SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Pulang kampung 2


__ADS_3

"UNCLE DUSTIN" Elton teriak kegirangan melihat Dustin turun dari mobil, bersama David sepupunya Daniel.


Dustin tersenyum lebar melihat Elton berlari ke arah dirinya.


"Hati-hati, Elton, jangan terlalu kencang larinya, nanti kamu jatuh!" seru Dustin merentangkan kedua tangannya, menyambut Elton yang berlari kearahnya.


"Uncle...aku sangat merindukan mu, Bagaimana uncle bisa datang kesini? Di mana Deddy ku?" oceh Elton tanpa jeda. yang sudah berada di gendongan Dustin


"Daddy mu, masih berada di Mansion Elton, Daddy mu harus mengawasi Uncle Orion" jawab Dustin, mengecup pipi chubby Elton.


"Turun kan aku Uncle! aku ingin ke sana!" tunjuk Elton ke arah mobil Hiace.


"Kakak" Rachel tersenyum hangat pada Dustin.


Dustin memeluk Rachel.


"Adik ku tercinta" lirih Dustin, masih memeluk Rachel dengan damai.


"Kakak... jangan terlalu erat memelukku!" ucap Rachel.


Dustin melepas pelukannya.


"Sorry...aku terlalu gembira bertemu kembali dengan mu, sampai melupakan mereka"


"Perut mu besar sekali...apa tidak berat membawa mereka?" Dustin terpana dan baru memperhatikan, perut Rachel yang terlihat besar,


"Aku hanya sanggup berdiri selama sepuluh menit, kak... selebihnya aku hanya duduk di kursi Roda, aku merasakan sakit di area perutku, bila terlalu lama berdiri... Dokter bilang Karena aku sedang hamil anak kembar, semakin perutku membesar, maka kulit perut ku akan menipis" jawab Rachel.


Mereka berdua berjalan bersama kearah Mansion. mendekati Anson yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Hai, Boy... mengapa kamu bisa berada di Jakarta? Daddy kira kau masih berada di Milan bersama saudara mu?" tegur Anson pada putranya.


"Justin malah pergi meninggalkan ku di sana, Dad, dia pergi dengan beberapa temannya ke Maladewa" Dustin malah berkeluh kesah.


"Tapi, semua bisnis kita di sana sudah kamu tangani semua?" tanya Anson.


"Clear..."Sahut Dustin tersenyum lebar.


"Good job, My Boy..." Anson menepuk bahu putranya. Anson sangat mengandalkan putranya yang satu ini, sedangkan Justin, Anson tak tahu sampai kapan putra yang satunya itu serius dalam bekerja, tapi Anson tak pernah membedakan rasa kasih sayangnya kepada kedua putranya.


"Hai, Brother apa kabar? mengapa wajah mu terlihat pucat?" tanya Daniel penasaran.


"Aku terkena Sindrom Couvade" jawab Anthony. sambil memasang masker


"Apa sindrom itu, mematikan? apa sindrom itu bisa menular? sampai kau harus menggunakan Masker?" tanya Daniel, yang memang tidak tahu hal seperti itu, karena dirinya juga belum menikah.


"Sangat menyakitkan, tapi tidak mematikan" jawab Anthony tersenyum lebar. di balik maskernya.


"Kenapa dia lama sekali keluar dari mobil" Gerutu Daniel, melihat ke arah mobilnya.


"Siapa?" Anthony jadi penasaran.


"Sahabat mu" Jawab Daniel.


"Biar aku menemuinya!" Anthony berjalan ke arah mobil.


Sedangkan Daniel pergi melangkah ke arah Anson.


Sebuah mobil Honda jazz masuk kedalam halaman Mansion.


Senyum Rachel merekah ketika melihat ketiga sahabatnya datang menemui dirinya.


"RACHEL " seru Amanda tiba-tiba, sambil melambaikan tangannya.


"Kayaknya kita percuma, kasih wejangan sama dia..."lirih Rully melihat tingkah Amanda.

__ADS_1


"Mulut gua sampai pegel, ngoceh..." sahut Lisa. geleng kepala melihat Amanda sudah berlari ke arah Rachel. yang sedang berada di teras Manson.


Anthony hanya tersenyum, melihat tingkah Amanda yang sedang berlari ke arah istrinya.


"Ngapain Luh lama-lama di dalam mobil, bertelur?" Tegur Anthony.


"Shutttt, Gw lagi kencan"jawab David dengan suara kecil. hampir tak bersuara.


Anthony hanya melihat gerak bibir David.


Anthony hanya mengangguk saja, sambil ber O ria.


"Uncle perkenalkan mereka semua Sahabat aku" Rachel memperkenalkan Anson pada ketiga sahabatnya.


Anson membalas jabat tangan ketiga sahabat Rachel, sambil memasang senyum yang tulus.


"Matanya seperti Boneka" gumam Amanda takjub dengan warna manik mata yang Anson miliki, Anson memiliki manik mata berwarna biru.


"Eh, Non... jangan bengong, gantian!" Lisa menepuk bahu Amanda yang sedang terpana melihat Manik mata Anson.


Di susul Lisa dan Rully.


"Terimakasih sudah menjadi sahabat bagi Rachel" ucap Anson tulus. pada ketiga sahabat Rachel. tersenyum bahagia.


Lisa dan Rully membalas senyuman Anson sambil mengangguk kecil.


Anson berlalu pergi kearah putranya dan Daniel.


sedangkan Amanda, malah sibuk dengan pemikiran nya sendiri.


