SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Meragukan cinta Anthony.


__ADS_3

"Apa kau mau membantu diriku, menghapus semua kenangan ku bersama Anita?" pinta Anthony, menatap wajah istrinya.


Rachel tersenyum tipis mendengar ucapan suaminya. wajahnya terasa panas, menahan amarah, karena ucapan suaminya.


"Meminta ku, untuk membantu diri mu melupakan kenangan bersama mantan istri mu?" ucap Rachel.


"Iya...aku yakin kamu bisa membantu diri ku!" Jawab Anthony antusias.


"Bagaimana caranya?" Rachel menegakkan punggungnya. penasaran menanti Jawaban suaminya.


Anthony bergeming, memikirkan cara agar terlepas dari kenangan Anita.


"Dirimu saja tidak dapat memberi jawaban pada ku" Rachel tersenyum lirih.sambil menggelengkan kepalanya.


"Seandainya ada mesin waktu, aku akan menyuruh mu masuk ke sana, Bee...Biar dirimu kembali di masa, ketika kalian masih bersama, tepatnya sebelum terjadi perselingkuhan mantan istri mu dengan pria lain"


"Mungkin dirimu akan tahu mengapa istri mu sampai selingkuh, apa karena dirinya kurang perhatian dari mu, atau karena sejak dulu istri mu memang tidak pernah mencintai mu"


"Apa kau juga merasa kesepian selama ini? bila aku pergi jauh?" tanya Anthony tiba-tiba, mengingat selama ini dirinya juga sibuk dan jarang bersama istrinya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Bee! selama ini aku tidak pernah merasa kesepian, bila kau pergi Mengurus pekerjaan mu!" Jujur Rachel menatap sendu wajah suaminya.


"Bee, mungkin dirimu butuh seorang Psikiater! bukan diriku! Rasa cinta mu pada mantan istri mu itu masih ada, Carilah psikiater, bukan diriku!" lanjut Rachel.


"Aku tidak gila, sampai harus pergi ke psikiater, aku hanya butuh diri mu!" tolak Anthony.


"Yang bilang diri mu gila itu siapa? aku hanya memberikan Saran" sahut Rachel.


"Apa kau merasa keberatan dengan, permintaan ku?" Anthony menatap wajah istrinya.


"Sangat keberatan...Aku rasa kamu belum Move-on dari mantan istri mu" tebak Rachel.


"Aku membencinya, Sayang" jujur Anthony meyakinkan istrinya lagi.


"Kamu benci karena dirinya berselingkuh, orang bilang, rasa benci dan rasa cinta hanya terhalang selembar kertas... kertas itu gampang rapuh,Bee" Rachel menarik nafas dalam-dalam, saat ini dirinya berpikir untuk berdamai pada keadaan, dari pada dirinya emosi dan bisa berakibat Fatal pada Calon bayinya. meski dia meragukan ucapan suaminya.


Suara ketukan pintu, menghentikan obrolan mereka.


Anthony melangkah ke arah pintu kamar.


"Tante Diana...om Bram, silakan masuk!" ucap Anthony, membuka pintu kamar inap, tersenyum manis pada Diana dan Bram.


Begitupun dengan Rachel tersenyum gembira melihat kedatangan kedua Orang yang sangat berjasa bagi dirinya, mereka berdua menyayangi dirinya dengan setulus hati, mau melindungi dan mengurus diri semenjak kepergian kedua Orangtuanya.


Diana dan Bram menghampiri Rachel yang sedang duduk di Hospital bed, memeluk Rachel secara bergantian.


"Perutnya masih sakit?" tanya Diana sambil mengelus perut Rachel.


"Udah enggak sakit, Tan, cuma kepalaku aja yang masih pening" jawab Rachel.


"Berapa usia kandungan kamu,nak? Om lihat perutnya besar sekali?" sela Bram memperhatikan perut Rachel.


"20 Minggu, om Bram" Jawab Rachel.


"Rachel, hamil anak kembar" lanjut Rachel.


Bram dan Diana tersenyum gembira mendengar ucapan Rachel, selama ini Meraka hanya mendengar kabar kalau Rachel sedang hamil tapi tak pernah mendengar dirinya sedang mengandung anak kembar.


"Wow, Bakalan ramai nanti rumah Tante, kalau kamu menginap di rumah" sela Diana.

__ADS_1


Bram mengangguk setuju dengan ucapan istrinya.


Anthony mempersilakan Bram duduk di Sofa yang berada di dalam kamar, sedangkan Diana memilih duduk di kursi yang berada di samping Hospital bed.


"Tante tidak kerja?" tanya Rachel.


"Tidak sayang, Tante berhenti bekerja..." Jawab Diana.


"Nanti kesepian di rumah?" goda Rachel.


"Tante mau menemani kakak kamu di Amsterdam" ujar Diana.


Diana menengok ke arah suaminya, yang sedang ngobrol dengan Anthony.


Rachel juga menoleh kearah suaminya.


