SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Cemburu


__ADS_3

Anthony tersenyum ceria ketika melangkah masuk ke kamar rawat inap, istrinya.


Tiba-tiba, senyumnya meredup ketika melihat kehadiran sosok pria yang sedang duduk di kursi samping Hospital bed. sedang berbicara dengan istrinya.


Anthony menggenggam keras tangannya, sampai buku-buku jarinya terlihat putih pucat.


perlahan kakinya melangkah masuk kedalam kamar, tempat di mana istrinya saat ini di rawat.


"Wah... banyak banget beli es cendolnya, Om" tegur Amanda. melihat tangan Anthony penuh dengan Es Cendol Dawet


Anthony hanya tersenyum sekilas, mendengar ucapan Amanda yang memanggil om pada dirinya. gara-gara Daniel dirinya ikut di panggil Om.


Rully yang kebetulan posisinya berada dekat dari Anthony segera membantu Anthony, mengambil sebagian kantong yang berisi es cendol. dan menaruhnya di atas meja.


Rachel hanya melayangkan senyumnya pada suaminya. Anthony, malah diam tak membalas, senyuman istrinya. membuat Rachel berpikir sejenak.


"Om...Tante apa kabar?" Anthony menyalami tangan Abraham dan Mariana.


"Baik...kita sekeluarga dalam keadaan baik, terimakasih" jawab Abraham.


"Loh Silviana tidak ikut?" tanya Anthony.


"ikut...dia ada di Toilet sekarang" jawab Mariana.


"Chel... karena suami, elu udah Dateng kita pulang dulu, yah?" pamit Lisa.


"Kenapa buru-buru?" sahut Anthony.


"kalian belum makan es cendolnya... percuma aku beli banyak!" Anthony menahan kepergian sahabat Rachel.


"Terimakasih banyak, Om, tapi..."


"Aku sudah di Chatting sama papa, di suruh ke kantornya" ucap Amanda jujur. tersenyum kaku.


"saya juga mau latihan... teman-teman sudah menunggu saya" celetuk Lisa.


"Aku mau ke Cafe, mau ngawasin... tukang pasang wallpaper" Rully juga ikut berbicara.


"Alasan, Luh...bilang aja mau ketemu, calon imam" goda Amanda.


Rully memasang wajah jengah.


"Kak, Ilham sedang ada di Manado...jadi terpaksa gua yang ke sana, ganti in dia, jadi pengawas, oon" sahut Rully.


Amanda hanya ber O ria saja, mendengar ucapan Rully.


"Terimakasih, udah nemenin gw di sini" ucap Rachel. tersenyum tulus.


"Elu kaya sama siapa, aja" sahut Lisa, cipika-cipiki dengan Rachel, di sambung dengan yang lainnya.


Silviana keluar dari pintu kamar mandi.


"Pulang dulu yah, kak" pamit Lisa.


Silviana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja


-


"Om, Tante, dan kalian berdua, cepat duduk di sini! ayo kita makan cendol" Anthony mengeluarkan semua cendol yang terdapat dalam gelas plastik.


Rey memegang lengan istrinya, perutnya Silvina sudah terlihat besar.


Anthony bangun dari sofa tamu, membawakan Rachel cendol yang di pesannya.

__ADS_1


Sambil makan cendol dawet, mereka sesekali ngobrol bersama, mata Anthony tak berhenti melihat setiap gerak-gerik yang Rey lakukan pada Silviana, terlihat Rey begitu perhatian pada Silviana.


Rachel tersenyum melihat, Rey, yang begitu baik mau mengurus Silviana.


-


Setelah Keluarga Abraham pergi.


"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Anthony, pada istrinya.


"Perasaan apa? ketemu sahabat ku? senang lah, apa lagi aku tidak bertemu mereka hampir dua bulan" sahut Rachel. tampak terlihat matanya berbinar cerah.


"Bukan... perasaan kamu bertemu dengan Rey?"


Rachel tersenyum tipis "Biasa aja... tidak ada yang istimewa" Rachel mulai menyadari kemana tujuan ucapan suaminya.


"Kamu pernah dengar, nggak istilah...Buanglah mantan pada tempatnya? jadi... bagi Aku," Rachel menatap wajah suaminya dengan tatapan yang tajam " kak Rey...sudah tidak berarti bagi aku" Rachel mendengus kasar. pikiran suami terlalu sempit.


"Bagi aku... untuk apa mengingat sesuatu yang telah membuat Hati kita kecewa...aku bukan seperti kamu, Bee" Mata Rachel berkaca-kaca, dia merasa kecewa dengan ucapan Anthony.


"Sayang... aku minta maaf" Anthony menyesal dengan ucapannya. langsung mendekap tubuh istrinya dari belakang.


