
"Daddy..." Elton menarik-narik celana Oliver Yang sedang berdiri menghadap ke arah luar jendela, menatap jalanan kota London dari dalam Kamar Elias.
Oliver menundukkan kepalanya melihat Putranya yang sedang tersenyum memandang wajahnya.
Oliver Menekukkan lututnya, Lalu memandang wajah Putranya, Mata Elton terlihat sayu, menahan rasa kantuk yang menyerang dirinya.
"Daddy aku lelah, aku ingin tidur...oammm" Elton menguap karena menahan kantuknya.
Oliver tersenyum melihat ulah Putranya.
Oliver lalu menggendong Elton.
"Jagoan Daddy ternyata mengantuk, biar Daddy antar ke kamar mu" Oliver mengecup pelipis putranya. Elton sudah seperti Koala yang nemplok pada tubuh Oliver.
"Ada apa dengannya?" Tanya Valeria melihat cucunya di gendongan Putranya.
"Dia mengantuk Mom, aku akan membawa Elton ke kamarnya" Oliver lalu melangkah ke arah pintu kamar.
Rachel masih diam tak berbicara, seandainya sejak dulu, dia mau mencari tau di mana keberadaan kakeknya, Pasti Rachel tidak melihat keadaan Kakeknya seperti ini.
"Sayang... minum dulu susunya. kau jangan melupakan calon bayi kita!" ucap Anthony lembut pada istrinya.
Rachel tersenyum lirih mendengar ucapan suaminya, lalu mengambil susu yang sudah di buat kan Anthony untuk dirinya.
"Terimakasih, Bee" ucap Rachel setelah meminum susu hamil nya
Jari jempol Anthony menyeka pinggir bibir istrinya, karena tempelan susu yang melekat di bibir istrinya.
"Mengapa kau jorok sekali..." cebik Anthony.
"Rachel, sayang, kamu harus istirahat! kasihan mereka " Evita mengusap perut Rachel.
"Iya sayang, kamu harus beristirahat! " sahut Valeria mendukung ucapan Evita.
"Aku ingin di sini, aunty, menemani kakek" ucap Rachel.
"Biarkan Rachel di sini, Mom. aku akan menyuruh Maid membawa kasur lipat ke sini, agar Rachel bisa beristirahat" Usul Dustin, merasa tidak tega melihat Wajah sembab Rachel.
"Apa kita harus membawa Daddy ke Rumah sakit?" tanya Ansel tiba-tiba. pada Anson.
"Apa kau meragukan kemampuan Darrell?" Anson malah balik bertanya pada adiknya.
"Apa kau lupa, Dia Ahli kanker terbaik di negara ini" lanjut Anson.
Ansel tertunduk lemah, matanya lalu teralihkan menatap ke arah Elias.
"Sayang jangan seperti ini! saat ini kita harus sabar menghadapi Situasi ini!" Valeria menghibur suaminya, dia sangat tahu betapa besar rasa cintanya pada Elias.
Anthony menuntun istrinya agar tidur di atas kasur yang sudah di sediakan oleh Seorang Maid. untung saja kamar Eliss sangat luas, masih bisa memuat Tiga kasur lipat di kamar ini
"Sekarang pejamkan matamu! aku akan menjaga mu..." Anthony mengecup sekilas bibir Istrinya. lalu mengusap pucuk kepala Rachel. sampai akhirnya Rachel tertidur pulas.
__ADS_1
Dalam mimpinya Elias.
Elias sedang duduk di sebuah taman, taman yang sama, seperti mimpinya waktu bertemu dengan istrinya.
Elias memejamkan matanya, sambil menghirup udara sekitar taman. nafasnya terasa plong. tiba-tiba, Elias merasakan seseorang menyentuh lembut pipi kanannya. membuat Elias tersentak dan membuka matanya.
Elias menatap iris mata hazell, yang sama seperti mata istrinya.
"Agatha...My love?" lirih Elias, lalu memegang tangan istrinya. Elias mengecup punggung tangan istrinya bertubi-tubi rasa rindu yang lama terpendam, membuncah seketika, karena rasa rindunya pada sang istri.
"Aku ingin bersama mu..." Ucap Agatha tersenyum pada suaminya.
Elias membalas senyuman istrinya, lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku akan tinggal di sini bersama mu"
sahut Elias.
Suara Elektrokaldiagram, tiba-tiba berbunyi nyaring...tampak garis datar di layar monitor.
"Yah tuhan..." Gumam Darrel dalam hatinya.
Darrell segera memompa jantung Elias, namun tidak ada hasilnya.
" GRACE...AED (defibrillator eksternal otomatis)" teriak Darrell
Dengan sigap Grace mengambil apa yang fi inginkan Darrell.
