SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Rachel bertemu dengan Elias


__ADS_3

Anson dan Ansel bergeming menatap tubuh Elias, sudah dua hari Elias mulai di bantu pernafasannya dengan oksigen, karena Elias semakin susah bernafas. kalau tidak di bantu dengan Oksigen.


"Kalian berdua ikut aku!" Darrell melangkah ke arah balkon kamar Elias.


Mereka bertiga diam sesaat, sambil menatap ke Arah taman belakang yang penuh dengan berbagai macam tanaman hias.


"Sampai kapan kalian menahan Rachel untuk bertemu dengan Uncle Elias? " Darrell membuka Obrolan pertamanya.


"Kondisi Uncle bisa di kata saat ini sedang keritis, dan kita tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi kepada Uncle Elias dalam 5 menit kedepannya" Mata Darrell menatap ke wajah Anson dan Ansel.


"Aku hanya tak ingin tiba-tiba terjadi sesuatu, pada Daddy" sahut Ansel.


Darrell menghela nafasnya, Dia sangat tahu sahabatnya ini takut sekali kehilangan, Elias.


"Ansel, setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. hanya kita tidak tahu kapan terjadinya.


Aku hanya mengusulkan saja, jangan sampai uncle Elias meninggal dalam rasa kesedihan dan rasa penyesalan" Darrell memberi pengertian kepada sahabatnya.


"Mengapa kau bicara seperti itu?" tegur Anson.


"Anson, Aku tahu uncle Elias terpuruk karena rasa Egonya, begitu juga Javier. bahkan kau tahu sifat Javier sama seperti Daddy mu"


Anson berpikir sejenak.


"Baiklah, aku akan membawa Rachel ke atas, dan mempertemukan dirinya dengan Daddy" Anson langsung melangkah ke arah lift.


"Kakak..." Ansel ingin mencegah Anson .


"Tenanglah..." Darrell menepuk pundak Sahabatnya.


"Bunda...aku ingin memberi warna biru untuk gambar lingkaran ini!" Elton mengambil krayon berwarna biru dari kontak Krayonnya.


Rachel melihat kearah buku warna milik Elton.


Rachel tersenyum tipis " Kau menyukai warna biru?" Senyum Rachel jadi mengembang ketika melihat tatapan mata Elton dan kepalanya mengangguk antusias, pada Rachel.


"Aku menyukai semua warna biru, Bunda" sahut Elton pandangan matanya kembali ke buku warnanya


"Bunda, mengapa Uncle Anthony tidak ada di sini?" tanya Elton.


"Uncle Anthony sedang ada urusan di luar dengan Daddymu" Jawab Rachel.


"Jadi Uncle pergi bersama Deddy? sejak kemarin?"


"Hmmmm..." jawab Rachel singkat.


Ting...suara lift terbuka.


Anson berjalan dengan gagahnya, keluar dari lift, dari jauh Anson melihat' Rachel sedang asik dengan sebuah buku yang berada di atas meja taman samping Mansion bersama Dengan Elton.


"Rachel..." panggil Anson datang menghampiri.mereka berdua.


"Ya... uncle" Rachel berdiri dari tempat duduk.

__ADS_1


"Bertha, tolong temani Elton!" Anson menyuruh salah satu maid menemani Elton.


" Ayo ikut dengan ku..." ucap Anson.


"Bunda, tinggal dulu yah,sayang..." Rachel mengelus pucuk kepala Elton, Elton tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Rachel mengikuti Anson dari belakang tanpa berkata apa-apa, beberapa hari di sini Rachel mulai memahami sifat-sifat penghuni Mansion ini, Salah satunya Anson. orangnya lebih banyak Diam dan tidak banyak bicara, lebih banyak menyimak dan menilai, setiap kata yang keluar dari mulutnya, semacam perintah dan tak bisa di bantah, tapi Rachel tahu, Pamannya yang satu ini, sayang pada dirinya.


Naik lift? apa aku akan bertemu kakek Elias? mengapa jantung ku berdetak tak menentu, semoga saja hari ini aku benar-benar di pertemukan dengan kakek Elias. Rachel.


Rachel menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa tegangnya. ketika Pintu lift sudah terbuka di hadapannya.


"Ayo nak, kita temui Granddad! sudah saatnya, dirimu bertemu dengan dirinya" Anson memegang lembut kedua bahu Rachel, lalu merangkul Rachel menuju ke sebuah pintu berwarna gading.


Rachel bergeming, menatap ke arah sebuah tempat tidur berukuran besar. tampak Elias yang terbaring lemah, untuk bernapas saja Elias harus di bantu dengan cairan zat asam (oksigen) ada juga alat monitor detak jantung berdiri di samping tempat tidur Elias.


Kaki Rachel terasa berat untuk melangkah mendekati Elias, air matanya jatuh mengalir begitu saja, melihat kondis Kakeknya saat ini.


Rachel diam terpaku. menatap ke arah Elias.


"Granddad, mengidap kanker Kandung kemih, saat ini kanker sudah menjalar ke paru-paru, hati dan yang lainnya. Darrell bilang, kita hanya menunggu sebuah Mukjizat dari tuhan" Ujar Anson. berdiri di samping Rachel.


Ansel mendorong kursi roda buat Rachel. "Sayang kamu duduk di sini!" Ansel menepuk-nepuk tempat duduk kursi roda.


"Biarkan aku..."


"Jangan berdebat! harus menurut! jika terjadi sesuatu pada mu bisa-bisa aku di siksa sama si manusia batu..." Racau Ansel memotong ucapan Rachel.


"Mengapa kau berlebihan sekali... CK" decak Anson melihat tingkah adiknya.


Rachel memberanikan dirinya menyentuh tangan Elias yang sudah keriput, meski tampak terlihat tubuh Elias menjadi kurus, semburat ketampanannya masih terlihat diwajahnya.


