SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Bram terkejut melihat Kang Dae


__ADS_3

Wajah Arora kembali ceria ketika mendengar suara Papanya,


memberi salam di ambang Pintu.


Bram bergeming ketika melihat sosok Pria yang dua bulan lalu bertemu dengan dirinya, dua bulan, yang lalu mereka berdua sudah menandatangani sebuah kontrak kerjasama bagi perusahaan mereka.


"Tuan Kang Dae?" Bram melayangkan senyum ramah pada Kang Dae.


"Papa mengenalnya?" tanya Arora spontan.


Bram mengerutkan dahinya. mendengar pertanyaan putrinya. Bram merasa tak enak dengan Tamunya.


"Ara, kamu harus sopan di depan tamu, Papa! Tuan kang Dae ini adalah rekan bisnis,Papa" ujar Bram.


"Rekan bisnis" gumam Arora.


"Kok, Papa. mau kerjasama dengan dia?" Arora duduk terhenyak di sofa.


Kang Dae mengulum bibirnya, melihat tingkah wanita yang sudah menjadi pujaan hatinya.


Arora menoleh ke kiri, tempat di mana saat ini kang Dae duduk . hampir berdekatan dengan dirinya.


"Kamu sengaja kan... kerjasama bisnis dengan Papa?" tuduh Arora. dengan suara lirih agar tak terdengar Bram.


Sekilas alis, Kang Dae naik sambil tersenyum lebar pada Arora.


Arora malah memasang wajah cemberut.


Diana menggeleng kecil melihat tingkah putrinya ini.


Mbak Narsih membawa minuman untuk tamu majikannya.


"Silahkan di minum, Tuan!" ucap Narsih pada Kang Dae.


"Mau kemana?" tegur Diana ketika melihat putrinya bangun dari Sofa.


"Kamar Mandi, mau pipis" jawab Arora langsung ngibrit ke arah kamar mandi yang berada hampir dekat kamar pembantu.


Kang Dae hanya melongo melihat tingkah Arora.


"Maaf kan tingkah laku putri kami, Tuan Kang. sikapnya kadang seperti anak kecil " ucap Bram.


Kang Dae hanya tersenyum.


"Tapi membuat ku semakin gemas pada dirinya " gumam Kang Dae.


"Mama, Ternyata tuan kang ini memiliki seorang kekasih yang asalnya dari Indonesia" ujar Bram pada istrinya.


Diana tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. lalu menatap Bram sekilas.


"Tuan..." Wajah Kang Dae berubah gelisah.


Bram menoleh ke arah Kang Dae.


sedangkan Arora malah sedang mengintip dari celah sekat ruang sebelah yang terhubung dengan ruang keluarga.


"Semoga Papa menolak ucapannya" Doa Arora dalam hatinya.

__ADS_1


perasaan Arora masih abu-abu pada pria blasteran Korea Inggris ini.


"Boleh kah saya membawa keluarga saya ke rumah Anda?" tanya kang Dae. dirinya mulai merasa canggung pada Bram.


"Keluarga Anda?" Bram mengerutkan dahinya.


"Saya bermaksud membawa keluarga saya, untuk melamar Putri anda, Ara" ucap Kang Dae, seketika perasaannya terasa lega setelah mengutarakan Niatnya. meskipun ada paksaan dari Diana.


"Tuan Kang ternyata menjalin hubungan dengan putri kita, Pa" ujar Diana.


Bram tak menyangka pria asing yang baru di kenalnya ini ternyata menjalin hubungan dengan putri kesayangannya.


"Apa kerjasama yang kita buat..."


"Sama sekali tidak Tuan, itu murni karena Bisnis" jujur kang Dae.


"Saya tidak pernah mencampur adukkan urusan pribadi saya dengan urusan Bisnis " Kang Dae meyakinkan ucapannya, karena Maikel lah yang merekomendasi kan perusahaan Bram yang cocok untuk menjadi Rekan Bisnis Kang Dae. yang memiliki perusahaan Konstruksi.


"Apa keluarga anda akan..."


"Keluarga saya tidak pernah memandang asal usul calon pasangan putranya, Nyonya" Kang Dae memotong ucapan Diana. dan menghilangkan rasa khawatirnya.


"Tidak memandang... buktinya dia menikah karena perjodohan orang tua" gumam Arora masih mencuri dengar.


"Saya akan menunggu kedatangan keluarga anda di sini untuk melamar Putri kami"


Mata Arora mendelik besar mendengar keputusan sang Papa.


"Ternyata Doa ku tak terkabul" lirih Arora. menyandarkan punggungnya di tembok.


