
Amsterdam.
Arora masuk kedalam Restoran, kebetulan hari ini Arora mendapat giliran masuk pagi.
"SELAMAT PAGI SEMUA" seru Arora tersenyum pada sesama Pegawai restoran.
Tiba-tiba tuan Jansen menghadang jalannya.
Kenapa Tuan Jansen menghalangi jalan ku, Aku rasa tidak terlambat masuk kerja. Arora.
"Bagaimana penampilan ku, Arora?" Jansen memasang senyum kakunya. berdiri tegak.
Arora hanya mengacungkan kedua jari jempolnya. sambil tersenyum lebar
"Sungguh?" mata Jansen berbinar ceria.
Arora mengangguk semangat.
"Bagaimana dengan Jas ku? apa jas ku tidak kusut?" tanya Jansen lagi.
Dari jauh, Jeremy Hanya tersenyum kecil melihat tingkah aneh Tuan Jansen hari ini.
Arora malah ingin menggoda Sang Manager.
Arora memicingkan matanya. seolah-olah sedang meneliti penampilan Tuan Jansen.
"Ayolah Arora...aku butuh jawaban mu" Jansen mengharap penilaian dari Arora.
"Jas tuan Jansen sudah licin, seperti marmer Halus...ssssshuuus" gombal Arora. walaupun memang jasnya sudah licin.
Jansen tersenyum mendengar penilaian Arora pada dirinya.
"Terimakasih Arora. hanya kau yang memuji ku dengan baik" ucap Jansen melangkah pergi meninggalkan Arora.
Mata Arora mengikuti arah langkah kaki Tuan Jansen " Ada apa dengan nya?' gumam Arora, lalu melangkah pergi ke arah ruang ganti pakaian.
Saat ini Arora sedang membantu Damian di Dapur, Arora melihat dua orang Chief restoran ini sedang berjibaku di dapur.
"Apa kita mendapat orderan di luar?" tanya Arora pada Damian sambil mengelap piring.
"Menurut kabar yang kudengar. pemilik restoran akan makan di sini, bersama para teman lamanya, dan hari ini kita hanya melayani Keluarga pemilik restoran dan tamu undangan " jawab Damian.
Arora hanya mengangguk saja.
"Semuanya sudah siap?" Tanya Jansen masuk ke dalam Dapur.
"Kita sudah menyiapkan hidangan untuk tuan Alexander dan keluarganya" jawab Tuan Kim, salah satu chief dapur restoran.
"Arora...ikut aku! kau akan bertugas melayani tamu Keluarga Tuan Alexander!" ucap Jansen lalu keluar dari dapur.
Wajah Arora tampak terlihat tegang.
"Pergilah ini sudah tugas mu!" ucap Tuan Kim.
"Tapi aku lebih suka bersembunyi di sini. lebih baik aku mengelap piring dan mencuci piring, dari pada Aku harus melayani para tamu Tuan Alexander, Apa lagi aku belum pernah bertemu dengan dirinya, aku tak tahu karaktetnxa seperti apa" lirih Arora.
"Tuan Alexander, orangnya sangat Baik" sahut tuan Kim.
"Hai... untuk saat ini, kau wanita teraneh di restoran ini. para pegawai wanita di sini, sangat berharap bisa di tugas kan melayani Keluarga Tuan Alexander, bila Mereka berada di restoran ini, sedangkan kau malah ingin bersembunyi" cibir Damian.
"Ck" decak Arora.
"Taun Alexander memiliki tiga putra, siapa tahu di antara mereka ada yang tertarik dengan diri mu" Goda Damian.
kedua Alis Arora terangkat naik, matanya melotot kearah Damian. Damian Hanya tersenyum melihat wajah Arora.
"Tapi putra tertuanya sudah menikah, tinggal dua orang yang belum menikah" sahut Chief Kim. sambil menaruh bokongnya di samping Damian.
"Tidak tuan Kim, Putra tertua tuan Alexander,sudah bercerai" Sahut Damian.
"Dari mana kau tahu beritanya" tanya tuan Kim jadi penasaran.
Arora malah tertawa kecil. melihat dua pria yang ada di hadapannya.
"Mengapa kalian berdua jadi tukang gosip? aku baru tahu ternyata para pria juga suka bergosip" ucap Arora. menahan senyumnya.
"Arora..." Kepalanya Sheila terlihat menyembul di pintu Dapur "Tuan Jansen memanggil mu" ucap Sheila .
Arora menaruh serbet di atas meja lalu melangkah ke arah pintu Keluar pintu dapur.
Tuan Jansen memberikan pengarahan pada kami, setiap Satu meja harus ada dua pelayan yang melayani para tamu Tuan Alexander.
"Aku senang kita bisa berpasangan, Arora!" seru Clara.
" Aku deg-degan" sahut Arora.
"### Dan aku juga" balas Clara mereka tertawa bersama.
