
Saat ini Darrell sedang memeriksa kondisi tubuh Elias.
Anson dan Ansel memperhatikan Darrell dari jarak sekitar dua meter di belakang Darrell.
"Uncle...aku akan memberi obat, agar rasa sesak yang uncle rasakan akan hilang..." Ucap Darrel mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Elias hanya mengangguk lemah, menyetujui ucapan Darrell.
Mata Darrell masih menelisik, menatap tubuh Elias. Darrell sedang menanti reaksi obat yang dia berikan pada Elias.
"Tarik nafas uncle dalam-dalam!"
Elias mengikuti perintah Darrell
"Sekarang hembuskan!" ucap Darrel kembali...
Elias masih mengikuti perintah Darrell.
"Darrell...apa Daddy ku baik-baik saja" tanya Ansel dengan suara kecil.
Darrell menoleh ke arah Anson dan Ansel.
Darrell menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum pada mereka berdua.
perlahan-lahan Rasa sesak yang Elias rasakan mulai menghilang, tarikan dinding perut Elias nampak normal kembali.
"Darrell, rasa sesak di dadaku semakin berkurang..." ucap Elias dengan suara lirihnya.
"Syukurlah Uncle...aku berharap Uncle cepat sembuh!" sahut Darrell, memberi semua pada Elias.
"Sebenarnya aku tadi hanya terkejut hingga membuat dadaku terasa sakit, ketika mendengar ucapan Ansel, bahwa cucu ku...putri ,Javier, berada di Mansion ini. mungkin karena rasa gembira yang menyelimuti perasaan ku, hingga membuat dadaku terasa sesak" ucap Elias.
Darrell tersenyum lebar mendengar cerita Elias, walaupun suara Elias terdengar lirih, tapi wajahnya terlihat antusias menceritakan rasa rindunya pada cucunya, putri Javier.
"Untuk saat ini, uncle harus beristirahat yang banyak! saat ini kondisi uncle masih lemah, uncle butuh istirahat yang banyak! untuk bertemu dengan putrinya Javier!" ucap Darrell sambil menepuk lembut punggung tangan Javier.
"Aku tak sabar ingin bertemu dengan dirinya, Darrell" mata Elias berbinar ceria membayangkan dirinya bertemu Rachel.
"Sekarang Uncle istirahat yang banyak! tenangkan perasaan uncle! juga pikiran uncle, aku janji begitu uncle sudah benar-benar pulih, aku akan membawa Putri Javier ke sini, menemui Uncle" ucap Darrell.
Tak menunggu waktu yang lama, obat yang di berikan Darrel, mulai menunjukkan Reaksi efek sampingnya. Elias mulai mengantuk terlelap di alam mimpinya.
"Ayo kita keluar! biarkan Uncle Elias beristirahat! Grace. tolong pantau tuan Elias!" ucap Darrell.
Grace, mengangguk sambil tersenyum pada Darrell " baik dokter" ucap Grace.
"Ayo kita keluar! biarkan Uncle Elias beristirahat dengan baik!" Ajak Darrell pada kedua manusia kembar yang sifatnya sangat bertolak belakang. dari kembarannya.
"Kalau cuma bawa,Rachel. ke kamar Daddy aku juga masih bisa, Darrell" ucap Ansel ketika mereka bertiga berada di dalam lift
"Hai... mengapa kau marah, Ansel...Ck, dia bukan Valeria... jangan Posesif!" jawab Darrell tak mau kalah.
"Sudahlah Darrell, hiraukan saja ucapannya!" Celetuk Anson. yang tak mengerti jalan pikiran adiknya.
__ADS_1
"Ada yang ingin jelaskan kepada ku mengapa pasienku tiba-tiba merasakan sesak di dadanya?" tanya Darrell mengalihkan topik lain.
"Tanyakan sendiri pada sahabat mu ini, mengapa mulutnya tidak bisa menyimpan sebuah rahasia!"
"Aku heran sudah tua, tapi mulutnya tidak pernah berubah, selalu ceplas-ceplos kalau berbicara, tak bisa menyimpan Rahasia" ucap Anson menggebu-gebu.
Darrell, sampai terperangah melihat Reaksi Anson yang mengomel tanpa jeda pada adiknya,
sedangkan Ansel hanya diam, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatel. mendengar ucapan saudara kembarnya.
"Tapi aku masih bisa menjaga Rahasia..." Ansel masih membela dirinya "Rahasia Perusahaan dan rahasia bagaimana aksi sepupumu, saat di ranjang bersama ku" lanjut Ansel lagi tanpa beban.
"Hahaha hahaha" tawa Anson pecah seketika di dalam Lift, ketika mendengar ucapan Adik kembarnya itu.
Sedangkan Darrell Hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ansel.
Mata Rachel berkaca-kaca, Ketika mendengar kabar yang di sampaikan Evita, kalau saat ini dirinya sedang mengandung. Rachel pernah membaca buku tentangl pertumbuhan janin di dalam rahim wanita, Dari Embrio sampai berkembang menjadi sel darah janin, dan sampai tumbuh berkembang menjadi seorang Bayi di dalam Rahim.
