
Author POV.
Rachel masih belum sadarkan diri, Dirinya terlihat seperti orang yang tertidur lelap.
Anthony tak pernah beranjak pergi jauh dari istrinya. dirinya merasa bersyukur, karena Calon bayi mereka ternyata bayi yang kuat di dalam kandungan ibunya.
"Beristirahatlah! Aku tak ingin kau jatuh sakit!" Oceh Bianca, melihat guratan lelah di wajah sahabatnya. yang tak pernah lepas memegang jemari tangan Rachel.
"Hm..." jawab Anthony
Bianca mendengus halus. melihat reaksi sahabat nya ini
"Aku pergi dulu, jaga kondisi mu juga!" Bianca menepuk bahu Anthony sebelum beranjak pergi keluar kamar.
"Bagaimana Dengan kondisi Mommy mu, Maikel?" tanya Anson sambil menempelkan bokongnya di sofa kamar rawat inap Magdalena.
"My Mom...masih dalam pengawasan dokter" jawab Maikel dengan suara lirih. pandangan Maikel tertuju pada Magdalena yang terbaring lemah di Atas Hospital bed.
"Aku tak menyangka dalam sekejap kau mengatasi musuh-musuh mu" puji Anson.
Maikel pasukan elite yang tugasnya hanya untuk membasmi Manusia yang berani mengganggu keluarganya.
"Seumur hidup, aku tak pernah mempunyai musuh, Anson. mereka semua hanya saingan bisnis ku saja dan aku tak pernah bermain curang dalam berbisnis, dan kau tahu itu! mereka mungkin merasa sakit hati karena selalu kalah bersaing dengan ku" sahut Maikel, pandangannya. datar menatap cangkir yang berisi kopi hitam di atas meja
"Hukuman apa yang akan mereka terima dari mu?" Anson terkekeh.
Maikel tersenyum tipis.
"Mereka semua sudah tahu hukuman apa yang akan di berikan bagi seseorang yang sudah berani mengganggu keluarga ku " Jawab Maikel .
Ansel Muncul bersama Dengan Dustin, mereka berdua baru saja dari kantin rumah sakit .
"Maikel...," Ansel mendarat kan bokongnya di samping Maikel "aku tak menyangka, yang menyerang keluarga mu...para pesaing bisnis mu, mereka sengaja menyewa Geng Mafia untuk menghancurkan keluarga mu..." oceh Ansel Tanpa jeda sambil menggeleng kepalanya .
Maikel dan Anson memasang wajah jengah mendengar ocehan Ansel.
"Tapi kau tenang saja ada kakak ku yang akan membalas perbuatan mereka " lanjut Ansel.
"Mengapa harus aku?...aku tak mau membantunya" sahut Anson seketika.
Dustin hanya melirik sekilas Daddy nya.
Apa mungkin uncle Ansel tidak tahu, kalau Uncle Maikel sudah mengatasi dalang yang membuat celaka Rachel.
"Kakak...apa kau lupa siapa yang menjadi Korban di sini... putri kita... Anak Javier..."Ansel geleng kepala melihat sikap kakaknya.
"Dustin, mengapa Daddy mu sekarang berubah jadi seorang penakut?" tanya Ansel.
Anson diam saja tak meladeni ocehan saudara kembarnya. untuk apa lagi dia bergerak, semua telah selesai di atasi Sendiri oleh Maikel.
"Kenapa kau cerewet sekali? ingat ini rumah sakit!" Maikel langsung berdiri, melangkah ke arah Magdalena.
"Hai...Kau mau kemana?..." seru Ansel.
"Ansel...ini rumah sakit!" tegur Anson.
"Ck, Mengapa sikap semakin menjengkelkan saja?!"
"Kakak....Aku ini sedang Khawatir, aku takut mereka akan kembali datang menyerang keluarga Maikel" balas Ansel.
"Uncle... Dalang di balik penyerangan di rumah uncle Javier sudah di bekuk, mereka sekarang sedang mendapat ganjaran dari perbuatan mereka" Sela Dustin. memberi informasi pada Ansel.
__ADS_1
"Benarkah? Kakak, kau hebat belum satu hari kau sudah mampu membekuk dalang yang menyerang Rumah Javier"
"Bukan aku yang membekuk mereka, tapi Maikel yang mengatasi semua masalah ini" sahut Anson.
"Benarkah?!" mata Ansel berbinar ceria.
"Dustin, bagaimana kondisi kedua sahabat adik mu dan asisten Anthony?" tanya Anson.
"Asisten Anthony dan Lisa sahabat, Rachel. masih berada di ruang intensif... sedangkan Amanda sudah di jemput keluarganya, Dad" jawab Dustin.
"Dad...aku keluar dulu... ingin melihat kondisi Rachel saat ini, semoga adik ku siuman" ijin Dustin.
"kita pergi bersama, Aku juga Ingin melihat keadaannya" sahut Anson.
"Aku ikut" sela Ansel.
"Maikel!"
"Kami ingin pergi melihat kondisi, Rachel" ucap Anson.
