
Rachel POV.
Ketika mata ku terbuka, aku melihat Kak Ara, wajahnya terlihat sedih sekali, seolah-olah aku sedang sakit keras. padahal asam lambung ku naik
Tiba-tiba seorang Pria yang usianya terlihat di atas tiga puluh tahun lebih, datang mendekat kearah ku, dan memanggil ku dengan sebutan, Sayang?. apa aku tak salah dengar?
Aku berusaha menepis tangannya , bahkan sampai mendorong tubuhnya ketika dia ingin memeluk diriku. yang anehnya, kak Ara dan Tante Diana, serta om Bram, tidak menghalangi dirinya yang ingin ingin memeluk diriku.
Tiba-tiba, aku merasakan pergerakan tubuh ku yang sangat terbatas, ada sesuatu yang berat di area tubuh bagian perut ku. membuat mataku akhirnya mengarah ke arah perut ku.
Hamil... mengapa aku bisa hamil, nikah saja belum. yah tuhan apa yang terjadi dengan tubuh ku.
"Flower...Aku ini Suami kamu!" katanya meyakini diriku.
"Suami? mana buktinya... kalau aku istri,Om? masa iya sih aku menikah dengan Om-om?" lirih ku.
Aku seperti berada di dimensi lain, apa aku menembus waktu beberapa tahun ke depan?. seperti cerita novel Time travel, yang sering ku baca. bedanya raga ku mungkin maju ke masa depan. kira-kira sekarang tahun berapa? Masa aku nikahnya dengan Om-om?. miris banget.
Apa Tante Diana menjual ku, pada dirinya?.
Terakhir kali yang aku ingat, tubuh ku mulai lemah dan perut ku terasa nyeri hingga Aku jatuh, ketika berada di kampus tepatnya di lapangan basket. sebelum memejamkan mata sempat kulihat kak Ray mengangkat tubuh ku pergi.
Belum hilang dari rasa terkejut ku, Ada lagi beberapa pria asing yang mengaku sebagai keluarga dari papa, Aku melihat dua orang pria yang memiliki wajah yang sama, mereka kembar katanya, dan wajahnya terlihat ada kemiripan dengan Papa. ada juga tiga pria yang mengaku sebagai kakak sepupu ku. mereka banyak bercerita, Oliver bilang aku pernah menyelamatkan nyawa nya, tapi aku tak mengingatnya.
Lisa datang menjenguk ku, dia katakan kalau aku dan dirinya sudah menjadi sahabat ku dan Rully.
Sedekat itu kah diri ku dengan Lisa?
Rully... orang terdekat ku, tapi dimana dia?Mengapa dia tidak pernah ke sini membesuk ku?.
"Rachel... Rachel" Arora menepuk lembut bahu Rachel.
Rachel tersentak dari lamunannya.
"Kakak..." Rachel memegang dadanya karena terkejut.
"Kamu ngelamun?" Ara memperhatikan wajah Rachel.
Rachel hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Arora.
"Jangan terlalu banyak melamun nanti kesambet!" goda Arora.
"Ngaco " cebik Rachel.
Anthony datang sambil mendorong sebuah kursi roda.
"Sayang, kau sudah mengganti pakaian mu?"
"Kursi Roda? aku duduk di situ? " tunjuk Rachel pada kursi.
__ADS_1
"Kamu harus duduk di kursi ini! sayang. karena kamu tidak kuat terlalu lama berdir dan harus jaga kesehatan kamu, sayang" Anthony memberi penjelasan pada istrinya.
Rachel menetap kearah kursi roda.
"Emangnya kamu sanggup berjalan jauh dengan perut mu yang terlihat semakin membesar?" sela Arora menggeleng kepalanya. memasang senyum lebar pada Rachel.
Rachel hanya pasrah dengan ucapan suaminya. dan membiarkan Anthony mengangkat tubuhnya ke atas kursi roda.
"Kita Pulang! " Anthony mengecup ujung kepala istrinya, mendorong kursi roda ke ujar dari kamar rawat inap.
Arora hanya melongo melihat tingkah Anthony pada adiknya.
______
Senyum Rachel merekah ketika melihat suasana kamarnya.
"Kamar kamu, sengaja Tante tukar dengan kamar tamu, karena Tante tidak ingin terjadi sesuatu pada diri kamu, sayang" ujar Diana, karena dulu kamar Rachel berada di lantai dua.
"Sebaiknya kamu istirahat! mengingat perjalanan kita cukup lama di jalan!" ucap Anthony mengingat mobil mereka terkena imbas macet.