"Mukanya mirip yah, sama sih bule Tumaritis, yang berdiri di sana tuh" bisik Amanda menunjuk dengan memakai dagunya, ke arah Dustin yang sedang sibuk berbincang dengan Daniel..


Rachel hanya tersenyum dengan ucapan Amanda yang ceplas-ceplos.


"Yah kan itu, bapaknya! pasti sama dong mukanya" sahut Rachel, balas berbisik.


Rachel hanya mendengus kecil mendengar ucapan sahabatnya.


"Itu Asli...Amanda, Om Gw, warna manik matanya memang begitu dari Sononya!" jawab Rachel. menjawab dengan penuh kesabaran, sambil tersenyum pada Amanda.


Amanda hanya mengangguk kecil.


"Chel... amit-amit Jabang Baby, Chel... jangan sampai anak elu ketularan lemotnya, si Manda!" bisik Lisa berdiri di samping kanan Rachel. agar Amanda tidak mendengar ucapan Lisa.


"Ngawur..." Rachel malah mentoyor kepal Lisa " kagak ada hubungannya, kali" ucap Rachel.


"Yah emang bener, Chel" sahut Lusi sambil tersenyum.


"Apanya yang bener?" kepo Amanda tiba-tiba.


Wajah Lisa langsung terlihat salah tingkah


" Rasain, Luh ... untung dia kagak denger" Ucap Rully mengulum bibirnya.


"Letak pot bunga" jawab Lisa, langsung menunjuk ke arah Bunga Anggrek Bulan.


Amanda mengikuti arah tunjuk jari Lisa.


"Bisa aja ngeles nya" Rachel tertawa kecil melihat wajah Lisa masih salah tingkah.


" Ayo masuk kedalam! aku kenalin lagi sama anggota keluarga ku yang lainnya!" Ajak Rachel pada ketiga sahabatnya.


Rachel memperkenalkan, kedua mertuanya, Magdalena dan juga Ke dua Aunty nya, pada ketiga sahabatnya.


"Aunty di mana Uncle Ansel?" tanya Rachel pada Valeria.

__ADS_1


"Uncle sedang berada di kamar, dia sedang berkemas" jawab Valeria.


"kalian bertiga jangan bengong seperti itu, ayo ke sini bergabung bersama kami!" ajak Magdalena pada ketiga sahab"at Rachel.


Mereka bertiga berjalan mendekati, beberapa wanita paruh baya yang sedang asik berbincang-bincang.


"Wanita mana lagi yang jadi target incaran mu?" tegur Anthony setelah melihat David, selesai berbicara dengan seorang wanita di ponselnya.


"Kenalan baru, aku berkenalan dengannya waktu, aku berada di Bali" Jawab David.


Anthony hanya tersenyum sambil menggeleng kepala, melihat tingkah temannya.


"Semoga saja wanita itu menjadi jodohmu" ucap Anthony.


"No,no,no..."David menggoyangkan jari telunjuknya.


"Dia wanita yang tidak cocok buat, Gw jadikan seorang istri, dari tatapan matanya saja Gw sudah bisa melihat, wanita itu terlalu memuja Pria...Gw hanya ingin bermain saja dengan dirinya tak lebih dari itu" sahut David.


"Itu urusan Luh, Brother...ayo kita keluar!" ajak Anthony pada sahabatnya.


Mereka berdua bergabung bersama Dustin, Anson dan Daniel.


Setengah jam berlalu.


"Tuan...Mobil sudah siap" ucap Kepala Maid di Mansion utama.


"Terimakasih" sahut Maikel.


Kepala Maid pergi dari hadapan Maikel.


Maikel berdiri terpaku, ketika melihat Ansel menarik koper besarnya, berjalan ke arah dirinya.


"Kau mau kemana?" tanya Maikel pada Ansel. melihat Ansel mengalungi tas kecilnya dan sebuah kamera. sambil memegang koper besar.


"Apa kau mulai pikun, aku kira kita mau pergi ke rumah, Javier" jawab Ansel.


"Hahaha" Maikel tertawa lepas, sehingga para wanita menengok ke arah Maikel dan Anson.


Valeria melangkah ke arah suaminya.


"Sayang, kita hanya beberapa hari di rumah, Javier... mengapa sampai membawa koper segala?" tegur Valeria pada suaminya.


"Hmmm" Ansel mendengus kasar. sambil melayangkan pandangan, jengkel pada Maikel.


"Ayo kita kemas ulang pakaian mu" Valeria menggandeng pergi suaminya menuju ke arah, kamar tamu.


Dustin tak menyangka kalau kedua orangtuanya, Uncle dan Aunty serta keluarga Anthony akan pergi ke rumah, mendiang Uncle Javier.


"Daniel apa kau banyak urusan?" tanya Dustin, karena Dustin datang kesini hanya urusan Mall, yang akan di bangunnya bersama Daniel.


"Tiga hari ke depan aku tidak ada urusan lain, asisten ku bisa menghandle perusahaan ku" jawab Daniel.


"Kau mau ikut bersama keluarga ku?" ajak Dustin.


"Dengan senang hati" Jawab Daniel.


"Aku juga ikut" seru David Antusias.


"Siapa yang ngajak, Elu" sahut Anthony menggoda David.


TBC.


Guys, Mimin minta maaf sebelumnya,


Tidak bisa update setiap hari, Karena cuaca yang hampir setiap hari mengguyur kota Makassar, Otomatis tubuh Mimin terkena imbasnya, aku kena Flu berat, sampai untuk berhalu di dunia, perhaluan saja aku sampai kehilangan ide, kalau cerita aku di episode ini tidak terlalu menarik, tolong di maklumi yah Guys...

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2