SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Elias


__ADS_3

Perlahan-lahan Kelopak mata Rachel terbuka lebar.


Begitu juga dengan kelopak mata Elias. Elias kembali membuka matanya, Pemilik Iris mata biru laut itu. menatap langit-langit kamarnya.


Ternyata aku masih hidup, terimakasih Tuhan...aku masih di beri kesehatan untuk Hidup, berikanlah aku kesehatan, sampai aku bertemu dengan Cucuku... putri Javier. Elias.


Grace Perawat yang menjaga Elias, tersenyum gembira melihat Elias membuka matanya.


"Tuan...anda baik-baik saja?" tanya Grace.


Elias hanya mengangguk lemah pada Grace.


Grace lalu menghubungi Dokter Darrell. dan mengatakan bahwa Elias telah sadarkan diri.


Di kamar Rachel.


Evita tersenyum lebar melihat Rachel membuka kelopak matanya.


"Valeria... Rachel siuman..." seru Evita. mengelus pucuk kepala Rachel.


Valeria melangkah mendekati Rachel yang berada di tempat tidur.


Spontan Justin, melompat dari sofa, lalu mendekati Tempat tidur Rachel, Justin tersenyum lebar memandang ke arah Rachel.


Rachel berusaha tersenyum pada mereka, Dirinya merasa merepotkan semua orang di Mansion ini.


"Maaf kan aku Aunty, Justin... Aku..."


"Ssttt... Jangan berbicara dulu! kami tahu arah pembicaraan mu..." Valeria menepuk halus lengan Rachel.


****


"Hallo... Maikel" ucap Anson dari Ponsel nya.


"Maaf, dengan siapa saya berbicara?" Maikel..


"Aku Anson, Maikel... Sahabat mu yang kau telah kau lupakan"


"Hahaha...aku tidak pernah melupakan mu saudara ku, oh yah... bagaimana kabar menantu ku...apa dia baik-baik saja?"


" Menantu mu baik-baik saja...bahkan aku mempunyai kabar gembira untuk mu,Maikel... menantu mu sedang mengandung, Maikel, tapi aku akan membawa jauh Putri ku dari keluarga kalian...Kau tahu saat ini aku marah... sangat marah dengan mu. Kau tahu keberadaan Putri Javier, bahkan kau menikahkannya dengan Putramu...tanpa sepengetahun kami. kami ini keluarganya..." Suara Anson agak meninggi.


Lalu memutuskan Sambungan telfonnya.


Ansel dan putranya Saling beradu pandang mendengar ucapan Anson. Oliver tak membayangkan seperti apa jadinya kalau sampai, pamannya Anson menjauhkan Rachel dari suaminya.


"Kakak...Apa Kau ingin membawa Rachel pergi dari sini?" tanya Ansel menyelidik.


Oliver hanya diam menanti jawaban unclenya.

__ADS_1


Anson tersenyum sekilas mendengar pertanyaan adiknya.


"Aku hanya ingin menggertak...manusia batu itu (Julukan Anson buat Maikel) Sekali-kali perlu di goyahkan perasaannya... pasti dia akan ke Mansion ini, menemui ku...aku tak sabar ingin melihat wajah Maikel" jawab Anson Antusias, tersenyum kecil membayangkan wajah Maikel yang jadi pucat pasi.


"Aku kira uncle serius...ingin memisahkan Rachel dari suaminya?" sela Oliver.


"Terus terang Uncle juga kecewa dengan sikap Maikel...tapi Aku tak ingin, Keluarga ini tercerai berai seperti dulu lagi... Uncle tidak punya Hak memisahkan Rachel dari suaminya. Setalah Javier meninggalkan dunia,Rachel tidak hidup bersama keluarga ini, justru Javier menitipkan Rachel di keluarga Istrinya, mereka yang berhak akan kehidupan Rachel selama ini, Oliver" Ujar Anson.


Ansel hanya mengangguk saja menyetujui ucapan Kakaknya.


" Uncle benar, Apa lagi di Dalam tubuh Rachel sudah ada kehidupan yang mempersatukan ikatan mereka, menjadi lebih erat!" Oliver tersenyum tipis " Terus terang aku tadi sempat Syok mendengar ucapan uncle..." Oliver menghirup nafas dalam-dalam


" Sungguh aku tak bisa membayangkannya bila, uncle benar-benar membawa Rachel pergi " ucap Oliver lagi.


"Tuan...Tuan Elias...."


" Ada apa dengan Daddy ku" Ansel memotong ucapan Grace.


"Tuan Elias...dia...dia mencari Anda tuan" jawab Grace.


Anson, Ansel dan Oliver segera pergi ke arah kamar Elias. mereka segera naik ke dalam Lift. agar cepat sampai ke kamar Elias.