_____
"Bagaimana kabar nyonya Magdalena?" tanya Ansel pada Maikel.
"Tumben pertanyaan mu formal sekali?" Cibir Maikel " biasanya kau hanya menyebut ibu mu" sahut Maikel.
"Ahhh...aku tahu, kau ingin terlihat seperti pria terhormat di hadapan Bram dan Diana" Maikel malah memojokkan Ansel.
"Mereka mulai lagi" desah Valeria. menatap kearah suaminya
"Mereka berdua tidak ingat umur, kerjanya ribut terus bila bertemu" sahut Sidney.
Evita hanya terkekeh mendengar keluhan Sidney dan Valeria.
"Diana, kau pernah berjanji padaku ingin memperlihatkan koleksi Bonsai dan tanaman bunga Anyelir?!" Sidney memberikan senyuman hangat pada Diana.
Diana langsung berdiri dari sofa, sudah dari tadi Diana ingin pergi dari ruangan ini, karena merasa tak nyaman dengan perdebatan kedua pria yang tak ada habisnya.
"Dengan senang hati" ucap Diana.
"Apa kalian mau ikut dengan ku? dari pada mendengar perdebatan kedua pria tua itu?" Ajak Sidney.
"Tentu saja aku ikut dengan mu" Valeria mengangkat bokongnya lalu pergi mengikuti langkah Diana dan Sidney. begitu juga dengan Evita.
"Tuan Bram, aku harap kau akan terbiasa dengan sikap mereka berdua!" ujar Anson.
Bram hanya tersenyum kaku. Dua orang Bos besar sedang adu mulut hanya masalah sepele.
"Bila di bandingkan wajah tuan Anson dengan Kak Javier... masih kalah jauh Kharisma Tuan Anson dari kak Javier" Gumam Bram dalam hatinya.
__ADS_1
Javier selalu memasang wajah datar, jarang tersenyum pada orang yang tak di kenalnya, tapi dia bisa berubah 180 Drajat bila sudah bersama keluarganya.
Bram saja kadang lebih baik menghindar dari Javier karena rasa segan nya pada Javier.
"Bisakah kalian tidak ribut! Rachel sedang istirahat dia akan terganggu dengan suara kalian berdua!" ucap Anson.
Mereka berdua malah spontan melihat kearah pintu kamar Yang di tempat Rachel saat ini.
"Putra mu di dalam sana sedang mengambil kesempatan pada putri ku" terka Ansel
"Kesempatan?apa maksud mu?" Maikel jadi penasaran.
"Kesempatan memeluk Putri ku" Ansel melipat kedua tangannya di dadanya.
"Memangnya kenapa kalau putraku memeluk istrinya sendiri " sahut Maikel.
"Berapa usia putramu saat ini, Maikel?" tanya Ansel
"Kenapa kau menanyakan usianya Anthony?" tanya Anson.
"Kakak, aku hanya penasaran saja " sahut Ansel.
"Kau terka sendiri saja berapa usia putra ku" sela Maikel.
"Ahh, sekarang aku ingat usia putra mu sama usianya dengan Oliver " Ansel malah menepuk dahinya.
"Berarti beberapa tahun lagi putra mu akan memasuki usia 40 tahun ke atas" Ansel menoleh kearah pintu.
"Pria yang berusia 40tahun keatas akan merasakan pubertas kedua"
"Pubertas kedua? lalu apa hubungannya dengan putraku?" Maikel jadi penasaran dengan ucapan Ansel.
"Jangan kau samakan diri mu dengan Anthony, Ansel! Maikel , aku hampir membuang dirinya di laut karena mulai bermain api dengan sekretarisnya Elanor"
Maikel hanya melongo mendengar ucapan Anson.
"Untung saja Valeria tidak pernah mengetahui kalau suaminya..."
"Kakak Please stop! Jangan ingat kan aku dengan kejadian buruk itu" pinta Ansel menutup mulut Anson
Ansel merasa di jatuhkan harga dirinya oleh Anson, tapi semua itu memang sebuah fakta yang terjadi pada dirinya saat usianya memasuki 41 tahun.
"Wow... ternyata jiwa Casanova mu, masih ada" Maikel tertawa mengejek
"Berarti Kau bukan pria sejati " cibir Maikel.
Bram hanya mengulum bibirnya agar tawanya tak pecah, hanya Anson dan Maikel tertawa terbahak-bahak. melihat wajah Ansel sudah merona karena malu.
Mengapa Dia membuka aib ku... dasar saudara tak berperasaan.
__ADS_1
TBC