__ADS_1
-
Dua Mobil sport Ferarri dan Lamborghini yang memiliki warna yang sama Tiba-tiba terparkir mulus di depan Restoran.
Empat orang pemuda tampan masuk kedalam Restoran.
"Selamat datang Tuan Austin, Tuan Edward" sapa Jansen.
"Hai tuan Jansen...apa kabar, lama kita tak berjumpa" sahut Austin. berjabat tangan dengan Jansen.
"Siapa mereka" bisik Arora pada Clara. melihat ke arah 4 pemuda yang datang bersamaan.
"Aku tak tahu" jawab Clara.
"Kau lupa kita berdua hampir bersamaan masuk ke restoran ini saat melamar pekerjaan" lanjut Clara.
"Mereka putra kedua dan ketiga tuan Alexander" Celetuk Nicky.
"Yang memakai kemeja warna Cream putra ke tiganya tuan Alexander, namanya Alan, dan yang sedang berjabat tangan dengan tuan Jansen putra keduanya namanya Austin" lanjut Nicky.
"Putra ketiga Tuan Alexander, sangat tampan. namun sayang wajahnya datar tanpa Ekspresi, aku takut melihat wajah nya" sahut Clara.
"Kau mungkin lebih suka tipe pria seperti tuan Austin Huble dan murah senyum?" Celetuk Maxi yang berdiri di samping Clara.
"Dia bukan tipe ku, mungkin Sheila menyukai tipe seperti Tuan Austin" Clara.
"Aku menyukainya, tapi aku sudah memiliki kekasih dan aku mencintai kekasih ku" ucap Sheila.
"Owowow...Aku ingin memiliki wanita seperti mu Sheila, tidak tergoda dengan pria lain" goda Nicky.
"Austin tipe pria Petakilan. Tipe pria yang menyukai wanita dari bentuk fisik saja, tidak lebih dari itu" ucap Arora mengamati gerak gerik Austin.
Keempat teman Arora serentak memandang Arora. karena ucapan Arora.
"Mengapa kalian melihat semua ke arah ku?" Arora memasang wajah heran.
" Apa kau seorang cenayang? mengapa kau dapat menyimpulkan tuan Austin seperti itu?" tanya Maxi yang mengetahui Austin memang seorang playboy.
"Aku hanya menilainya saja, karena aku juga memiliki seorang teman yang sama tingkahnya seperti dia" jawab Arora, terlintas di pikirannya sosok Morgen teman SMA nya,
"Mobil milik nyonya Alexander, bersiaplah... siapa tahu kita yang di tugaskan melayaninya" ucap Nicky.
Rachel melihat beberapa mobil mewah langsung terparkir di depan Restoran.
Pintu mobil Sedan Mercedes, terbuka lebar, seorang gadis kecil keluar dari mobil Mercedes lalu berlari kearah Restoran.
"Nona Alena, Apa kabar!" sapa Jansen, membungkuk sedikit.
"Aku baik, terimakasih" Alana lalu pergi dari hadapan Jansen. Alana berlari kecil ke arah meja Austin.
Aera berjalan bersama beberapa Temannya
"Silahkan kalian cari tempat yang menurut kalian nyaman! aku ingin menyapa pada para pegawai di sini!" ucap Aera.
"Selamat pagi nyonya, Aera" sapa Jansen.
"Selamat pagi... terimakasih Jansen" balas Aera Tersenyum Ramah.
Aera istri dari Alexander Hugo. wanita belasteran, Korea- Amerika. memiliki wajah cantik, sifat yang Ramah tidak sombong dan baik hati, Aera juga tidak pernah memandang rendah orang lain semua sama, meskipun dirinya terlahir dari keluarga kaya raya. Author.
Aera melihat penampilan Jansen dari atas kepala, sampai ujung sepatunya yang mengkilap bersih tak berdebu.
"Jansen, penampilan mu hari ini sempurna sekali sampai memakai jas... mengenai jas mu, apa kau menyetrika sendiri? Atau kau bawa ke jasa Laundry?" tanya Aera penasaran.
Wajah Jansen menjadi tegang dengan pertanyaan istri dari Bosnya
"Apa jas ku, terlihat ku...sut, nyonya?" ucap Jansen ragu-ragu.
Ingin rasanya Aera tertawa melihat wajah Jansen, salah satu orang kepercayaan suaminya yang mengelola restoran ini.
"Dia cantik " ucap Clara melihat Aera sedang berbicara dengan Jansen.
Arora tersenyum lirih, matanya berkaca-kaca, entah mengapa rasa rindunya pada Rachel tiba-tiba membuncah.ketika melihat kecantikan yang di miliki Aera. sama seperti kecantikan yang di miliki Rachel
walau sudah terlihat di makan usia, kecantikan wajah Aera Masih terlihat sempurna.
Arora menghapus Sudut matanya dengan punggung tangannya.
