajah Anthony bersemu merah karena ucapan sang istri yang begitu menjatuhkan harga dirinya.
"Itu buktinya..." Anthony menunjuk pakai dagu ke arah perut Rachel.
"Hah...aku hamil?" seru Rachel yang tiba-tiba merubah posisi tubuhnya, dari posisi telentang menjadi Duduk karena terkejut dengan perubahan pada tubuhnya.
"Sayang... hati-hati!"" seru Anthony seketika. tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan calon anak-anaknya.
"Tidak mungkin... pasti ini mimpi" kedua tangannya menepuk pipinya.
"Auww" Pipinya terasa sakit.
Rachel merasakan nyeri di bagian tulang Graham sampai k pipinya, tangannya mengusap lembut bagian Graham nya.
"Apa masih sakit?" tegur Anthony sambil menatap wajah istrinya, mencoba mendekati Rachel.
Arora segera bangun dari kursi agar Anthony bisa leluasa dekat dengan istrinya.
"Mau ngapain?" Rachel mendelik matanya kearah suaminya.
"Jangan macam-macam yah, Om!"
Orion dan Justin malah terkekeh-kekeh melihat sikap adik sepupunya, yang menolak Suaminya. hingga pandangan mata Rachel berpindah haluan ke arah mereka berdua.
"kakak...apa mereka semua teman, kakak?" tanya Rachel mengingat Arora yang memiliki beberapa teman model Pria berdarah belasteran.
Oliver memasang wajah tersenyum pada Rachel begitu juga dengan Anson dan Ansel .
Sedangkan Justin dan Orion melambaikan tangannya.
"Hai... Rachel" sapa Justin dan Orion.
Mereka berdua melangkah mendekati Rachel. yang sedang menatap bingung pada mereka berdua.
" Wajah kalian sepertinya tidak asing bagi ku?" ucap Rachel.::
Mereka tersenyum lebar mendengar ucapan Rachel.
"Rachel, sayang... mereka adalah keluarga dari almarhum Papa mu" Bram menunjuk ke arah Anson dan yang: lainnya.
"Yang kembar ini, Tuan Anson dan Tuan Ansel, mereka berdua adalah kakak dari Almarhum Papa mu"
"Dan ketiga pemuda tampan ini adalah kakak sepupu mu, Nak" ujar Bram .
"Mereka semua keluarga Papa?'" Rachel menatap kedua Unclenya dan kembali menatap ketiga kakak sepupunya.
Mereka menganggukkan kepalanya. sambil tersenyum lebar.
Ansel sudah tak sabar dan segera memeluk Rachel.
"Putri ku... kenapa diri mu tak mengenali uncle mu sendiri" ucap Ansel memeluk Rachel .
Di susul dengan Anson dan yang lainnya.
__ADS_1
Rachel hanya tersenyum lirih dan tak tahu harus berkata apa ketika mereka semua bergantian memeluk dirinya.
Mereka saling berbicara dan bercerita dengan Rachel, siapa tahu di setiap cerita kebersamaan mereka, Rachel mengingat tentang keluarga Papanya.
"Jadi aku pernah ke London? dan melihat Kakek Elias" ucapnya
"Yah, sayang...kamu datang ke London bersama kami waktu itu" terang Justin.
"Saat pertama kali kita bertemu, Di saat diriku kecelakaan, mobil yang aku kendarai ternyata blong rem nya, dan kamu Rachel... kamulah yang menolong aku keluar dari mobil"
"Dan tiba-tiba kau menghadang mobil ku, meminta tolong, membawa Oliver ke rumah sakit" ucap Anthony memotong ucapan Oliver.
Terlihat wajah Rachel yang sedang berpikir "Aku tak mengingatnya " ucapnya.
"Jangan di paksakan! biarkan dirinya tenang! kita tunggu Dustin yang sedang memanggil Dokter " ujar Anson.
Tak lama kemudian Bianca masuk bersama Dustin.
"Permisi...saya mau melihat keadaan Pasien " ucap Bianca.
"Bia..." Anthony menarik lengan Bianca.
"Istri Gw kok tidak mengenal diri Gw... Rachel seperti Amnesia "
"Amnesia...yang benar?"
"Yah elu kan Dokternya, masa elu sampai kagak tahu kalau dia jadi amnesia "
"Wah...elu kalau panik, sampai keluar begonya yah...ehh, gw ini Dokter kandungan bukan Dokter jiwa, istri elu datang dalam keadaan tidak sadarkan diri dan Gw cuma periksa kandungannya"
"Elu mau bawa Gw kemana?"
