
Author POV.
Berhubung perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir Javier dan sang istri, di atas puncak bukit. dan beresiko untuk kandungannya Rachel, Akhirnya Rachel memutuskan tidak ikut serta bersama keluarga suami, Uncle dan Auntynya.
"Biar aku tinggal di sini saja, bersama sahabat ku, Papa" ucap Rachel pada Maikel.
"Sayang...kamu tidak merasa keberatan, kalau aku ikut berziarah ke makam Papa,mama mertua?" tanya Anthony.
"Kamu harus pergi ke sana, Bee! Perkenalkan diri mu pada ke dua orang tua ku!" Rachel mengelus punggung tangan suaminya.
"Aku titip Rachel pada kalian!"
Rully dan Lisa menganggukkan kepala.
"Dion...kamu tetap di sini, tidak usah pergi di Makam mertuaku!" ucap Anthony.
"Beres Bos" sahut Dion.
"Sebentar lagi om Eric akan datang, dia yang akan memandu sampai ke makam Papa dan Mama" ucap Rachel.
"Kamu tidak keberatan kan kalau aku pergi?" David mulai menggoda Amanda.
Membuat semua orang yang ada di sana beralih menatap ke arah David dan Amanda.
"Tidak keberatan kok, pergi aja sekalian yang jauh..hhuzzz... sana"
Semua orang malah tertawa mendengar mendengar ucapan Amanda. yang sedang menemani Elton bermain puzzle.
Anson dan yang lainnya berjalan ke arah luar rumah.
"Beneran? nanti nangis?" David malah semakin menggoda Amanda.
"Emangnya aku anak kecil, pakai acara menangis..." sahut Amanda.
Daniel tersenyum lebar melihat tingkah mereka berdua.
"Jangan rindukan aku yah kalau aku pergi sampai sore " balas David.
"Yah...dia lebay, Omesh kurang belaian dari ceweknya yah? dari kemarin ganggu aku terus?!" Amanda mulai terasa terganggu dengan David.
Daniel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Amanda.
"Udah Vid, elu jangan ganggu dia terus " ucap Daniel. masih tertawa kecil mendengar ucapan Amanda.
"Biarin, Gw suka kalau dia marah -marah, wajahnya bikin gemes" sahut David.
"keseringan elu ganggu Amanda, bisa kesengsem elu sama dia" balas Daniel.
"AUW... OMESH..." Amanda memegang pipinya karena di cubit David.
"Dasar OM mesum !!!" seru Amanda melihat kepergian David dan Daniel menuju ke arah luar rumah.
"Aunty...jangan teriak...kita tidak berada di hutan!!" Ucap Elton sambil menutup telinganya.
Singkat cerita mereka telah tiba di tempat , di mana Javier dan istrinya di makamkan.
"Pantas saja Rachel tak ingin ikut kesini, karena harus menaiki 50 anak tangga menuju ke atas" ucap Daniel.
"Anak tangga ini di buat, setelah tuan dan nyonya di makamkan, tuan muda, jalan ini terlalu licin dan terjal, jadi non Rachel menyuruh pekerja membuat tangga untuk akses naik ke makam tuan besar banget ucap Asep penjaga makam kedua orang tua Rachel. tugas Asep hanya membersihkan kedua makam dan sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari makam. tempat tinggal Asep bersama keluarga kecilnya.
Anthony hanya menyimak keterangan Asep tanpa berkomentar.
"untung saja Mommy tidak ikut bersama kita ke sini" gumam Sidney sambil menyeka keningnya karena keringat.
"Hah...hah...kaki ku terasa berat" keluh Ansel.
__ADS_1
"Kaki mu terasa berat karena dirimu malas berolahraga, lihat Anson dia sudah berada di atas sana bersama putraku" ucap Maikel.
"Kau sendiri kenapa masih berada di dekat ku?"
"Jangan-Jangan...kau sama dengan ku"curiga Ansel.
"Hai jangan meremehkan diriku! aku hanya kasihan pada mu dan menemani mu" Jujur Maikel.
"Alasan...aku tahu kau tak mau mengakui kelemahan diri mu" sahut Ansel.
Maikel yang terbiasa olahraga dan untuk menaiki tangga seperti ini bukan hal rumit malah pergi meninggalkan Ansel.
"Hai... jangan tinggalkan aku! Maikel...aku cabut kata-kata ku" seru Ansel.
Maikel menghentikan langkah kakinya menaiki anak tangga Lalu berbalik badan.
"Nikmatilah kesendirian mu Ansel" Maikel melanjutkan menaiki anak tangga.
"Haii... Maikel" seru Ansel, dan Maikel sudah tak perduli lagi dengan Ansel.
"Aku heran dengan sikap mereka berdua seperti anak kecil saja"
"Tiap hari bertengkar terus" Valeria mendengus kasar.
Evita dan Sidney tersenyum lebar mendengar keluhan Valeria.
"Mengapa saudara mu semakin lama semakin lambat bergerak" keluh Maikel pada Anson.
Anson hanya mengangkat kedua bahunya saja mendengar ucapan Maikel dan berlalu pergi melangkah ke arah makam.
Di susul yang lainnya.