Papa... mungkin papa tahu, aku sekarang sedang memegang tangan kakek Elias, Pria yang selama ini Papa banggakan. aku masih ingat, saat aku bertanya apa aku memiliki seorang kakek dan nenek, waktu itu Papa jawab, Kalau nenek ku sudah meninggal, dan kakekku masih hidup. aku bertanya lagi seperti apa Kakek di mata Papa. papa bilang kakek adalah orang tua yang paling baik sedunia, kakek mengajarkan papa dalam segala hal, Hanya Papa yang tidak baik padanya...tapi aku diam dan tak ingin tahu, karena urusan orang dewasa terlalu rumit untuk ku pikirkan, sampai aku bertanya pada Papa di keberadaan kakek, papa Hanya tersenyum lalu memeluk erat tubuhku... Rachel.


Anson, Ansel, dan Darrell hanya diam melihat ke arah Rachel yang mengelus legam Elias, beberapa kali jari tangan Rachel menghapus air matanya.


Kali ini aku tak bisa berbuat apa-apa, Saat ini Pasienku sedang tinggal menunggu waktu saja. kanker telah berada di semua organ tubuh vitalnya . Darrell.


Kelopak mata Elias, perlahan-lahan terbuka. samar-samar Elias melihat seseorang duduk di samping Tempat tidurnya, sampai akhirnya penglihatan matanya melihat wajah orang yang duduk di sebuah kursi Roda.


Dahi Elias mengkerut, memperhatikan wajah Rachel. Elias tersenyum lemah melihat wajah Rachel.


"My love, kau kah itu? tapi mengapa iris matamu berubah? apa kau datang untuk menjemput ku?" Ucap Elias dengan Suara lirih.


" Dad...ini Rachel... Rupanya Daddy terkecoh juga, Sama seperti ku dan Anson" Sahut Ansel mencoba menghibur Elias.


Rachel bergeming, air matanya masih mengalir, Rachel menundukkan kepalanya. dirinya sedih melihat keadaan Kakeknya.


Elias tersenyum lirih, karena menahan sakit di dadanya. mendengar ucapan Ansel.


" Mengapa kau menangis? wanita seperti dirimu tidak boleh menangis! mengapa wajah mu mirip dengan istri ku?" Elias diam Mengamati wajah Rachel.


Anson mendekati Elias, Anson naik, di atas tempat tidur Elias, lalu duduk di samping Daddynya.

__ADS_1


"Daddy...dia...dia..."


" Dia cucuku, Putrinya Javier" sela Elias memotong ucapan Anson.


Rachel mengangkat wajahnya, Matanya sendu menatap mata Elias.


" Kakek... Grand...Granddad, Aku..."


" Kau cantik sekali, mirip seperti wajah istriku, cintaku dan kebahagiaan ku. kau adalah Kebanggaan dan kebahagiaannya Javier, juga peninggalan Javier untuk keluarga ini. Namun sayangnya Dia pergi sebelum aku meminta Maaf padanya" Nafas Elias tersenggal-senggal.


Darrell maju melangkah mendekati Elias. dan memeriksa kondisi Elias.


" Uncle... Jangan terlalu banyak berbicara! kondisi Uncle belum stabil" Ucap Darrell dengan suara lirih.


" Aku sedang bergembira, Darrell. kau lihat cucu ku, yang selama ini aku rindukan, dia datang menemui ku..." Elias menatap langit-langit kamar, Tampak terlihat cairan bening keluar dari sudut kedua matanya.


" Anson, suruh semua anggota keluarga ke kamar ku! aku ingin melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya!" lirih Elias.


Anson bangun dari tempat tidur lalu melangkah ke arah Balkon kamarnya dan menghubungi anak dan keponakannya agar kembali segera ke Mansion.


Oliver dan Anthony yang kebetulan sudah ada di gerbang pintu pagar segera melajukan mobilnya cepat ke arah Mansion.


" Sayang..." Panggil Anthony pada istrinya.


Rachel menoleh ke belakang, mencari arah suara suaminya.


Senyumnya merekah ketika melihat kehadiran suaminya di kamar Elias.


" Anthony Bawa Rachel ke balkon! biarkan dia menghilangkan rasa penat di dirinya, apalagi hampir satu jam dia menangis, kasihan dengan janinnya" Ucap Darrell.


Anthony hanya mengikuti ucapan Darrell mendorong pergi ke arah Balkon.


" Bee...aku..."


" Ssttt...'" Anthony menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rachel.


" Jangan bebicara lagi, Sayang! kamu harus istirahat! jangan berpikir yang macam-macam! kasih mereka" Anthony mengelus lembut perut istrinya.


Suasana di dalam kamar Elias serasa Diam mencekam, hanya suara Elektrokaldiagram yang berbunyi menggema di kamar Elias.


Satu persatu Anggota Keluarga Agam sudah berkumpul di kamar Elias. perasaan mereka tidak menentu, mereka bergantian duduk di samping Elias yang saat ini sedang tertidur pulas.


Wajah Elias semakin pucat Pasi.


TBC.


Terimakasih teman-teman yang sudah memberikan Mimin tanda jempol dan vote buat Mimin.


Di Makassar saat ini gerimis mengundang...


hehehehe... mengundang basah baju kalo jalan tidak memakai payung. dan basah baju kalau naik motor tidak pakai jas Hujan... ingat Jas hujan. and bagi yang naik mobil jangan coba-coba memakai payung dalam mobil !!!


Typo tetap ada.

__ADS_1


selamat bermalam Minggu.


bagi yang Jomblo sabar aja, sama kaya Mimin saat ini sedang Jomblo. untung ada si Monarita jadi kagak kesepian di rumah.


__ADS_2