"Dasar Kimchi...batu amat jadi orang" umpat Arora langsung keluar menemui keluarganya.


"Dari tadi dia sudah keluar dari kamar mandi, Pah..." ucap Diana.


Wajah Arora menjadi merona karena malu mendengar ucapan mamanya.


"Tuan Kang"


"Jangan panggil saya tuan Kang Lagi, Pa-pa mer-tua" ucap kang Dae terbata.


Arora menatap tajam mata kang Dae, Mengulum bibirnya mendengar ucapan Kang Dae.


Sedangkan Diana dan Bram hanya melongo mendengar ucapan Kang Dae.


"Baru calon, itu juga kan belum pasti " ucap Arora memakai bahasa Korea.


"Jangan mempermainkan perasaan ku, Ara...aku bisa kena serangan jantung di sini" balas Kang Dae memakai bahasa Korea juga.


"Rumah sakit dekat dari sini, tidak sampai sepuluh menit sampai, aku bisa membawa diri mu kesana, Oppa" sahut Arora.


"Mama seperti sedang menonton drama streaming Korea, Pah...sejak kapan putri kita pintar bahasa Korea?" Mata Diana masih menatap kang Dae dan putrinya berdebat dengan bahasa yang tak dia mengerti.


"Apa mereka berdua selalu berdebat seperti ini? bila sedang berdua..." sahut Bram menimpali ucapan istrinya.


"Mungkin saja" timpal Diana.


"Apa Mama tahu kalau Kang Dae itu seorang Duda?" ujar Bram.

__ADS_1


"Haa...Duda?" Diana terkejut dengan ucapan suaminya.


Membuat Arora dan kang Dae serentak berpaling ke arah Diana.


"Mama kenapa teriak...Duda" tanya Arora.


Diana menunjuk kearah Kang Dae.


"Dia...Duda?" Diana malah bertanya balik pada putrinya.


"Iya..." sahut Arora.


"Putri ibu suka sama Duda...dia lebih suka dengan orang yang sudah berpengalaman" ucap kang Dae seenaknya.


"Biar saya duda, Ara tetap mencintai saya" lanjut Keng Dae meyakinkan Diana.


"Kata siapa saya cinta sama kamu?" tanya Arora memakai bahasa Korea lagi.


"Aku...kamu mencintai saya apa adanya" Jawab Kang Dae.


"Kepedean...mana buktinya kalau aku mencintai kamu" balas Arora.


"Waktu kamu mabuk, kamu lupa pernah minum Soju, baru satu botol ngoceh tidak karuan, tapi aku suka mendengarnya" Kang Dae tersenyum, bila mengingat Arora mengatakan Saranghae. pada dirinya.


"kita lanjut nontonnya, Pah" ucap Diana.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah.


Tampak terlihat beberapa pria yang bertubuh besar berdiri di depan Pintu rumah Bram.


"Kamu mau mengusir ku, Ara?" tanya Kang Dae memakai bahasa Korea.


"Untuk apa aku mengusir mu, Oppa, aku juga tidak tahu siapa mereka" jawab Arora.


Bram melangkah mendekat ke arah pintu rumahnya.


"Permisi Tuan, kami ini di urus oleh tuan Anthony untuk merenovasi kamar istrinya" ucap Jhonny.


Diana berlari kecil menghampiri suaminya.


"Mama lupa, Rencananya Rachel akan tinggal di rumah kita, pah" ucap Diana.


"Kok di rumah kita?" tanya Bram


"Papa lupa kalau Rachel kena Amnesia" sahut Diana. membuat suaminya menepuk dahinya sendiri.


"Papa lupa sekali, mungkin karena akhir-akhir ini, Papa banyak kerjaan jadi suka lupa" ujar Bram lalu mempersilahkan masuk tamunya.


"Tadi pagi keluarga Anthony dan Mama sudah berembuk Rachel akan tinggal sementara di rumah ini, Siapa tahu memory Rachel bisa kembali sedikit demi sedikit " ucap Diana.


"Papa setuju, asal Rachel bisa kembali sembuh " ucap Bram .


"Kamar Rachel yang di lantai dua, terpaksa kita pindahkan ke kamar Tamu dan kamar tamu pindah di lantai dua, mereka semua ini akan memindahkan semua barang-barang Rachel dan di tata kembali seperti kamar dulunya Rachel" ujar Diana pada suaminya.


Bram hanya mengangguk.


Sedangkan Kang Dae malah menarik Arora menjauh dari ruang tamu, mereka berpindah tempat tidur Taman samping rumah. melanjutkan perdebatan mereka.

__ADS_1


TBC


terimakasih ☺️


__ADS_2