SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Pulang kampung 4


__ADS_3

Para tamu kehormatan Rachel, melayangkan pandangan matanya pada seluruh ruangan, yang ada di dalam rumah Rachel.


Mata Rachel berkaca-kaca.


Papa...aku datang bersama dengan kedua saudara Papa dan istrinya, bahkan aku membawa keluarga baru ku, datang kerumah ini, tapi sayang Papa dan mama tidak bisa menyambut kehadiran mereka di sini. Rachel.


"Rumah mu besar sekali sayang " tegur Sidney sambil mengusap-usap pundak Rachel.


"Ini Rumah Papa dan mama, Mom...rumah kenangan ku" Air mata Rachel tak terbendung lagi, mengalir langsung membasahi pipinya.


"Jujur... semenjak kepergian mereka, aku baru masuk kembali kedalam rumah ini, bersama kalian... rasanya terlalu sakit untuk diri ku masuk kedalam rumah ini, terlalu banyak kenangan manis di sini bersama dengan kedua orang tuaku " lirih Rachel langsung menangis tersedu-sedu.


"Sssttt" Sidney memeluk menantunya.


membuat semua orang yang ada di dalam rumah, beralih menengok ke arah mereka berdua.


"Jangan menangis, sayang!... mereka berdua mungkin sedang tersenyum melihat ke datangan mu bersama kami...kami semua menyayangi mu, ayo tersenyum! kasihan mereka di dalam bisa stres mendengar tangisan ibunya " Hibur Sidney pada Rachel dengan ucapan yang tulus kalau dirinya menyayangi Rachel.


"Ada apa dengan putri ku?" tegur Ansel yang sudah ada di samping Rachel.


Rachel tersenyum mendengar ucapan unclenya. yang mengkhawatirkan dirinya.


"Dia, teringat mendiang Kedua orang tuanya" ucap Sidney masih memeluk Rachel.


"Oh, sayang, ada kami di sini! yang akan menemani dirimu selamanya, pasti adik ku sedang berbahagia, melihat kehadiran dan kebersamaan kita di sini!" Hibur Ansel pada Rachel.


"Sekarang hapus air mata! jadikan hari ini dan seterusnya, menjadi sebuah kebahagiaan untuk dirimu! kamu tidak sendiri, Ada Uncle juga Aunty, kedua mertua mu dan juga Oma...juga ada ketiga sahabat mu, yang selalu senantiasa berada bersama mu di tambah Suami pemaksa mu, Sayang "


"Kedua orang tua mu pasti sekarang sedang tersenyum bahagia, melihat Kamu di kelilingi oleh kami, yang menyayangi mu dengan tulus " ungkap Magdalena dengan tulus.


Rachel tersenyum bahagia mendengar ungkapan Magdalena. perasaannya terenyuh mendengar perkataan Magdalena.


Singkat cerita.


Para tamu keluarga sudah di bawa ke villa Pribadi Javier, yang terletak tepat di samping rumah Pribadi Javier.


Javier sengaja membangun sebuah villa, di samping rumah Pribadi, khusus tamu yang Javier undang ke perkebunan.


Rumah dan Villa tersambung dengan sebuah jembatan kecil,yang panjangnya hanya sepuluh meter di bawah jembatan ada sebuah parit besar yang berisi beraneka ikan air tawar. Rachel tersenyum lirih meliputi jembatan yang menurut dia sebagai sejarah keluarga kecil papanya, di jembatan kecil itu sang papa duduk di situ sambil memancing ikan yang di peliharanya. di sampingnya turut istri tercinta menemani suaminya, mereka saling ngobrol hal-hal kecil, sambil tertawa bersama. papanya tak henti-hentinya mengecup sang istri tercinta.

__ADS_1


Uncle, aunty dan keluarga suaminya Rachel tempat kan di Villa sebelah barat.


Biar uncle dan Papa mertua bisa mengisi waktu luang dengan memancing di jembatan.


Sedangkan ketiga sahabatnya Rachel tempatkan di Villa sebelah timur, mereka bisa berjalan langsung ke arah perkebunan. melewati jalan setapak yang di buat Javier untuk sampai ke kantor perkebunan.


Rachel meminta tolong pada Istri dari seorang tangan kanan papanya, untuk mengurus para pekerja perkebunan.


Rachel meminta beberapa warga desa yang biasa kerja paruh di villa mereka untuk membantu dirinya mengurus dan melayani para tamunya.


"Non... Makanan apa yang harus di buat? Ce'ce bingung, karena tamu si non, mirip kang Eric, bule-bule begitu " ucap Suci, anak dari Art yang pernah bekerja di rumah Rachel. sekarang Suci dan suaminya yang di percayai mengurus rumah dan dua Villa pribadi Javier.


