
Amsterdam.
"Goedemorgen (selamat pagi)" sapa Arora.
" Hai...kita ini orang Indonesia, Selamat pagi, Arora..."ucap Siska, mencolek ujung hidung Arora.
"Aku harus belajar bahasa negara ini, tidak salahnya kan aku menyapamu dengan bahasa negara ini?" wajah Arora berubah menjadi cemberut
"Jangan cemberut! nanti cantiknya hilang!" menggoda Arora
"Apa rencana ke depan mu, selama menetap di sini?" tanya Siska.
" Aku akan coba mencari pekerjaan, walaupun aku mendapat beasiswa dari Universitas Amsterdam,aku juga butuh makan,sis" jawab Arora.
"Tidak mungkin aku minta ke papa " batin Arora dalam hatinya.
******
Rachel melangkah masuk ke dalam rumah, tubuhnya terasa remuk semua. kemarin malam,Rachel. hanya tidur dua jam, selebihnya dia harus membuat kue pesanan Customernya.
"Aku pulang..." ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Akhirnya kamu pulang..." Diana berdiri dari kursi makan, menggantungkan Tasnya di bahunya.
" Tante mau kemana?" tanya Rachel melihat Diana sudah berpakaian rapi.
" Tante mau ajak kamu, pergi ke salon!" Diana berjalan kearah Rachel " Ayo..." ucapnya Lagi sambil menarik tangan Rachel.
" Tante...aku ngantuk, lain kali saja ajak aku ke salonnya yah?" rengek Rachel .
__ADS_1
Sampai Di Salon Rachel melakukan beberapa perawatan kecantikan, Selama ini ,Rachel. selalu pergi Ke salon bersama Arora hanya creambath rambut dan gunting rambut.
*****
Oliver memerintahkan Asisten pribadinya untuk pulang ke Mansion nya, Oliver tidak suka mencium Aroma Rumah sakit. walau Dokter sudah mencegahnya, namun Oliver tetap bersikeras untuk pulang. ke rumahnya. Sang Dokter hanya pasrah dengan keputusan Oliver.
Pihak Rumah Sakit meminta Oliver menandatangani surat pernyataan, bila terjadi sesuatu dengan tubuh Oliver, Bukan kesalahan dari pihak Rumah Sakit.
Mata Diana tak berkedip menatap wajah kemenakannya" Rachel kamu cantik sekali " ucap Diana memandang takjub wajah Rachel.
" Tante... jangan memujiku, aku malu..." Rachel jadi salah tingkah mendengar pujian Tantenya.
Rachel memandang dirinya di depan cermin, matanya menatap tajam pada dirinya sendiri " Gaun ini Indah sekali" Gumam Rachel memuji gaun yang di pakainya.
"Kakak..." Rey tersenyum melihat kedatangan Anthony.
" Kakak, jangan ganggu istriku" Sahut Rey. memeluk pinggang Silviana.
Wajah Silviana berubah semu, mendapat perlakuan seperti itu dari Rey, untuk pertama kalinya.
" Aku dengar calon kakak ipar ku akan datang ke sini, kak?" ucap Rey.
Anthony menaikan alis kirinya mendengar ucapan Ray.
"Benarkah...."
Mata Rachel membulat seketika, ketika melihat ke arah Rey dan Silviana.
" Aku tak menyangka akan datang ke acara pernikahan mereka" gumam Rachel dalam hatinya" Aku harus bagaimana menghadapinya ?" pikirannya.
__ADS_1
" Ayo sayang..." Bram mengajak istri dan kemenakannya untuk naik ke pelaminan memberikan selamat atas pernikahan mereka.
Tatapan mata Rey day Rachel saling terkunci, hingga Rachel memutuskan menundukkan wajahnya,
Setelah memberi selamat kepada Bram dan istrinya, mereka berjalan mendekati Rey dan Silviana.
"Selamat menempuh hidup baru..." Ucap Bram dan Diana memberi ucapan selamat kepada mereka berdua.
"Selamat menempuh hidup baru...kak Rey, kak Silvi..." ucap Rachel menahan rasa sedihnya, Biar bagaimanapun seorang Rey, adalah cinta pertama bagi Rachel, pria yang pernah mengisi hatinya.
Mata Rey, berkaca-kaca memandang wajah Rachel, entah mengapa ada rasa gelisah ketika Rachel mengucapkan selamat kepada dirinya.Rey hanya diam membisu
" Trimakasih kasih Rachel " ucap Silviana.
Rachel menghampiri Diana.
" Tante aku ingin ke Toilet" ijin Rachel.
" Kita sapa dulu keluarga calon suami mu,nak" ucap Diana,
" Selamat Malam... nyonya Magdalena, nyonya Sidney, Tuan Maikel..." sapa Bram begitu juga dengan Diana.
Rachel segera menyalami calon keluarga suaminya.
" Jangan terlalu Formal, Bram. sebentar lagi kita akan menjadi keluarga!" ucap Magdalena.
Maikel mengamati penampilan Rachel Dari kepala sampai kaki nya.
Mata Maikel terkejut ketika melihat gelang yang di pakai Rachel.
__ADS_1