"Paling Obrolan mereka tak jauh dari bisnis" tebak Diana lalu menoleh ke arah Rachel.


Rachel tersenyum tipis mendengar ucapan tantenya.


"Apa ada masalah?" tegur Diana dengan suara lirih. memegang punggung tangan Rachel.


Rachel mengangguk lemah.


Diana Duduk di samping Rachel.


Rachel menceritakan pada Diana, apa yang suaminya katakan. Dengan suara lirih. agar Anthony tak mendengar perbincangan mereka berdua.


"Aku bingung, Tante..." ucapnya tertunduk lesu.


"Ucapan mu Sudah benar, kalau kamu penasaran dengan perasaan suami mu, kamu bisa mengetes dirinya" usul Diana.


"Hindari dirinya untuk sementara! kamu bisa menilai sendiri, apa dia mencintai diri mu sepenuh hati atau tidak" Diana menatap wajah Rachel.


"Aku pernah meminta berpisah dari dirinya, Tante, tapi dia tidak mau..." Rachel menoleh sekilas ke arah suaminya, yang masih asik berbicara dengan om nya.


"Kalau begitu kamu harus buktikan! apa dirinya mencintai mu setulus hatinya...dari pada kamu penasaran dengan perasaan suami kamu!" ucap Diana dengan suara pelan.


Rachel berpikir sejenak menimang-nimang, ucapan tantenya.


"Aku harus pergi kemana untuk menghindari dirinya?" keluh Rachel.


"CK... pulang kampung! punya rumah besar di kampung sampai lupa" decak Diana.


"Aku akan pertimbangkan saran Tante"


Diana tersenyum melihat wajah Rachel.


"Keputusan ada di tangan mu, sayang! kalau kamu yakin suami kamu menyayangi dirimu sepenuh hati, bertahan lah, dan tidak usah mengetes perasaan nya terhadap dirimu!"


"Dan kalau kamu masih meragukan perasaannya... silakan di tes, Oke!" Diana memeluk tubuh Rachel.


"Ternyata Putri ku akan menjadi seorang" ucap Diana.


Mata Rachel berkaca-kaca mendengar ucapan Tantenya, Rachel merasa nyaman dengan pelukan yang di berikan Diana pada dirinya.


Semenjak kepergian sang Mama, Diana yang selalu ada bagi Rachel.


"Tante pulang dulu...jaga calon bayi kamu! jangan stress, oke!"

__ADS_1


Diana menghampiri Suaminya, yang masih asik ngobrol dengan Anthony.


"Mau pulang?" tebak Bram.


"Iya... Anthony kita pulang dulu, tolong jaga Rachel dan Calon bayi kalian!" ucap Diana.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tante tidak usah Khawatir" ucap Anthony tersenyum lebar.


"Om pulang dulu yah, sayang" Bram mengusap kepala Rachel dengan lembut.


"Terimakasih om, Tante sudah menjenguk Rachel" ucap Anthony. basa-basi


"Ini sudah menjadi kewajiban kami, kamu lupa dia juga Putri ku, Anthony" sahut Diana pada Anthony.


Anthony tersenyum kaku mendengar ucapan Diana.


Singkat cerita, Dua jam berlalu. semenjak kepergian Tante dan Om nya, Rachel tidak berbicara sepatu kata pun dengan Anthony.


begitupun dengan Anthony, malah matanya sibuk memandang layar Laptopnya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar, membuat penghuni kamar menoleh ke arah pintu.


"Bikin kaget aja...kalau masuk ke kamar orang ketok dulu pintunya" tegur Anthony melihat kedatangan Arga, Brian, James dan David.


"Kita sengaja, Brother, siapa tahu dapet tontonan gratis" sahut David.


Rachel hanya melongo mendengar ucapan David.


"Dasar Otak mesum..." Balas Anthony.


"Hai, Rachel..." sapa Arga.


"Hai juga, kak Arga... Selamat yah, menjadi papa untuk kedua kalinya" balas Rachel, dan memberi selamat pada Arga.


"Terimakasih" ucap Arga. sambil menempelkan bokongnya di Sofa.


"Tumben...ibu negara absen semua?" tanya Anthony tidak melihat kehadiran istri para sahabatnya.


"Bini gw sekarang di rumah, lagi jaga Baby" sahut Arga. mengingat anaknya baru berusia dua bulan.


"Kalau kita berdua lagi Jomblo sementara" sahut James.


"Elu vid?" Tegur Arga.


"Apa? bini?"


"Bukan nanya bini, gw mau nanya kapan cari Bini?" Goda Arga.


"Cari Bini? tunggu tanggal mainnya aja deh" balas David.


"RACHEL!!" Seru lantang Amanda.


Membuat semua yang berada di dalam kamar menengok ke Arah pintu kamar inap Rachel.


Mata David membulat lebar-lebar, ketika melihat Amanda berada di depan pintu masuk kamar inap.


TBC


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2