SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Kedatangan Maikel


__ADS_3

Jantung Rico berdetak tak karuan, ketika mobil mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman keluarga Agam.


Seorang penjaga gerbang kediaman keluarga Agam datang mendekat ke arah mobil milik Maikel.


"Selamat sore Tuan, Boleh saya tahu nama Anda?" Tanya penjaga gerbang.


" Namaku Maikel Ambishius, aku datang bersama keponakan ku" jawab Maikel.


Sang penjaga gerbang memanggil kawannya, yang sudah memegang sebuah Notebook di tangan kanannya. Dia menyebutkan Nama Maikel Ambishius pada temannya, lalu temannya memeriksa di notebook apa Maikel Ambishius termasuk Orang yang bisa masuk ke Mansion keluarga Agam.


Tak lama kemudian pintu gerbang terbuka, Maikel di persilahkan masuk ke Mansion keluarga Agam.


"Wow...aku tak menyangka paman ku, bisa masuk ke dalam Mansion ini" takjub Rico.


"Semuanya berubah" ucap Maikel matanya melihat sekeliling halaman depan Mansion. banyak yang berubah di taman ini.


"Apa paman pernah datang ke sini?" Tanya Rico.


"Aku malah sering menginap di sini, Rico" ujar Maikel.


Pupil mata Rico membulat sempurna mendengar ucapan Maikel.


"Sungguh paman?" Rico meragukan ucapan Maikel


"Kapan aku pernah berbohong kepada mu?"


"Aku mempunyai hubungan baik dengan Papanya Rachel, kami sudah seperti sahabat...dan yang lucunya aku ini teman sekampus, seangkatan kakaknya. bahkan aku satu kelas dengan Anson kakak Javier" ujar Maikel.


"Javier Elias Agam? berarti gosip yang aku dengar itu adalah Fakta yang sebenarnya.


"Gosip apa lagi yang kau dengar?" tanya Maikel penasaran.


"Paman di kota Cambridge, ada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. perusahaan itu sampai sekarang tetap beroperasi dan..."


"Simpan dulu cerita mu!" Maikel memotong ucapan Rico .


"Kita sudah sampai di pintu rumah keluarga Agam!" ucap Maikel kembali.


Seorang Maid, membukakan pintu kediaman keluarga Agam " Selamat malam Tuan Ambishius, Tuan Anson menunggu kedatangan Anda, Tuan" ucap Maid keluarga Agam.


Maikel melangkah masuk ke dalam Mansion. memori Maikel bersama Javier seakan terekam kembali di pikirannya. Maikel menarik nafas dalam-dalam, menahan rasa kesedihan pada sahabatnya.


"Javier sahabatku, aku datang ke Mansion ini lagi , dulu aku datang kesini sebagai sahabat mu, tapi sekarang aku datang ke sini sebagai besan mu, sahabat ku. ayah mertua dari putri mu, hanya satu yang membuat ku sedih. mengapa kita harus berpisah ? di saat anak-anak kita menjalin sebuah ikatan yang suci. aku merindukan mu sahabat ku...aku janji akan menjaga dan menyayangi putri mu sampai ajal menjemput ku." Maikel.


" Paman" Rico menepuk lembut bahu Maikel. sehingga lamunan Maikel buyar seketika.


jari tangan Maikel, menyentuh ujung matanya, menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya.


" Mata Paman berkaca-kaca...apa paman habis menangis?" tanya Rico.

__ADS_1


"Aku hanya teringat sahabat ku, Rico... tentu saja aku sedih, karena sahabat ku sudah pergi meninggalkan dunia ini" jawab Maikel. sambil melangkah bersama Rico masuk kedalam mansion.


"Mansion ini sangat besar sekali, Paman" ucap Rico matanya menatap sekeliling Mansion.


"Maikel Ambishius..." Ansel berjalan mendekati Maikel,memasang senyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Maikel.


Maikel tersenyum lebar menyambut sambutan Ansel pada dirinya.


" Kau sudah banyak berubah Maikel, sekarang kau sudah pandai tersenyum" Goda Ansel pada Maikel.


Maikel tersenyum lebar mendengar ucapan Ansel.


" Dirimu tak pernah berubah Ansel, selalu ceria sepanjang..."


" MASA!!"' ucap Ansel dan Maikel bersamaan.


Mereka saling tertawa setelah mengucapkan perkataan itu.


" Aku tak percaya dia telah pergi, Maikel..." mata Ansel berkaca-kaca. mengingat Javier yang selalu memanggil dirinya, Ansel kakakku yang selalu ceria sepanjang masa.


