
Mata Arora membulat sempurna, Dirinya tampak terkejut melihat, sosok pria yang memakai pakaian casual, sedang duduk di depan teras rumahnya.
"Teman kamu, Ra?" Tanya Diana menatap Kang Dae dari dalam mobil.
Arora mendengus halus.
"Dia Anak dari pemilik Restoran tempat Ara, bekerja, ma..." jawab Arora.
"Kok dia bisa ke sini? nyamperin kamu malah?" Diana jadi bingung dengan jawaban putrinya.
"Kamu tidak korupsi kan di restoran tempat kamu bekerja? atau jangan-jangan, kamu punya hubungan spesial?" tebak Diana.
"Iih...mama ngaco! aku tak sempat korupsi, karena mendengar Rachel koma di rumah sakit. apalagi sampai punya hubungan spesial sama dia" Cibir Arora.
"Bener nggak punya hubungan spesial?" Diana mengerutkan keningnya.
"Iya..."Arora merasa jengah dengan pertanyaan sang mama. lalu membuka pintu mobilnya.
"Ra... malah di tinggal pergi? mama, masih penasaran, Ara!" ucap Diana.
Kang Dae melambaikan tangannya, sambil memasang senyum lebar, tampak terlihat lesung pipi di kedua pipinya, menambah ketampanan wajahnya.
Arora membalas senyuman kang Dae.
"Hai..." kata yang pertama terucap dari bibir kang Dae, setelah tiga bulan dirinya baru bertemu lagi dengan Arora.
"Hai juga" balas Arora.
Membuat mereka berdua terkekeh, menyadari sikap kaku mereka berdua.
"Ehem..."
Tawa kecil mereka terhenti, ketika mendengar suara deheman Diana.
"Ada tamu rupanya " tegur Diana.
Kang Dae segera menjabat tangan Diana dan langsung mencium punggung tangan Diana.
Arora hanya membulatkan bibirnya melihat sikap Kang Dae.
"Perkenalkan Nama saya Kang Dae, saya kekasih putri anda lebih tepatnya calon suami, Ara" tegas Kang Dae.
Diana terperangah, mendengar penuturan Kang Dae.
Arora syok mendengar ucapan kang Dae " Kamu nggak salah minum obat kan?" tegur Ara.
"Ayolah Ara...aku ingin hubungan kita di ketahui semua orang" sahut kang Dae.
Diana menoleh ke arah putrinya.
"Sejak kapan kita memulai hubungan Spesial? Mama... Jangan dengerin ucapannya, Dae" Arora meyakinkan Diana.
"Masa kamu lupa? bukankah aku, orang yang pertama men..."
__ADS_1
"STOP..."Ara membekap mulut Kang Dae.
Diana jadi merasa yakin kalau mereka berdua memang memiliki sebuah hubungan.
"Arora..."Diana memandang tajam putrinya.
Sedangkan yang di pandang menundukkan kepalanya, menutupi wajahnya dari pandangan sang Mama.
"Kang Dae, saya mau tanya... sejak kapan kalian berdua menjalin hubungan serius?" Diana lebih memutuskan bertanya langsung pada kang Dae.
"Sejak...saya mencium..."
Arora langsung menengok ke arah Kang Dae, matanya mendelik lebar, Agar kang Dae tak menceritakan tentang ciuman pertama mereka.
"Kamu mencium Putri saya?" seru Diana.
"Dia cuma cium pipi aku doang" sela Arora membela dirinya.
Rasanya Kang Dae ingin tertawa lebar melihat wajah Arora yang terlihat memerah karena malu dan takut pada Diana.
"Kalau cuma cium pipi, kamu enggak bakalan se kalut ini, Ra" Diana tersenyum kecil Pada sang putri.
"Kang Dae, Kamu serius sama putri saya?" Tanya Diana.
Kang Dae mengangguk antusias. karena dari hati yang paling dalam Kang Dae mencintai Arora, sejak pertama kali melihat Arora, perasaannya selalu terusik dengan bayang-bayang wajah Arora. sampai dirinya di pertemukan saat Arora sedang di ganggu para wanita yang memiliki kelainan ****.
"Mama..."Arora perotes dengan ucapan mamanya.
"Kalau kamu serius, kapan kamu mau melamar Putri saya?" tegas Diana. dirinya tak ingin putri berhubungan terlalu jauh pada pria manapun tanpa status pernikahan.
