SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Kang Dae


__ADS_3

"Aku ingin duduk di sini saja!" ucap Maikel.


"Aku juga duduk di sini saja bersama Maikel" Malcom melangkah, lalu duduk di samping Maikel.


Alex hanya menggelengkan kepala melihat kedua teman lamanya ini. terpaksa dia mengikuti kemauan Maikel. dan mengajak ke tiga rekan bisnisnya untuk duduk bersama Maikel. dan dirinya.


Jansen datang bersama dengan Aera.


"Hello, Maikel" sapa Aera.


"Hello, Aera" balas Maikel memasang wajah datarnya.


"Di mana Sidney, apa dia di Indonesia?" tanya Aera.


Maikel hanya mengangguk, sebagai jawaban.


"Sayang, perkenalkan...namanya Malcom, dia teman ku saat di asrama, teman satu kamar, dia berasal dari Nevada" jelas Alexander.


Aera menjabat tangan Malcom,dan juga rekan bisnis suaminya.


"Alana sayang...Ayo ikut Grandmom!" Aera menggandeng cucunya. Arora mengikuti Alana dan Aera pergi.


"Xander, apa aku bisa berbicara dengan salah satu pegawai mu?" tanya Maikel tiba-tiba.


"Boleh, tapi nanti setelah urusan kita selesai!" Jawab Alexander pada Maikel.


-


"Jangan pergi!" Alana memeluk pinggang Arora Ketika Arora ingin perg kedapuri memesan makanan buat temannya Aera.


"Alana sayang, Arora tidak pergi, dia hanya ingin pergi ke dapur!" Aera memberi pengertian pada Alana.


"Grandmom, please...aku tak ingin dia jauh dari ku" lirih Alana.


Aera tak habis pikir dengan cucunya.mengapa Alana tiba-tiba jadi manja seperti ini,


Apa cucuku merindukan sosok seorang ibu?. Aera.


"Arora, kamu tidak usah Melayani kami! biar yang lain saja yang melayani kami... kamu temani saja Alana! "ucap Aera.


"Baik nyonya" ucap Arora mendekati Alana.


"Aku ingin di gendong" pinta Alana Arora tertawa kecil melihat tingkah Alana. yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Mengapa hari ini kau manja Sekali? jangan minta gendong! nanti perut kak Arora bisa sakit karena menahan berat tubuh kamu!" ucap Area.


"Biarkan saja Nyonya, saya tidak keberatankan ": menggendong Alana" sahut Arora.


"Apa kau ingin melihat lobster dan kepiting hidup?" Tanya Arora.


Alana Hanya mengangguk semangat.


Arora mengajak Arora bermain di dapur restoran, mulut kecilnya tak henti-hentinya, bertanya tentang Lobster dan kepiting.


"Dia tampak seperti udang, jangan-jangan, dia nenek moyangnya?" ucap Alana.


Arora hanya tersenyum lebar mendengar ucapan Alana.


"Bolehkah aku membawa mereka pulang ke rumah?" tanya Alana.


"Mereka sudah betah di sini, dan tak mau kemana-mana" jawab Arora.


"Tapi mereka akan senang tinggal di rumah ku, di rumah ada kolam renang yang sangat besar , mereka bisa berenang di sana, kesana kemari, tanpa hambatan, tidak seperti di tempat ini, kecil" oceh Alana lagi.


Arora mengecup pipi kanan Alana, Karena gemes melihat tingkahnya.


"ALANA" sebuah suara bariton keluar dari arah pintu masuk dapur.


"Daddy" Alana tersenyum lebar, melihat sosok pria yang berdiri di pintu Dapur.

__ADS_1


Arora ikut membalikkan tubuhnya melihat Alana berlari ke arah sang Daddy.


Deg.....


Mata Arora membulat besar melihat pria yang di panggil Daddy, oleh Alana.


Pria itu...oh tidak mengapa harus dia. Arora.


"Sedang apa kamu di sini, sayang?" tanya kang Dae. anak pertama Alexander.


"Aku sedang melihat lobster dan kepiting besar yang di taruh di sebuah Kotak kaca" terang Alana.


"Daddy bolehkah aku membawa mereka pulang? di sana kan ada kolam yang sangat besar" lanjut Alana.


Kang Dae hanya tersenyum mendengar ocehan putrinya.


"kak Arora bilang mereka semua lebih suka tinggal di restoran ini, kalo aku membawanya pulang mereka menangis" Alana masih melanjutkan ocehannya.


Jadi namanya Arora, wanita yang memberikan ciuman pertamanya untuk ku. aku tak menyangka Alana bisa akrab dengan dirinya.Kang Dae.


Kang Dea tersenyum mendengar ocehan Alana, putri satu-satunya. yang tak di inginkan kehadirannya oleh Stevani ibu kandung Alana.


Author POV.


Sepuluh bulan yang lalu Kang Dae menggugat cerai istrinya, karena Stevani lebih memilih berkarir dari dari pada tinggal di rumah mengurus rumah tangga dan putrinya.


Stevani tidak ingin mengurus Putrinya, sejak kecil Alana hanya di asuh oleh Aera dan Stevani malah sibuk dengan kariernya. sampai akhirnya Kang Dae tidak bisa mentolerir tingkah laku Stevan pada dirinya maupun putrinya.