"Ada apa Arora? apa kau sakit? aku lihat matamu berkaca-kaca... jangan-jangan kau menahan rasa sakit mu?" Tanya Sheila.
Arora hanya menggelengkan kepalanya.
"Kepala ku Hanya pusing... sedikit"Bohong Arora.
"Jangan dipaksakan bekerja" ucap Sheila berlalu pergi ke arah meja yang datang bersama Aera.
Jansen mengikuti kemana Arah langkah kaki Aera melangkah, dan menerangkan sedikit-sedikit pada Aera. sudah satu tahun Aera tidak menginjakkan kakinya di restoran ini, karena Aera sibuk mengurus bisnisnya di Korea.
__ADS_1
"Banyak sekali perubahan pada tempat ini" ucap Aera melayangkan pandangannya ke segala arah.
Alana, gadis kecil yang super aktif, sekarang sedang sibuk duduk berpindah-pindah tempat, dari kursi satu ke kursi yang lain. seperti anak kecil pada umumnya.
"Lihat gadis kecil itu, sudah seperti seorang penilai kursi yang akan di pasarkan" ucap Nicky pada Arora dan Clara.
Clara dan Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Nicky.
Alana akhirnya merasa capek setelah berpindah-pindah kursi, Akhirnya pipi kanannya di tempelkan ke atas meja, sambil mengatur nafasnya. melepas lelah, Tatapan mata Alana tidak lepas memandang Arora.
Alana mengangkat kepalanya, lalu melangkah mendekat ke arah, Arora dan Clara. sedangkan Nicky sudah pergi bersama Abigail melayani pesanan Austin dan Saudaranya.
" Bolehkah aku berkenalan dengan mu?" tanya Alana berdiri tepat di hadapan Arora.
Arora melipat kedua lututnya, agar tinggi mereka sama.
"Nama ku Arora, dan gadis cantik ini siapa namanya?" tanya Arora tersenyum manis pada Alana.
"Nama ku Alana" ucapnya.
"Nama yang indah" Puji Arora.
Aera mengerutkan keningnya, ketika melihat cucunya berinteraksi dengan seseorang, tidak biasanya Alana mau berbicara dengan seseorang.
"Apa yang kau lakukan di sini? bekerja?" tanya Alana.
"Iya sayang, Aku seorang Pramusaji di sini" jawab Arora.
Clara hanya tersenyum kecil melihat obrolan mereka berdua.
"Alana..." Aera mendekati Alana.
"Nyonya Area mereka berdua ini, pegawai baru disini. merasa sudah bekerja di sini selama enam bulan" ujar Jansen
Arora dan Clara berjabat tangan dengan Area
"Kau cantik sekali Arora, wajah mu seperti orang Asia tenggara, kamu berasal dari Taiwan?" tanya Area.
Arora tersenyum pada Aera.
"Saya berasal dari Indonesia, nyonya" jawab Arora.
"Indonesia... berarti kita sama dong, nenek moyang ku separuh juga berasal dari Indonesia" Sahut Aera antusias.
Arora hanya melongo mendengar ucapan Aera.
"Arora aku lapar... maukah kau yang melayani pesanan ku" pinta Alana.
Arora melihat ke arah Aera.
"Layani saja dia Tidak usah layani yang lain! " ucap Aera
-
Beberapa Mobil kembali lagi terparkir di depan Restoran.
Beberapa pria yang sudah menjelang usia. turun dari beberapa Mobil mewah.
Tampak Alexander berjalan bersama para teman bisnis yang di undang ke restorannya.
mereka jalan beriringan .
Semua mata menuju kearah Alexander dan rombongannya.
"Jadi ini, Restoran mu, yang kau bangga-banggakan" Ucap Maikel berjalan berdampingan dengan Alexander.
"Aku tidak pernah membanggakannya, kulitmu saja yang berlebihan" ucap Alexander.
"Kenapa kalian berdua tidak pernah akur sejak jamannya di asrama?" Celetuk Malcom di belakang mereka.
Alexander menghentikan langkahnya, ketika melihat cucu kesayangannya sedang asik menyantap makanannya. dan Arora sedang berdiri di samping Alena.
"Alana sayang..." Alexander mengecup pipi kanan Alana.
"Grandpa...aku sedang makan, jangan ganggu aku" ucapnya.
Arora menundukkan kepalanya merasa malu.
"Aku sudah memiliki cucu, Malcom juga sudah mempunyai cucu, dan kau...ckck" goda Alexander.
Maikel tersenyum tipis melihat sikap Alexander.
"Baru punya satu cucu saja sudah sombong... kau tahu, saat ini menantuku sedang mengandung, dia akan memberikan ku tiga orang cucu sekaligus" Gambang Maikel.
Maikel langsung saja duduk di samping Alana, Maikel lalu mengamati wajah Arora. lebih dekat.
TBC
__ADS_1
Terimakasih