Maikel hanya mengangguk Lirih. mendengar ucapan Anson.
Tap...
Tap...
Tap...
Bunyi suara sol sepatu yang beradu pada lantai Rumah Sakit.
Terlihat Oliver dan Orion serta tak ketinggalan dengan Justin, menyusuri koridor rumah sakit. Hampir semua mata memandang ke arah ketiga pria asing yang melewati mereka bertiga. juga tak ketinggalan Asisten Oliver yang ada di depan mereka ,yang menuntun mereka bertiga pergi ke kamar rawat Rachel.
"Bule...Cin" bisik seorang perawat pada temannya.
"Mau dong kenalan"
Beberapa ucapan yang keluar dari beberapa kaum hawa yang terpana dengan ketampanan mereka.
"Indah nya hidup ini... selalu di kagumi para wanita" Bangga Justin. memiliki wajah yang tampan.
"Kakak... wajah ku lebih tampan dari mu, seharusnya aku yang merasa bangga" Orion menimpali ucapan Justin.
Oliver hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Orion dan Justin.
"Ck, Kau ini... selalu merusak mood ku saja" Decak Justin.
"Hai...aku berbicara jujur" Orion masih ingin menggoda sang kakak. sambil melangkah bersama.
"Terserah ko saja" sahut Justin tersenyum kecil.
Tok-tok-tok.
Suara pintu kamar rawat Rachel.
"Hai Anthony " sapa Bram yang berada tepat di depan pintu bersama istri dan putrinya.
"Om Bram...Tante Diana" Anthony menyalami mereka.
"Kenalkan ini putri Kami!" Bram mengenalkan Arora pada Anthony.
"Arora " ucapnya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Anthony hanya memasang wajah datar, namun masih mau menerima uluran tangan Arora untuk berjabat tangan.
"Silahkan Masuk " Anthony menggeser tubuhnya.
Mereka langsung menuju kearah Rachel yang sedang terbaring di Bed hospital.
Arora memegang tangan Rachel, air matanya mengalir di pipi ketika melihat wajah Rachel, ada bekas lebam di pinggir bibir adiknya.
"Dek...kamu bangun dong! kamu tidak kangen sama aku" lirih Arora mengusap punggung tangan Rachel. matanya menatap sendu Rachel.
"Tante tak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada Rachel" Isak Diana.tak tega melihat keadaannya.
Tak lama kemudian.
"Selamat siang" ucap Oliver masuk kedalam kamar rawat bersama dengan Adik dan sepupunya tak ketinggalan Ansel dan Anson yang mengikuti mereka masuk kedalam kamar.
"Om...Tante..."
"Perkenalkan mereka semua adalah keluarga, Papa Javier" ujar Anthony.
"Ini Kedua kakak, Papa Javier"
Anson dan Ansel saling beradu pandang.
"Uncle... Mereka adalah keluarga dari Mama Rachel, dan merekalah yang telah mengurus Rachel setelah Papa dan Mama Meninggal " Anthony menjelaskan semuanya.
Mereka saling melontarkan senyum. dan saling berjabat tangan.
"Senang sekali bertemu dengan anda, terimakasih telah menjaga dan merawat Rachel " ucap Ansel tulus.
"Rachel keponakan saya, anak dari kakak saya, tidak mungkin saya tak melindungi dan mengurusnya, Tuan" ucap Diana sambil berjabat tangan.
Mereka Akhirnya berbincang-bincang bersama.
"Siapa Dia? yang berada di samping Rachel" bisik Oliver pada Anthony.
"Dia kakak sepupu nya istri ku" Jawab Anthony.
"Wajahnya cantik... berarti wanita itu yang pernah menolak diri mu?" sahut Oliver.
Anthony menoleh ke samping kiri melihat wajah Olive "aku beruntung di tolaknya, aku malah mendapat yang lebih dari segalanya " sahut Anthony tak mau dirinya di jatuhkan.
Arora menyeka keringat yang menempel di wajah Rachel. terlihat kelopak mata Rachel yang bergerak seperti.
"Apa dia sedang bermimpi? sampai kelopak matanya bergerak seperti itu" gumam Arora.
Tiba-tiba kelopak mata Rachel terbuka lebar. membuat Arora terkejut, tubuhnya terhentak kebelakang karena terkejut.
"RACHEL... SADAR" teriak Arora seketika.
Semua yang ada di ruangan tersebut berpaling ke arah Bed hospital.
"Kakak..." Terdengar suara lirih dari bibir Rachel.
"Kamu sudah siuman, Terimakasih Tuan" Arora menghampiri adiknya lalu memeluk Rachel.
"Sayang..." Panggil Anthony menghampiri istrinya.
"Jangan mendekat!" ucap Rachel melihat Anthony ingin memeluk dirinya.
"Kakak... siapa pria ini?" Tanya Rachel pada Arora...
Semua. orang yang ada di ruangan tersebut terkejut dengan ucapan Rachel.
__ADS_1
TBC.
Terimakasih