Arora hanya melongo mendengar jawaban Kang Dae.
Kenapa bisa begini? ngomong cinta sama gw aja tidak, kebanyakan makan kimchi kali dia. Arora.
Rumah Sakit.
"Sekarang kamu istirahat yah!" Anthony menarik selimut sampai pinggang Rachel.
Tangannya yang kekar mengelus lembut calon anak mereka. terlukis senyuman indah dari bibirnya, ketika merasakan pergerakan dari dalam perut Rachel "Dia bergerak, sayang. mereka tahu kalau Papanya sedang menyapa mereka"
Entah mengapa ada perasaan bahagia di hati Rachel dirinya hanya tersenyum mendengar ucapan Anthony.
"Waktu aku mendengar diri mu sedang mengandung buah cinta kita" Anthony mulai bercerita tentang rasa bahagianya mengetahui istrinya mengandung saat di London.
Rachel hanya diam dan menyimak semua kata per kata yang Anthony ucapkan, Dirinya tak mengingat semua kejadian itu.
"Kamu tahu, awal kamu memanggil aku dengan sebutan Mas...terus terang aku sangat tak suka, kadang aku tak ingin menengok bila kamu memanggil aku Mas... "
Anthony mengambilnya mengusap lembut punggung tangan istrinya.membuat Rachel agak sedikit risih.
"Semakin lama kita saling mengenal, aku meminta kamu mengganti panggilan mu kepada saya"
Rachel memilih diam dan hanya menatap bergeming wajah pria yang mengaku sebagai suaminya.
__ADS_1
Anthony tersenyum tipis mengingat kembali kenangan mereka saat di apartemen.
"Dan Kamu memanggil Aku Bee" ucap Anthony memberi senyuman pada sang istri
"Bee? lebah?" ucap Rachel.
Anthony mengangguk, lalu mengecup tangan istrinya.
"Dan akhirnya aku memutuskan memanggil diri mu Flower, aku lebah dan kamu bunga yang aku Ambil sarinya
kok gw bisa se alay itu, Rachel.
"kok bisa? alasannya?"Rachel jadi penasaran.
"Kamu bilang...aku suka memberi kamu tanda setiap habis kita bercinta" Anthony malah mulai usil pada sang istri.
"Tanda? tanda apa" Rachel mulai mengira-ngira. mata nya membulat besar bila mengingat beberapa tanda merah yang sering ada di leher tantenya.
"Cu... ****** " wajahnya meringis melihat wajah Anthony.
Anthony mengangguk sambil memasang wajah sendu pada Rachel.
"Ahhhhhh... pasti bohong kan?" wajahnya malah terlihat Merona. menutup wajahnya.
Anthony tertawa lalu memeluk istrinya. masih Terkekeh melihat sikap istrinya.
"Flower... kekasih hati ku" lirih Anthony memeluk tubuh istrinya. sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
Rachel hanya diam dan merasa nyaman dalam dekapan suaminya.
"Jangan pernah pergi dari sisi ku, aku sangat menyayangi mu dan mencintai mu, my Flower" lanjut Anthony, pikiran melayang saat kejadian lima hari yang lalu,di saat istrinya tak sadarkan diri selama tiga hari.
Wajah Rachel tambah merona mendengar ucapan suaminya.
-------
Rumah Diana.
"Mama...Aku belum ingin menikah "Arora malah merengek di depan kang Dae. sambil mendusel tubuh mama.
"Inilah sisi buruk dari calon istri mu kang Dae, apa kamu tetap mau menerima dirinya menjadi istri mu?"
Kang Dae mengangguk sambil tersenyum lebar, sebagai Jawaban setuju pada ucapan Diana.
Arora mengangkat tubuhnya, terlihat wajah merajuk Arora memandang Sang Mama.
"Mama jahat amat sama anaknya sendiri" Arora menoleh ke arah Kang Dae.
"Kamu pulang aja deh ke Korea! jangan datang lagi ke sini!" ucap Arora.
"Aku akan kembali ke Korea kalau bersama kamu,Ara" goda Kang Dae.
Ara melorotkan tubuhnya. tak bisa berkata-kata lagi, hanya satu harapannya sang papa, siapa tahu Papanya tak menuruti ucapan istri tercintanya.
__ADS_1
TBC
Terimakasih ☺️