Mereka yang di ruangan hanya termangu memandangi tingkah Kedua Manusia yang sedang tarik menarik sambil bersautan bicara.
"Gw mau bawa elu ke salon" oceh Bianca sekenanya.
"Gila Luh yah...bini Gw lagi sakit" sahut Anthony, Menghempaskan tangan Bianca.
"Gw mau ajak elu bertemu dengan dokter Sanjaya dia di sini Dokter yang bisa menangani penyakitnya Rachel, Ton, ton" balas Bianca.
"Ck, Bilang kek dari tadi" decak Anthony.
"Yah kan tadi Gw ajak elu...elu nya aja yang bolot"
"Cepetan!" Bianca langsung menarik kembali tangan Anthony.
"Loh kalian mau kemana?" tegur Maikel ketika berpapasan di Depan kamar rawat pasien.
"Mau bertemu Dokter Sanjaya, Pah... Rachel hilang ingatan" jawab Anthony.
"Hilang ingatan? kok bisa?" Maikel terkejut dengan penuturan putranya.
"Aku juga mana tahu, papa...yang paling parah aku sekarang di panggil Om sama istri aku sendiri" keluh Anthony.
"Hahaha... berarti istri elu jujur dong..."Bianca malah tertawa kembali.
"Puas Luh ngetawain,Gw?!" Anthony menjadi jengkel dengan sahabatnya yang satu ini.
__ADS_1
Anthony dan yang lainnya hanya melihat dari jauh saat istrinya sedang di periksa dokter Sanjaya.
"Aku tak tahu sampai kapan dirinya tak mengingat diriku, Pa..." lirih Anthony. berbicara pada Maikel.
"Walaupun Rachel tak mengingat dirimu, kau jangan patah semangat! ingat...ada calon anak-anak yang mengikat pernikahan kalian, kau harus bersabar dan bersikap lebih bijaksana pada istri mu" Maikel memberi nasehat pada putranya.
Waktu tak terasa semakin malam, tinggal Anthony yang menemani sang istri. saat ini istrinya sedang tertidur nyenyak karena dokter Wijaya memberikan obat melalui infus, agar Rachel beristirahat.
Mata Anthony masih menatap sayu pada istrinya, perlahan tangan kanannya mengusap pucuk kepala Rachel. pikirannya melayang saat dirinya berhadapan dengan Dokter Sanjaya.
Flashback on.
"Istri anda terkena Amnesia Disosiatif""
"Amnesia Disosiatif" lirih Anthony. mengerutkan keningnya.
" Amnesia disosiatif tidak sama dengan amnesia biasa. Orang dengan penyakit mental ini sebenarnya masih memiliki ingatan. Hanya saja, memori tersebut terkubur sangat dalam di pikirannya" l
"Kemungkinan istri anda Trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya, hingga terjadi Amnesia Disosiatif"
Anthony bergeming mendengar ucapan sang Dokter.
"Apa istri ku masih bisa kembali ingatannya, dokter?" tanya Anthony. tak ingin istrinya melupakan kenangan Dengan dirinya.
"Bisa... Dengan dukungan dari keluarganya, dan orang terdekat" jawab sang dokter.
"Apa saja yang harus saya lakukan agar istri saya bisa kembali ingatannya?"
"Ajak istri anda untuk mengingat kembali kenangan-kenangan bersama anda, maupun dengan keluarganya... istri anda hanya mengingat usianya saat dirinya berusia 18 tahun dan dia kuliah semester pertama jurusan manajemen bisnis"
"Anda harus banyak bersabar tuan "saran dokter Sanjaya.
Flashback off.
Anthony mengecup kening istrinya, tak lama kemudian kecupannya pindah ke bibir istrinya, ingin rasanya Anthony ******* bibir yang telah menjadi candu bagi dirinya. tapi semua itu dia tahan karena tak ingin istrinya bangun, dan menilai jelek pada dirinya.
"Selamat malam sayang... mimpi yang indah " Lirihnya. sambil mengusap lembut perut sang istri.
"Kalian jangan nakal di dalam yah sayang! jangan buat mama kalian kesakitan!" Anthony mengecup perut istrinya.
TBC.
Terimakasih.
Buat para Readers Mimin mengucapkan, Selamat Hari IdulFitri. Mohon Maaf lahir dan Batin. siapa tahu aku ada salah pada kalian.
Mimin juga minta maaf karena kesibukan Mimin di dunia nyata lagi padat-padatnya.
Di tambah kucing ganjen Mimin yang nambahin pekerjaan buat Mimin.
kebanyakan sampai melahirkan 4ekor anak... capek deh...
__ADS_1