
"Adnan...kamu Adnan kan? Pria bermulut mercon?" seru Rachel tak menyangka bertemu kembali dengan sahabatnya.
Rachel, Rully, dan Adnan bersahabat Dari mereka kecil, sampai SMP mereka sekolah di tempat yang sama.
Saat masuk SMA mereka berpisah, Adnan tinggal bersama sang nenek di Sumatera tepatnya di Lampung. sedangkan Rachel tinggal bersama Tantenya, dan Rully ikut dengan kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah... ternyata dia masih ingat saya, yah Allah "gumam Adnan melangkah mendekati Rachel.
"Adnan!" seru Rully, langsung berlari kecil menuju ke arah mereka berdua.
Rachel hanya tersenyum melihat Rully berlari ke arah Adnan. Entah sejak kapan Rully sudah ada di teras rumah.
"Aku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini lagi " terlihat bibir Adnan tersenyum gembira.
"Kamu kok bisa ada di sini? aku kira kamu di Sumatera " tanya Rachel.
"Aku sekarang kuliah Di IPB, karena hari libur... tidak ada tugas kuliah, aku sempatkan diri pulang ke rumah, nengok Mama " jawab Adnan.
"Setiap aku pulang kampung, pasti aku ke perkebunan kamu, biasa...cari ilmu seputar perkebunan " terang Adnan.
"Tempat ini tidak pernah berubah" Pandangan mata Adnan tertuju pada sebuah Potongan pohon besar yang sudah di sulap menjadi sebuah bangku panjang.
"Gara-gara, Rachel tidak bisa turun dari pohon mangga, besoknya di potong tuh, pohon mangga " Adnan tersenyum lebar mengingat Rachel tidak bisa turun dari pohon.
Mereka bertiga berbicara sambil tertawa kecil, mengenang masa kecil mereka. yang penuh dengan warna.
Obrolan mereka terhenti ketika melihat, Mini Cooper Cabrio milik Daniel, mulai menepi di depan rumah Rachel.
Rachel mengerutkan dahinya, ketika melihat ketiga pria keluar dengan memakai masker yang menutup sampai ke hidung mereka bertiga.
"HAH... Akhirnya aku bebas bernapas " ucap Dustin melepas maskernya, lalu menghirup Udara bebas.
Begitu juga dengan David dan Daniel.
Rully saling beradu pandang dengan Adnan, Rully hanya tersenyum saja.
Brak...
Membuat mereka bertiga terkejut mendengar suara mobil.
"Reseh amat sih Luh, kalau rusak mobilnya si Daniel, dia pulang naik apa..." oceh David sekenanya.
Anthony menghiraukan ocehan David, justru Anthony, melayangkan pandangan matanya pada sang istri, yang sedang duduk di samping Adnan.
Rachel mengulum bibirnya, ketika melihat wajah suaminya, yang terlihat sedang cemburu pada Adnan.
"Kenapa lama baru sampai? apa kalian kesasar?" tanya Rachel langsung.
"Kita tidak kesasar, kita lama baru sampai karena dia,"Dustin menunjuk ke arah Anthony "suami kamu banyak maunya" lanjut Dustin kemudian.
"Terus kenapa kalian bertiga memakai Masker? seharusnya kan yang pakai Masker..."
"Suami kamu mau bunuh perlahan kita bertiga, pertama dia kuras emosi kita, kedua terlalu banyak maunya, mau makan ini lah... itulah... terakhir dia malah menyuruh kita berhenti di sebuah toko buah yang hanya menjual Satu macam Buah saja namanya Durian" Dustin menghempaskan napasnya.
"Kau tahu...Bau Durian itu, membuat kepala ku menjadi pening dan aneh nya dia tidak terganggu dengan aromanya, justru dia menyukai Aroma buah Durian" Ungkap Dustin tanpa jeda.
Rachel hanya melongo mendengar ucapan kakaknya, tidak biasanya Dustin mengoceh seperti Justin, panjang dan Lama.
__ADS_1
David dan Daniel tidak berkomentar banyak, mereka rasa sudah cukup dengan Dustin yang mengeluh pada Rachel. mereka malah sedang menikmati pemandangan sekitar halaman rumah Rachel.
Perlahan-lahan Anthony mendekati istrinya. kedua tangannya memegang Buah durian yang di belinya.
Tatapan mata Anthony beralih kepada Adnan, matanya sudah seperti serigala yang sedang memantau mangsanya.
"Siapa dia?" ucapan yang langsung Anthony lontarkan pada sang istri. menunjuk memakai Dagunya.
"Saya Adnan, teman Rachel" Adnan langsung memperkenalkan dirinya.
"Dia sahabat kecil aku, Bee" sela Rachel.
"Sahabat kecil?" Anthony hanya mengangguk sambil tersenyum datar.
"Jangan cemburu, malu sama umur" Bisik David tiba-tiba pada Anthony.
Anthony melirik David.
"Wajar dong, kalau Gw cemburu" sahut Anthony berbisik.
David hanya tersenyum lalu pergi ke arah sofa panjang yang terletak di teras rumah. sudah ada Dustin yang sedang menyandarkan punggungnya. sambil meluruskan kedua kakinya.
"Rachel...aku pamit pulang dulu... sudah hampir Magrib" ucap Adnan undur diri.
Adnan menjabat tangan Anthony. dan yang lainnya.