"Begitu juga diri ku, Ansel" sahut Maikel.


Rico hanya melongo melihat tingkah pamannya dengan Ansel "


Aku tak menyangka, seorang Ansel Agam yang di kenal orang sebagai pria yang Arogan, memiliki sifat seperti itu... begitu juga dengan pamanku...yah tuhan...apa mereka berdua memiliki kepribadian ganda.Rico.


Ansel menoleh ke arah Rico.


Baru menyadari keberadaan Rico.


"Namanya Ricardo...Dia putranya Benedict" ucap Maikel.


"Ansel menghampiri Rico, Aku tak percaya, Benedict. memiliki putra setampan ini..." ucap Ansel menepuk lembut bahu Rico, mengingat Benedict seorang kutu buku di tambah penampilan yang cupu.


Rico hanya tersenyum lebar pada Ansel.


"Benedict sebenarnya Tampan, hanya dirinya tidak pernah menyadari ketampanannya" sahut Maikel.


"Tapi mengapa dia bisa jadi keponakan mu? kau sendiri kan, anak tunggal?" tanya Ansel.


"Benedict menikah dengan sepupu ku... panjang ceritanya" ucap Maikel.


"MAIKEL AMBISHIUS!!" Seru lantang Anson.


Mata Maikel mencari arah suara yang memanggilnya, begitu juga dengan Rico.


Maikel melihat Anson sedang berdiri di atas anak tangga Ke 10. tampak Anson berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Anson Berhan!" sahut Maikel.

__ADS_1


"Akhirnya kamu datang juga ke sini, Apa harus ku ancam? baru kau mau datang menemui ku?" ucap Anson sambil melangkah menuruni tangga.


"Apa kabar teman ku? aku lupa di mana kita terakhir bertemu?" ucap Maikel menghampiri Anson. mereka saling berpelukan.


Anson meregangkan pelukannya.


"Terakhir kali kita bertemu di Cordoba... empat tahun yang lalu" ucap Anson.


"Apa yang kakak lakukan di Cordoba?" tanya Ansel menyelidik.


"Aku punya bisnis di sana...aku sedang membuat sebuah hotel" jawab Anson.


"PAPA..." Seru Rachel tak percaya melihat mertuanya ada di Mansion ini.


Maikel terkejut melihat Menantunya duduk di sebuah kursi roda dan sedang di dorong Valeria.


"Ada apa dengan mu,Nak? mengapa kau duduk di kursi, roda!" tanya Maikel dengan suara lembut.mengelus lembut lengan Rachel.


"Apa kau lupa...saat ini menantu mu sedang mengandung" sahut Anson


"Ahhhh...yah aku lupa, yang aku ingat hanya ucapan Anson, yang ingin membawa pergi menantu ku" ucap Maikel.


Rachel mendelikan matanya, mendengar ucapan mertuanya.


"Aku hanya mengancamnya saja, Rachel. karena dia, kalau tak diancam tidak akan datang kesini, menemui kami" Ujar Anson.


"Hai, Valeria. bagaimana kabarmu, apa kau bahagia hidup bersama dengan Ansel?" Goda Maikel.


Valeria hanya tersenyum lebar mendengar ucapan Maikel.


" Dia bahagia hidup dengan ku, jangan sembarang bertanya pada istri ku, Maikel!" seru Ansel.


"Rachel Aunty mau ke Toilet, kamu tidak keberatan kalau di tinggal sebentar?" ucap Valeria


"Biarkan aku di sin aunty! aku bisa minta tolong sama Rico, bila membutuhkan sesuatu" sahut Rachel tersenyum pada Rico.


"Biar saya yang menjaganya..." ucap Rico.


Rachel memperhatikan tingkah mertua dan kedua uncle nya, mereka bertiga terlihat akrab sekali. seperti tidak ada kecanggungan bagi mereka bertiga.


"Rico...aku tak menyangka mertuaku bisa seakrab itu dengan kedua Uncle ku..." ucap Rachel.


"kedua Paman kakak ipar, teman seangkatan paman Maikel" Rico menjelaskan pada Rachel.


"Oh yah, berarti Papa mertua pasti mengenal almarhum Papaku?" ucap Rachel .


"Yah tentu saja, Paman Maikel bersahabat dengan Papanya, kakak ipar" sahut Rico.


Rachel diam seketika mendengar ucapan Rico.

__ADS_1


Mengapa selama ini, Papa mertuanya tidak pernah mengatakan kalau beliau bersahabat dengan almarhum papanya.


__ADS_2