Mereka semua tenggelam dalam isi hati mereka masing-masing. sambil menatap ke arah dua makam di hadapan mereka.
"Aku tak pernah menyangka akan seperti ini takdir keluarga Agam" Anson tersenyum lirih.
Setelah mereka sampai di pelataran mobil mereka.
Sebuah motor melaju cepat ke arah mereka.
"Tuan..."
"Rumah...Rumah tuan besar di serang" lanjut Pria tadi.
"APA ..." Seru mereka serentak.
"Dustin hubungi Sebastian?" tegur Anson.
Dengan wajah yang sudah murka. langsung masuk ke dalam mobil
Tanpa pikir panjang Anthony segera mengambil motor yang di tadi di pakai pemuda yang memberi kabar pada mereka.
"Kalian bertiga tetap di sini!" ucap Maikel. karena tak ingin terjadi sesuatu pada mereka.
Mereka bertiga serentak mengangguk antusias.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan di sana " Ucap Sidney khawatir dengan keberadaan Semua orang di sana terlebih dengan Mertua dan menantunya.
Mata Anthony membulat besar ketika melihat beberapa orang tergeletak di sekitar kediaman rumah istrinya.
"Bos " Lirih Dion.
"Dion Apa yang terjadi?" Anthony melayangkan pandangan matanya ke sekeliling halaman rumah Rachel. lalu matanya beralih kembali melihat Dion.
__ADS_1
Terlihat penampilan Dion yang acak-acakan, wajah Dion yang terlihat memar-memar. kaus polo Dion yang berwarna Cream penuh darah, di tambah darah yang mengalir dari lengan kanannya.
Dion hanya menggeleng lemah, lalu jatuh tak sadarkan diri.
Anthony segera berlari masuk kedalam rumah, mencari keberadaan istri, dan yang lainnya. beberapa orang tampak tergeletak di antara mereka ada tiga orang yang memakai pakaian serba hitam dan memakai penutup kepala. juga tergeletak dan beberapa pria asing yang nasibnya sama dengan mereka.
Anthony segera menghampiri pria tersebut dan membuka Topeng mereka.
"Mereka bukan orang Indonesia" ucap Anthony melihat pria bule masih dalam keadaan tak berdaya.
Sayup-sayup Anthony mendengar suara wanita menangis. perlahan-lahan Anthony berjalan mencari sumber suara yang di dengarnya.
Anthony melihat Rully tergeletak tak bernyawa, terlihat Kaos oblong berwarna baby pink penuh dengan noda darah. di samping Rully Amanda sedang menangisi sahabatnya.
Perasaan Anthony mulai tak karuan.
"Amanda..." Anthony menepuk lembut bahu Amanda. membuat Amanda membulatkan matanya karena terkejut.
Perlahan Amanda mendongak keatas, dan melihat wajah Anthony.
"Kak... sahabat aku udah enggak bernyawa..."Amanda menangis kencang... karena Syok dengan kepergian Rully.
Anthony memeluk Amanda, agar Amanda tenang, dia tahu saat ini Amanda dalam keadaan Syok dan trauma.
"Tenang Amanda tenang!" Anthony menepuk lembut punggung Amanda.
"Amanda di mana Rachel?" tanya Anthony seketika.
"Rachel..."Amanda sejenak berpikir dan kembali menangis lagi.
"Hai... Amanda...di mana istri ku?"Anthony mulai mengkhawatirkan istrinya.
"Anthony..."lirih Magdalena. berdiri terpaku menatap cucunya.
"Oma..."Anthony segera mendekati Magdalena. Tubuh Magdalena langsung luruh dalam pelukan cucunya.
Jiwa Magdalena terguncang menghadapi peristiwa ini. sehingga tubuhnya langsung luruh dalam pelukan Anthony.
"Oma..." Anthony segera membawa Magdalena masuk ke dalam kamar tidur yang kebetulan dekat dengan keberadaan dirinya.
Lisa berjalan dengan kaki pincang, menghampiri Jasad Rully. matanya terlihat berkaca-kaca menatap jasad Rully
"Ly... bangun dong Ly! elu kagak becanda kan?" air mata Lisa sudah jatuh meluncur tak ada hambatan.
"Rully udah nggak ada...dia udah pergi, Sa" lirih Amanda.
"Hiks...hiks..." Amanda dan Lisa menangisi kepergian sahabatnya.
"ANTHONY!!!" teriak Maikel.
Anson dan Dustin terkejut melihat anak mereka Sudah tak bernyawa bahkan ada yang tak bernyawa juga.
"Papa..." sahut Anthony. sambil menghampiri Papanya.
"Di mana keberadaan Elton?"Ansel mengkhawatirkan cucunya.
"Elton Aku sembunyikan di sana" sela Amanda menunjuk ke arah mesin cuci yang terletak di dekat dapur basah.
Ansel segera melangkah ke sana.
Ansel mendengus halus ketika melihat cucunya yang selamat, dan Elton justru sedang tertidur pulas dengan memakai sebuah Headset berbentuk bando berwarna Magenta.
"Aku harus mencari istri ku"...
TBC.
__ADS_1
Terimakasih kasih ☺️