--


_


"Kita bertemu lagi, Arora. apa kabar? apa bibir mu?"


"Stop!!" Arora memotong ucapan Kang Dae,


Kang Dae tersenyum lebar melihat wajah Arora, tampak wajah kepanikan terlukis di wajahnya.


"Apa Daddy mengenalnya?" tanya Alana melihat interaksi mereka berdua.


"iya" Kang Dae.


"Tidak" Arora.


"Hai...kita pernah berjumpa, kita saling berpegangan tangan dan..."


"Cukup... cukup...cukup jangan diteruskan lagi, aku malu, kau tahu semenjak peristiwa itu aku selalu memikirkannya" aku Arora.


"Hahaha..." Kang Dea tertawa lepas mendengar pengakuan Arora.


Tuan Kim, Fredrick, dan Damien saling beradu pandang. selama mereka bekerja di Restoran ini. baru kali ini mereka melihat, Kang Dae tertawa lepas, setiap berada di sini, kang Dae tidak pernah berbicara hanya menikmati Hidangan saja, tapi kali ini Kang Dae sedang menggoda Arora.


"Kau memikirkan ku? sungguh?"


Arora mengangguk cepat.


"Aku memikirkan saat kau mencium ku, seandainya waktu bisa di putar kembali, Aku pasti akan memukulmu, dan langsung berlari pergi dari ketiga donat kelainan jiwa itu..." gerutu Arora.


"Donat... hahhahaa" tawa kang Dae kembali terdengar di ruang Dapur restoran.


"Aku tak menyangka kalau Daddy dan Kak Arora berciuman" seru Alana wajahnya terlihat ceria.


Kang Dae tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.


"Mati aku" Arora menepuk keningnya. tertunduk malu.


"Turunkan aku Daddy!" ucap Alana.


Kang Dae lalu menurunkan Alana dari gendongannya. mata kang Dae kembali menatap wajah Arora. yang sudah berubah menjadi merah merona.

__ADS_1


Alana bergegas melangkah ke luar dapur.


"Kau mau kemana, Alana?" tanya kang Dae


"Aku ingin bersama Grandmom" jawab Alana.


membuka pintu Dapur.


Arora juga bergegas menyusul Alana.


"Tunggu... tidak ku ijinkan kau pergi!" Kang Dae menahan lengan Arora.


"Tuan...aku di tugaskan untuk menjaga Alana" Arora mencoba menggoyangkan tangannya agar terlepas dari Kang Dae. namun semua itu sia-sia.


"Aku ingin berbicara dengan mu! dan tidak ada bantahan, mengerti" Suara kang Dae meninggi.


ketiga pria yang sudah menempati Dapur restoran, selama restoran ini berdiri, hanya diam melihat Arora dan putra tertua pemilik restoran ini tarik menarik tangan.


BRAK.....suara pintu yang di dorong keras.


"ARORA" seru lantang Jansen.


Arora dan Kang Dae, serentak menoleh ke Arah Jansen. dengan tangan Kang Dae masih memegang lengan Arora.


Wajah Jansen menjadi pucat, karena melihat kehadiran Kang Dae di dalam dapur dan tangannya masih memegang tangan Arora.


"Tuan Kang... apa Arora melakukan kesalahan?" Tanya Jansen. melihat anak buahnya di pegang seperti itu.


"Aku sedang punya urusan dengan dirinya, Benarkan sayang?" ucap Kang Dae.


Arora memasang wajah melongo mendengar ucapan Kang Dae.


Kedua Chief dan Damian tertawa mendengar ucapan Kang Dae.


Jansen teringat tujuannya ke dapur, memanggil Arora .


"Arora ikut aku ! tuan Alexander memanggil mu!" ucap Jansen.


Arora mengikuti langkah kaki Jansen melangkah.


-


"Aku tak menyangka Putramu bisa menjadi bagian Keluarga Agam, tepatnya jadi cucu menantu, Apa putramu berpacaran dengan putrinya...siapa namanya aku lupa, menurut media, dia putri dari putra bungsu Keluarga Agam" Alexander sedang mengingat sesuatu.


"Javier...Putra terakhir Keluarga Agam namanya Javier, Xander" lanjut Maikel.


"Yah... Javier...aku penasaran seperti apa wajah putra bungsu Keluarga Agam. karena selama ini yang selalu terekspos media Hanya putra kembar mereka" lanjut Alexander.


"Kau ingin melihatnya?" Elias memperlihatkan Foto dari galeri ponselnya. kenang-kenangan terakhir antara dirinya dan Javier.


"Di mana dia sekarang?" Alexander


"Siapa?" Maikel.


"Putra bungsu Keluarga Agam" Alexander.


"Di sudah tiada, ini foto terakhir ku dengan dirinya" ujar Maikel.


"Pantas saja, dirinya tak terekspos media" ucap Alexander.


"Aku terakhir bertemu Javier di Bali" sela Malcom.


"Kau mengenalnya? mengenal Javier?" tanya Alexander.


"Yah aku mengenalnya, Apa kau lupa aku ini salah satu orang kepercayaan Anson Berhan" ucap Malcom.


TBC


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2