"Seperti yang biasa aja! kalau tamunya Papa datang, Mama suruh, ce Suci, bikin masakan apa?!" sahut Rachel, kembali duduk di kursi rodanya.


Suci menatap lirih melihat, Rachel yang sedang mengatur nafas karena tiba-tiba bayinya bergerak. sampai asih meringis melihat wajah Rachel yang terlihat menahan sakit.


Aku saja yang isinya satu setengah mati bawanya, apalagi ini tiga. Suci.


"Non, Yang sabar yah" ucap Suci tulus mengelus bahu Rachel.


"Harus dong, Ce, aku kan ibunya, aku senang kok, kalau mereka aktif di dalam...itu tandanya mereka sehat" senyum Rachel terlukis indah.


"Ngomong apa lagi sih...sama kang Eric kalau mau ngomong begitu bukan sama, Ce'ce" decak Suci.


"Ce'ce ke dapur dulu, jadi melow Ce'ce di sini" Suci tidak tega melihat wajah dan perut Rachel yang besar seperti itu.


"Yah...tuh bisa ngomong Melow, dapat bocoran dari mana?" seru Rachel masih menggoda Suci.


Suci tak menyahut ucapan Rachel.


Dayat suami suci sedang berjalan masuk kedalam rumah. sambil membawa beberapa Brokoli, wortel dan lain sebagainya di dalam sebuah wadah besar.


"Kang Dayat" panggil Rachel.


"Ada apa, Non"


"Pintu dan kamarnya papa dan mama, selalu di buka setiap hari?" tanya Rachel.


"Iyah, Non" Jawab Dayat singkat.

__ADS_1


"Suci selalu membersihkan debu-debu di kamar setiap hari, pokoknya kinclong" lanjut Dayat.


"Terimakasih" ucap Rachel.


"Saya ke dapur dulu, Non" Dayat berlalu pergi.


Rachel menatap jam dinding, sudah satu jam lebih, namun rombongan suaminya Belum sampai juga.


Ingin menghubungi Suaminya, tapi ponselnya sedang di Charger.


Di Villa sebelah barat.


"Mama, istirahat dulu, capek kelamaan duduk di jalan" ucap Magdalena tersenyum pada menantunya.


Sedangkan Valeria dan Evita, terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mereka.


Anson, Maikel dan Ansel, justru sedang asik menikmati pemandangan yang ada di sekelilingnya.


"Keterlaluan sekali adik ku, Dia tidak ingin berbagi keindahan tempat tinggal nya" ucap Ansel menatap lurus ke arah villa yang terletak di ujung bukit. terlihat langit berwarna biru dan bias jingga terpancar indah di belakang bukit.


"Kau lupa, kalau dirinya sudah di coret dari keluarga Agam " sahut Maikel.


"Daddy tak pernah mencoret nama Javier dari keluarga Agam, tapi Daddy juga tak ingin mendengar nama Javier terucap dari mulut kami...kau tahu setelah kepergian Mommy, Rasa penyesalan pada adik ku timbul di dirinya" Ansel menarik nafas dalam-dalam.


Anson dan Maikel hany diam tak bersuara. terlebih Anson karena tak tahu dengan kenyataan sebenarnya, karena dirinya mulai harus mengurus perusahaan yang di wariskan untuk dirinya dan Javier.


Javier Seharusnya yang menjadi ketua dari Eyes Eagle, tapi dia malah pergi. membuat tenaga Anson terkuras mengurus Keduanya. Anson sempat kecewa dan marah ketika mendengar, adik bungsunya di usir dari Mansion. oleh Daddy nya, hingga membuat, Mommy nya sering jatuh sakit, merindukan putra yang paling dia sayangi.


....


Rachel masih berdiri di teras rumah, menunggu ke datangan suaminya. beberapa buruh perkebunan Lewat di Depan halaman rumah Javier, karena ada jalan Alternatif menuju ke desa tempat mereka tinggal.


Seorang Pemuda yang usianya, seumuran dengan Rachel, tersenyum lebar melihat Rachel yang sedang berdiri, terlihat perut besar yang menempel di tubuh Rachel membuat pemuda itu tertawa kecil.


"Waduh, lama tidak ketemu... sekali ketemu udah kayak, Badut...lupa di lepas perut palsunya?" tegur Pemuda itu pada Rachel.


Rachel menoleh seketika, matanya berbinar ceria melihat, pemuda yang seenaknya berbicara pada dirinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2