Air mata kebahagiaan jatuh dari sudut kedua mata Rachel, rasa haru menyelimuti dirinya, Rachel tak menyangka dirinya akan menjadi seorang ibu.
Dengan tangan gemetar, perlahan-lahan, Rachel menyentuh perut ratanya, senyum bahagia terlukis di wajahnya.
Terimakasih Tuhan atas Rahmat yang kau berikan, Rachel.
Valeria dan Evita tersenyum bahagia melihat tingkah Rachel yang sedang mengelus perut ratanya.
"Melihat Tingkah Rachel seperti itu, mengingatkan ku pada saat aku hamil pertama" ucap Valeria
"Semoga saja Anak Rachel kembar" ucap Evita seketika.
Valeria hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Evita.
"Dokter bilang, hari ini kamu harus istirahat total sayang!" ucap Evita.
"Lusa kita akan ke rumah sakit! untuk memeriksa keadaan bayimu dan mengetahui berapa usia kandunganmu!" ujar Evita.
"kita berdua, akan menemani mu ke rumah sakit!" ucap Valeria.
Rachel tersenyum lebar mendengar ucapan Valeria.
"Terimakasih Aunty" ucap Rachel tersenyum tulus..
___
Selama di perjalanan Maikel hanya diam tak berbicara, Maikel hanya sibuk memeriksa beberapa email yang masuk ke dalam akunnya.
"Paman..."panggil Rico memecahkan kesunyian mereka.
"Ada apa?" mata Maikel masih menatap ke laptopnya.
"kenapa tiba-tiba kita harus kembali lagi ke London? "
" Karen aku tak ingin kehilangan menantu dan cucu ku...kakakmu itu memang Bodoh..."uca
__ADS_1
Rico hanya tersenyum mendengar ucapan pamannya.
"Wow...kakak menepati janjinya" gumam Rico dalam hatinya.
_____
"Jadi Putri Javier sudah menikah?" ucap Darrell
"Yap...dan kau tahu dengan siapa dia menikah... dengan putranya Maikel" sahut Ansel.
"Maikel? katakan yang jelas, nama Maikel itu banyak" ucap Darrell.
"Maikel Ambishius...kau ingat, yang sering datang ke Mansion ini bersama Javier"
"What...Teman kelasnya Anson yang bersahabat dengan Javier?" Darrell masih tak percaya dengan semua ini.
"Yah...teman Mancing kita" lanjut Ansel.
"OMG.." ucap Darrell .
"Kalau dia datang kita bertiga akan bernostalgia, kita ajak Maikel pergi memancing seperti Dulu" ucap Ansel Antusias.
"Mengapa kau yakin dia akan datang ke Mansion ini?"
"Karena kakak ku sudah mengancam dirinya" Ansel menceritakan pada Darrell saat Anson menghubungi Maikel.
"Aku pergi dulu, masih banyak pasien yang harus ku tangani" Darrell menepuk bahu kiri Ansel.
"Salam ku buat pujaan hatimu. katakan padanya kalau dirimu meridukannya" Goda Ansel. pada sahabatnya.
"Aku heran dengan diri mu, semakin tua, semakin meningkat ocehan mu" ucap, Darrel. sebelum menghilang di balik pintu.
Ansel hanya tersenyum melihat mimik wajah Darrell.
Seorang Maid melintas di samping kanan tubuh Ansel.
"Ana...kau melihat kakak ku?" tanya Ansel.
"Saya melihat Tuan Anson masuk ke dalam kamar Tuan Javier, Tuan" Jawab Ana lalu pergi dari hadapan Ansel.
Ansel menarik nafasnya dalam-dalam, Ansel tahu kalau Kakaknya Anson sangat sayang pada Javier, setiap kali Anson ke Mansion untuk menengok Daddynya. Anson menyempatkan dirinya, masuk ke dalam kamar Javier..
Apalagi waktu Oliver membawa kabar Duka, bahwa Javier telah meninggal Dunia, Anson jatuh sakit. Evita bilang setiap Hari suaminya hanya menangis dan mengigau memanggil nama Javier.
Seperti saat ini di dalam kamar Javier. Anson menatap sendu pada sebuah pigura foto yang berukuran besar yang tergantung apik di kamar Javier. di dalam Foto, tampak Anson sedang merangkul adiknya , tepat di hari kelulusan Javier. mereka tampak tertawa gembira.
"Putri mu ada disini Javier, di mansion ini. Hanya dirimu yang tidak akan pernah datang kembali ke Mansion ini...Aku tak mengira wajah putrimu... mirip sekali dengan Nona Agatha kita (julukan yang di berikan mereka bertiga pada ibunya)" Anson mengusap air matanya.
"Aku sangat menyayangimu adikku, Dirimu adalah Kebanggaan ku, aku bangga dan bahagia, memiliki adik yang secerdas Dirimu. aku tahu kau sangat menyayangi ku, sudah berapa kali diriku terperangkap oleh musuh-musuh dan lawan bisnis keluarga Berhan tapi kau datang di saat aku terdesak dan membantu ku menumpas musuh-musuhku" ucap Anson sambil menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak fi dadanya bila mengingat almarhum adiknya.
TBC
Terimakasih...
__ADS_1