Semua yang ada di sana hanya diam dan tak berkata apa-apa, semuanya terpaku melihat kearah Darrell. Anson sebagai ketua Mafia Eagle eyes hanya diam terpaku, Anson biasa melihat orang di bunuh di hadapannya. tapi sekarang dia harus melihat Daddynya yang sedang di tanganni Darrell dan Grace.
Mimpi Rachel.
Saat ini Rachel sedang duduk di sebuah kursi taman Bercat kan warna perak. Rachel melayangkan matanya ke segala arah. ternyata dirinya ada di luar Mansion.
Suara burung parkit terdengar saling bersahutan di atas pohon besar yang berdiri kokoh di pojok sebelah kanan Pagar Mansion.
Tiba-tiba suara sebuah motor Harley Davidson. terdengar di telinganya, dan Rachel mencari sumber suara itu.
Senyum Rachel merekah ketika melihat seorang Pria yang turun dari Motor Harley.
"Papa..." satu kata yang keluar dari bibirnya.
"PAPA..."seru lantang Rachel tak percaya melihat kehadiran Papanya di Mansion ini.
Javier tersenyum ke arah Rachel, Rachel juga membalas senyuman Javier. sudah lama Rachel tak melihat lesung pipi Papanya.
Javier melangkah ke arah Rachel... wajah Rachel terlihat bahagia sekali, Rachel masih berdiri terpaku menanti sang Papa datang memeluk dirinya. Namun Javier malah melewati Dirinya, membuat dirinya heran. mata Rachel hanya melihat langkah kaki papanya yang melewati dirinya, Sampai Rachel membalikkan badannya kebelakang, untuk melihat kemana kaki papanya melangkah.
Papanya hanya berdiri di depan pintu Mansion.
Tiba-tiba Pintu Mansion terbuka dan Rachel sempat terkejut melihat Kakeknya, Elias yang keluar dari Dalam Mansion, mereka saling berpelukan dan berbicara. tapi Rachel tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Sampai akhirnya mereka berdua melangkah, melewati tubuh Rachel, bahkan mereka tidak menoleh ke arah Rachel, Sampai membuat hati Rachel sedih. Rachel memanggil kembali Javier " Papa...papa..." panggil Rachel, namun tidak ada pergerakan dari Javier untuk menoleh ke arah Rachel.
Sampai mereka berdua sampai di Motor Harley.
Mereka berdua naik ke motor Harley, Javier membonceng Elias, wajah mereka terlihat bahagia.
"PAPA...PAPA..." Teriak lantang Rachel, agar papanya menoleh ke arahnya. dan yah Javier menoleh ke arah Rachel, Javier hanya memberi senyuman pada Rachel lalu melajukan Motornya pergi meninggalkan Rachel sendiri yang masih terpaku melihat kearah mereka.
"Papa... Papa...mengapa papa tidak menyapa ku... PAPA..." Rachel berteriak Emosi, karena di hiraukan sang Papa.
"PAPA!!!!"
Rachel terbangun dari mimpinya. suara nafasnya menderu tak beraturan. karena belum sadar dari bangun tidurnya. perlahan-lahan, pikirannya mulai terkumpul dan menyadarkan dirinya,
"Ternyata mimpi..." ucapnya lirih. Rachel tak melihat keberadaan suaminya.dan tiba-tiba terdengar suara.
"Satu...dua...tiga"
"Bugh"
"Satu...dua... tiga"
"Bugh"
Rachel melihat semua keluarganya terlihat melihat ke satu arah, ke arah tempat tidur Kakeknya.
Rachel bangun Dari tempat tidur, lalu melangkah ke arah mereka semua.
Rachel melihat Darrell sedang berusaha membangunkan kembali Elias.
mereka semua tidak memperhatikan kehadiran Rachel yang sudah berdiri di depan Justin.
"Sekali lagi!...Satu...dua... tiga"
"Bugh...tititititiiiitttt" suara tarikan pengejut jantung dan detak jantung berbunyi beriringan.
Darrell mendengus kasar, sambil menggelengkan kepalanya. Darrell mengangkat kepalanya.
"Maafkan aku Anson, aku tidak berhasil menyelamatkannya" Darrell tertunduk lesu.
Semua yang ada di ruangan itu, terkejut dengan ucapan Darrell. wajah mereka semua berubah sedih'. mereka semua kehilangan sosok Elias .
sosok Pria yang sangat penyayang dan di cintai anak,cucu,dan menantunya.
Rachel syok mendengar ucapan Darrell, kakinya bergetar menahan beban tubuhnya, sampai akhirnya Rachel tak sadarkan diri.
Untung saja Justin segera memeluk tubuh Rachel " Huh... hampir saja" ucap Justin.
"Anthony... Rachel pingsang" seru Justin. masih memeluk tubuh Rachel.
TBC
__ADS_1
Terimakasih... jangan lupa cap jempolnya
and Komentar kalian semua teman-teman.