"Kamu egois... jangan peluk-peluk, Aku!' Rachel menggoyangkan bahunya, agar Anthony tidak memeluk dirinya lagi.


pandangan mata mereka saling beradu.


"Jangan coba-coba mendekat...Aku mau tidur, udah kamu pulang aja! tidak usah temani aku di sini!" Ambek Rachel. kembali memunggungi suaminya.


"Sayang...aku tadi cemburu, tolong maafkan Aku yah...yah..." Anthony malah mencolek-colek bahu Rachel. siapa tahu marah istrinya akan hilang.


Arga sudah memberikan beberapa tutorial seputar tentang wanita hamil, karena diribya sudah berpengalaman dua kali mengahadapi istrinya, yang kadang-kadang berubah-ubah moodnya.


Masih teringat di pikirannya Anthony ucapan Arga sebelum mereka berpisah.


"Luh, jadi laki, harus ekstra sabar menghadapi Ibul hamil, apa lagi di Perut Rachel ada tiga bayi, bisa jadi karakter mereka akan berbeda-beda...kalau sampai tidak sabar, Luh. hadapi si Rachel, bisa habis Luh...di tangan keluarga elu, dan keluarganya"


"Dan cepat ke Dokter jiwa, kalau masih mau selamat!" ucap Arga.


Off


 


Rachel tersenyum tipis, sambil memutar bola matanya, mendengar suara lirih suaminya.


sampai akhirnya di mengubah posisi tidurnya, menjadi celentang.


Rachel mendelikkan matanya karena kaget, ketika melihat wajah suaminya terlihat seperti orang yang sedang menahan tangi, terlihat mata suaminya berkaca-kaca.


"Bee...kamu kenapa?" tegur Rachel dengan suara halus.


Tangan kanan,Anthony. tiba-tiba mengusap pipinya, ketika air matanya mengalir ke pipinya.


perlahan-lahan, Rachel duduk di atas Hospital bed.


"Kamu kok... menangis, kamu sakit?" tanya Rachel membantu mengusap air mata suaminya.


"Kamu jangan marah dong sama, Aku...aku jadi sedih" air matanya jatuh berlinang kembali.


"What" Ucap Rachel tanpa berbicara, sambil memasang wajah melongo melihat tingkah Suaminya.


Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi.


"Bee...tolong kamu buka pintu! ada tamu"

__ADS_1


"Suruh masuk aja! aku tidak kunci pintunya" Anthony tidak mau buka pintu.


Rachel hanya menarik nafas dalam-dalam nafasnya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat kedua mertuanya berdiri di sana.


Rachel tersenyum melihat kedatangan ke dua mertuanya.


Maikel langsung mendudukkan bokongnya di sofa, sedangkan Sidney mendekati, menantu kesayangannya.


"Sayang, Mommy bawa kan kamu, martabak manis, kesukaan kamu" ucap Sidney menyodorkan kantongan beri martabak manis.


Sidney melihat ke arah putranya, yang hanya diam tak berbicara.


"Dia kenapa?" bisik Sidney.


"Lagi Sensitive" balas Rachel berbisik.


"Kalian bertengkar?"Sidney jadi penasaran.


Maikel juga memasang wajah heran, melihat putranya yang dari tadi diam tak menyambut kedatangan dirinya.


Rachel menggeleng cepat.


Tiba-tiba Anthony mencium sesuatu yang membuat dirinya menjadi mual.


Huweekk....


Huweekk....


Anthony menutup mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi.


Mereka bertiga saling beradu pandang.


"Biar Mommy lihat" Sidney masuk ke dalam kamar mandi.


"Kamu jangan khawatir, suami kamu hanya masuk angin saja" ucap Maikel, agar menantunya tidak terlalu mengkhawatirkan putranya.


Rachel tersenyum saja, mendengar ucapan


mertuanya.


Anthony memegang pelipisnya menahan rasa pening di kepalanya,


"Mommy... bawa makanan apa sih? bikin aku mual saja?" Anthony menyandarkan punggungnya di Sofa.


"Cuma Martabak manis, kok...kenapa sampai kamu Mual?" Sidney menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ucapan putranya.


Rachel mengeluarkan Martabak manis dari kantong plastiknya.


Huweekk


"Sayang... kasih masuk lagi, aku tidak suka menciumnya! membuat aku mual..." Anthony menyuruh istrinya agar masuk kedalam.


"Tapi Aku mau makan ini,Bee..." Rachel menatap sendu wajah Suaminya.


"Tolong... jangan di makan, yah!" pinta Anthony.


Maikel hanya menggeleng kepala melihat putranya yang melarang istrinya, memakan martabak manis.


"Ayo kita keluar! kamu kan bisa keluar, gimana sih" Maikel menarik tangan putranya. agar keluar dari kamar rawat.


TBC

__ADS_1


__ADS_2