"Jangan lupa, besok kesini lagi...kamu temani Rully jalan-jalan keliling perkebunan!" ucap Rachel .
Adnan mengangguk antusias pada Rachel.
Anthony masih menatap punggung Adnan yang berjalan ke arah selatan.
Membuat Anthony terkejut.
"Ini tajam, sayang... nanti tangan kamu terluka!" sahut Anthony.
"Kamu Mau makan Durian? biar aku suruh Rully ambil pisau di dapur.
"Biar aku buka" Pinta Rully pada Anthony.
"Tidak usah kulit nya tajam! aku cuma suka Aromanya, dan lagi pula aku suka kalau Durian ini sudah di olah menjadi Vla, atau selai...kalau di makan langsung aku tidak menyukainya" ujar Anthony.
Rachel melihat salah satu buruh perkebunan yang di kenalnya.
"Mang Ujang..." Panggil Rachel pada salah satu buruh perkebunan yang tinggal di belakang rumahnya.
"iya...non"
"Tolong bawa buah durian ke dapur! tolong kasih tahu, Ce suci. mau di bikin selai durian" ucap Rachel.
Anthony menyerahkan Kedua buah durian monthong pada Mang Ujang.
"Terimakasih, yah mang Ujang" seru Rachel.
Anthony berdiri bergeming menatap istrinya. begitu juga dengan ketiga pria yang berada di sekitar Rachel.
"Kenapa sampai harus mengucapkan, Terimakasih? itu kan sudah tugasnya dia?" Tanya Anthony.
__ADS_1
"Kalian berempat tidak pernah mengucapkan terimakasih pada para bawahan kalian?" tebak Rachel.
Mereka serentak menggeleng.
"Wow... kalian merasa sangat berkuasa, rupanya" Rachel malah mengejek mereka berempat.
"Itu sudah wajar, apalagi mereka sudah kita gaji " sahut Daniel.
"Itu bukan wajar, tapi itu pemikiran yang salah...Jadi orang jangan pernah merasa berkuasa! Papa selalu mengatakan seperti itu kepada ku, papa selalu ramah pada para pekerjanya"
"Mereka sudah seperti keluarga bagi papa, dan begitu pula dengan mereka sudah menganggap papa ku, seperti keluarga yang melindungi mereka" ucap Rachel.
"Non..."
Rachel dan yang lainnya mengalihkan pandangannya ke arah, Tami salah satu, asisten rumah tangga Rachel juga.
"Semua masakan telah di hidangkan " ucap Tami.
"Iyah, Ce... terimakasih " sahut Rachel.
Dustin menanyakan di mana letak kamar tidurnya, seluruh tubuhnya terasa lengket, mengingat perjalanan yang panjang di tempuh dirinya, Dari Bangkok, Dustin langsung di jemput Daniel dan David, menuju ke Mansion Ambishius. dan dirinya tak menyangka akan pergi ke rumah Uncle nya.
Rachel menyuruh Kang Dayat, untuk mengantar Dustin, Daniel dan David ke kamar mereka masing-masing.
"Ayo sayang! tunjukkan di mana kamar mu, aku ingin melihat kamar istri ku tercinta " Anthony mendorong kursi roda istrinya.
Rachel tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Selamat datang di kamar ku" ucap Rachel ketika sudah masuk kedalam kamarnya.
Mata Anthony menatap ke segala arah. kamar bernuansa aesthetic , milik istrinya. beberapa piagam penghargaan terpajang rapi di sebuah lemari Yang menempel di dinding. beberapa foto Rachel saat kecil pun ada di sana.
"Di antara sekian banyak foto yang ada di sini cuma satu foto yang ku suka" Anthony tersenyum memandang foto yang menjadi incarannya"
Rachel berpikir sejenak, sambil melihat arah mata suaminya.
Rachel tersenyum melihat sebuah Foto dirinya yang sedang berada di atas kuda berwarna coklat.
"Itu kuda Milik Papa, namanya Thunder...tapi dia sudah mati, seminggu kematian Papa. Thunder juga mati seperti memiliki ikatan batin dengan Papa" ujar Rachel.
"Kau terlihat Sangat Seksi, Sayang" lanjut Anthony. menatap foto telanjang istrinya.
"Bee, jangan ngaco...usia ku saat itu masih 12 tahun... jangan-jangan...kamu"
Cletak...
"Jangan ngaco, aku bukan pedofil..." menyentil dahi istrinya.
"Lagian kamu ngomongnya Begitu" Rachel masih mengusap-usap keningnya.
"Kamu kok jadi ngaco sayang, dari tadi aku lihat foto ini" Anthony menekan jari telunjuknya ke sebuah bingkai foto.
"Kamu malah ngomong kuda, ngejelasin kuda yang sedang kamu tunggangi, aku sih jadi pendengar setia aja...dan masih fokus menatap foto telanjang kamu di atas meja sambil tengkurap. malah di bilang Pedofil"
"Itu sih foto saat aku berusia empat bulan, Bee" Mama sengaja mengabadikan momen pertama aku bisa tengkurap dan mengangkat kepala ku" sahut Rachel. ternyata dirinya salah Fokus.
"Aku ingin mereka juga seperti itu, bila mereka sudah hadir di dunia" Anthony mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, jangan kemana- mana" Anthony berlalu ke arah Kamar mandi.
TBC