_


_


Maikel mengusap kasar wajahnya, ketika mendengar ucapan Anson tadi,


Aku tak menyangka Rachel Sedang mengandung, yah tuhan... Terimakasih Atas kemurahan mu, memberikan keturunan untuk keluarga kami, Tapi aku memohon kepadamu, jangan pisahkan Rachel dari Anthony. Doa Maikel.


Sudah berapa kali Maikel menghubungi Anthony, namun tak tersambung " Kemana anak itu sampai telfon ku tidak di angkat.." Gerutu Maikel.


" Rico...apa Anthony pernah menghubungi dirimu?" Tanya Maikel.


" Yah...tiga jam yang lalu kakak menghubungi ku...kakak mengatakan akan ke London dan kakak bertanya, aku sekarang berada di mana...aku bilang sekarang aku sedang bersama Uncle di Kota Cambridge'" Jawab Rico.


"Kita kembali ke London!" ucap Maikel.


"What!... kembali ke London? kita baru 1 jam paman berada di sini, dan paman ngin kembali lagi ke London" Seru Rico tak percaya.


Maikel hanya diam saja, mendengar ucapan Rico.


Saat ini yang harus di hadapi adalah temannya, Anson.mereka satu angkatan, satu jurusan, dan satu kelas, Maikel agak tahu banyak Sifa Anson, Pria arogan, Pria Dingin, dan Maikel Sanga tahu banyak tentang sifat Anson.


____


Elias tersenyum gembira melihat tiga orang pria yang sedang menunju ke arahnya.


" Anson... Daddy sangat merindukanmu" Lirih Elias, saat putranya memeluk tubuhnya.

__ADS_1


" Aku juga, Daddy. Aku sangat merindukanmu... maafkan aku yang tidak pernah datang menengok ke adaan, Daddy" Anson mengecup pelipis Elias.lama-lama.


* Hai...kakak! aku juga ingin memeluk Daddy ku" Ansel mencolek punggung kakaknya.


" Dad... biarkan Uncle memeluk Granddad! kita duduk di sofa saja! Aku tak habis pikir, mengapa akhir-akhir ini sikap Daddy sama seperti Elton" cibir Olivier pada Ansel.


"Uncle Anson baru bertemu dengan Granddad, biarkan Uncle melepas rindunya pada Granddad!"


" Aku tahu...aku hanya ingin menggoda uncle mu saja"Ucap Ansel dengan suara lirih agar tak di dengar Anson.


Oliver mendengus kasar mendengar ucapan Anson.


"Grace! Tolong hubungi, Dokter Darrell!" ucap Ansel.


"Saya sudah menghubungi Dokter Darrell, Tuan...di saat Tuan Elias membuka matanya" jawab Grace.


"Terimakasih, Grace" ucapan tulus keluar dari bibir Ansel, Grace hanya tersenyum mendengar ucapan dari Ansel.


"Rachel juga sudah siuman...aku akan turun ke bawah untuk melihat keadaannya"Oliver memberikan kabar pada Ansel, setelah membaca pesan dari Justin, Oliver bangun dari sofa lalu menghampiri Anson dan Granddadnya.


"Granddad...aku pergi kerja dulu" ijin Oliver lalu mencium pipi kanan Elias" Aku senang, Granddad, kuat masih ingin bertahan berada di antara kami... Terimakasih" ucap Oliver.


wajah Elias terlihat ceria matanya berkaca-kaca terharu mendengar ucapan Oliver.


"Uncle aku pergi kerja dulu..." ijin Oliver pada Ansel.


"Jangan lupa lihat ke adaan Rachel...apa dia sudah siuman?" ucap Anson.


"Rachel sudah siuman, Uncle." jawab Oliver berlalu pergi, karena Oliver jiga harus mengantar Elton ke sekolah sebelum ke Perusahaan.


"Siapa Rachel, Anson... apakah nama kekasihnya, Oliver?" entah mengapa jiwa kepo Elias keluar...


" Bukan, Dad... Rachel, putrinya Javier..." Ansel yang menjawab pertanyaan Elias. tanpa menyadari ucapannya.


"Ansel...." geram Anson.


Elias hanya terdiam. tiba-tiba Elias merasa sesak di dadanya...Rasa bahagia dan rasa bersalahnya, bercampur menjadi satu. membuat tubuh Elias tak bisa bernafas dengan baik.


Ansel membulatkan mata, terkejut melihat Elias memegang dada sebelah Kirinya.


"Daddy... Daddy...harus kuat, aku kira Daddy ingin bertemu dengan Putri Elias" Anson memberi semangat buat Elias.


"Tolong, hilangkan rasa bersalah Daddy! Rachel ingin sekali bertemu dengan Daddy"lirih Anson memberi pengertian pada Elias.


" Ada apa dengan Pasien ku?..." Suara Darrell menggema di kamar Elias.


"Cepat...periksa keadaannya!" ucap Anson menjauh dari Tempat tidur Elias.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2